Anastasya tidak kaget mendengar Franz kembali berulah. Berulah yang dimaksud tentu saja punya affair dengan perempuan lain. Tapi bukankah perangai Franz memang seperti itu?
"Menginap di hotel mana? Kali ini siapa perempuannya? Cewek kelab, selebgram, cabe-cabean atau siapa?" tanya Anastasya santai.
Diana memberikan ponselnya pada Anastasya. Menunjukkan foto-foto bukti affair Franz dengan perempuan lain. Dan affair Franz kali ini berhasil menyulut amarah Anastasya karena pria itu berselingkuh dengan sahabat Anastasya, Nindia.
"Kenapa, Ta? Sama siapa Franz selingkuh?" Anneke bertanya setelah melihat perubahan sikap Anastasya. Anastasya sampai mengepalkan tangan.
"Di mana Nindia sekarang?" tanya Anastasya pada Diana. Dia tak menghiraukan pertanyaan Anneke.
"Wait ... jadi Franz selingkuh sama Nindia? Sahabat kamu itu, Ta?"
Anneke sampai memijit kepalanya. Tak habis pikir kalau Nindia yang selama ini begitu dekat dengan Anastasya telah menjadi duri dalam daging.
"Tante, tolong meeting-nya diundur. Aku harus urus masalah ini."
"Iya, Ta. Urus masalah Franz dan Nindia dulu. Kurang ajar banget sahabatmu itu."
"Mulai hari ini dia bukan sahabatku lagi, Tan," ujar Anastasya dan bangkit dari kursi. "Nata pamit, Tan."
"Ya, hati-hati, Ta."
Anastasya dan Diana keluar dari ruangan Anneke. Mereka bergegas meninggalkan gedung Hakim Group. Diana sudah mendapatkan informasi keberadaan Nindia. Gadis itu masih berada di hotel tempatnya menghabiskan malam panas dengan Franz.
***
Tamparan keras mendarat di pipi Nindia. Gadis itu setengah tela**ang. Menggunakan seprai kamar hotel sebagai kemben penutup tubuh. Nindia mematung setelah mendapat tamparan panas dari Anastasya. Dia tidak menyangka Anastasya memergokinya.
"Di mana Franz?" tanya Anastasya.
"Ta, aku bisa jelasin dulu," sergah Nindia. Dia meraih tangan Anastasya dan langsung ditepis.
Anastasya mendorong tubuh Nindia. Dia masuk ke kamar mewah hotel yang jadi berantakan. Anastasya mendapati baju Franz dan Nindia tergeletak kacau di lantai dan melihat pemandangan paling memuakkan. Franz tidur di dalam selimut tanpa bus*na.
"Ta, beneran aku bisa jelasin. Kamu jangan marah dulu, ya," serga Nindia lagi.
Anastasya menatap sahabatnya—mulai detik itu tepatnya menjadi mantan sahabat—jijik. Tidak dia sangka Nindia berkhianat. Menusuknya dari belakang. Selama ini Anastasya menganggap Nindia sebagai satu-satunya sahabat. Tapi ternyata dia tak lebihnya duri dalam daging.
Nindia sangat kusut, matanya cekung dan wajahnya pucat. Jelas semalam, sebelum berakhir di kamar hotel, dia dan Franz lebih dulu mabuk. Anastasya lantas mencengkeram dagu Nindia. Memindai leher gadis itu yang rupanya banyak tanda kemerahan.
"Ta, ini nggak sesuai dalam bayanganmu." Nindia mendekati Franz. Mengguncang tubuh pria itu agar bangun. "Franz ... ayo bangun dong. Jelasin ke Anastasya kalau kita nggak ada apa-apa. Franz ... ayo bangun Franz ... Franz!"
Nindia menangis. Dia kembali menghampiri Anastasya. Mencoba meraih tangannya namun lagi-lagi ditepis. Anastasya sangat sakit hati. Dia juga menyayangkan sikap Franz yang sampai hati memangsa sahabatnya sendiri.
"Franz kamu bangun, dong. Jelasin sama Anastasya kalau kamu yang mulai," racau Nindia dalam tangis.
"Nggak penting siapa yang mulai," ujar Anastasya. "Nin, aku kecewa banget. Aku nggak nyangka kamu sampai hati ngelakuin ini. Mulai sekarang anggap kita nggak saling kenal. Aku nggak sudi kenal sama manusia yang tega nusuk sahabatnya dari belakang."
Setelah mengatakan itu, Anastasya pergi. Nindia mengejarnya. Memohon-mohon pada Anastasya agar dia mau memberikan maaf. Namun Anastasya bergeming. Hatinya sangat sakit hingga membuatnya ingin berteriak marah. Dikhianati oleh orang yang paling dia percaya rupanya lebih menyakitkan dibanding melihat pertengkaran mama dan ayahnya atau melihat mamanya pulang membawa lelaki muda.
Diana sudah menanti bosnya di depan lift. Dia menghalau Nindia yang masih coba menghentikan Anastasya. Sungguh, bagi Anastasya, tidak ada maaf untuk Nindia.
***
"Yah, terima kasih mau angkat teleponku. Aku mau ngomong."
"Ada apa, Ta? Ya, ngomong aja tapi waktu Ayah nggak banyak. Lima menit aja, ya"
Anastasya menyeka air matanya. Setelah coba menelpon puluhan kali ke berbagai nomor, Anastasya hanya diberi waktu lima menit untuk bicara. Sungguh tak sepadan.
"Franz selingkuh, Yah. Kali ini sama Nindia."
"Nindia sahabatmu itu?" tanya Ayah kaget.
Anastasya menyeka air matanya lagi. "Iya."
"Ya sudah. Biar Ayah suruh orang untuk urus Nindia. Kamu nggak usah khawatir."
"Bukan begitu, Yah. Nata udah ngurus Nindia kok."
"Terus kenapa kamu telepon Ayah kalau masalahnya sudah kelar kamu urus?"
"Yah, Nata pengen ngebatalin pertunangan Nata sama Franz. Nata nggak kuat, Pa."
Sejenak hening. Natasya kembali menyeka air matanya yang tidak bisa tertahan.
"Stop bicara yang enggak-enggak, Ta. Pertunanganmu dan Franz nggak akan batal. Kamu mau mencoreng wajah keluarga kita?" tegas ayahnya dari seberang telepon.
"Tapi pertunangan ini cuma nyakitin Nata aja, Yah. Please, Yah. Kabulin permohonan Nata."
"Nggak, Ta. Pertunangan kalian nggak akan batal."
Detik itu juga sambungan telepon terputus. Anastasya tidak bisa lagi membendung rasa sakit. Tangisnya benar-benar pecah. Di dalam mobil yang melaju dalam kecepatan konstan, Anastasya menumpahkan rasa sakitnya sambil meraung.
Hari ini dia luluh lantak. Perselingkuhan Franz dengan Nindia dan sikap acuh ayahnya adalah alasan utama yang membuatnya hancur.
***
"Pak Adam, perihal reservasi suite room untuk tiga bulan ini benar, ya? Saya bingung mau nge-block room, Pak."
Seorang perempuan mungil berkaus polo putih dengan rambut tercepol rapi bertanya dari balik kubikelnya. Orang yang dia tanya adalah Adam. Atasan yang seorang manajer front desk agent dari Hotel Anesara Graha Senggigi Lombok. Meja kerja Adam berjarak satu kubikel saja dari meja kerjanya sehingga perempuan itu bisa bertanya tanpa harus beralih dari sana.
"Untuk tiga bulan, ya?" Nada suara Adam seperti menimbang-nimbang.
"Iya, Pak. Eh, tapi Pak, ternyata sudah full payment. Wih ... orang kaya nih, Pak. Tapi sendirian, Pak."
"Sendirian gimana maksudnya?" tanya Adam sambil fokus menyelesaikan pekerjaannya. Membuat laporan review FIT untuk dibahas dengan orang yang menangani revenue.
"Ya sendirian, Pak. Jumlah tamunya cuma satu saja," jawab perempuan bermama Dita itu.
"Kalau sudah full payment ya langsung block saja room-nya."
"Baik, Pak."
Mereka berdua kembali bekerja. Adam berusaha secepat mungkin menyelesaikan pekerjaanya agar dia bisa beralih ke pekerjaan lain. Lima belas menit berlalu. Laporannya sudah selesai. Dia baru bangkit dari kursi dan merapikan kemeja ketika Dita tiba-tiba berseru.
"Wow!"
"Ada apa, Dit?" Adam bergeser ke kubikel Dita karena penasaran.
"Itu Pak, yang reservasi kamar suite selama tiga bulan ternyata Anastasya Hakim anaknya Devina Tan, artis terkenal. Nah, Anastasya ini tunangannya Franz Brandon. Selebgram terkenal itu, Pak. Bapak tahu?"
Ketika Dita mendongak, dia mendapati atasannya memandangnya bingung.
"Oh ya, Bapak kan nggak paham yang beginian," keluh Dita.
Adam hanya tersenyum. Pria berusia 30 tahun berwajah teduh itu memang kurang mengikuti perkembangan serta kabar pesohor negeri. Dia tidak punya cukup waktu untuk mengurus hal selain pekerjaan.
"Saya ke ruang Pak Hans dulu. Kalau ada apa-apa segera kabarin," kata Adam.
"Baik, Pak."
Adam berlalu meninggalkan ruangan yang ditempati beberapa department kerja yang terpisah dalam kubikel-kubikel menuju ruangan Pak Hans, General Manager hotel ini. Dia ingin memberikan kopian dokumen laporan review FIT selain akan diberikan pada department yang mengurusi revenue. Di samping dia juga ingin memberitahukan tentang suite room yang dipesan selama 3 bulan dan sudah lunas.
Anastasya Hakim. Nama itu melintasi benak Adam. Pria tampan beraura teduh itu jadi penasaran akan sosoknya. Jelas dia dari strata sosial tinggi. Apalagi dia anak artis, tunangannya juga orang terkenal, dan utamanya dia melunasi kamar suite untuk tiga bulan. Hanya saja, Adam merasa ada yang menarik dari calon tamunya itu. Sebab dari pengalamannya, tamu yang menginap dalam waktu lama biasanya sedang memiliki masalah dan sengaja menyingkir untuk mencari tenang.