One Way Ticket

1846 Kata
Anneke berusaha menelpon keponakannya. Dia sudah tahu kronologi perselingkuhan Franz dengan Nindia. Dan sekarang Anneke sangat mengkhawatirkan Anastasya. Anneke yakin Anastasya terpukul berat. Bukan karena Franz tapi karena Nindia. Perempuan itu sahabat Anastasya satu-satunya. Dikhianati sahabat bukan hal yang mudah diterima. Dua jam sudah Anneke mencoba menghubungi Anastasya. Tapi belum ada jawaban. Diana juga kompak tidak bisa dihubungi. Mungkin saja Anastasya meminta Diana turut mematikan ponsel agar tidak ada akses menghubunginya. Karena rasa khawatir makin menjadi maka Anneke putuskan mendatangi Anastasya. Malam hari dia pergi ke kediaman kakak sulungnya. *** Pembantu lah yang menyambut kedatangan Anneke. Perempuan yang biasa dipanggi Bik Nem itu mempersilakan Anneke naik ke kamar Anastasya. Dari cerita Bik Nem, Anastasya langsung masuk ke kamar setibanya di rumah. Dia tiba dalam keadaan yang amat kacau. Matanya bengkak dan wajahnya kelabu. Anneke menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar Anastasya. Setibanya di ambang kamar, Anneke mengetuk dahan pintu. Beberapa waktu tidak ada jawaban kemudian Anneke mencoba memanggil Anastasya. "Ta, ini Tante Anne. Buka dong pintunya," pinta Anneke. Benar saja, tak lama kemudian Anneke bisa mendengar suara langkah Anastasya yang mendekat ke pintu. Dahan pintu tertarik masuk. Sosok Anastasya menyembul dari belakang dahan pintu. Anastasya terlihat berantakan betul. Matanya bengkak dan wajahnya sendu sekali. "Nata kirain Mama, Tan. Makanya Nata nggak bukain pintu." Suara Anastasya terdengar parau. Anneke bisa perkirakan kalau tangis Anastasya baru berhenti beberapa waktu lalu. "Mamamu belum pulang, Ta. Mobilnya nggak ada," kata Anneke. "Tante boleh masuk nggak, Ta?" "Boleh, Tan." Anastasya menggeser posisinya sehingga Anneke bisa masuk ke kamar dengan mudah. Pintu kamar lantas ditutup dan dua perempuan itu menuju ranjang. Keduanya duduk di pinggiran ranjang. "Syok pasti, ya?" "Iya, Tan. Nggak nyangka Nindia bisa berbuat begitu ke aku." "Manusia memang begitu, Ta. Banyak kok kasus orang terdekat malah yang jadi pengkhianat," urai Anneke. Perempuan itu tiba-tiba membuka tasnya. Melongok isinya kemudian mengambil sebuah amplop. "Liburan, gih, Ta. Ini, Tante sudah siapin hotel buat kamu. Nanti Tante siapin tiket pesawat juga." Anastasya memandangi amplop yang tantenya elungkan. Dalam hati, dia ingin menerima tawaran tantenya tapi dia tidak mungkin bisa pergi tanpa izin. Bisa menjadi malapetaka baru. Anneke menangkap kebimbangan hati Anastasya. Ditariknya tangan sang keponakan. "Pergi, Ta. Kali ini saja. Jangan mikirin yang lain. Perihal ayahmu, kalau sampai ada masalah maka Tante yang akan pasang badan. Kamu harus menyingkir buat nenangin diri. Tinggalin Jakarta kalau nggak mau gila." Anastasya terdiam. Seumur hidup, Anastasya tidak pernah pergi semaunya tanpa izin. Dia bukan tipikal pemberontak. Akan tetapi, yang dikatakan Anneke memang benar. Jika tidak menyingkir Anastasya bisa gila. Dia tersakiti betul akan pengkhianatan Nindia. Ya, gadis itu memang tahu kalau pertunangan Anastasya dan Franz tak lebihnya pertunangan bisnis tanpa cinta. Namun bermain api dengan tunangan sahabat sendiri jelas tidak bisa dibenarkan. "Oke lah, Tan. Tapi Anastasya pikir-pikir dulu." Anneke tersenyum. "Mikirnya jangan kelamaan, ya. Tante udah reservasi hotel buat minggu depan. Sudah Tante lunasin juga jadi kamu bisa tenang di sana." Amplop di tangan Anneke telah berpindah ke tangan Anastasya. Perempuan muda itu membuka amplop dan mengeluarkan secarik kertas pemesanan hotel. "Lombok, ya, Tan?" Anneke mengangguk. Sejurus kemudian mata Anastasya membelalak. "Tiga bulan, Tan? Ini Tante nyuruh Nata liburan atau kabur?" "Sudah, kali ini pokoknya kamu nurut sama Tante, ya. Anggap saja kamu memang lagi kabur. Selama ini kamu kan pengen kabur tapi nggak bisa ya udah anggap saja sekarang keinginan kaburnya kesampaian." Selorohan Anneke rupanya membuat Anastasya tergelak. Perempuan muda yang sedari pagi murung akhirnya bisa tertawa meski sebentar. Anneke kemudian memeluk keponakannya. Mengelus punggung Anastasya yang terhalang rambut. "Semua akan baik-baik saja. Masalah pasti terlewati." "Terima kasih banyak, Tante. Cuma Tante yang bisa ngertiin Nata." "Mungkin Tante diturunkan ke bumi buat ngertiin dan jagain kamu, Ta. Soalnya orang tuamu nggak becus," ejek Anneke seraya tertawa. Tawa Anneke tak ayal membuat keponakannya ikut tertawa. Kehadiran Anneke berhasil membuat Anastasya merasa jauh lebih baik. *** Akhir pekan berlalu cepat. Anastasya pada akhirnya mengikuti saran tantenya. Pagi ini dia sudah tiba di bandara. Menunggu pesawat yang akan membawanya bertolak dari Jakarta menuju Lombok. Semingguan Anastasya berkutat dengan dirinya. Masih dengan rasa sakit hati dikhianati sahabat. Bagai mimpi seorang Nindia sampai hati main serong dengan Franz. Meskipun Nindia tahu kalau hubungan Anastasya dan Franz tidak lebihnya hanya pertunangan bisnis tanpa cinta tapi tidak seharusnya Nindia berbuat begitu. m*****i persahabatan yang terjalin sejak mereka duduk di bangku kuliah. Rasa sakit hati itu jugalah pada akhirnya yang membuat tekad Anastasya bulat untuk mengikuti saran tantenya. Pagi ini dia akan meninggalkan Jakarta untuk waktu lumayan lama. Tiga bulan. Tantenya berbaik hati memfasilitasi Anastasya menginap di hotel berbintang selama tiga bulan. Seperti tahu kalau keponakannya sedang terpuruk dan butuh menyingkir dari pusat masalahnya. Tante Anneke juga sengaja membelikan Anastsya one way ticket. Sambil berseloroh meminta keponakannya untuk tidak perlu kembali ke Jakarta kalau dia mendapatkan kebahagiaan di Lombok. Kali ini Anastasya pergi tanpa pamit pada ayah atau mamanya. Dia hanya menitipkan pesan lewat Diana serta Bik Nem. Kalau orang tuanya mencari, mereka hanya perlu bilang kalau Anastasya pergi liburan. Anastasya sebenarnya yakin orang tuanya tidak akan mencarinya, setidaknya sampai sebulan ke depan. Mereka sibuk dengan hidup mereka sendiri. Pun Anastasya juga berani jamin, mamanya tidak menahu tentang Franz yang tidur dengan Nindia. Anastasya berjalan menuju ruang tunggu dalam bandara setelah melewati pos pemeriksaan. Dia pergi hanya dengan membawa tas ransel berisi beberapa potong pakaian dalam dan piyama tidur. Juga hanya menggunakan celana olahraga, kaus polos hitam berbalut hoodie abu-abu longgar. Sengaja tidak membawa banyak barang. Karena dia pergi sendiri, tanpa asisten yang bisa membantu membawakan koper atau barang lain. Sebuah pengharapan mengembang. Anastasya berharap setibanya di Lombok, dia bisa mendapatkan ketenangan. Sejenak melupakan carut-marut dan segala macam masalah yang terjadi dalam hidupnya. *** "Pak, nanti saya boleh ikut nyambut kedatangan Anastasya Hakim, ya." Dita meminta izin pada Adam. Hari itu Anastasya datang. Membuat Dita dan beberapa staf yang tahu siapa Anastasya jadi kepalang heboh. "Loh, emangnya ada insturksi penyambutan, ya? Kok saya nggak dapet kabar." Adam sangat sibuk dengan pekerjaannya. Kebetulan sudah akhir bulan dan dia harus membuat banyak sekali laporan. Karena sibuk, otomatis suhu tubuhnya meningkat. Adam sampai menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Membuat otot-otot tangannya terpampang sempurna. "Nggak ada sih, Pak. Insiatif saya sendiri saja. Seorang Anastasya Hakim gitu loh, Pak. Anaknya Devina Tan, tunangannya Franz. Saya mau nyambut terus minta foto gitu," celoteh Dita dan membuat Adam geleng-geleng kepala. "Terserah kamu sebenernya. Cuma saja saya khawatir nggak bisa bantu kalau kamu kena masalah. Soalnya kamu kan bagian reservasi bukan orang meja depan." Adam melirik bawahannya. Melihat Dita menekuk ke bawah sudut bibirnya. "Ya udah deh, Pak. Nggak jadi kalau begitu," balas Dita ngambek. "Dit, Ibu Anastasya menginap di hotel kita selama tiga bulan. Nggak sebentar, loh, itu. Nanti pasti ada waktunya kamu bisa foto sama dia." "Tapi kan, Pak. Kalau saya bisa fotoannya sekarang, saya bisa buru-buru update di medsos. Jadi anak yang up-to-date gitu." Adam menghentikan pekerjaannya. Dia pandang Dita. "Dit." "Iya, Pak. Gimana?" "Kamu hepi nggak kalau privasimu diganggu?" tanya Adam. Dita tetap sibuk di depan laptop sebelum bicara dengan nada mengomel. "Ya jelas nggak hepi lah, Pak. Namanya privasi kok diganggu. Saya bisa ngamuk, lah." "Begitu juga Bu Anastasya. Dia bisa ngamuk kalau privasinya diganggu. Mana kamu rencananya mau unggah foto kalian nanti di medsos. Bu Anastasya itu tamu kita. Kita harus pastikan dia nyaman dan merasa aman saat berada di sini. Kamu tahan-tahanin diri dulu, ya. Kalau emang rezeki pasti kamu bakal fotoan sama dia." Dita dibuat bungkam. Kalimat-kalimat Adam serasa menamparnya. Dita malu karena punya pemikiran yang tidak bijak. Kala Dita menoleh ke Adam, dia melihat atasannya tersenyum. Seulas senyum teduh. Dita merasa beruntung karena atasannya adalah sosok seperti Adam. Yang selalu menegur bawahannya dengan cara yang baik dan penuh adab. Selama bekerja bersama, Dita tidak pernah melihat atasannya murka. Semarah-marahnya Adam, dia akan tetap berusaha menjadi pelindung bawahannya. Dia tegas tapi juga penuh tanggungjawab di saat yang sama. Hal itu membuat Adam jadi begitu disegani dan disayang. "Sudah jam makan siang nih, Dit. Sana kamu makan siang duluan. Biar saya jaga office," ujar Adam. Dita sontak melongok dari dalam kubikel kerja dan melihat sekeliling. Rupanya staf department lain termasuk beberapa staf lain di departemnt yang sama dengannya sudah keluar untuk makan siang. Fokus memindai banyak email dan euphoria akan kedatangan Anaastasya Hakim membuatnya tidak sadar akan kondisi sekeliling. "Kan Bapak juga bisa makan siang sekarang. Office kosong juga nggak masalah. Nggak ada yang mau mindahin juga." Adam terkekeh. "Udah sana pergi makan siang," suruhnya. "Oke deh, Pak." Dita mulai memberesi meja kerjanya. Laptop sengaja dia sleep dan kemudian setelah pamit pada Adam, Dita pun beranjak keluar ruangan menuju kantin yang letaknya berada di area belakang hotel. Dekat dengan dapur utama restoran hotel. *** Penerbangan Jakarta-Lombok ditempuh selama 1 jam 50 menit. Pukul 2 WITA, pesawat yang ditumpangi Anastasya mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Lombok Praya. Anastasya yang hanya membawa tas ransel jadi tidak kesulitan. Apalagi dia duduk di business class yang membuatnya jadi prioritas. Setelah pintu terbuka, Anastasya diminta menunggu lebih dulu. Supaya dia tidak harus berdesakan dengan penumpang lain yang mengantri keluar pesawat. Setelah antrian semakin memendek barulah seorang pramugari cantik yang tidak lebih tinggi dari Anastasya mempersilakan perempuan muda itu untuk meninggalkan pesawat. Sebelum pergi, Anastasya mengucapkan terima kasih pada pramugari karena sudah melayaninya dengan baik selama dalam penerbangan. Keluar dari pesawat, Anastasya disambut oleh sorot matahari tengah hari yang nampak membara. Untungnya dia tidak harus merasakan panasnya sinar matahari karena sekeluarnya dari pesawat dia langsung berada di dalam bandara yang bersuhu rendah. Pulau Lombok. Sebuah pulau yang berada di sebelah timur Pulau Bali. Pulau itu tidak terlalu besar. Namun terkenal punya pantai-pantai cantik serta di kelilingi puluhan gili atau pulau kecil. Hotel tempat Anastasya menginap berada di daerah Senggigi. Kawasan wisata pinggir pantai di daerah Lombok Barat. Harus ditempuh lebih kurang 45 menit dari bandara menggunakan mobil. Sekeluarnya dari bandara, Anastasya segera menghampiri sopir yang bertugas menjemputnya. Anastasya bisa menemukan orang itu dengan mudah karena sopir yang seorang pria muda berkulit cokelat tua itu memakai seragam hotel tempatnya akan menginap. Dia juga memegang secarik kertas bertuliskan nama Anastasya. Setelah berjabat tangan, Anastasya dibimbing menuju mobil. Sopir itu sempat dibuat heran karena Anastasya tidak membawa koper. Hanya sebuah tas ransel berukuran sedang yang tentu tidak bisa menampung banyak barang. “Bu, bener nggak bawa koper?” tanya sopir itu setelah berada di dalam mobil. Ingin memastikan sekali lagi kalau tamunya memang tidak membawa koper. Takut-takut Anastasya sebenarnya lupa akan kopernya. “Saya memang nggak bawa koper, Mas,” jawab Anastasya. “Ngomong-ngomong, Mas. Boleh nggak kita mampir mall dulu? Saya mau beli baju sama beberapa peralatan pribadi. Di sini ada mall kan, Mas?” “Di sini ada mall tapi nggak sebesar Jakarta tentunya, Bu.” Anastasya tertawa akan kalimat sopir yang baginya lucu. “Tapi ngomong-ngomong, Bu. Saya harus izin ke hotel dulu kalau kita mau mampir mall. Nggak apa-apa, Bu?” “Silakan, Mas. Lebih baik izin dulu. Nggak usah khawatir kelamaan juga, saya cuma sebentar. Apa yang saya lihat dan kelihatannya bagus nanti langsung saya beli.” Sopir hotel itu kelihatan cukup kaget. Sejurus kemudian dia ingat kalau tamunya bukan orang biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN