Pagi Yang Kacau

1220 Kata
Pagi itu Anastasya dikejutkan dengan kehadiran Jack di meja makan. Lebih gilanya, mamanya mendandani Jack dengan pakaian ayahnya. Seperti menegaskan kalau Jack ada di sana untuk menggantikan ayahnya. Jack mengenakan kemeja dongker milik ayah Anastasya yang jadi terlihat sedikit mini karena Jack punya tubuh kekar berotot. Rambut Jack masih setengah basah. Dia tentu saja keramas di pagi hari, sama seperti mamanya. Berada di antara mamanya dan another brondongnya membuat Anastasya jadi kehilangan nafsu makan. Dia mendorong piringnya ke tengah meja dan memilih beranjak dari sana. Belum berhasil berlalu, Jack berbicara padanya. "Kenapa nggak ajak Franz ke sini? Kita bisa makan bersama seperti keluarga." Dari sekian lelaki yang mamanya bawa pulang, baru Jack ini yang berani bicara sekurang ajar itu. Kebanyakan brondong mamanya akan diam di depan Anastasya. Kalau pun mereka buka mulut, mereka tidak pernah berbicara seperti Jack. "Keluarga kamu bilang?" Sebelah alis Anastasya melejit naik. Dia menyeringai sinis. "Who you are, Dude? Kamu cuma kucingnya mamaku. Nggak lebih. Terus ngapain juga kamu pakai baju ayahku? Nggak usah mimpi bisa ada di posisi ayahku, deh. Malah kamu harusnya khawatirin posisimu. Kalau aku mau, aku bisa hancurin karirmu yang nggak seberapa. Apalagi kalau ayahku tahu kamu tidur sama Mama. Kamu bias lenyap dari dunia ini." "Anastasya!" Devina berseru murka. "Udah deh, Ma. Urusin aja ini brondong kurang ajarnya Mama. Jangan sampe bikin Nata meledak dan masalah ini jelas akan sampai di telinga Ayah." Ancaman Anastasya membuat mamanya mengekeret. Tentu saja, apalagi Anastasya membawa-bawa ayahnya. Devina jelas tidak mau menggali kuburnya sendiri. Baru minggu lalu dia kepergok membawa brondongnya ke rumah hingga mencipta keributan berujung ancaman pencabutan segala fasilitas mewah yang dia dapat. Sekarang dia tidak mau kepergok lagi. "Seharusnya aku minta Ayah untuk tetap pasang CCTV meski sembunyi-sembunyi. Biar Ayah tahu kelakuan istrinya," cetus Anastasya dan pergi. Devina memandang kepergian Anastasya penuh kesal. Pagi harinya berantakan dan membuat nafsu makannya hilang. Tapi untung ada Jack yang segera meraih bahunya dan mengusap-usapnya lembut. "Maaf, ya. Kamu jadi berantem sama anakmu gara-gara aku," ujar Jack. "It's okay. Anastasya memang seperti itu. Nggak usah diambil hati perkataannya," balas Devina. Perempuan yang masih cantik diusia hampir setengah abad itu bergelayut manja pada Jack. *** Anastasya masuk ke kamarnya lagi. Kamar besar itu berisi segala hal yang Anastasya butuhkan sekaligus inginkan. Termasuk sebentar lagi dia akan memperluas kamar untuk membuat dapur. Anastasya ingin memindahkan segala hal ke dalam kamarnya agar dia tidak perlu berkegiatan di luar kamar. Semakin hari dia semakin malas untuk bertemu baik dengan mamanya maupun ayahnya. Hasratnya untuk bisa pindah dari rumah itu sebenarnya besar. Tapi dia tidak bisa pindah dengan mudah karena ayahnya tidak menghendaki. Anastasya berjalan ke closet pakaian. Di sana pakaian-pakaiannya tergantung rapi. Anastasya hendak memilih baju yang akan dikenakan untuk ke kantor ayahnya. Dia sedang menangani project pengembangan restoran baru yang juga diprakarsai Franz. Jadilah Anastasya makin sering ke kantor ayahnya karena meeting lebih banyak digelar di sana. Anastasya menjatuhkan pilihan pada stel pakaian kerja. Kemeja tanpa lengan warna metalik abu, blazer putih, dan celana bahan. Untuk sepatu dia akan memakai sepatu kets putih yang punya sol lumayan tinggi. *** Pukul sepuluh, Anastasya tiba di kantor ayahnya. Kedatangannya disambut Anneke, adik bungsu sekaligus dewan direksi Hakim Group Perusahan yang dibangun oleh ayahnya itu berawal dari lini usaha kecil. Mulanya hanya CV kecil di bidang konstruksi yang hanya mampu memenangi tender-tender kecil. Tapi keuletan dan kerja keras Febrian Hakim akhirnya berbuah manis. Perusahaan itu menjadi besar dan diperhitungkan. Setelah berkutat di konstruksi, ayah Anastasya merambah ke berbagai bidang lain: pertambangan, pertanian, jasa, property, ekspedisi, dan banyak lagi. "Halo Tante. Gimana kabarnya hari ini?" sapa Anastasya. "Sehat, Ta. Kamu gimana?" Anneke memeluk keponakannya. Sejenak saling cium pipi. Perempuan berhijab itu kemudian memperhatikan wajah keponakannya yang kusut. "Berulah lagi ya, Ta?" tanyanya. "Iya. Dini hari tadi pulang dalam keadaan teler dan bawa pulang lawan main di film barunya." "Ayahmu tahu?" Anastasya mengedikkan bahu. "Kalau tahu pun palingan ribut terus Ayah pergi lagi dan Mama bawa balik cowok lagi." Anneke hanya menggelengkan kepala. Dia sudah kepalang hapal dengan perangai kakak iparnya. Bahkan seluruh anggota keluarga tahu kalau Devina Tan sering membawa pulang lelaki muda ke rumah. Hanya saja mereka tidak mau ikut campur. Sebab bertikai dengan Devina adalah hal yang tidak penting dan Febrian Hakim tidak suka ada yang ikut campur urusan rumah tangganya. Sehingga keluarga memilih diam. Anneke mengajak Anastasya naik ke ruangannya yang ada di lantai 10. Gedung pencakar langit berdesain urban dengan kaca-kaca yang membuat suasana siang hari terang tanpa membutuhkan banyak lampu itu total punya 15 lantai. Jika ada di kantor, ayah Anastasya berada di gedung paling atas. Di sana lah ruangan kerjanya. Sepanjang berada di lift untuk naik ke lantai 10 dan berjalan melewati koridor terang di samping dinding-dinding kaca, Anneke dan Anastasya tidak berhenti berbincang. Dua perempuan itu membahas masalah restoran baru yang hendak Anastasya buka bersama tunangannya, Franz. Anneke rupanya ikut andil dalam project restoran itu. Dia menjadi salah satu investor. Anneke juga yang memfasilitasi Anastasya penasihat bisnis food and beverage. Kebetulan Anneke juga memiliki usaha yang sukses di bidang F&B selain memiliki saham-saham di berbagai perusahan. "Jam berapa Franz datang?" tanya Anneke semasuknya mereka ke ruangannya. “Nata sudah bilang ke asistennya kalau meeting dimulai jam 11. Seharusnya dia nggak telat." "Loh, kamu nggak chat dia sendiri, Ta?" Anneke kelihatan kaget. Anastasya duduk di sofa empuk yang ada di seberamg meja kerja Anneke. Diletakannya tas jinjing keluaran sebuah brand kenamaan di atas meja. "Susah kalau ngehubungin dia langsung. Mending ngehubungin asistennya. Bisa langsung dapat konfirmasi." "Ta." "Apa Tante?" tanya Anastasya. Dia sedang asyik bermain gawai. "Udah deh, mending minta ayahmu batalin pertunangan daripada kamu nggak bahagia gini. Tante kasihan sama kamu.” Wajah Anastasya terangkat dari layar ponsel, menghadap ke tantenya yang tengah memandanginya prihatin. Adik bungsu ayahnya ini memang yang paling dekat dengannya. Mungkin karena jarak usia keduanya yang hanya terpaut sepuluh tahun sehingga mereka punya hubungan selayaknya teman. "Ayah nggak mungkin mau batalin pertunangan, Tan. Pertunangan ini kan bawa profit banyak buat perusahaan," jawab Anastasya. Gadis itu bicara dengan santai namun sebenarnya hatinya terbelah. Selain tidak merasakan kasih sayang utuh, Anastasya juga tidak merasakan kemerdekaan memilih seperti orang lain. Hidupnya sudah diatur dalam perkamen komando yang ayahnya buat. Dia harus mengikuti segala aturan. Masuk ke sekolah yang sudah ditentukan, karir sudah ditentukan, termasuk juga jodoh yang sudah ditentukan. Sekarang pun Anastasya sudah ada di fase malas berontak. Dia lelah. "Misal nih, Ta. Kalau kamu mau batalin pertunangan, Tante mau kok jadi penjembatanmu untuk ngomong ke Ayah." "Nggak usah, Tan. Itu cuma bakal ngeribetin Tante aja. I'm totally fine, kok." "Ya udah, deh. Tapi misal kamu butuh bantuan, jangan sungkan buat minta tolong ke Tante." Anastasya mengangguk. Tentu saja dia akan datang ke Anneke jika membutuhkan bantuan—dalam hal apapun—karena hanya tantenya itu yang bisa dia andalkan. Tidak mungkin mengandalkan ayahnya, apalagi mamanya. Anneke dan Anastasya kembali asyik mengobrol. Kini mereka memperbincangkan perihal restoran baru yang akan Anastasya buka. Rencananya Anastasya akan membuka restoran high-end. Restoran yang punya spesialisasi fine dinning dan acara-acara formal. Restoran seperti itu sedang menjadi tren di kalangan dewasa muda yang baru menjadi pekerja dan ingin menaikkan starta sosial. Diana tiba-tiba menerobos masuk ruangan Anneke. Asisten Anastasya itu nampak tergesa. Dari rautnya, kelihatan kalau dia datang membawa kabar tidak baik. Diana berjalan membelah ruangan. Mendekati Anastasya yang asyik dengan ponselnya. "Mas Franz berulah lagi, Mbak," katanya memberitahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN