antara cinta terlarang dan laki-laki yang memiliki hati tulus eps 2

1246 Kata
Seorang laki-laki yang dengan tampilan sangat aneh seraya menggenggam erat sebuah kamera di tangannya menghampiri Ratu Alise yang sedang sibuk melukis “Waah, indahnya.” Ratu Alise langsung menutupi lukisannya ia melirik laki-laki itu dengan tatapan menjijikan karena laki-laki itu bukanlah laki-laki tampan dan enak untuk dilihat, ia hanya laki-laki yang penuh kekurangan dengan wajah buruk dan kacamata serta kamera usang di genggaman tangannya. “Maaf, aku tidak bisa melukis di depan orang lain.” “mengapa?. Bukankah kamu jadi bisa menunjukan keahlian yang kamu miliki dalam melukis?." “Tidak. Maaf.- Ratu Alise segera berjalan pergi meninggalkan laki-laki yang berusaha untuk mendapatkan perhatiannya. Bell sekolah berdering tanda untuk kembali belajar untuk besok mengikuti beberapa tes yang menjadi penentu untuk mengikuti perlombaan dengan Kerajaan di wilayah Selatan, semua murid kerajaan terdiam dengan tenang mereka saling memperebutkan posisi untuk mendapatkan peluang bertanding dengan negara lain. “Jika aku berhasil, maka aku akan memiliki peluang untuk berpacaran dengan pangeran dari kerajaan Selatan." “Katanya, pangeran Harvey dari kerajaan Selatan sangatlah tampan." “Jika aku berhasil, setidaknya aku akan terbebas dari intimidasi.”ucap Alise seraya memohon membuat air matanya mengalir. Pangeran Marquez sangat terkejut “intimidasi?.” tanya pangeran Marquez membuat Alise terbungkam ia sama sekali tidak ingin bertanya kepada wanita yang duduk disampingnya itu. Baginya, itu adalah hal yang privasi Ratu Katrine terus memperhatikan Ratu Hanah dengan tatapan sinis selama ia berlatih untuk tes besok hingga ia berjalan kembali kedalam asrama bangsawan. “jadi, apakah kita juga akan menginap di asrama kerajaan?.”tanya Putri Solana dengan menyimpan beban “tentu saja, kita harus menginap disini. Karena, secara tidak langsung kita adalah bagian dari murid sekolah ini.” Pangeran Alarico tertuju kepada Edelweis yang sedang tertawa dan berbincang dengan Hanah “Ada apa kakak?." “aku sangat ingin mengenalnya.”ujar Pangeran Alarico yang memendam perasaan rindu yang sangat hebat selama belasan tahun kepada wanita cantik yang dipanggil Edelweis. Nieva memegang tangan Pangeran Alarico tatapan Nieva dipenuhi kedamaian, senyuman Nieva sangatlah lembut “hei, temui dia. Jangan takut, kita semua seumuran.” Upaya Nieva berhasil membuat Pangeran Alarico semakin bertekad untuk menyampaikan apa yang ia ingin katakan, ia menghampiri Edelweis dengan wajah penuh kerinduan “hai, salam kenal. Aku Pangeran Alarico.” Pangeran Alarico mengulurkan tangannya berusaha menjabat tangannya. Dengan ramah Edelweis menjabat tangan Pangeran Alarico seraya tersenyum, Pangeran Alarico dapat merasakan getaran hebat di dalam hatinya yang bercampur dengan kesedihan mendalam yang masih dapat ia tahan “senang bertemu denganmu, pangeran. Dari kerajaan mana kamu dan mengapa aku tidak pernah melihatmu ya?.” “Apakah pertemanan membutuhkan identitas dari kerajaan mana kita berasal?.” Pangeran Alarico kembali bertanya membuat Edelweis terbungkam dan menyesalinya pertanyaannya Edelweis menunduk dengan hormat seraya meminta maaf “Maafkan aku, ya.” Pangeran Alarico masih berupaya menahan sendu mendalam didalam dirinya “tidak apa, tapi bolehkah aku mengenalmu lebih jauh menjadi teman dekatmu?." “baiklah." Pangeran Marquez yang selalu memperhatikan Alise dari kejauhan, membuatnya tertarik untuk berkenalan dengan Alise yang selalu menyibukkan dirinya dengan dunianya sendiri, Rasa penasaran itu membuat Pangeran Marquez membututi dirinya “Seorang anak p*****r seharusnya, tidak bisa makan enak di asrama kerajaan seperti ini.” Sentak seorang laki-laki tak memiliki perasaan berusaha melecehkan Alise. “kamu hanyalah anak dari hubungan gelap antara Raja Stefly dengan Ratu Amora." Alise hanya diam tidak peduli ia tetap mengambil makanannya yang hanya diberikan satu kali makan malam, seorang siswa sengaja menghalangi kaki Alise hingga ia tersungkur ke lantai dengan tatapan semua rakyat sekolah menatapnya seraya tertawa, Alise berada dibawah tekanan emosi dan kesedihan hatinya sangat sakit ia memendam rasa malu, meski begitu ia tak menangis dan tetap bangkit sendiri “Alise, kamu tidak apa-apa?." Erando bergegas mendatanginya untuk membantunya bangun berdiri dan mengantarnya segera kedalam toilet “Aku sama sekali tidak memahami apa sebenarnya yang dilakukan oleh Raja Erando, sebenarnya ia memiliki perasaan untuk siapa?.”Pangeran Marquez sangat penasaran, ia kembali menemui teman temannya yang lain. Niguel berupaya mendekati kakak pertamanya Pangeran Alarico ia berhadapan dengan Hanah, seorang wanita yang selalu ia sebut sangat menyeramkan “hai, siapa namamu?. Aku belum pernah bertemu denganmu, aku harap kita bisa dekat ya.” cara sapaan yang selalu dilakukan oleh Pangeran Niguel sebenarnya itu adalah sapaan yang berasal dari Hanah Pangeran Niguel tersenyum manis karena ia seperti melihat dirinya sendiri sedang menyapa orang asing, ia menjabat tangan Hanah dengan ramah dan masih terus terkekeh “Salam kenal aku adalah Niguel aku baru saja masuk dan bersekolah disini." hal aneh terjadi adalah karena perasaan takut Niguel seakan menghilang, sangat berbeda dengan dirinya yang ada di masa depan. Putri Solana terus mengikuti langkah kaki Katrine yang membawanya ke sebuah pertengahan jalan “berhenti untuk menganggu jalanku.”Keluh Katrine menghentikan langkah kakinya menatap Solana dengan tatapan dinginnya yang seperti biasa ia lakukan Solana langsung meminta maaf dengan wajah yang sangat tulus dan penuh sesal. “Apakah kau sudah mengikuti beberapa latihan tes?.” pertanyaan Katrine hanya membuat Solana terkekeh malu Solana kembali diam ia terus menatap katrine dengan menatap kedua matanya “Kalau begitu, baca ini persyaratan untuk mengikuti lomba kau harus mempelajari beberapa tes." Solana tersenyum ia mengangguk dengan cepat “setidaknya kita memiliki waktu luang untuk saling bicara ya, Katrine.” Solana menitihkan air mata ia sangat bersyukur karena hari ini ia bisa dengan segera bicara kepada ibunya yang bahkan tak punya waktu satu jam pun untuk ya dimasa depan nanti. Ratu Katrine memicingkan matanya dengan heran menatap Solana yang menangis sedih “aku sama sekali tak mengerti apa yang kamu maksud. Sudahlah, aku harus buru-buru kembali." Semua siswa-siswi sekolah bangsawan berkumpul untuk menyambut kehadiran seorang guru pembimbing untuk membantu mereka dalam melakukan tes. “setelah mendengarkan apa yang aku katakan tadi, aku harap kalian sudah mengerti dengan materi Tes yang akan kalian hadapi besok." Semua siswa-siswi sekolah bangsawan sedang menyiapkan Tes yang akan mereka hadapi besok, bersaing untuk bisa menjadi partner dengan kerajaan wilayah selatan demi mengalahkan negara lain. Hanah yang sedang menyiapkan Tes perlombaan bersama dengan Niguel ia tersadar akan satu hal “Oh iya, Niguel maukah kamu menemaniku untuk menemui Katrine aku hanya ingin dia menjelaskan mengenai materi ini." “Baiklah.” Niguel yang tadinya merasa aneh dengan dirinya yang menerima kalau perasaan takut kepada Hanah menghilang, kini ia lebih cenderung nyaman bersama wanita itu. Mereka berdua menemui Katrine yang sedang berbaring di dalam kamarnya ia satu kamar dengan Alise yang sedang belajar untuk Tes besok ia duduk di samping tubuh Katrine yang terbaring lelah. “Katrine, tolong ajari aku mengenai materi ini.” pinta Hanah dengan memohon namun tetap saja diacuhkan Katrine, bahkan Katrine tak menoleh untuk melihat keberadaan Hanah “Kumohon Putri Katrine." “Berhenti untuk mengeluh. Katrine, aku sedang belajar untuk Tes berhenti membuatnya mengeluh itu mengangguku.”kesal Alise ia kembali membaca bukunya “Tolonglah, Katrine." bujuk Hanah merengek “kau cari sendiri dibuku ini.” Katrine memberikan sebuah buku sangat tebal yang berisi mengenai semua materi mengenai sekolah bangsawan “terimakasih, aku akan mencarinya disini." Katrine melanjutkan tidurnya, ia sangat kelelahan setelah membantu pemimpin sekolah menangani siswa-siswi sekolah bangsawan. “Hanah, kamu yakin akan mencarinya disini?." “Tentu saja!. Aku tidak akan menyerah begitu saja." Semalaman, Hanah mencari semua materi yang ia butuhkan di dalam buku tebal yang diberikan Katrine. Keesokan harinya, tibalah saat dimana mereka menjalani tes dan mendapatkan hasil atas kerja keras mereka melakukan tes. “waah bagaimana hasilnya ya?." Perasaan mereka seperti terdengar gemuruh di dalam hati mereka tatapan tegang menunggu hasil Tes yang akan mereka terima setelah mengerjakan beberapa tes hasil kerja mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN