Ketidakpuasan adalah racun mematikan bagi rumah tangga, terlebih yang masih belia. Tak terkecuali milik Karina yang sedari awal menerima segala yang tak sesuai dengan angan dan cita-cita. Sebagai seorang gadis terpelajar, setidaknya dia ingin menikah seperti juga kawan-kawan kakak angkatan yang mengadakan pesta di gedung ternama, mengundang segenap keluarga besar, sahabat-sahabat, serta kenalan. Berharap curahan doa-doa baik untuk fase kehidupan barunya.
Semakin banyak orang mengantar, maka semakin tak gentar. Memasuki gerbang pernikahan, agar senantiasa berbahagia. Selalu bersama dalam suka maupun duka. Apalagi seseorang yang berhasil memenangkan hatinya adalah juga orang yang diharapkan, yang Karina kenal selama ini sebagai pemuda santun dan rendah hati.
Akan tetapi apa boleh buat, semua itu hanya terjadi dalam angan belaka. Pernikahan sesungguhnya, dijalani dengan sederhana mengingat Karina tidak juga mendapat restu dari sang ibunda. Dan rasa-rasanya, Karina tidak akan tega berpesta di atas kegelisahan Mama. Wanita yang telah bertaruh nyawa demi mendengar tangis pertamanya itu, yang dulu kerap juga memimpikan pernikahan yang digelar megah dan meriah. Wanita yang dulu kerap memperingatkan Karina untuk menjaga bentuk tubuhnya, agar senantiasa proporsional.
“Selain cerdas, seorang wanita mestilah rupawan agar menjadi wanita yang sempurna. Jangan mengasihani diri,” pesan Mama saat dirinya mulai mengabaikan timbangan. Sedikit berlebihan, tapi itulah Reishia. Selalu menginginkan agar putrinya menuruti semua perintahnya termasuk perintah untuk menjauhi Ilham dan memilih lelaki yang lebih baik versinya.
Tiga bulan, bukan waktu yang singkat jika dijalani dalam hari-hari yang berat. Berbekal uang pemberian Papa, Karina dan Ilham pindah dan menyewa sebuah rumah di Ibukota. Keduanya lantas bahu membahu membangun kembali usaha ayam goreng. Namun tidak seperti di kota asal, di mana Ilham sudah punya langganan, di Jakarta mau tak mau semua dimulai dari nol.
Mereka harus bersaing dengan puluhan pedagang ayam goreng lain yang jaraknya tak begitu berjauhan. Belum lagi, gerai-gerai penyedia ayam goreng kelas kakap yang sudah mengakar kuat di sendi kehidupan masyarakat kota. Mereka juga harus bersaing dengan ayam goreng yang dimiliki para artis. Sehingga, rasa-rasanya sulit untuk mempertahankan usaha mereka.
Tiga bulan berjalan tertatih-tatih dan belum juga ada tanda-tanda akan bangkit. Sementara uang tabungan Ilham dan Karina mulai terkuras untuk menutup modal yang tak juga kembali. Akumulasi dari rasa lelah, penat dan putus asa membuat suasana hati Karina akhir-akhir ini memburuk.
Seandainya ingin menyalahkan, sebenarnya bisa saja dia menyalahkan sang suami. Karena walau bagaimana pun, lelaki itulah yang bertanggung jawab atas dirinya saat ini. Sebagaimana yang dimandatkan oleh Radit. Tidak, tidak usah sama seperti Papa, paling tidak sedikit mendekati saja Karina sudah senang.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Bahkan masa bulan madu mereka yang seharusnya diwarnai hal-hal romantis, sudah Karina iklaskan dengan sering membaui aroma amis ayam mentah yang sangat dibencinya. Sesungguhnya, wanita itu juga telah memberikan segenap daya dan upaya demi keberlangsungan usaha, juga hidup mereka. Hal itu sudah diduga dari awal, bahwa Ilham memang bukan tipe pendamping pengabul semua keinginan. Mungkin hal inilah yang selalu menjadi kekuatiran Mama.
Beberapa kali, wanita setinggi 167 cm itu tergoda untuk menghubungi Radit. Namun dia juga telah berjanji di hadapan kedua orang tuanya, bahwa asal bersama Ilham semuanya akan baik-baik saja. Jika sekarang dia sedikit mengaduka keadaan yang carut-marut, apa jadinya penilaian Mama terhadap Ilham yang memang dari awal sudah buruk? Bisa-bisa mereka dipaksa untuk berpisah.
“Tidak… tidak!” Karina menggeleng membayangkan hal buruk itu.
“Ada apa?” Ilham yang ternyataa sedari tadi berada di balik pintu yang tak tertutup sempurna masuk, lalu dengan cemas duduk di tepi ranjang tepat di samping istrinya.
“Entahlah. Aku memikirkan banyak hal.” Wanita itu memajukan bibirnya, lalu menyandarkan kepala di pundak Ilham.
“Aku bisa menyadari itu. Sungguh semua ini salahku.”
Ilham mendekap sang istri yang kini terlihat begitu lemah. Tak sekuat biasanya, tak seyakin ketika menjadi dosen gratisan bagi dirinya. Lebih dari itu, dia justru butuh untuk dikuatkan saat ini. Melebihi apa yang pernah Ilham dapatkan dari dirinya.
Dalam diam, kedua manusia itu berbagi beban dan kesedihan yang ditanggung masing-masing. Menjadi lebur dan berbaur, terbasuh oleh lelehan air mata Karina. Semakin kuat tubuh Karina terguncang kesedihan, semakin kuat pula Ilham mendekapnya. Andai saja, semua duka bisa diserap dan dirasakannya seorang diri, pasti Ilham akan lakukan itu demi Karina tercintanya. Menyaksikan pujaan hati bersedih dan tak bisa berbuat apa-apa, rasanya sungguh menyiksa….
“Maafkan aku….” Hanya itu yang bisa terucap karena lelaki itupun merasakan diri kehilangan daya, habis untuk berempati dan terserang rasa bersalah yang teramat besar. Terbayang betapa sulitnya posisi Karina saat ini. Dia yang biasa dimanja. Yang selalu mendapatkan segalanya, yang juga berusaha mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Kini harus terjebak bersama dirinya dalam kesulitan yang mungkin baru pernah dirasakan sepanjang hidupnya.
Kekurangan adalah kata yang sama sekali asing bagi dirinya. Kesusahan yang sama sekali tak mengenalnya, dan semua itu, gara-gara Ilham, sekarang harus mengakrabi hari-hari Karina. Oh, betapa malang, Sayangku! Jerit hati Ilham yang kini sudah melepaskan dekapannya. Membiarkan sang istri menenangkan diri, mempersiapkan diri menyambut mimpi-mimpi yang di atas apapun Ilham berdoa agar semuanya indah.
“Setidaknya, kamu bahagia dalam mimpi dulu,” ucapnya mengecup kening Karina ketika istrinya terlelap. Dan dalam kesedihan yang sedang menyelimuti rumah tangganya, tukang ayam goreng itu tetap terjaga. Menjaga Karina dengan doa-doa apa saja yang dia hapal, solawat juga surat-surat pendek dari juz terakhir Al-Quran.
Saat ini, tidak ada tempat lain untuk menyandarkan harapan selain kepada Yang Maha Memelihara. Ilham telah terbiasa dengan itu, dia tidak punya orang tua atau siapapun seperti Karina. Hal itu juga yang membuat dirinya kuat menjalani kerasnyaa hidup selama ini. Tapi sekarang? Sekarang dia tak lagi sendiri.
Ada seseorang yang perlu dia bahagiakan. Seseorang yang sebisa mungkin tak pernah menangis dan bersedih. Yang di wajahnya, Ilham harus selalu berusaha melukis senyum. Dengan cara apapun, karena kehadirannya adalah anugerah terindah. Hadiah yang bahkan terkadang Ilham sendiri ragu, apakah pantas dia mendapatkannya.
Pagi belum sempurna turun ketika Karina mendapati Ilham tidur dengan posisi duduk di samping ranjang. Dia menduga sepanjang malam, suaminya terjaga. Mungkin juga mendoakan kebaikan bagi Karina karena dia telah bermimpi yang indah. Sesuatu yang tak dapat diingatnya, namun menimbulkan rasa bahagia.
“Mas… Mas Ilham.” Karina menepuk-nepuk punggung tangan lelakinya yang terbangun dengan mata yang merah menahan kantuk.
“Mas nggak tidur?”
“Ini jam berapa?” jawab Ilham balik bertanya.
“Sudah hampir jam empat pagi, Mas.”
Mendengar jawaban Karina yang sudah sepenuhnya terbebas dari kantuk, Ilham tak juga menyahut. Dia hanya berjalan ke sisi lain tempat tidur, kemudian menjatuhkan diri di sana. Tak lupa memasukkan kaki ke dalam selimut. Memunggungi Karina.
“Aku mau tidur sebentar. Jangan lupa bangunkan ya.”
“Oke.”
Tanpa menunggu menit berlalu, Karina menyelipkan tangan di bawah ketiak suaminya. Memeluk dari belakang, mencoba untuk kembali tidur tapi rasa kantuknya sudah habis tak bersisa. Keisengan Karina pun muncul seketika.
Wanita itu mencolek-colek pipi Ilham agar lelakinya tak kunjung jatuh ke dalam tidur.
“Aduh, Sayang. Plis, aku mau tidur sebentar,” keluh sang suami. Tapi alih-alih berhenti, dia malah semakin gemas. Dicolek-colek pula pinggang Ilham.
“Nanti kita kesiangan dagang, Karina Sayang!”
“Bodo amat! Hari ini kita libur.”
“Terus ayamnya gimana?”
“Kita simpan di freezer. Lagipula, sudah lama kita tak jalan-jalan, kan?”
“Ya … ya … ya. Tapi sekarang aku mau tidur!”
“Enak aja!”
Karina menghujani Ilham dengan ciuman-ciuman kecil di wajahnya. Ditambah dengan pelukan yang melenakan, rasanya si tukang ayam tidak dapat berbuat banyak untuk berupaya tidur. Tidak ada jalan lain, selain membalas perlakuan Karina dengan lebih ganas. Lalu pagi itu pun menjadi pagi yang seolah terjebak macet dan terlambat datang. Semata untuk memberi pasangan itu kesempatan mereguk kebahagiaan….
LovRegards,
MandisParawansa