***
Angin musim gugur mulai bertiup kencang, meniup segala sesuatu dan membuatnya berterbangan. Mereka bertiga berjalan beriringan meninjau sekeliling istana.
Jang Na Rie merasa bahagia ditengah-tengah mereka. Dia merasa disayangi baik Lee maupun Kim, walau dia tahu suatu hari nanti ia pasti akan pergi dan menjadi mangsa salah satu dari mereka. Ia tak keberatan ketika dua pria baik hati itu menggandeng tangan kanan kirinya.
Sejenak ia merasa seperti seorang adik yang begitu dilimpahi kasih sayang kakaknya.
Angin kembali bertiup kencang menerbangkan debu-debu dan mengenai mata Jang Na Rie.
Gadis itu berhenti sejenak, melepaskan kedua tangan pria baik hati yang sedari tadi menautkan tangan mereka hanya untuk mngusap matanya yang kemasukan debu.
Digosok-gosoknya mata nan indah dengan bulu mata yang lentik itu dengan tangannya, makin terasa perih hingga membuat perhatian Raja Lee teralihkan.
Dipegangnya tangan Jang Na Rie yang masih sibuk mengusap. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya, menarik kulit matanya agar sedikit terbuka dan meniupnya. Sungguh perhatian kecil dari seorang Raja Naga, Lee Choh Yun.
Kim Yu Shin berdehem membuat Lee Choh Yun memerah lalu pura-pura memandang sisi lain. Rupanya pria itu masih suka diam-diam menyembunyikan perasaannya.
"Bagaimana matamu apa sudah baikan?" tanya Kim membuat Jang segera menoleh padanya.
"Sudah tidak perih semua berkat Kak Lee," ucap Jang tersenyum manis.
"Cuaca sedang tidak baik sebaiknya kau kembali ke kamarmu," ujar Raja Lee tanpa menatap Jang.
"Tapi aku masih ingin jalan-jalan dengan kalian," ucap Jang Na Rie sedikit kecewa.
"Masih ada hari esok sebaiknya kau menuruti kata-kata Yang Mulia," imbuh Kim Yu Shin pelan.
Gadis itu masih berdiri di tempat, sepertinya ia tak mau pergi.
"Ayolah jangan membuat kakak Lee-mu khawatir," goda Kim seraya menahan senyumnya.
Lee Choh Yun melirik Kim dengan kesal. Kim pura-pura tak tahu, ia memilih tak menatap bola mata Lee Choh Yun.
"Baiklah aku akan pergi," ucap Jang memutuskan.
Kim tersenyum lalu membisikkan sesuatu di telinga Jang Na Rie. Gadis itu menatap Lee Choh Yun yang sedari tadi tak menatapnya.
Jang Na Rie menghampirinya dan perlahan memeluk punggung Raja Lee Choh Yun. Pria itu terperangah namun tak menolak, wajahnya mendadak merah mendapat pelukan dari Jang.
"Terimakasih atas perhatiannya Kak Lee, sebagai gantinya nanti malam aku bersedia menemani Kakak begadang," ucap Jang pelan.
Pria itu kembali terperangah atas apa yang diucapkan Jang Na Rie. Kim Yu Shin hanya cekikikan membuat Lee menaruh curiga padanya. Jang melepas pelukannya lalu pergi.
"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Raja Lee menelisik tajam.
Adiknya itu masih cekikikan membuat Lee makin penasaran.
"Apa yang kau bilang?" teriak Raja Lee gusar.
"Hamba hanya bilang jika Yang Mulia Raja ingin ditemani nanti malam," jawab Kim konyol.
"Apa kau bilang?" ucap Lee kaget. Dia mendorong tubuh adiknya hingga membentur tembok istana.
"Sudahlah Kak, justru ini bagus untukmu. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menyatakan perasaanmu," ucap Kim mulai serius.
Pria bertanduk itu terdiam, perlahan emosinya menurun. Adiknya itu walau kadang ceroboh tapi sering membantunya. Dia pria yang tak mudah mengakui perasaannya namun berkat adiknya kesusahan-kesusahannya sedikit teratasi.
Lee Choh Yun membalikkan badan, senyum kecil terkembang di bibirnya. Hatinya mendadak hangat, cinta di hatinya menggeliat hidup.
Perlahan hari-harinya mulai berwarna karena adanya benih di dalam dadanya. Benih yang mengajarkan aneka rasa padanya. Rasa cemburu, rasa tak percaya, sekaligus rasa takut kehilangan yang begitu hebat.
***
Malam temaram, hanya bulan separuh yang bersinar. Angin bertiup pelan, menyiratkan hawa dingin yang menyiksa tulang.
Suara seruling yang terdengar sayup-sayup ditiup oleh hati yang jatuh cinta. Tak biasanya Lee Choh Yun memainkannya.Terakhir dia memainkannya sewaktu berada di istana Langit dimana ayah dan ibunya berada.
Semenjak dikutuk ayahnya menjadi seekor naga Lee Choh Yun tak pernah naik ke atas langit menemui ayah ibunya. Ambisinya menjadi dewa rupanya membuatnya angkuh dan menjadi tulah untuknya.
Ia melupakan semuanya, darimana asal-usulnya dan siapa ayah ibunya. Lee Choh Yun lebih menerima apa adanya dirinya sekarang.
Gadis itu menepati janjinya untuk menemaninya begadang. Sesekali Jang Na Rie merapatkan tubuhnya yang terasa dingin, membuat Raja Lee menoleh padanya.
"Apa kau merasa dingin?" tanya Lee Choh Yun menatap dua bola mata kelam Jang Na Rie.
"Sedikit tapi tak apa-apa," jawab Jang tersenyum tipis.
Lee menaruh serulingnya, menggosokkan kedua tangannya lalu meniupkan hawa panas dari tubuhnya melalui mulutnya. Kedua tangan Lee menangkup telinga Jang Na Rie.
"Apa sekarang sudah hangat?" tanya Lee penuh perhatian.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya. Raja Lee Choh Yun kembali meniup serulingnya. Dia hanya ingin menikmati malam dengan alunan serulingnya.
Malam yang dingin itu membuat Jang mengantuk, ia tak terbiasa begadang. Kepalanya tanpa sadar tersandar di lengan Raja Lee. Pria bertanduk itu menoleh sejenak, membenarkan kepala Jang dan menyadarkannya di pundaknya yang tegap.
Raja Lee menatap wajah tenang gadis yang tertidur di pundaknya. Ia merasa ikut damai melihatnya. Perlahan digenggamnya tangan Jang yang dingin.
Raja nomer satu itu terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka. Ia tak berani mengatakan perasaannya, ia takut jika gadis itu menolaknya karena fisiknya yang tak lazim.
Diberanikan jarinya menyentuh bibir gadis itu.
Hatinya ragu, salahkah jika ia mencium gadis itu secara diam-diam begini? Hanya sebatas itulah keberaniannya menyatakan perasaannya.
****
Pria playboy bernama Jin Wook itu berlari mengejar langkah Jang Su Bin. Beberapa hari ini wanita yang ia cintai itu terkesan menghindar darinya.
"Jang Su Bin," panggil Jin Wook seraya menarik tangan wanita itu.
"Jin Wook—" Gadis itu terpana melihat Jin Wook bisa menyusul langkahnya.
"Kemana saja dirimu? Apakah kau menghindar dariku?" tanya Jin Wook cemas.
Wanita seksi itu melepas tangan Jin Wook yang mengait lengannya.
"Mulai sekarang jangan mencariku," ucap Jang Su Bin ketus.
"Kenapa? Ada apa dengan dirimu?" tanya Jin Wook heran. Ia tak mengerti sebab apa gadis itu tiba-tiba berpaling darinya.
"Aku sudah mendapatkan yang lebih darimu. Jadi mulai sekarang jangan ganggu hidupku lagi," tegas Su Bin lalu beranjak pergi.
"Jang Su Bin," teriakan Jin Wook tak di gubris.
Pria itu terlihat kaget, bagaimana tidak, ia sudah mengeluarkan banyak hartanya untuk gadis itu tapi apa yang ia dapat sekarang?!
Sejenak ia teringat akan Jang Na Rie, wanita yang ia campakkan beberapa bulan yang lalu.
Beginikah rasanya ketika di campakkan?
***
"Kau kelihatan mulai kurus Yang Mulia," ucap Kim di belakang Raja Lee.
Pria itu bergeming, ia memilih diam dan terus memeriksa keadaan istana.
"Jika terus begini kesehatanmu akan terganggu," imbuh Kim lagi.
"Jangan khawatir Kim aku merasa sehat kok," ucap Lee tanpa menatap Kim yang gelisah.
"Mau tidak mau kau harus segera makan daging manusia Yang Mulia," desak Kim.
Raja Lee melirik Kim yang gelisah, ia menghela napas.
"Aku hanya kurang makan dan itu tidak akan membuatku mati. Jadi jangan khawatir berlebihan Kim," ucap Lee menenangkan saudara laki-lakinya itu.
"Jika Yang Mulia mau Hamba akan mencari ganti mangsa yang lain," tawar Kim penuh perhatian.
Raja tertawa lirih, ia mencoba menyembunyikan kegusarannya.
"Tak usah Kim, aku baik-baik saja. Jika nanti bila sudah waktunya aku pasti akan makan daging manusia lagi," ucap Lee pelan.
Kim terdiam, kenapa Rajanya itu sekarang bersikeras tidak mau makan daging manusia.
Apakah semenjak mengenal Jang, hati Rajanya itu mulai melembut?
Kim terus terdiam, ia memilih menyimpannya dalam hati ketimbang bertanya terus tapi tak mendapat jawaban apa-apa.
****
Masih mengingatkan untuk reader yang baik, jangan lupa tap love cerita ini ya. Terima kasih.