Hati mereka bergemuruh hebat, mereka terbungkam dengan hati yang resah menunggu hasil tes yang akan keluar.
"hanya ada dua orang siswi yang berhasil lulus dalam Tes dan akan dikirim ke pelatihan khusus untuk melakukan pertandingan dengan negara lain demi memajukan negara kita. dua siswi tersebut adalah Katrine Rishley dan Hanah Stefly."
Alise terlihat sangat sedih ia hanya terdiam membisu ia sudah dapat membayangkan apa yang akan ia terima nantinya, hanyalah perlakuan kasar dan intimidasi atas apa yang akan orangtuanya lakukan
"Katrine dan Hanah akan pergi ke pelatihan dimana kalian akan menemui Pangeran dari Kerajaan wilayah selatan."
Kedua putri tersebut menaiki kereta untuk sampai ke pelatihan
"Bagaimana dengan kita, kita akan menaiki apa untuk menemui mereka." Tanya Reyyan ia bingung melihat sekeliling tak ada kereta kuda yang dapat ia tunggangi
"Kalian semua, ayo naiklah."
Seorang laki-laki berparas sangat tampan ia menunggangi kereta kuda yang cukup besar, tanpa pikir panjang mereka pergi menuju tempat pelatihan.
"Maaf, tapi mengapa tuan tahu dimana arah rute tempat pelatihan tersebut?."Tanya Pangeran Marquez berusaha menganalisa atas kejadian janggal yang sedang terjadi sekarang
"Tentu saja karena kau adalah staf, bukan?." jawab Reyyan berusaha menutupi sesuatu hal dari semua teman-temannya
Laki-laki paras tampan itu hanya terkekeh dan tersenyum dengan sangat manis.
Didalam ruangan pelatihan, terdapat keributan kecil mengenai seorang pangeran dengan meraih nilai tes tertinggi tiba-tiba menghilang.
"Bagaimana bisa kita kehilangan dirinya!."
Semua orang kesal dan kalang kabut mencari keberadaan pangeran tersebut
"Katrine, mengapa semua orang ribut?."
"Entahlah." Sekali lagi, Katrine acuh tak acuh menanggapi balasan pertanyaan Hanah yang berusaha memulai pembicaraan Katrine
Suara kuda meringkik terdengar keras dari luar bangunan tempat pelatihan
"Astaga, pangeran Harvey apa yang kau lakukan. Sudah saatnya bagimu untuk melakukan tes kemampuan diri."
Pangeran Harvey hanya tertawa "maaf, aku hanya ingin mereka berenam melihatku tampil saja. Karena Pangeran Alarico memintaku jadi aku tak bisa menolak, bolehkah jika tampilan kami dilihat oleh mereka."
Setelah menyebut nama yang menjadi alasan mengapa mereka berada di sini sekarang, membuat mereka sedikit tak percaya
"Sejak kapan kak Pangeran Alarico menjadi orang yang peduli?."
Pangeran Alarico tersenyum menyeringai "aku semakin tenggelam di dalam misteri ini."
“bagaimana bisa kau mengenal Harvey?.” tanya Solana yang juga tak mengenal siapa laki-laki yang telah membawa mereka ke tempat latihan untuk bertanding
“aku menolongnya, dia kesulitan jadi aku menolongnya untuk terbebas dari jebakan lumpur lalu aku memintanya untuk membawa kita semua datang ke tempat ini." jabarkan Pangeran Alarico membuat mereka paham
"Baiklah, ayo cepat berbaris dan lakukan beberapa tes."
"Katrine, setelah ini dirimu."
Diawali dengan tes panahan, Katrine mengenakan sarung tangan khusus panahan dan mencari busur terbaik ia berdiri menghadap ke sebuah roda berputar dan ia harus mengenai sasaran perlahan ia menarik busurnya dengan kedua jarinya "dtas..." Anak panah pertama mengenai sasaran,
Pangeran Harvey memberikan siulan lirikan matanya menggoda Katrine yang membalasnya dengan ekspresi dingin
"Aku akan nikahi dia, itu janjiku." Pangeran Harvey berucap janji dengan penuh percaya diri
Katrine melakukan panahan kedua dengan sempurna membuat semua orang di sana semakin terkesima
"Lekukan tubuhnya, aku ingin menjamahnya dengan ramah." pikiran Harvey semakin dibawa liar jauh oleh keindahan tubuh Katrine seorang wanita dengan sikap dingin
Ichtana mulai tidak nyaman menerima tatapan sinis seorang wanita lemari es "Harvey, berhenti menggodanya apa kau tidak lihat ekspresi seram darinya yang ia berikan padamu?."
"Dia pasti akan aku dapatkan aku nikahi dan aku jamah dengan baik hingga ia tak dapat bergerak seharian."
"Pikiranmu kotor seperti biasanya,ya."
Katrine menarik busur dengan perlahan ia melakukan anak panahan yang terakhir dan berhasil menancap dengan sempurna
"Aku akan memenangkan hatinya"janji Harvey terhadap ichtana yang hanya menggelengkan kepalanya seraya menghela nafasnya
"Bisa bisanya aku memiliki sahabat seperti dirinya"eluh Ichtana
Katrine berjalan kembali ke bangkunya ia terus memasang ekspresi dingin tak peduli
"Kamu adalah putri tercantik yang pernah aku temui."Harvey berusaha menggoda wanita dengan paras yang dinginnya seperti lemari es dua pintu
"Harvey berhenti menggodanya." eluh Ichtana yang mulai Malu dengan sahabatnya, pandangannya terus mengarah kepada Hanah seorang wanita dengan keramahannya.
"Waah, hebat sekali ya. Ternyata Ratu Katrine bisa memanah dengan sempurna." puji Pangeran Marquez menepuk tangannya dengan kagum
"Aku akan meminta ibu untuk melakukan panahan setelah kembali dari perjalanan waktu." Janji Solana berdecak kagum
"Sempurna Putri Katrine!. Selanjutnya Putri Hanah."
Hanah berjalan melakukan persiapan mengambil busur dan anak panah secara kasar dan tak terarah ia melakukan panahan yang pertama gagal
"Pangeran ichtana, sebagai pasangan lomba Hanah. Bisa kau membantunya."
Pangeran ichtana tersenyum, baginya ini adalah sebuah peluang untuknya ia memegang tangan Hanah wanita yang membuat hatinya bergetar untuk pertama kalinya dan mengajarinya cara memanah dengan baik.
"Cukup!! Hari ini adalah panahan Putri dari Kerajaan bagian Barat besok adalah panahan Pangeran dari kerajaan bagian selatan. Silahkan istirahat untuk menyambut Tes yang berikutnya."
Hanah masih merasa menyesal karena ia gagal dalam latihan panahan
"Ini semua salahku. Aku sebagai perwakilan kerajaan wilayah barat telah menjadi benalu yang memalukan."
Katrine mengenakan sarung tangannya ia mengambil busur panah dari Hanah
"Aku akan mengajarimu memanah."
wajah Hanah dipenuhi kebahagiaan setelah wanita lemari es dua pintu itu memulai sebuah pembicaraan padanya"Sungguh?!!."
"Cepatlah atau aku akan membatalkan niat baikku."
Hanah terkekeh ia memegang busurnya dengan Katrine yang sangat sabar mengajari Hanah
"Maaf ya, jika aku sulit memahami materi, Katrine."
"Akhirnya kau sadar.." keluh Katrine ia memutuskan untuk duduk beristirahat sejenak.
"Aku ingin kembali ke masa depan, banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan." pinta Solana yang sangat bertekad untuk kembali ke masa depan.
"Sebelum kita datang ke masa lalu, aku menemukan ini." Pangeran Marquez menggenggam erat sebuah arloji jam waktu yang selama ini ia genggam dengan erat
"Kita bisa memutar arah jarum jam ke depan, mungkin dapat membantu." Pikir Reyyan si cerdas yang sedari tadi berupaya untuk menganalisis.
Marquez memutar jarum jam ke depan dan hasil analisis Rey benar, mereka kembali ke masa depan. Sebuah ruangan besar dengan lentera tergantung
"Ini ruangan apa?" Tanya Niguel yang mulai cemas
Ekspresi wajah mereka mulai cemas dan mereka diam mematung, seraya cemas jika mereka berada di sebuah tempat yang dapat menimpa hal buruk yang terjadi pada mereka.
"Putri Solana, mengapa anda hanya diam disini?. Aku yakin, pasti berat untukmu menerima apa yang sedang terjadi kepada ibu Ratu Katrine"Tanya seorang pembantu yang wajahnya terlihat sangat sedih
Tatapan Solana berubah cemas, jantungnya berdebar hebat ia sangat cemas segera berlari mencari keberadaan sosok ibu yang sangat ia rindukan
"Ibu...ibu..ibu" panggil Katrine berlari ke sana-sini ditemani kelima temannya.
Mereka berada di suatu ruangan dengan terdapat sosok wanita yang sangat ia rindukan sedang terbujur lemah di atas ranjang dengan ramuan herbal di atas tubuhnya
"Ibu!!!." Teriak Solana dengan sangat cemas ia langsung memeluk erat tubuh ibunya yang sedang dalam keadaan kritis.
"Putriku sayang." Katrine menangis memeluk Solana
"Ratu Hanah, apakah ibu Ratu Katrine kambuh lagi?." Tanya Nieva dengan sangat cemas
"Dia sedang dalam keadaan kritis."jawab Ratu Hanah matanya merah dan sembab karena menangis
"Pangeran Marquez, maukah kamu memelukku."pinta Ratu Katrine dengan ekspresi wajah melas ia memohon.
Marquez yang sudah menganggap Ratu Katrine sebagai ibunya, ia memberikan apa yang ibunya inginkan ia memeluk erat Ratu Katrine dan tak bisa menahan air matanya lagi.
"Cepatlah pulih, ibu Ratu." Marquez menangis seketika memeluk erat tubuh Ratu Katrine yang sangat haru berada di pelukan Marquez ia terlihat sangat sendu penuh kerinduan
"Kamu adalah anakku."Ratu Katrine terus mengatakan kalimat tersebut selama Marquez berada di dalam pelukannya dengan wajahnya yang penuh sesal.
"Ratu Hanah, bisakah kau ikut denganku sebentar?." Ajak Reyyan berlalu pergi menuntun Ratu Hanah untuk menjauh dari mereka
"Apa yang ingin kau katakan Reyyan Putra Ganiel?."
Reyyan menatap kedua mata Ratu Hanah dengan penuh pertanyaan dan sedikit ancaman demi memberikan jawaban yang apa adanya.
"Mengapa Ratu Alise mengalami intimidasi?!. Semua keadaan buruk ini terjadi karena Ratu Alise yang di intimidasi."tuduh Reyyan
"bukan hanya itu Rey dan mengapa kau bisa langsung menyimpulkan kalau semua ini terjadi karena Intimidasi Ratu Alise?. ini tidak wajar, siapa sebenarnya kau Reyyan?!."
“Aku adalah....”