****
Selalu ada bulan purnama setiap bulannya. Sinarnya yang utuh memberikan keajaiban tersendiri untuk kerajaan Naga.
Banyak yang tidak tahu jika bulan purnama adalah simbol kejayaan Kerajaan Naga. Karena di malam sebelum, tepat dan sesudah bulan purnama setiap penduduk kerajaan itu akan berubah wujud menjadi manusia sempurna.
Kerajaan Naga menjadi tempat magic yang paling indah tiada tara. Jika sang Raja bisa berubah wujud di malam-malam bulan purnama maka seluruh penduduknya juga akan sama.
Jang Na Rie malam ini menikmati sinar rembulan di salah satu sudut istana.
Wajahnya terpantul sinar dan terlihat sangat cantik. Malam itu terlihat seperti siang dan bulan terlihat sangat dekat.
Dia menoleh ke arah suara langkah kaki, pelan namun semakin dekat. Ia menatap sosok wajah tampan mendekatinya.
Pria itu terlihat tak asing namun wajahnya benar-benar membuatnya berpikir ekstra keras sebenarnya dia mirip siapa?
Jang Na Rie terus berpikir hingga pria itu tepat di hadapannya.
"Apa kau bingung melihatku?" ucapnya dapat membaca pikiran Jang.
Jang mengangguk perlahan, ia merasa ragu untuk menebak siapa orang di depannya.
"Coba kau tebak aku siapa?" tanyanya penuh teka-teki.
"Kakak Lee?" ucap Jang lirih.
Pria itu tertawa lalu menatap Jang tajam, dia menikmati wajah bingung Jang Na Rie.
"Darimana kau tahu?" gumamnya heran. Jang tersenyum tipis, dia kembali menatap bulan.
"Yang biasanya menemui aku duluan itu Kakak Lee," jawab Jang singkat.
Pria itu tak menjawab, dia berdiri sejajar dengan Jang.
"Tapi kenapa kau berubah?" tanya Jang tanpa menatap sosok di sampingnya.
"Bulan purnama adalah kekuatan magic kami. Tak ada bulan tak ada magic," jawabnya datar.
Gadis itu berbalik, kini ia menatap pria itu sambil tersenyum manis.
"Kau sangat tampan Kakak," pujinya dengan tulus.
Pria itu membalas senyum Jang yang manis.
"Jadi, maukah kau memelukku?" pintanya dengan manja.
"Haa, apa?" ucap Jang tak mengerti.
Pria itu menarik kedua tangan Jang, matanya terlihat imut ketika memohon seperti itu.
"Aku ingin dipeluk," pintanya lagi.
"Kau aneh sekali Kak Lee," ucap Jang merasa aneh.
Namun pria itu tak menggubris ucapannya, ditariknya tangan Jang ke dalam pelukannya.
Jang merasa aneh, kenapa Lee Choh Yun tiba-tiba jadi semanja itu padanya.
Dengan keraguan yang membayang di benaknya, dibalasnya pelukan pria itu.
"Jang Na Rie," teriak seseorang tak jauh dari mereka.
Teriakan itu membuat Jang Na Rie kaget dan segera melepas pelukan pria itu. Gadis polos itu menatap orang yang meneriakinya.
"Kenapa kau memeluk Kim Yu Shin?" tanyanya dengan kesal.
"A-apa?" ucap Jang sembari menatap pria yang tertunduk sembari menahan senyum.
"Bukankah dia Kak Lee?" ucap Jang bingung.
Lee Choh Yun mendekati Kim Yu Shin yang membuatnya kesal beberapa hari ini.
"Kau ingin dipeluk?" tanya Lee Choh Yun dengan wajah kesal.
"Tidak Yang Mulia," jawab Perdana Menteri lirih.
"Aku akan memelukmu," ucap Raja Lee sembari memeluk Kim Yu Shin dengan kasar.
Ditepuk-tepuknya punggung Kim dengan keras hingga sang perdana menteri meringis kesakitan.
"Sekarang pergilah!" perintah Raja Lee sarkasme. Dia tersenyum pada Kim namun matanya jelas tampak melotot tak suka.
"Baik Yang Mulia," jawab Kim Lalu pergi dengan menahan sakit di punggungnya.
Pandangan Raja Lee tertuju pada Jang Na Rie, dia lantas menatap sisi lain.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Lee sedikit ketus.
"Berjalan-jalan sebentar karena aku tak bisa tidur," jawab Jang pelan.
Diikutinya langkah Raja Lee yang berada di depannya. Raja Lee terdiam, bagaimanapun beberapa detik lalu sangat mengusik pikirannya.
"Pergilah ke kamar jangan ikuti aku," ucap Raja Lee sekadar melirik ke arah Jang Na Rie.
Jang Na Rie menghentikan langkahnya, dia terbengong menatap langkah Lee Choh Yun yang makin jauh darinya. Ada apakah dengannya?
"Kak Lee ..." Jang memanggilnya, berlari mengejar langkah kakinya.
Pria itu menghentikan jalannya dan menoleh. Mata mereka bertemu, saling menatap tanpa bicara. Jang meraih tangan Raja Lee yang tampak gusar.
"Kau kenapa?"
"Kenapa? Kau selalu dekat denganku tapi kau tak bisa membedakanku dengan Kim. Apa wajahku lebih jelek sehingga kau mengira dia adalah aku? Begitukah?" ucap Lee menggebu.
Dia seperti api yang terkena minyak, tiba-tiba meluap marah.
Gadis itu terdiam, terus menatap awas pada Lee. Pikirannya sedang memahami apa yang sebenarnya dikatakan Lee padanya.
"Dan kenapa juga kau mau dipeluk olehnya?" tanyanya makin pedas.
Rupanya Lee Choh Yun marah gara-gara ....
Jang Na Rie tersenyum, disentuhnya wajah mulus sang Raja Naga, Lee Choh Yun.
"Kak Lee lebih tampan darinya kok," ucap Jang lirih.
Ucapan yang mampu memadamkan api di hati Lee Choh Yun.
"Kau sangat tampan dan terlihat kalem, aku menyukainya. Jadi jangan marah lagi ya," bujuk Jang kembali tersenyum.
"Kau tak bohong dengan ucapanmu?" ucap Lee ragu.
Jang menganggukkan kepala. Pria itu tetap kaku di depannya, memaksa Jang untuk menarik kulit pipi Lee untuk tersenyum.
"Kalau kau tersenyum ketampananmu makin sempurna," ucap Jang lagi.
Lee Choh Yun akhirnya tersenyum dengan malu. Dia merasa seperti anak-anak di depan Jang Na Rie.
"Tapi aku juga ingin dipeluk," ucap Lee lirih, takut jika ucapannya ditertawakan Jang.
Tanpa pikir macam-macam, Jang lantas memeluk Lee Choh Yun. Pria itu tersenyum, merapatkan pelukannya pada gadis itu.
Tanpa ia sadari, ia bahagia hidup bersama gadis itu. Ia ingin hidup bersama Jang Na Rie setiap waktu.
****
Raja Lee berada di ruangannya, sibuk membaca beberapa laporan. Matanya melirik ketika Kim Yu Shin menghampirinya dan duduk di hadapannya.
"Yang Mulia sudah waktunya kau memulihkan tenagamu," ucap Perdana Menteri sopan.
Lee Choh Yun menutup laporannya, menatap mata Kim.
"Aku sudah tahu," jawab Raja Lee lirih.
Dia berdiri, berjalan pelan mendekati jendela dan menatap keluar.
Di luar sana ia melihat sosok gadis malang itu sedang memperhatikan bunga-bunga.
"Lalu menunggu apa lagi Yang Mulia?"
"Apa kau menginginkan aku segera membunuh Jang Na Rie?" tanya Lee menatap Kim yang tertunduk.
Kim tak menjawab, ia tahu perasaan Rajanya. Raja Lee menghembuskan napas beratnya.
"Tapi Yang Mulia bisa mati jika tidak makan daging manusia," ucap Kim dengan cemas.
"Aku tahu. Aku akan makan nanti saja jika tenagaku benar-benar lemah," jawab Lee datar.
"Aku tahu Yang Mulia tak berniat untuk memangsanya karena Yang Mulia menyukainya, kan?!" tebak Kim pelan membuat Raja menoleh padanya.
"Apa kau bilang?" ucap Raja tak yakin.
"Jang sudah mencuri hatimu Yang Mulia, aku tahu itu. Aku tak pernah melihatmu begini, aku selalu melihat mata hangat ketika kau menatapnya. Kau selalu mencemburuiku jika aku dekat dengannya. Kau tak segan-segan memukulku demi memuaskan rasa kesalmu padaku," ucap Kim serius.
Raja Lee terbungkam, apa yang dikatakan Kim mungkin benar. Wajahnya memerah mendengar segala penuturan Kim Yu Shin.
"Tapi Yang Mulia, dia itu mangsa yang diberikan Tuhan untukmu. Jika kau ingin hidup maka makanlah bagianmu dan jangan ingat-ingat rasa cintamu. Lagipula bukankah ia sangat ingin mati," ucap Kim mengimbuhi.
"Aku tahu. Sekarang tinggalkan aku sendiri," ucap Raja pelan.
Perdana Menteri Kim Yu Shin membungkukkan badan lalu mohon diri.
Raja kembali menarik napas, pikirannya keruh untuk memutuskan jawabannya.
***
Diperhatikannya wajah Jang Na Rie yang cantik tertimpa sinar bulan, raja terus memperhatikannya tanpa bicara membuat Jang menoleh padanya.
"Ada apa? Jangan menatapku seperti itu Kak Lee," ucap Jang merona wajahnya.
Pria itu tersenyum tipis.
"Apa benar aku terlihat tampan?" tanyanya lirih membuat Jang menebar senyum lucu.
"Aku sudah mengatakannya berkali-kali apa tak ada yang mengatakan hal itu padamu?" ucap Jang tanpa menatap Lee Choh Yun.
"Bolehkah aku memegang tanganmu?!" pinta Lee lirih.
Jang menatap pria itu lalu mengangguk. Raja Naga meraih tangan Jang dan menggenggamnya.
"Mungkin besok aku sudah kembali ke wujudku semula. Aku akan jadi pria bertanduk yang mengerikan," ucap Lee terdengar sedih.
"Ada apa dengan dirimu? Kelihatannya kau sedih jika jadi pria bertanduk. Aku rasa ada tanduk atau tidak kau masih terlihat tampan. Kau tak mengerikan seperti yang kauucapkan," jawab Jang membuat Raja Lee terkesima.
Wanita itu menangkup pipi Lee Choh Yun. Mata mereka terus bertemu.
"Jangan pedulikan penampilanmu, jadilah pribadi yang hangat. Jangan jadi buruk hanya karena orang-orang di sekitarmu menganggapmu buruk," ucap Jang dengan polosnya.
Lee terdiam sejenak, ia melihat ketulusan gadis itu membuat perasaannya makin berat.
Inikah mangsa yang diberikan Tuhan kepadanya? Sanggupkah ia melakukannya?
Kenapa Tuhan mengirim gadis itu ke hadapannya? Apakah Tuhan menguji perasaannya? Perasaannya makin sesak jika suatu hari nanti ketika ia bangun dan mendapati Jang tak ada di sampingnya.
Perasaannya makin menyesaki dadanya.
Gadis itu masih di depannya, memancarkan senyumnya yang indah.
Raja Lee menarik lengan gadis itu, merengkuhnya dalam sebuah pelukan hangat. Pelukan tak ingin kehilangan.
Pelukannya makin rapat ketika ia menyadari perasaannya. Ia menyukai Jang Na Rie.
Ia tak bisa menolaknya, menolak perasaan yang membuat jiwanya terkadang hangat sekaligus dingin.
"Jang, aku menyukaimu."
****