Bagian Lima

1860 Kata
Entah takdir apa yang sedang mempermainkan Karina, sehingga saat ini dia kembali berada di kios tempat Ilham berjualan. Kemarin, dia telah berhasil menyumbangkan tangan untuk membantu pekerjaan Ilham sampai akhirnya dia bisa menyelesaikan pesanan tepat waktu, bahkan gadis itu juga ikut mengantarkan pesanan ke rumah si pemesan. Untuk pertama kalinya mereka bersama dalam waktu yang cukup lama, dan terlibat beberapa obrolan yang sebenarnya biasa saja, tapi anehnya hal itu menumbuhkan perasaan nyaman di hati Karina. Mengingat jawaban-jawaban yang diberikan Ilham ketika mengisi kuesioner skripsi miliknya kemarin, Karina paham bahwa seperti juga kebanyakan pedagang kecil lain, Ilham tidak membuat pencatatan dengan baik. Bahkan jika ditanya berapa laba yang dapat dihasilkan dalam satu hari, Karina yakin Ilham tidak dapat menyebutkan angka pasti untuk sebuah rata-rata. Pemuda itu benar-benar tidak tahu apa itu cashflow.  Begitu juga dengan pencatatan stok barang, semua hanya ditulis dalam lembar-lembar kertas. Akan tetapi, apakah dia juga menyimpan dan kemudian merekap semuanya? Banyak celah-celah yang bisa menimbulkan kebocoran anggaran, yang tidak disadari oleh Ilham, dan itu bisa mengancam keberlangsungan usahanya. Menurut Karina, tidak ada jalan lain selain memperbaiki manajemen usaha milik pemuda itu. Apalagi mengingat bahwa kelihatannya hanya usaha itulah satu-satunya tumpuan hidup Ilham. Apa jadinya kalau usahanya bangkrut? Ah, apa pedulinya? Kalau bangkrut ya bangkrut saja. Tutup ya silakan saja. Toh tidak ada pengaruhnya sama hidup Karina, kan? Dia akan selalu berada dalam keamanan finansial yang terjamin oleh orang tua. Untuk apa dia harus peduli sama tukang ayam goreng tak tahu diri, yang sudah memaksanya menjadi asisten di hari sebelumnya? Nyatanya Karina tidak bisa sekejam itu. Bahkan ketika seharusnya semua perhatian dia curahkan kepada tugas akhir, rasanya mustahil bisa mengabaikan Ilham begitu saja. Ada perasaan perlu untuk menolong, sekaligus mempraktikkan ilmu yang selama ini didapatnya.Dan di sinilah dia terdampar sekarang. Menempati salah satu meja di kios itu, berkutat dengan tabel-tabel yang dia susun. Membuat semuanya sejelas dan semudah mungkin untuk dimengerti. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah Ilham yang sedang melayani pembeli. Ada sesuatu yang ganjil di d**a Karina. Sesuatu seperti warna-warna yang saling berbenturan di udara. Kacau, tapi tetap indah. Terutama saat pemuda itu terlihat begitu ramah, menampilkan senyum terbaiknya pada para pembeli. Ya, dia memang simbol kesederhanaan yang mengagumkan. “Mas, Karin pergi dulu, ya.” Karina berpamitan ketika apa yang dikerjakannya sudah selesai. “Oh, mau ke mana? Ada kepentingan, ya?” jawab pemuda itu, yang sebenarnya belum rela kalau Karina pergi. Jam makan siang membuat kiosnya selalu ramai, jadi selama Karina duduk di sana, mereka hampir belum sempat mengobrol, kecuali hanya saling sapa sekadarnya. “Nggak. Eh, iya, mau nge-print ini. Nanti kalau udah jadi Mas pakai ya,” pinta Karina membuat Ilham diserang tanda tanya. Cowok itu hanya diam dan memajukan sedikit wajahnya, melihat layar laptop yang barusan ditunjukkan Karina.  Ekspresi wajahnya yang terlihat bingung begitu benar-benar membuat Karina gemas. Rasanya ingin sekali tangan itu mencubit pipinya, atau sekadar menepuk-nepuk manja pipi dengan rahang yang tegas dan terkesan sexy itu. “Emh, in-ini ... Tadi aku bikinin jurnal-jurnal buat Mas Ilham, biar usaha Mas jadi lebih baik lagi.” “Jurnal?” “Iya, nanti Mas bisa isi setiap hari supaya perkembangan atau apa pun itu lebih mudah dideteksi dan diantisipasi,” terang Karina dengan gembira. “Tapi aku nggak ngerti.” “Tenang aja, aku bikin format yang paling gampang dan periodik, nanti aku ajarin Mas cara ngisinya. Oke?” “Jadi, dari tadi kamu ngerjain itu?” Karina mengangguk beberapa kali mirip seperti anak kecil yang sedang ditawari eskrim oleh neneknya yang tak suka melarang. “Demi aku?” Seketika Karina kehilangan kata-kata untuk menanggapi pertanyaan yang baru saja dilayangkan oleh Ilham. Apa jadinya kalau pemuda itu tahu perasaan Karina? Oh, tidak, maksudnya perasaan simpatinya. Bisa saja, simpati itu disalah gunakan Ilham untuk memanfaatkannya lagi. Demi menghindari apa yang diasumsikan pikiran negatifnya, Karina menepis pertanyaan yang mirip pernyataan itu dengan senyum simpul.    “Lebih tepatnya demi pedagang-pedagang sepertimu. Rencananya, aku juga bakal buatin kayak gini buat pedagang lain yang kemarin juga udah bantuin aku buat ngisi kuesioner.” Karina tidak pernah menduga bahwa upaya untuk menghindari kekaguman, atau apa pun itu, tidak akan pernah berhasil sama sekali. Justru membuat Ilham semakin tertarik pada dirinya. Entah mengapa, jalan hidup keduanya seolah seperti dua buah tali yang terjalin. Karena pada hari-hari berikutnya, waktu mereka sering diwarnai kebersamaan. Seperti kebersamaan mereka saat ini, ketika Karina menggenggam tangan Ilham di hadapan orang tuanya. Berusaha keras untuk mempertahankan keberadaan pemuda itu di sisinya. “Dasar tidak tahu diri! Kampungan! Apa kamu tidak punya cermin? Orang sepertimu, berani-beraninya melamar anak saya! Apanya yang pengusaha? Tukang ayam aja sok berlagak intelek,” hardik Nilam pada akhirnya meledakkan amarah yang sedari tadi ditahan-tahan. Merasa direndahkan, sebagai seorang lelaki Ilham tak terima. Baginya, meski hanya sebagai pedagang ayam goreng, dirinya tak boleh diremehkan sedemikian rendahnya. Apalagi mengingat jasa-jasa almarhum kedua orang tua, yang telah mendidik dan membesarkannya dengan penuh perjuangan. Seketika itu hatinya meradang mendengar pernyataan mama Karina.    “Anda benar, memang sebutan pengusaha rasanya terlalu berlebihan mengingat usaha yang masih kecil,” ungkap Ilham dengan penuh keyakinan. Tak ada penekanan di setiap kata yang diucapkan. Namun, dari caranya bicara, serta pembawaannya yang tenang, sudah cukup menggambarkan betapa tinggi egonya sebagai seorang pemuda yang tak mau terus diinjak-injak. Yoga bisa memahami hal itu. Terlebih saat mengingat, dirinya juga dulu memulai semua dari bawah. Penuh perjuangan yang berdarah-darah. Namun tidak dengan Nilam. Dia menilai buruk pemuda yang baru kali pertama menginjakkan kaki di rumah mereka. Memangnya, siapa dia? Siapa Ilham? Sampai berani-beraninya menunjukkan sikap yang tinggi hati di hadapan keluarga Karina? Demi langit yang menaungi bumi, Nilam tidak akan pernah mengizinkan lelaki itu menikahi Karina. Tidak! Jangankan untuk menikahi, untuk dekat saja mulai saat ini dia akan tegas melarang. Sungguh mengherankan sekali, kenapa anak semata wayangnya mengenalkan seseorang yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun. Terutama Nilam. Wanita itu bahkan berpikir sihir macam apa yang digunakan orang bernama Ilham, untuk memperdayai putrinya? Padahal, banyak orang yang menggadang-gadang, bahwa calon pendamping Karina pastilah pengusaha muda sukses yang rupawan sekaligus bergelimang harta. Walau bagaimana pun, bagi Nilam menjaga nama besar keluarga itu sangat penting. Termasuk menikahkan Karina dengan orang yang minimal sepadan dengan mereka. Membayangkan putri kesayangannya menikah dengan pemuda kampungan sungguh menyesakkan d**a. Rasanya, langit baru saja diruntuhkan di atas istana mereka, ketika tiba-tiba sang putri memintanya memberi restu. “Karina, apa kamu sudah kehilangan akal?” “Enggak, Ma. Apa maksud Mama?” “Karin, dengar ya, apa pun masalah yang kamu punya kita bisa selesaikan. Kamu jangan kuatir, Nak,” bujuk Nilam. Wanita itu mengira bahwa ada yang salah dengan putrinya. “Justru Karina baik-baik aja, Ma.” “Terus kenapa?” “Kenapa apanya, Ma? Apa salah kalau Karina memilih Mas Ilham?” Gadis itu meilirik sekilas dengan penuh kasih kepada kekasihnya. “Kalau alasannya cuma karena kamu sudah hamil, Mama pastikan itu tidak akan jadi masalah. Masih banyak lelaki mapan yang akan menerimamu, Sayang.” “Mama! Mama keterlaluan!” Untuk kali pertama Karina meninggikan suara di hadapan orang tuanya. Sungguh, dia tidak sehina itu sampai hamil di luar nikah. Dan lagi, Ilham bukan lelaki b***t. Dia pemuda baik-baik, meski bukan orang yang berkelimpahan harta. Sungguh sangat disayangkan,  bagaimana bisa seorang ibu menuduh anaknya melakukan hal menjijikkan semacam itu. Memeluknya saja Ilham tidak berani. Selama menjalin hubungan dengan pria itu, satu-satunya hubungan fisik yang mereka lakukan, hanyalah saling bergandeng tangan. Tidak lebih. Itu pun lebih sering Karina yang berinisiatif. Mendengar perselisihan antara Karina dan mamanya yang seharusnya tak pernah terjadi, Ilham memilih untuk undur diri. Dia tahu, bahwa tidak perlu waktu lama lagi untuk mendapatkan luka baru jika tetap berada di sana. Penghinaan dari orang tua Karina sudah lebih dari apa yang bisa dia tanggung. “Maaf, sepertinya lebih baik saya pergi.” “Bagus kalau kamu tahu diri,” sela Nilam. “Mama!” Karina melotot ke arah wanita yang telah melahirkannya. Ilham bangkit, dia sempat melihat ke arah Yoga yang kelihatan tidak enak hati karena sikap istrinya, meski kenyataannya laki-laki itu juga hanya bisa diam. Entah apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran orang yang beberapa menit lalu hampir menjadi calon papa mertua. Sementara Nilam masih terlihat sinis, seolah dia lebih menjijikkan dari kecoa yang perlu dibasmi. “Permisi, Om,” ucapnya sambil mengangguk sekilas ke arah Yoga.“Mas Ilham jangan pergi,” rengek Karina manja, gadis itu mengekor di belakang kekasihnya. Ilham menoleh sambil memaksakan sebuah senyum, lalu memegang tangan gadis itu dan menaruhnya di genggaman sang ayah. Tangan yang sering membantunya itu seolah sudah dikembalikan kepada yang seharusnya. Tidak ada yang tahu betapa berat beban dan luka yang harus dia tanggung untuk tetap terlihat tenang di hadapan mereka. Dengan sisa kebanggaan dan kedua pundak yang menahan beban luka, Ilham berjalan keluar. Langkah kakinya terasa berat. Separuh hati pemuda itu masih tertinggal di dalam. Bersama orang yang baru saja menanamkan sebutir benih kebencian, yang Ilham berdoa dengan sungguh, agar tak pernah tumbuh dan segera pupus. “Mas Ilham.” Tiba-tiba Karina memeluknya dari belakang. Air mata telah sukses membanjiri wajah cantiknya. Dengan begitu sombong, siap merusak apa saja yang Karina tempelkan di sana, termasuk riasan sederhana yang mempercantik wajah. “Karina, masuklah. Tempatmu bersama orang tuamu. Bukan denganku.” Ilham melepaskan tangan Karina yang melingkar di pinggang. Pemuda itu berbalik, hatinya semakin hancur mendapati wajah Karina yang dipenuhi air kesedihan.  Sungguh, tidak ada yang lebih menyakitkan, dari melihat kekasihnya menangis dan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Tangannya terulur menyentuh wajah Karina, mencoba menghapus kesedihan yang mendekap gadis itu. “Masuklah.” “Karina nggak mau, Mas.” “Karina, aku mohon. Aku nggak mau semakin memperkeruh suasana.” “Maafin mereka. Mas Ilham jangan tinggalin Karina. Karina yakin, mereka pasti setuju dengan hubungan kita. Percayalah, Mas.” “Entahlah, Karina.” “Apa Mas Ilham udah nggak cinta sama Karin?” tuntut Karina dengan menatap mata Ilham, mencoba tegar dan berani. “Sekarang masalahnya bukan tentang aku mencintaimu atau tidak. Ini tentang restu dari kedua orang tuamu.” “Jawab aja pertanyaan Karin. Apa Mas Ilham udah nggak cinta sama Karin? Apa Mas udah nggak sayang lagi sama Karin? Kenapa Mas tega menghancurkan semua impian yang sudah kita bangun selama ini hanya karena ucapan Mama?” Tangis Karina semakin menjadi, membuat hati Ilham rasanya seperti diremas-remas. “Mas, Karin selalu percaya kalau kita pasti bisa bersama. Kenapa Mas Ilham nyerah semudah itu? Karin ....”   Kata-kata yang hendak keluar dari bibir Karina berhenti seketika, saat Ilham tiba-tiba memeluknya. Pemuda itu mendekap erat tubuh kekasihnya, berusaha mengungkapkan perasaannya lewat sebuah pelukan. “Aku mencintaimu, Karina. Sangat mencintaimu. Kamu mungkin nggak pernah sadar, tapi selama ini, hanya kamu satu-satunya wanita yang berhasil menempati hatiku, dan mengetahui kedalamannya. Dan selamanya akan begitu, tapi kita tidak bisa bersama, Karina. Tidak tanpa restu dari orang tuamu.” *** Karina mengambil baju-bajunya dari lemari dan memasukkan ke dalam koper dengan cara serampangan. Kamar yang tadinya sudah sangat berantakan, sekarang makin tak berbentuk. Gadis itu mengenakan jaket hadiah dari Bianca, kemudian bergegas pergi. Tidak ada cara lain. Kalau mamanya tetap bersikeras tidak mau menerima Ilham sebagai pilihannya, hanya karena dia bukan orang kaya, maka lebih baik Karina juga hidup di jalanan. “Sayang, kamu mau ke mana?” tanya Yoga ketika mendapati anak gadisnya menyeret dua koper besar. “Pa, Karin minta maaf, tapi lebih baik Karin pergi dari rumah ini, Pa.” Mendengar jawaban Karina, Yoga hanya tersenyum. Jenis senyuman yang selalu berhasil menguapkan seluruh emosi Karina. Dia selalu luluh pada tatapan dan senyuman ayahnya. “Karina sayang, maafin Papa karena tidak bisa menekan emosi mamamu, tapi percayalah, dia nanti pasti akan setuju,” ucapnya seraya mengambil koper-koper Karina. “Tapi, Pa ....” “Percaya sama Papa.” Ya, papanya memang selalu bisa diandalkan. Gadis itu segera memeluk Yoga dan menyandarkan kepalanya dengan sangat manja. “Makasih, Pa.” LovRegards, MandisParawansa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN