7. Mungkinkah

1433 Kata
**** Jang Na Rie melirik pria berbaju hijau itu dengan wajah bosan. Sudah hampir sehari ia menemani Raja Lee Choh Yun menekuni buku dan laporannya. Kedua bokongnya sudah terasa sangat panas, satu jam lagi jika pria itu tak juga menyelesaikan acara membacanya ia akan pergi duluan. "Jangan melirikku saja," singgung Lee tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca. Jang Na Rie beringsut, ia ingin pergi tapi untuk menghargai pria itu ia mengurungkan niatnya. "Kak Lee apa kau tak bosan?" tanya Jang pelan, ia takut pria itu bereaksi marah padanya. Lee Choh Yun meliriknya sejenak seolah tak peduli dengan mimik wajah Jang yang sudah merasa sangat tertekan. Pria itu menekuni buku laporannya kembali, tangan kanannya seperti mencari sesuatu di bawah meja. "Kalo kau bosan cobalah main seruling," ucap Lee seraya melempar serulingnya ke hadapan Jang Na Rie. "Kak Lee harusnya kau bosan. Kenapa kau menyibukkan diri dengan membaca banyak buku? Lalu kenapa kau harus mengikatku seperti ini macam kambing,"ucap Jang pada Lee dengan raut wajah merengut. "Aku memintamu menemaniku membaca bukan mengeluh," tandas Lee membungkam mulut Jang. Gadis itu mengalah, ia memilih meraih seruling dan memainkannya. Permainannya yang acak-acakan membuat Lee merasa terganggu. Jang tak pandai memainkan seruling tapi demi mengusir kebosanannya ia pun mencoba untuk memainkannya. Suara seruling yang dimainkan Jang membuat Lee sakit telinga. Dia segera merampas seruling itu dari tangan Jang dan membantingnya. Pandangan mereka saling bertemu, wajah Lee memerah. "Kak Lee lebih baik aku pergi saja daripada mengganggumu. Mungkin aku bisa bermain dengan Kak Kim." "Tidak!" sergah Lee tiba-tiba membuat Jang bengong. "Maksudku, aku ingin kamu di sini menemaniku bukan menemani Kim," ucap Lee salah tingkah. Jang menarik nafas, ia kembali ke posisinya semula. Lee menatap gadis itu, ia dapat merasakan kebosanan di wajahnya. Ia menunduk, sebenarnya seharian ini tak ada buku satu pun yang isinya masuk ke kepala Lee Choh Yun. Ia memikirkan sesuatu, tentang perasaannya tentang dirinya juga. Diberanikan tangannya meraih tangan Jang di atas meja, tentunya dengan jantung yang berdebar-debar. "Ayo kita jalan-jalan sebentar keluar," ucap Lee pelan disambut senyuman Jang Na Rie. Mereka berjalan beriringan menuju taman bunga, angin yang berhembus semilir menentramkan jiwa. "Jang," panggil Lee pelan. Gadis itu menoleh padanya, menatap mata Raja Lee yang penuh tanda tanya. Pria itu ingin mengungkapkannya namun sesuatu tertahan di bibirnya. Ia tak sanggup menatap mata Jang lantas berpaling memandang sisi lain. "Tidak, tidak apa apa," jawab Lee pelan. Diurungkannya niatnya kembali, dia memilih menatap hamparan bunga. "Apakah kau pernah mencium seseorang?" tanya Lee lirih, ia tak berani menatap Jang Na Rie. "Maksudnya?" tanya Jang menatap Lee dengan heran. "Maksudku, pernah tidak kau mencintai seseorang?" tanya Raja Lee salah tingkah. Berinteraksi dengan Jang sungguh membuatnya gila. Ia selalu saja salah mengucapkan kata apalagi jika Jang ingin memperjelas apa yang ia ucapkan. "Pernah tapi ungkapan yang paling tepat adalah aku yang selalu disakiti," jawab Jang sedih. Pria itu menatap Jang, ia melihat wajah sedih itu lagi membuatnya menyesal bertanya yang tak ada gunanya. "Maaf jika aku bertanya yang tidak-tidak padamu," ucap Lee seraya meraih tangan Jang. Gadis polos di hadapannya hanya mengulum senyum kepadanya. "Tak apa," jawabnya dengan biasa. Lee kembali menatap raut wajah itu, hatinya kebat-kebit ingin mengatakan sesuatu. Beberapa kali ia menarik nafas berat untuk mengendurkan sarafnya yang tegang. "Aku, aku-" ucap Lee dengan gugup. Entah darimana datangnya Kim Yu Shin hingga akhirnya dia dengan sengaja mendorong tubuh rajanya ke depan, membuatnya seolah sebuah kecelakaan. Raja jatuh menimpa tubuh Jang Na Rie dan tak sengaja mencium bibir gadis itu. Wajah keduanya memerah, menyadari hal yang tak sengaja dilakukan. Kim hanya menahan tawanya, ia lantas menghampiri keduanya. "Maaf Yang Mulia aku tadi terantuk batu," ucap Kim Yu Shin membungkuk pura-pura menyesal. "Tak apa. Lain kali hati-hati," ucap Lee datar seraya menyembunyikan wajah meronanya. Kim masih menahan senyumnya membuat Lee terus menatapnya curiga. "Jang kembalilah ke kamarmu mungkin kau butuh istirahat," ucap Raja Lee tanpa menatap Jang. "Baiklah," ucap Jang lalu pergi. Wajahnya juga memerah menahan malu. Raja Lee Choh Yun menatap Kim Yu Shin dengan sorot mematikan, ia mulai curiga dengan adiknya itu. "Apa ini akal-akalanmu?" tanya Lee penuh selidik. Kim balas menatapnya, ia dapat melihat ekspresi kakaknya sewaktu mencium Jang tadi. "Aku tahu sebenarnya kau sangat lega bisa menciumnya? Benarkan?" tebak Kim membuat Lee kembali merona. "Tidak!" jawab Lee tegas. Dia membalikkan badan lalu perlahan tersenyum lucu, Kim selalu tahu apa yang ada di pikirannya. Setidaknya jika ia tak bisa mengungkapkan perasaannya, ia bisa mengatakannya lewat sentuhannya. Dan Kim seakan tahu apa yang dimaksudkannya, ia seolah tahu dan memberinya jalan untuk mengungkapkannya. Sebenarnya~ ia patut berterimakasih pada Kim Yu Shin, adiknya. **** Kesehatan Raja Naga Lee Choh Yun akhir-akhir ini memburuk. Ia sering terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah, Kim selaku Perdana Menteri terlihat khawatir. "Yang Mulia sebenarnya Hamba khawatir," ucap Kim di hadapan Lee Choh Yun yang duduk di singgasananya sembari memejamkan mata. "Soal apa?" tanya Lee dengan tenang. "Yang Mulia kau harus segera makan mangsamu," ucap Kim membuat Lee membuka matanya. "Apa kau memerintahkan aku untuk memakan Jang?" ucap Lee balik bertanya. Kim belum menjawab, ia sendiri bingung dengan posisi Raja saat ini. "Apa kau menyuruh aku membunuh orang yang selama ini kucintai?" imbuhnya lagi. "Aku tahu Yang Mulia tapi saat ini kesehatanmu memburuk. Jika kau tak juga mencari pengganti Jang kau akan mati," ucap Kim cemas. Lee menatap Kim sambil mengulas senyum tipis. "Memang memburuk tapi aku takkan mati," ucap Lee menenangkan hati Kim Yu Shin. "Bagaimanapun tenagamu berasal dari daging manusia Yang Mulia," ucap Kim masih ngeyel. "Aku tahu, tapi membunuh seseorang tanpa alasan apalagi dia adalah orang yang dicintai itu bagiku sangat tidak mungkin. Bagaimana aku bisa setega itu? Mungkin jika waktu itu aku tak membiarkannya hidup mungkin aku juga takkan mencintainya," jawab Lee sambil berdiri. Ia melangkah ke arah jendela istananya, menatap keluar istana yang indah. "Itu sudah takdirku Kim, aku tak bisa membunuhnya sampai kapan pun. Aku tahu aku pasti akan mati karena energiku makin habis tapi bukankah setiap ciptaan Tuhan pasti akan mati," ucap Lee datar. Kim tersentak mendengar penuturan kakaknya, ia seperti tak melihat sifat kakaknya lagi. Pria itu benar-benar berubah. "Mungkin ini sudah takdirku Kim, sudah waktunya aku mati. Dalam hidupku, aku terlalu banyak memakan manusia dan sekarang aku hanya ingin melakukan secuil kebaikan. Aku akan melepaskan satu nyawa agar ia bisa hidup lebih lama. Aku sangat mencintainya Kim, kau tak tahu sedalam apa aku mencintainya. Aku hanya ingin melihat dia hidup dan membiarkan orang-orang dapat melihat senyumnya yang manis," ucap Lee pelan. Pria itu menggenggam tangannya, dadanya kembali sesak. Lee Choh Yun terbatuk-batuk, darah memercik dari mulutnya. Kim menyentuhnya namun Lee menolaknya dengan lembut. "Aku tak apa-apa," ucap Lee mencoba tersenyum. Kim terdiam, dia iba melihat kakaknya. Rasa cintanya pada Jang Na Rie begitu besar hingga ia rela untuk mati dan ditukar dengan nyawa kekasihnya. **** "Apa kau tahu apa yang terjadi dengan Raja Lee?" tanya Kim Yu Shin di belakang Jang Na Rie. Wanita berbaju pink itu membalikkan badan, menatap sosok Kim yang menatapnya tajam. "Ada apa dengan dirinya?" tanya Jang dengan polos. Kim Yu Shin menarik nafas dalam-dalam, dia berjalan mendekati gadis itu. "Dia sedang sakit," jawab Kim dengan sedih. Gadis itu terperangah kaget, dipegangnya lengan Kim dengan cemas. "Dia sakit apa?" tanya Jang penuh kekhawatiran. Kim menatap hamparan taman bunga dengan wajah menerawang. "Dia sakit karena kekurangan tenaga, dia butuh sesuatu untuk memulihkannya. Aku tak yakin apa hal itu bisa atau tidak," jawab Kim Yu Shin dengan wajah ragu. "Maksudnya?" Kim menatap tajam mata Jang yang indah, yang membuat Rajanya jatuh cinta. "Dia butuh mangsa manusia," jawab Kim serius. Wanita di depannya terdiam, wajahnya nampak shock. Kakinya mundur beberapa langkah, ia merasa tertohok. "Jang apa kau baik-baik saja?" tanya Kim menelisik. Sejenak ia merasa khawatir karena melihat perubahan wajah gadis itu. "Ya aku baik-baik saja," jawab Jang sambil tersenyum walau dipaksakan. "Ia bisa mati kalau ia tak segera makan daging manusia," ucap Kim Yu Shin lagi. Jang Na Rie masih terdiam, dia memikirkan sesuatu. "Kak Kim bolehkah aku pergi ke kamarku? Ada sesuatu yang harus kukerjakan," ucap Jang pelan. Kim hanya menganggukkan kepala. Gadis itu pergi meninggalkannya dengan langkah terburu-buru. Mungkinkah ini sudah waktunya bagi seorang Jang Na Rie menyerahkan nyawanya? Pria bertanduk itu terlalu baik hati untuk mati muda. Dirinya yang datang padanya untuk minta mati dan sekarang sudah waktunya. Jang menarik nafas berkali-kali, mengendurkan dadanya yang terasa sesak. Raja Naga Lee Choh Yun membutuhkan dirinya, membutuhkan dagingnya. Harusnya ia senang karena ayahnya sudah menantinya di sana. Jang mencoba tersenyum, ia ikhlas jika pria baik hati itu akan mencabut nyawanya. Semua demi Lee Choh Yun. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN