5.Dalam Diam

1827 Kata
**** Orang nomer satu di kerajaan Naga sedang merebahkan tubuhnya yang lelah di ranjang. Di pejamkannya sebentar mata yang terasa pedas.Hari ini sangat melelahkan, pikirnya. Ia tersentak kaget ketika sesuatu menimpa tubuhnya. Matanya terbuka segera, ia terperangah melihat sosok yang diam diam ia sukai mendekat padanya. "Jang Na Rie?" ucapnya tak percaya. Wanita itu tersenyum, dengan berani gadis itu merebahkan tubuh Raja Lee Choh Yun dan menaikinya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Lee Choh Yun gugup saat Jang berusaha melepas haori yang ia pakai. Jantungnya berdebar kencang menerima perlakuan Jang Na Rie.Gadis itu tiba-tiba berani di hadapannya, memperlakukannya seperti orang yang tak berdaya. Membangkitkan jiwa kelaki-lakiannya yang selama ini ia sembunyikan. Lee Choh Yun berwajah merah, kegugupannya tak sebanding ketika ia memangsa mangsanya.Kenapa ia tiba-tiba seperti orang bodoh di hadapan wanita itu?! "Apa kau menyukaiku?" tanya Jang Na Rie setengah berbisik di telinga Raja Lee. Pria itu memilih tak menjawab, tubuhnya tak berkutik tatkala Jang Na Rie meraba tubuhnya yang sudah setengah telanjang. Gadis yang dianggapnya polos itu rupanya tak sepolos itu. Dia lebih menggairahkan dari yang ia bayangkan. Jang Na Rie meraba bibirnya, menciuminya dengan sangat bernafsu. Apakah gadis itu sedang menggodanya? Lee terus menikmatinya, ia tak pernah diperlakukan seperti itu seumur hidupnya. Perlahan diberanikannya membalas ciuman gadis itu,ciuman yang membuat tubuhnya bergetar sangat hebat. Di tariknya hanfu yang menutupi tubuh Jang Na Rie. Gadis itu tersenyum menggodanya, bahkan tanpa diminta Jang Na Rie membuka yukatanya sendiri. Menampilkan tubuhnya yang mulus tanpa bekas luka. "Apa kau menginginkanku?" tanyanya lagi membuat Raja Lee Choh Yun tak bisa mentolerir nafsunya. "Lakukan apa yang kau mau," ucap Jang Na Rie berbisik di telinganya. Tangan Raja muda itu dituntunnya untuk menyentuh dadanya yang menegang.Suara hembusan nafas dan desahan membakar jiwa sang Raja. Tak ada jarak diantara mereka, ia merasa benar-benar menyentuh kekasih yang diam-diam ia cintai. Raja Lee tak bisa menahannya lagi, direbahkannya gadis yang sedari tadi menguasai tubuhnya. Jang Na Rie tersenyum nakal, menggodanya dengan daya pikatnya. Tangan mungilnya mengelus wajah Raja Lee dengan lembut. Pria bertanduk Naga itu meraih tangan Jang Na Rie kencang. "Apa kau sangat bernafsu denganku? Jika kau memegangi tanganku seperti itu bagaimana aku bisa memuaskanmu?" goda Jang Na Rie membuat Lee makin geregetan. "Bukan kau tapi aku yang akan memuaskanmu. Dasar wanita nakal!" ucap Lee dengan tersipu. "Kita lihat saja sekuat apa dirimu," ucap Jang Na Rie menantang. Raja Lee tersenyum, ia merasa jiwa kejantanannya ditantang. Tangan Jang Na Rie digenggamnya erat-erat, ia tak ingin gadis itu lari darinya. Bagaimanapun itu bermula dari perbuatannya jadi dia juga harus bertanggungjawab atas apa yang ia perbuat. "Yang Mulia lepaskan tanganku!" Terdengar suara meminta. Ia tak akan berbelas kasih padanya, justru ia makin kencang memeganginya. Wanita itu memukul-mukul punggungnya sambil berteriak teriak. Ia merasa ada hujan yang tiba-tiba mengguyur tubuhnya dari atas, apakah atap kamarnya sedang bocor? Raja Lee terkesiap, terbangun dari tidurnya. Rupanya ia hanya bermimpi. "Kakak Lee apa yang kau lakukan?" tanya Jang Na Rie heran. Di tangannya ada ember kayu yang isinya sudah tumpah ke tubuh Raja Lee. Dia habis mengguyur pria bertanduk itu. "Kenapa kau memperkosa Kakak Kim?" tanya Jang Na Rie makin histeris. Lee menatap Kim yang seranjang dengannya, penampilannya begitu berantakan. Apa yang ia lakukan barusan? "Kim kenapa kau di sini?" teriak Raja Lee bingung. "Justru Yang Mulia kenapa menarik-narik tanganku?" tanya Kim balik bertanya. Kim Yu Shin turun dari ranjang, merapikan bajunya yang lusuh. Raja terdiam, sial! Dia hanya bermimpi. Dia sangat malu karena tubuhnya sudah basah karena mimpinya itu. "Apa kalian homo?" tanya Jang penuh selidik. "Tidak!!"teriak Raja Lee melawan rasa malunya. Dia terdiam sejenak, menundukkan kepala. Walau Jang Na Rie tak tahu apa mimpinya, entah kenapa pria itu tetap merasa malu untuk menatap gadis itu. "Aku hanya bermimpi. Sekarang bisakah kalian meninggalkanku?" pinta Raja Lee pelan. "Baik Yang Mulia," ucap Kim lalu membungkukkan badan. Dia lalu meninggalkan rajanya yang nampak shock. Jang belum juga pergi, membuat Raja Lee makin bingung. Wanita itu mendekatinya, Raja beringsut sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang basah. "Kak Lee apa kau tak apa-apa?" tanya Jang Na Rie dengan lembut. Tangan gadis itu terulur ingin menyentuh pundaknya namun Raja Lee segera beringsut menjauh. "Aku tak apa-apa jadi jangan khawatir.Pergilah nanti aku menyusul," ucapnya pura-pura tersenyum. "Baiklah aku akan pergi, tapi sebelumnya aku minta maaf. Aku sudah mengguyurmu pakai air karena aku panik melihat Kak Kim sedang—" "Tak apa," jawab Raja Lee Choh Yun memotong ucapan Jang sambil tersenyum. Jang Na Rie membalas senyum Lee. "Aku akan menunggumu di luar," ucap gadis itu lalu membungkukkan badan. Wanita itu keluar membawa embernya tanpa menoleh lagi. Raja Lee menarik napas dalam-dalam, dirinya basah diguyur air. Dia begitu malu mengingat mimpinya yang membuatnya jadi mimpi basah. Dikepalnya tangannya lalu memukul ranjang berkali-kali. Kenapa ia sampai seperti itu? Memimpikan Jang Na Rie yang menggodanya. Mana mungkin gadis sepolos itu bisa menggodanya seerotis itu. Raja Lee menggelengkan kepala, ia merasa otaknya mulai tak beres. Semuanya karena Jang Na Rie. *** Sementara itu di keluarga Jang Su bin terlihat sepi-sepi saja. Anak dan Ibu nampak menikmati makan siangnya. "Makanlah yang banyak, kau harus sehat. Selama ini kau yang selalu mencari uang," ucap Ibu sembari memenuhi piring Jang Su Bin dengan lauk-pauk. "Ibu sepertinya aku ingin berhenti cari uang," ucap Jang Su Bin lirih. "Apa?" ucap Ibu setengah berteriak. Jang Su Bin tahu ibunya pasti tak setuju. "Kenapa Su Bin? Kau bekerja keras selama ini lalu kau ingin berhenti lantas kita mau makan apa?" tanya ibu tegas. "Aku akan mencoba pekerjaan lain," jawab Su Bin pelan sembari memakan nasinya. "Tidak! Kau harus bekerja dengan pekerjaan itu. Kau tahu pekerjaan itu sangat mudah untukmu, kau sudah punya pelanggan. Kenapa kau menyulitkan dirimu sendiri?" ucap Ibu dengan tegas. "Itu pekerjaan kotor Ibu, aku tak ingin dimaki-maki orang setiap waktu karena merebut suami atau kekasih orang. Aku sudah lelah," ucap Jang Su Bin sambil mendorong piringnya menjauh. "Pokoknya tidak boleh, sejak kapan kau menilai pekerjaan itu kotor. Kau sudah kotor lalu mau apa lagi?!" ucap Ibu pedas. Wanita itu berlalu meninggalkan putri kesayangannya. Jang Su Bin mengembuskan napasnya, beberapa hari yang lalu ia harus berhadapan dengan istri salah satu pelanggan nya. Bahkan wanita itu berniat memenjarakannya hanya karena suaminya tak pernah pulang dan bersama dirinya. Bagaimana dengan dirinya? Ia sudah lelah namun ibunya terus memaksanya. **** Raja Lee Choh Yun hanya menatap keakraban Jang Na Rie dengan Kim Yu Shin. Wanita yang diam-diam mencuri hatinya itu benar-benar keterlaluan padanya. Apa wanita itu memang sukanya begitu? pikir Raja Lee cemberut. Apa memang dia pura-pura tak tahu dengan perasaannya?Sungguh kejam sekali! Raja Lee berdehem membuat Jang dan Kim menoleh. Raja pura-pura bersikap biasa, dia menyejajarkan berdirinya dengan Jang dan Kim. "Kak Lee darimana?" tanya Jang pada Raja Lee yang berusaha menahan rasa kesal di dadanya. "Aku—" "Jang aku dengar manusia itu suka buah ya?Aku tadi jalan-jalan dan memetik buah untukmu di hutan," ucap Kim Yu Shin memonopoli perhatian Jang. Lagi-lagi Raja Lee menahan rasa kesalnya, dia hanya mengembuskan napasnya. "Iya. Buah apa?" tanya Jang penasaran. Kim Yu Shin mengeluarkan buah dari kantong pakaiannya. "Itu buah anggur namanya. Rasanya nikmat sekali," ucap Jang sembari menerima buah itu dari tangan Kim Yu Shin. "Apa kau menyukainya?" tanya Kim ingin tahu. Jang tersenyum dan mengangguk. "Kak Lee apa kau mau coba makan buah?" tawar Jang sembari menoleh pada Raja Lee yang cemberut. "Aku—" "Aku juga mau Jang," sahut Kim Yu Shin memotong ucapan Lee sembari meraih tangan Jang Na Rie yang menggenggam buah anggur. "Kalau begitu ayo kita makan!" ucap Jang Na Rie dengan wajah senang. Gadis itu menoleh ke Raja Lee yang terdiam menahan amarahnya yang mulai naik. "Apa kau mau Kak Lee? Cobalah sedikit saja," ucap Jang seraya menyodorkan sebutir anggur ke mulut Raja Lee. Pria itu menatap mata Jang yang terlihat sangat tulus. Raja Lee siap-siap membuka mulutnya namun lagi-lagi Kim berulah. "Aku juga mau disuapi Jang," sahutnya seraya meraih tangan Jang Na Rie yang disodorkan ke mulut Raja. Dia lantas memakan buah yang ada di tangan Jang Na Rie tanpa peduli dengan wajah Raja yang sudah merah padam. "Jang bisakah kita besok jalan-jalan berdua saja," pinta Kim dengan manja. Raja Lee menoleh ke arah Kim Yu Shin yang berusaha menggoda Jang Na Rie, ia melihat bagaimana perdana menteri sekaligus adiknya itu menggoda incarannya dengan mengedipkan sebelah matanya. Ohh...tidak!!! Raja mulai muak dengan tingkah Kim, ditariknya lengan Jang agar menjauh dari Kim Yu Shin. "Jang bisakah kau ambilkan aku air, aku sangat haus," ujar Raja Lee dengan lembut. "Yang Mulia jika haus bisa minta pelayan untuk mengambilkan. Atau biar Hamba yang mengambilkan," ucap Kim membungkukkan badan. Kim berusaha melarikan diri namun Raja mencegahnya. "Tidak biar Jang saja," ucap Raja Lirih namun matanya tetap awas pada Kim Yu Shin. "Baiklah Kak Lee," ucap Jang lalu pergi mengambil air. Sejenak Jang berlalu, Raja mulai menumpahkan kemarahannya pada sang perdana menteri. "Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membuatku malu?" teriak Lee marah seraya mendorong tubuh Kim. "Yang Mulia—" "Jangan panggil aku Yang Mulia," ucap Raja Lee kesal. Kim Yu Shin menatapnya sambil menahan senyum. "Ayolah Kak yang jujur saja, aku tahu kau menyukainya." Kim mulai bersikap biasa di hadapan kakaknya. Kim Yu Shin adalah saudara termuda Lee Choh Yun. Jika Lee Choh Yun adalah anak yang terlahir dari rahim ratu maka Kim Yu Shin terlahir dari sang selir. Bagaimanapun mereka tetap lengket seperti saudara kandung satu ibu. Mereka tetap kompak kemana pun mereka pergi. "Berhentilah untuk tidak menggodanya Kim," tegas Lee dengan wajah tak suka. Kim menyeringai nakal, dia senang melihat sikap kakaknya yang salah tingkah di hadapan Jang. "Aku akan tetap menggodanya sampai kau mengatakan yang sebenarnya kepadanya," ucap Kim dengan santai. "Apa kau juga menyukainya?" tanya Raja Lee menelisik tajam. "Oh, tidak Yang Mulia Raja, hamba tak berani.Tapi yang hamba inginkan adalah keberanian Yang Mulia untuk mengatakannya," ucap Kim Yu Shin sembari membungkukkan badan untuk menghormat. "Mengatakan apa?" tanya Jang yang datang tiba-tiba. Raja Lee terperanjat lalu membalikkan badan seolah tak ada apa-apa. Wajahnya memerah dan terlihat bingung. Lagi-lagi Kim menahan tawanya. "Ini airnya," ucap Jang seraya menyodorkan air minum dalam cawan. Raja meraihnya dan minum secara asal hingga akhirnya dia tersedak. Raja terbatuk-batuk membuat Jang Na Rie panik. "Kak Lee kau tak apa-apa?" tanya Jang meraih wajah Lee Choh Yun yang memerah. Pandangan mata mereka bertemu cukup lama namun— "Jang ayo ikut aku!" ajak Kim Yu Shin sembari merampas tangan Jang Na Rie dan mengajaknya pergi. "Tapi Kak Lee—" Jang Na Rie sudah berlalu, pergi bersama Kim Yu Shin. Pria itu memukul tembok istananya dengan kasar. Dia teramat kesal dengan adiknya. Lalu jika ia mengatakannya apakah Jang Na Rie mau menerimanya yang mempunyai tanduk? Lee Choh Yun takut jika wanita itu menolaknya mentah-mentah dan membuatnya kecewa. Itulah kenapa ia memilih diam daripada mengatakannya. Bagaimanapun menjadi pria bertanduk seperti dirinya memanglah tidak mudah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN