Bagian Enam

1185 Kata
Serba salah! Itulah yang diderita oleh Karina. Sudah dua hari flu membuatnya terbelenggu di tempat tidur. Ada semacam beban berat menempel di punggung yang seakan memintanya harus selalu berbaring, tapi di sisi lain hidungnya tak mau berkompromi untuk membiarkan acara baring-baringan itu menjadi nyaman dan menyenangkan. Terlebih, ketika seharusnya Karina menjalani bimbingan dengan dosen yang paling sulit dimintai waktu. Melewatkan satu kali bimbingan, maka setidaknya Karina harus menunggu lagi minimal dua minggu dan itu bukan waktu yang singkat. Hanya saja kombinasi dari hidung tersumbat, sakit di kepala dan nyaris sekujur tubuh membuatnya tak sanggup bahkan untuk sekadar keluar kamar. Saat-saat seperti ini yang paling dirindukan adalah rumah. Tempat di mana biasanya tidak ada masalah yang tidak mendapat solusi. Ketika dia sakit, maka segala bentuk curahan perhatian dan kasih sayang tak pernah alpa dari hari-harinya. Tetapi itu dulu, saat Karina masih belia. Sekarang, mengingat betapa protektifnya mama, jika dia mengabarkan kondisinya pada orang rumah, maka gadis itu harus bersiap-siap angkat kaki dari kamar kos dan tidak akan pernah kembali lagi. Wanita yang tak pernah menganggap Karina dewasa bahkan terkadang sikapnya cenderung posesif. Hanya Bianca satu-satunya orang yang bisa diandalkan sekarang. Gadis yang akhir-akhir ini sedikit sinting dan sering tersenyum sendiri itu mau melakukan apa saja untuk Karina. Kalau ada istilah sahabat terbaik maka yang patut disematkan kepada Bianca adalah sahabat terbaik kuadrat, atau bahkan lebih dari itu. “Nah, selama nggak ada aku, kamu jaga diri baik-baik.” Bianca meletakkan semangkuk bubur di meja kecil dekat tempat tidur Karina. “Okay, Bos.” Karina berusaha mengurai senyum, tidak mau membuat Bianca makin khawatir dengan keadaannya. Sekadar flu, sungguh seharusnya itu bukan masalah besar, tapi entah kenapa kepalanya terasa berat, maunya manja-manjaan dengan bantal guling, lalu memejamkan mata kalau saja hidungnya yang tersumbat itu setuju. Namun  sayang, flu yang kelihatannya sepele, ternyata mampu membuat Karina tidak bisa tidur. “Habiskan sarapannya dan cepatlah sembuh,” ujar Bianca seraya menenteng tas. “Baik, Bos.” “Kalau ada apa-apa telepon segera atau SMS. Pokoknya hubungi aku!” “Iya. Iya.” “Baiklah, ibu berangkat dulu, Nak,” canda Bianca sembari berlalu dan Karina sedikit terbatuk karena tawa. Kalau Karina berpikir bahwa Bianca sedikit sinting, seharusnya dia berkaca. Karena bahkan yang Karina lakukan saat ini lebih dari sekadar sinting, tapi sudah mencapai tahap gila yang benar-benar gila. Di saat terserang flu seperti ini, alih-alih beristirahat dan tidur agar segera sembuh, Karina malah pergi. Ada semacam kekuatan magis yang menggerakkannya. Kekuatan serupa sihir yang mendorong Karina melangkah ke kios tempat Ilham berjualan. Dalam benaknya, seolah pemuda itu sedang memanggilnya atau sebenarnya Karina sendiri yang terus meneriakkan nama Ilham? Berbalut knit cardigan peach, Karina menerobos udara yang terasa sedikit jahat akhir-akhir ini. Kakinya terus mengayun langkah. Di tengah perjalanan, Karina baru sadar bahwa dia masih mengenakan sandal kepala beruang kesayangannya.“Bodo amat!” ujarnya saat menyadari betapa kacau penampilannya saat ini. “Karina,” sapa Ilham terkejut mengetahui kehadiran teman barunya. Dengan sedikit menggigil, orang yang disapa duduk di salah satu bangku sambil memeluk lengan. “Aku mau makan ayam goreng.” Dan ucapannya barusan adalah berkekuatan perintah yang tak dapat ditolak oleh Ilham. Cowok itu segera menghidangkan dua potong ayam, dan seporsi nasi untuk Karina. Plus teh hangat. Belum selesai Karina menyantap hidangannya, Ilham kembali dan menaruh sebuah mangkuk berisi sayur-sayuran. “Makan ini juga ya,” pintanya. Karina menaikkan alis dan membulatkan mata pada Ilham menagih penjelasan. “Ini sayur sop. Kita harus banyak makan sayur, kan?” Gadis itu kembali mencurahkan perhatian pada potongan wortel, buncis, kol dalam kuah bening di mangkuk. Aroma daun seledri dan bawang goreng, mampu menerobos indra penciumannya yang sedang tersumbat, dan itu sangat menggoda. Lebih dari itu, Karina melihat sebentuk perhatian dalam sayur sop yang baru saja dihidangkan oleh Ilham. . “Oke,” sahut Karina pada akhirnya. “Nah gitu dong, Cantik. Biar lekas sembuh.”    Dengan kurang ajarnya Ilham berlalu setelah mengucapkan kalimat yang sangat mengacaukan perasaan Karina. Sementara Karina, dia sibuk menyelamatkan diri dari rasa tenggelam oleh perasaan yang entah. Saat ini, dia membayangkan bahwa dirinya ada di dalam mangkuk itu dan berenang nyaris tenggelam bersama potongan sayur. Maka dengan lahap dia segera menyantap sayur sop buatan Ilham, yang ternyata sangat enak. Saat Ilham kembali semua makanan di meja sudah tandas. Kecuali teh hangatnya yang masih setengah gelas. Ilham bertepuk tangan pelan dan bangga pada Karina. “Wah, hebat! Kalau begini kamu pasti bisa cepat sembuh,” pujinya. “Ya, aku memang tidak betah berlama-lama sakit,” ujar Karina menanggapi. Lagi pula, siapa yang betah sakit? Ajaibnya, setelah makan Karina merasa jauh lebih baik berkali-kali lipat, ketimbang saat Bianca meninggalkannya dengan sederet wejangan supernya tadi. Waktu menunjukkan pukul dua siang dan ayam goreng sudah mulai habis. Ilham membawa jurnal-jurnal pemberian Karina dan menunjukkan pada gadis itu. “Karina, apa kamu nggak keberatan kalau menjelaskan tentang ini?” Ilham bertanya dengan sedikit ragu. Mengingat keadaan Karina yang saat ini sedang kurang sehat.   “Sama sekali tidak,” jawab Karina karena sebenarnya dia juga sudah berjanji pada Ilham, untuk mengajari lelaki itu cara mengisi jurnal, tapi belum sempat karena Karina keburu terserang flu. “Aku sudah coba mengisinya, tapi masih bingung,” keluh Ilham ketika Karina mulai membuka-buka jurnal yang dimaksud. Seketika, perut Karina seperti diserbu dengan gelitikan bertubi-tubi saat melihat jurnal itu. Bagaimana tidak, Ilham menuliskan setiap transaksi yang terjadi dalam satu hari ke dalam financial workbook. Hal itu membuat Karina tak bisa menahan tawa. Terbayang betapa repotnya Ilham, menuliskan setiap transaksi hari kemarin dan sekarang jurnal itu hampir penuh. Karina tertawa lepas, dan anehnya itu membuat dia merasa kalau keadaannya semakin membaik lagi Ilham sadar telah melakukan kesalahan. Tetapi, alih-alih terluka oleh tawa Karina, pemuda itu malah ikut tertawa. Lebih tepatnya menertawakan kebodohan diri sendiri, juga perasaan aneh tak terjelaskan ketika bersama Karina seperti sekarang. Saat-saat yang membuat Ilham berharap memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu, agar bisa lebih lama bersama Karina. Dengan sabar, Karina mengajari Ilham banyak hal. Tangannya cekatan menuliskan angka-angka di dalam kotak-kotak tabel. Si tukang ayam menyimak dengan saksama, sehingga sesuatu yang awalnya terasa asing dan gelap baginya, kini mulai terlihat terang. Seterang perasaan beruntungnya bisa mengenal gadis sebaik Karina. Bahkan di sela-sela waktunya menyusun skripsi, dia menyempatkan diri untuk membantu Ilham. Ketika tangan mereka tak sengaja bersinggungan di atas meja, yang bisa dilakukan Ilham hanyalah cepat-cepat menariknya sebelum getar yang terjadi di d**a merambat ke sana, lalu disadari oleh Karina. Sama halnya dengan Karina yang nyaris salah tingkah, tapi terselamatkan oleh posisinya sebagai dosen pembimbing gratisan bagi Ilham. Selesai dengan urusan pencatatan di kios Ilham, Karina pulang dan disambut dengan wajah khawatir Bianca. Gadis itu sedang mondar-mandir di depan kamar dan segera menghambur ke arah Karina. “Syukurlah, kamu pulang. Aku mencarimu dari tadi. Kamu ke mana aja sih? Ditelepon nggak angkat, di-SMS nggak bales!” Saat yang bersamaan Karina sadar bahwa dia telah meninggalkan telepon genggamnya di atas tempat tidur. “Oh, sorry, Bi. HP-ku ketinggalan.” Bianca menyelidiki karibnya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan ekspresi heran. Bagaimana mungkin, Karina pergi dengan sandal itu? “Kamu habis dari mana sih?” “Ada deh.”“Tapi kamu baik-baik aja kan? Kelihatannya kamu udah baikan sekarang,” komentar Bianca yang diiyakan Karina dengan senyum. “Please, kasih tau aku kamu dari mana!” “Ra-ha-sia!” Karina berlalu dan masuk ke kamar. Diikuti oleh Bianca yang semakin penasaran. Sungguh, Karina tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau Bianca tahu yang sebenarnya? Bahwa Karina jatuh hati pada tukang ayam goreng?    LovRegards, MandisParawansa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN