2. Nyaman

1388 Kata
Lee Choh Yun sedang mengamati sesuatu dari tirai kamarnya. Di belakangnya terdapat Perdana Menteri Kim Yu Shin yang juga ikut mengintip apa yang diamati Rajanya. "Kim Yu Shin apa manusia itu kerjaannya cuma mematung seperti itu?" tanya Lee Choh Yun tanpa melepas pandangannya pada sosok Jang Na Rie yang berdiri mematung di pinggir kolam penuh teratai. "Pada umumnya manusia selalu melakukan kegiatan seperti bertani, berkebun, menggembala ternak, mencangkul, atau memanggul karung." "Hei ... dia itu wanita, kenapa kau samakan dengan kegiatan para lelaki?!" tegas Raja Lee kurang senang. Dia menatap Kim Yu Shin dengan matanya yang tajam. "Maaf Yang Mulia," jawab Kim Yu Shin membungkukkan badan tanda menyesal. Raja Lee kembali menatap Jang Na Rie dari tirainya. "Dia akan berdiri di situ sampai kapan?" gumam Raja Lee heran. "Mungkin Yang Mulia bisa memberinya kegiatan," saran Kim Yu Shin. Raja melirik perdana menterinya dengan ekor matanya yang tajam. "Kegiatan apa?" "Yang Mulia bisa memintanya memijat pundak Anda atau membantu memakai Jubah Naga Anda atau ...." "Itu terlalu ekstrim untukku Kim Yu Shin!" ucap Raja Lee setengah berteriak. Kim Yu Shin kembali membungkukkan badan meminta maaf. "Aku ini pria normal, aku jarang kontak fisik dengan perempuan. Jika kau menyuruhku memberi dia kegiatan untuk memijatku, apa kau ingin aku memperkosanya?!" tegas Raja Lee merengut marah. Kim Yu Shin menahan senyumnya membuat raja salah tingkah. "Kenapa kau tersenyum? Apa kau kira naga sepertiku tak punya nafsu?!" "Maaf Yang Mulia." Hanya itu yang bisa diucapkan sang perdana menteri masih sambil menahan senyum. Raja Lee menarik napas dalam-dalam lantas berjalan mendekati peraduannya. "Kenapa Yang Mulia tak mengajaknya jalan-jalan?" tanya Kim Yu Shin dengan sopan. "Mungkin itu ide yang bagus." Sang raja mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka terdiam cukup lama, raja kelihatannya juga tampak berpikir keras. "Apa kau tahu wanita itu membutuhkan apa saja?" tanya raja sambil melirik perdana menterinya. "Tentu saja perhiasan dan pakaian Yang Mulia. Pada umumnya wanita menyukai keindahan." Kim Yu Shin menjawab tanpa ragu. "Kalau begitu katakan padanya aku akan mengajaknya jalan-jalan ke muka bumi," putus Raja Lee menatap tajam sang perdana menteri. "Baik Yang Mulia," ucap Kim Yu Shin membungkukkan badan dan mohon diri. **** Tak biasanya Raja Lee pergi dengan menggandeng. Mungkin dia takut jika calon makanannya itu kabur dan meninggalkannya. "Kakak kau tak perlu menggandengku seperti itu," keluh Jang Na Rie keberatan. Raja Lee yang berpenampilan mirip bangsawan memakai topi lebar guna menutupi tanduknya. Pria tinggi kekar itu menoleh pada Jang Na Rie. "Kakak?" ucapnya dengan heran. "Aku tahu kau raja di kerajaanmu tapi aku takkan memanggilmu raja. Pada akhirnya kau juga akan memangsaku," ucap Jang Na Rie pelan. Raja kembali melangkahkan kaki, bergeming dengan ucapan Jang Na Rie. Dia tak keberatan jika gadis itu memanggilnya kakak bahkan memanggil pakai namanya saja tak apa toh nanti dia juga akan jadi mangsanya. Mata raja terpaku pada pakaian indah berwarna merah, warna mencolok itu sangat cocok untuk kulit Jang Na Rie yang putih seperti salju. "Berapa harga kain warna merah itu?" tanya Lee Choh Yun pada penjualnya. "Ini sangat mahal Tuan," jawab penjual itu membuat Raja Lee marah. "Kenapa kau bicara begitu? Apa kau kira aku tak bisa bayar?" gertak Lee marah. Penjual tua itu kelihatan takut dengan intimidasi sang raja Lee. "Bahkan semua yang kau jual ini aku bisa bayar. Lihat aku punya sekantung koin emas," imbuhnya lagi. "Sudahlah!" ucap Jang Na Rie menengahi. "Maaf Tuan," ucap penjual membungkukkan badan. Penjual itu lalu memberikan pakaian warna merah pada Raja Lee. "Apakah Tuan akan memberikan pakaian itu pada pelayanmu?" tanya Penjual tua berbasa-basi. Raja Lee kembali marah, dilemparnya 2 koin emas. "Jaga bicaramu atau kupotong lidahmu!" ucap Raja Lee lagi. Jang Na Rie menarik tangan Raja Lee agar menjauh. "Kau seharusnya lebih sopan berbicara dengan yang tua," protes Jang Na Rie tak suka. "Jadi kau lebih memihak padanya?" ucap Raja makin kesal. Lee Choh Yun melempar pakaian itu pada Jang Na Rie setengah marah. "Ini pakaianmu! Bawa sendiri," ucapnya ketus lantas pergi mendahului Jang Na Rie. Gadis itu menurut, senyum tipis muncul di bibirnya. Baru kali ini ia menjumpai pribadi yang aneh seperti Raja Lee. "Apa kau suka perhiasan?" tanya Lee Choh Yun melembut. Pria bertanduk itu berhenti di kedai perhiasan. "Aku lebih suka makanan," jawab Jang Na Rie pelan. Raja Lee berbalik padanya, Jang Na Rie yang berjalan tak melihat ke depan harus menabrak tubuh pria itu. "Aduh ..., maaf," ucap Jang Na Rie sembari membungkuk. "Kenapa kau ceroboh sekali?" ucap Raja Lee setengah berteriak. Walau begitu pria itu tetap menarik tangan Jang Na Rie untuk melihat perhiasan. "Pilihanlah perhiasaanmu," ucap Raja melembut. Gadis itu mengambil asal membuat sang raja lagi-lagi harus kesal. Ditepisnya tangan mungil Jang Na Rie membuat sang gadis terheran. "Pilihlah dengan hati-hati jangan asal. Aku tak mau membelikanmu mahal-mahal tapi akhirnya kau tak mau memakainya," ucap raja dengan serius. "Kalau begitu kau saja yang pilih, sekalian saja kau yang pakai!" ucap Jang Na Rie merengut. Raja hanya menggumam marah, dia lalu mengambil tusuk rambut pilihannya. Tanpa permisi, raja meraih kepala Jang Na Rie dan mencobanya. "Ini bagus untukmu," ucap Raja tanpa minta komentar Jang Na Rie. "Tuan tak membeli gelangnya? Gelang tangan atau kaki?" ucap sang pedagang menawarkan barangnya. Lee Choh Yun sejenak berpikir, ia tak memperhatikan apalagi minta pendapat Jang Na Rie. "Aku ambil gelang kaki saja," ucap Raja memutuskan. Setelah sekian lama berputar-putar di pasar, sang raja membelikan makanan dan minuman untuk calon mangsanya itu. Wajah Jang Na Rie terlihat lelah membuat Raja Lee sedikit iba padanya. Dia menarik tangan mungil Jang Na Rie dan mengajaknya duduk menjauh dari kerumunan. "Makanlah kau pasti lapar," ucap Raja Lee di samping Jang Na Rie. "Kau tak makan?" ucap Jang balik bertanya. Lee Choh Yun menggeleng lalu menatap sisi lain. "Itu bukan makananku," jawab Raja Lee datar. Entah kenapa pria itu tak sungkan mengatakannya, mungkin rasa nyamanlah yang membuatnya jadi terbuka. "Ayo cobalah buah ini!" bujuk Jang sembari menangkup pipi Raja Lee. "Aku sudah bilang itu bukan makananku, aku suka makan daging mentah. Lebih baik gemukkan badanmu agar kau bisa cepat cepat aku makan," ucap Raja Lee setengah berteriak membuat orang-orang yang lewat dan tak sengaja mendengar hanya menoleh aneh. Jang Na Rie terdiam, dia sadar keberadaannya memang untuk mati. "Kau benar. Aku terlalu kurus jadi dagingku hanya sedikit. Mungkin aku harus menggemukkan badan dan makan lebih banyak," ucap Jang Na Rie lirih. Gadis itu membuka makanan dan makan dengan lahap. Raja Lee Choh Yun menatapnya, ia merasa iba mendengar ucapannya tadi. Ia dapat melihat keputusasaan di dalam diri Jang, ia makan dengan perilaku dipaksakan. Itu semua terlihat bukan seperti dirinya. Jang terlihat tertekan dengan batinnya. Tangan Raja tiba-tiba terulur, menangkup kedua pipi wajah penuh putus asa itu. Ditatapnya dalam-dalam mata indah Jang Na Rie. Jarinya menyeka makanan yang belepotan di sudut bibir gadis itu. "Makannya pelan-pelan saja," ucap Lee lembut. Jang Na Rie hanya mengangguk tanda mengerti. Dia melanjutkan makan tapi kali ini ada jeda. "Terimakasih kau sudah memperhatikanku," ucap Jang Na Rie lirih. Wajahnya masih saja sedih, di otaknya sekelebat bayang Jin Wook melintas. Mendadak ia merasa sakit di dadanya. Bagaimana bisa pria yang dikenalnya selama 5 tahun ini tiba-tiba menghianatinya. "Kau baik-baik saja?" ucap Lee Choh Yun seraya menepuk pundak Jang, gadis itu terkesiap. "Ah, ya." "Kau kelihatan memikirkan sesuatu," tebak Raja Lee melirik dengan ekor matanya. "Mm, hanya teringat sesuatu," jawab Jang lantas kembali makan makanannya. "Seseorang yang menyakitimu?" tebak Raja Lee sambil menatap langit. Jang Na Rie menoleh padanya, bagaimana ia bisa tahu? "Jangan menatap seperti itu, kebanyakan seseorang tidak akan melupakan hal buruk dalam hidupnya. Itu berlaku untuk siapa saja," ucap Lee Choh Yun datar. Jang Na Rie terdiam, dalam hati ia membenarkan ucapan Raja Naga. "Lupakan saja orang itu, carilah orang yang membuatmu nyaman. Dunia berjalan tak sebentar jadi laluilah dengan orang yang peduli padamu. Jangan lalui dunia ini dengan satu orang saja karena itu akan membuatmu tak berkembang," ucap Raja Lee Choh Yun seraya menepuk kepala Jang Na Rie pelan. Bibir pria itu tersenyum tipis, percaya tak percaya Lee Choh Yun sudah berbicara panjang lebar dengan gadis bermata kelam itu. Padahal sepanjang hidupnya ia jarang sekali bicara banyak-banyak selain dengan Kim Yu Shin. Entah kenapa perasaan Lee Choh Yun bisa sedekat itu dengan gadis yang baru beberapa hari lalu menghuni istananya di bawah bumi, kerajaan di dunia lain yang juga bisa menikmati cerahnya matahari dan indahnya sang rembulan. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN