****
Tiba-tiba semuanya berubah tatkala gadis itu hadir. Entah, semua makin berwarna.
Walau Jang Na Rie datang dengan kesedihan dan keputusasaan, setiap langkah yang ia jejakkan di lantai istana itu seolah mengukir satu keindahan tersendiri.
Raja Naga Lee Choh Yun tak memungkirinya dan Perdana Menteri Kim Yu Shin pun seakan membenarkannya.
Mereka dari kaum naga setengah manusia juga merasakan hal beda yang terjadi.
Lambat laun, mereka bertiga seakan menjadi satu paket. Ketika Jang pergi, baik Kim maupun Lee akan bergantian untuk menjaga.
Jika Raja Lee tak bisa menemani Jang Na Rie, maka ia memerintahkan Kim.
Kim, seperti biasa walau sedikit membelot ia tetap melaksanakan perintah Rajanya, demi kesenangannya.
Sore itu mentari mulai condong, ingin beristirahat walau sejenak di ufuk barat.
Langkah Raja Lee Choh Yun yang pelan, santai, dan berirama diiringi oleh Perdana Menteri setianya, Kim Yu Shin.
Mereka habis rapat di ruang bawah dan sekarang mereka ingin menyegarkan pikiran di taman.
Dalam perjalanannya, mata Raja Lee tertuju pada air terjun kecil yang dipunyai kerajaan di bawah jalan. Perhatiannya bukan karena air terjun melainkan sosok yang berada di bawahnya.
Jantungnya berderu, mendesir hebat ketika menjumpai sosok Jang Na Rie yang sedang mandi di sana. Ya, Dewa.
Matanya terus lekat melihat lekuk tubuh indah yang tersaji di depan matanya. Sebenarnya ia malu melihatnya, sekilas ia menoleh pada Perdana Menterinya. Ia terperanjat melihat Kim juga melihatnya tanpa berkedip.
Raja Lee melirik ke arah Jang sejenak lalu kembali menatap Kim yang tak tahu sedang diperhatikan Rajanya.
Kim melongo, antara heran, bingung, dan senang. Raja Lee mengumpat lirih, dipukulnya kepala Kim keras-keras.
Kim terperanjat, dikuasainya dirinya kembali lalu menunduk.
"Apa yang kau lihat?" tanya Lee marah.
"Maaf Yang Mulia, hamba tak sengaja."
Kim hanya menundukkan kepala tanda sesal.
"Apa kau tak pernah lihat orang mandi?Lagian apa asyiknya melihat orang mandi?!" dengkus Raja Lee kesal.
Kim terbungkam, ia tak ingin menjawab ucapan Rajanya.
Ia merasa Lee Choh Yun sekarang menjadi pribadi yang sensitif. Selama ia mengabdi baru kali ini ia selalu disalahkan atas segalanya.
Kim melirik Raja Muda Lee Choh Yun yang sedari tadi berdiri di depannya tanpa bicara. Ia menahan senyum geli ketika melihat Rajanya mencuri-curi pandang melihat Jang Na Rie yang asyik mandi.
Kim Yu Shin berdehem, membuyarkan pikiran Lee Choh Yun.
"Apa?" tanya Lee setengah berteriak.
Kim tak menjawab, ia hanya menahan senyum sambil terus menunduk.
"Aku ..., aku hanya sedikit menikmati keindahan di kerajaanku. Apa itu salah?" ucapnya lagi.
Lee Choh Yun tampak salah tingkah, wajahnya memerah. Sesekali melirik ke arah air terjun, takut keberadaannya bersama Kim diketahui Jang Na Rie.
Akan sangat malu jika Jang sampai berpikir bahwa ia seorang pengintip.
"Lagian kenapa dia ceroboh sekali?!Kenapa harus mandi di situ?" ucap Lee bergumam sendiri.
Raja Naga itu berdalih menyalahkan Jang yang mandi dibawah air terjun. Mata pria itu kembali menatap ke air terjun namun sosok yang dicari tak ditemukannya.
Mungkinkah dia sudah pergi karena keributannya dengan Kim?
Masih tak percaya, Lee Choh Yun berjalan merapat ke pinggir jembatan mencari sosok Jang Na Rie.
"Tuh kan ...,gara-gara kita ribut gadis itu pergi!" marah Lee menatap tajam mata sang perdana menteri.
"Yang Mulia sepertinya merasa kehilangan?" celetuk Kim lirih.
"Apa-apa kau bilang?" ucap Lee kembali salah tingkah.
"Gadis itu pergi karena memang sudah selesai mandi bukan karena kita ribut Yang Mulia. Tapi jika Yang Mulia bisa merendahkan nada suara Anda mungkin ...."
"Gadis itu masih mandi?" potong Raja Lee melirik Kim Yu Shin.
"Ya Yang Mulia," jawab Kim pelan.
Raja Lee menganggukkan kepalanya. Sesaat ia sadar apa yang dilakukannya.
"Hei, kenapa kau malah mengajariku hal buruk? Apa kau ingin aku jadi seorang pengintip? Kau itu Perdana Menteri macam apa?!" maki Lee berteriak.
Sekali lagi Raja Lee memukul Kim Yu Shin.
"Maaf Yang Mulia," ucap Kim Yu Shin menunduk sambil menahan senyum.
Raja Lee Choh Yun membalikkan badan, dia menunduk sambil tersenyum malu.
Apa yang dikatakan Kim mungkin benar, dia terlalu banyak berteriak sekarang.
Pria bertanduk itu melangkahkan kaki kembali menuju taman favoritnya.
Hmm, gadis itu memang menjadi warna, pikirnya dengan masih tersenyum.
Senyum untuk rasa di hatinya.
*****
Gadis itu tak juga jemu memandang langit seperti ada sesuatu yang ia harapkan untuk segera turun. Kerinduannya pada sang ayah makin menggebu, tak ada alasan lain baginya berlama-lama menunggu ajal kematiannya.
Jang Na Rie menoleh melihat kedatangan Lee Choh Yun. Ekspresi wajah sedihnya masih jelas di sana membuat Lee Choh Yun tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
"Kita hampir bertemu tiap hari, siapa namamu?" tanyanya di samping Jang.
"Jang Na Rie," jawabnya singkat.
Raja Naga ikut menatap langit, mengikuti gerakan Jang yang mendongak ke atas.
"Kau selalu menatap langit seolah ada sesuatu di sana. Memangnya apa yang kaujumpai di sana?"
"Ayahku." Jang kembali menjawab singkat.
Lee Choh Yun menarik napas dalam-dalam.
"Jika di dunia ini aku selalu menemukan orang sepertimu-, orang yang tujuannya cuma ingin mati mungkin aku tak perlu bersusah susah mencarinya," celetuk aneh sang raja.
Jang Na Rie menatap pria bertanduk itu, Lee membalas tatapannya.
"Ada seseorang yang menungguku di alam sana sehingga aku tak pernah menyesal untuk mati," ucap Jang lirih.
Raja tersenyum tipis.
"Kau salah, seandainya kau bisa melihat mangsa-mangsaku sebelumnya. Mereka bahkan memohonku untuk tidak membunuhnya. Seandainya kau bisa mensyukuri sedikit saja hidupmu," ucap Lee kembali menatap ke depan.
Mereka terdiam, tak ada suara yang keluar dari bibir masing-masing.
"Aku melakukannya karena Ibu dan saudaraku begitu membenciku. Kekasihku menghianatiku." Gadis itu kembali bicara sedih.
Ditariknya lengan Lee hingga pria itu menoleh padanya. "Jika kau jadi aku-, apakah kau punya alasan lain untuk hidup?"
Pertanyaan itu mencubit hati Lee Choh Yun. Betapa ia tak ikut sedih mendengarnya, bahkan untuk menjawabnya saja Raja Lee tak sanggup.
Ia menatap mata yang berkaca, hatinya seakan ikut hanyut.
"Apa kau ingin mati sekarang?" tanya Lee serius.
Jang menatapnya hampir tak percaya, ia mengangguk berat. Raja Lee menarik tangan mungil Jang.
"Ayo ikut aku!" perintah Lee menggandeng Jang memasuki istana bagian bawah.
Tak ada percakapan, suara langkah kaki merekalah yang dominan terdengar.
Jang Na Rie menuruni anak tangga yang sedikit gelap karena hanya diterangi obor kecil yang ditempelkan ke dinding.
Raja Lee berhenti melangkah, diliriknya gadis yang berada di belakangnya.
"Apa kau takut? Ini adalah tempat aku memakan mangsaku," jelas Raja Lee datar.
"Tidak." Jawaban singkat itu berani dilontarkan Jang Na Rie.
"Duduklah di situ!" Perintah Raja Lee sembari menunjuk kursi dekat lampu obor.
Jang menurut, rupanya gadis itu memang benar-benar ingin mati. Raja Lee melepas jubah naganya lalu mendekati Jang.
Dengan tenang Lee Choh Yun duduk di hadapan Jang, ia terus mengamati wajah cantik di hadapannya.
Raja Naga, Lee Choh Yun menarik tangan Jang. Mendekatkan ke mulutnya sembari sesekali melirik wajah itu.
"Kau tidak takut?" tanya Lee lagi.
"Tidak." Jang menggeleng.
"Kalau begitu aku akan memulai dari tanganmu dulu," ucap Lee datar.
"Kenapa kau tak membunuhku dulu?" protes Jang keras.
"Untuk apa? Aku lebih suka makan mangsaku hidup-hidup, menikmati ekspresi kesakitannya. Karena itu jauh membuatku bernafsu untuk memakannya," jawab Lee membungkam protes Jang.
Jang terkesiap tubuhnya bergetar. Namun tangannya belum juga ia tarik dari hadapan Lee Choh Yun.
Pria bertanduk itu kembali mendekatkan bibirnya ke tangan Jang, siap-siap melahap dan ....
"Apa kau kira aku akan benar-benar memakanmu?" usik Raja lirih.
Jang yang menutup mata membuka kembali pelupuk matanya. Raja Lee membuang tangan gadis itu.
"Aku tak bernafsu!" dengkusnya kesal.
Jang belum juga menyahut ucapan Raja Naga. Hal itu membuat Jang tampak kaget.
"Kau ingin jadi mangsaku tapi lihat dirimu! Kau belum juga gemuk, apa kau ingin aku makan tulang-tulangmu? Apa sedapnya makan tulang?" maki Lee Choh Yun setengah berteriak.
Jang menelisik wajah Lee yang ada di depannya seakan tak percaya. Gadis itu memeluk Lee Choh Yun tiba-tiba.
Raja terkesiap namun ia tak keberatan Jang memeluknya. Ia tahu betul, calon mangsanya itu belum siap.
Ia memang sengaja melakukan itu semua guna melihat kepastian Jang. Perlahan Raja membalas pelukan gadis menyedihkan itu.
"Aku janji akan menggemukkan badanku lagi," ucap Jang lirih.
Lee Choh Yun tersenyum tipis, ia menang kali ini.
"Jika kau belum gemuk jangan pernah sekali-kali kau datang padaku dan memintaku untuk memakanmu," ujar Raja memperingatkan. Jang hanya mengangguk pelan.
Menurut Raja, dia adalah gadis penurut. Jika Raja menggertaknya sedikit mungkin gadis itu akan mengindahkan ucapannya.
Senyum Raja berkembang, ia akan membuat Jang menyadari betapa indahnya hidup ini untuk ia lalui.
Jang bukanlah mangsanya, ia hanya akan memangsa orang-orang yang tak punya hati.
Raja Naga, Lee Choh Yun tak akan menyentuh hati yang lembut dengan kekerasan sifatnya.
****
Jang Su bin terduduk di kamarnya, mengipasi dirinya yang kelelahan.
Menjadi p*****r rumahan demi memuaskan hasrat ibunya akan uang.
Menjadi seorang Jang Su Bin tidaklah mudah. Sebenarnya ia tak jahat, hanya demi disayang ibunya ia rela melakukan hal kotor sekali pun.
Wajahnya menunjukkan rasa lelah, terkadang ia merasa iri pada Jang Na Rie.
Gadis itu dengan kepolosannya mampu membantah apa saja keinginan ibunya.
Ia ingin seperti dia namun dirinya terlalu lemah untuk berontak.
Dan soal Jin Wook, ia tak bermaksud merusak hubungan adiknya. Yang Jang Su Bin mau adalah uangnya.
"Sayang, Ibu ingin memasakkanmu makanan yang enak," ucap Ibu di ambang pintu.
"Ambil saja uangnya di dalam lemari," jawab Jang Su Bin tanpa menatap Ibunya.
Wanita paruh baya itu tersenyum, anak kesayangannya selalu saja tahu apa yang dia inginkan.
"Jangan lupa nanti malam Jin Wook akan datang kemari," ucap Ibu lalu pergi.
Jang Su Bin tak menjawab ucapan Ibunya. Ditatapnya keluar jendela, ia bosan dengan kehidupan seperti ini.
Tapi harus bagaimana lagi?!
Kehidupannya yang seperti ini tentunya masih akan terus berjalan entah sampai kapan. Jang Su Bin menghela napas, ia teringat adiknya.
Dimanakah Jang Na Rie sekarang?
Mungkinkah dia menemukan tempat yang bahagia hingga tak ingat pulang?
Jika memang begitu, mungkin itu yang terbaik daripada dia di sini dan selalu jadi bahan kemarahan ibunya.
Mungkin bagi Jang Na Rie, ia jahat namun ia tak berkecil hati. Dia akan selalu mendoakan adiknya kapan pun dan dimana pun.
***