9. Selalu Menantimu

2315 Kata
*** Hamparan bunga warna merah dan kuning menghias taman kerajaan Naga.Lee Choh Yun mendesainnya begitu cantik,ia membuatnya bak istana langit.Membuat siapapun akan betah tinggal berlama lama disana hanya untuk menikmati keindahannya. Jang termenung,sudah hampir 2 minggu Lee Choh Yun sakit.Pria itu tak sanggup meninggalkan kamarnya yang gelap,dan beberapa hari ini Perdana Menteri Kim Yu Shin benar benar melarangnya bertemu dengan Raja Naga. "Jang Yang Mulia Raja ingin bertemu denganmu,"ucap Kim membuyarkan lamunan Jang Na Rie. Wanita itu menoleh lantas berdiri dari duduknya, dihampirinya Kim yang berwajah suram. "Benarkah?Aku akan segera kesana,"ucap Jang Na Rie dengan wajah sumringah. Kim buru buru menangkap tangan gadis berpakaian warna biru itu. Jang menoleh padanya penuh tanya,kenapa Kim memperlihatkan aura aneh kepadanya? "Aku harap setelah melihatnya kau tak kan sedih,"ucap Kim dengan wajah serius. "Apa yang terjadi dengan Kak Lee?"tanya Jang ingin tahu. Diurungkan niatnya untuk segera datang ke kamar Lee Choh Yun, ia ingin mendengar penjelasan Kim lebih detail. Kim menarik nafas dalam dalam,membuang pandangannya ke sudut lain. "Dia sudah berubah wujud menjadi naga,"jawab Kim dengan sedih. Jang terperanjat,ditutup mulutnya tanpa sadar. "Mungkin dia takkan berbicara lagi denganmu,tapi ia berpesan padaku agar kau mau menemaninya malam ini.Ia ingin menghabiskan malam ini bersamamu,"ucap Kim datar seraya menatap mata kelam di sampingnya. Gadis itu tak sanggup berkata kata,bulir airmatanya kembali jatuh membasahi pipinya yang putih. Ia tak menyangka kenekatan Lee untuk tidak memangsanya akan membuat pria itu menderita. Tangan mungilnya bergetar,sama keadaanya ketika ia diusir ibunya dari rumah.Ia tak tahu harus bagaimana menyikapi hal ini. Pikirannya buntu,ia tak sanggup untuk melihat pria itu dengan keadaan yang bukan wujud aslinya. "Kak Kim apa ini salahku?"ucap Jang memberanikan bertanya. Kim menatapnya dengan mata haru,ditepuknya bahu Jang dengan lembut. "Seharusnya aku tak bertemu dengannya,aku seharusnya mati saja waktu itu.Aku telah merusak hidupnya,"tangis Jang membuat Kim terharu. Perlahan Kim merengkuh tubuh Jang,ia juga merasa sedih sama sedihnya seperti Jang Na Rie. "Itu semua sudah menjadi keputusannya Jang,jadi itu bukanlah salahmu.Itu semua karena dia~ dia mencintaimu,"ucap Kim pelan. Jang menghentikan tangisnya lalu menatap mata Kim yang sendu. "Apa yang harus ku lakukan?"tanya Jang dengan bimbang. "Penuhi saja apa yang dia mau.Dia pasti akan bertahan dari sakitnya demi dirimu,"ucap Kim sembari tersenyum. "Baiklah aku akan pergi,"ucap Jang sambil menghapus airmatanya. Kim menganggukkan kepala,dia melihat punggung Jang hingga sampai dibalik pintu. Pria tampan itu menarik nafas sekali lagi. "Maafkan aku Jang,mungkin hari ini hari terakhirmu melihatnya."Kim bergumam lirih. **** Di langkahkan kakinya mendekati pria yang sudah berwujud naga itu. Air matanya menggenang,ia tak bisa menahannya. Dadanya begitu sesak,otaknya masih bisa mengingat setiap detil moment bersama Lee Choh Yun. Jang duduk disampingnya,menatap mata Naga yang merembes keluar airmata nya. Apakah Lee Choh Yun menangis?Apakah dia menahan rasa sakitnya? Pertanyaan itu mendominasi otak Jang Na Rie, membuat batinnya teriris sedih. Tangannya yang gemetar mencoba menyentuh kepala Naga bermahkota itu dengan segenap jiwa. Tak ada kata yang terucap,ruangan itu begitu sunyi. "Aku akan menemanimu Kak,"ucap Jang dengan tulus. Naga itu hanya menggerakkan kepalanya sebentar,mata merahnya berkedip beberapa saat. Setetes airmata keluar dari matanya yang sedikit tertutup.Sesekali naga itu mengeluarkan suara seolah ia sedang merintih. Hati Jang pilu,dia membalikkan badannya memunggungi Lee Choh Yun. Airmatanya kembali tumpah, bagaimana bisa pria itu senekat itu hanya untuk nyawanya. Naga itu merintih lagi seolah tak ingin Jang sedih. Jang segera menghapus airmatanya, dia kembali menatap naga itu dengan mata masih berkaca kaca. Naga berkulit kuning emas itu dengan susah payah menggeser tubuhnya,meletakkan kepalanya di pangkuan Jang Na Rie. Jang menahan airmatanya,ia hanya bisa meremas kuat kuat ranjang empuk itu untuk melampiaskan emosinya yang buruk. Perlahan Naga itu menggosok gosokkan kepalanya di pangkuan Jang dengan manja,walau sesekali ia merintih perih. Jang menyentuh kepala Naga dengan penuh perhatian. "Kau masih tampan walau keadaanmu seperti ini,"hibur Jang lirih seraya mengulum senyum penuh paksaan. "Apa kau ingat Kak Lee sewaktu kita bertemu?Kau sangat tampan dan gagah.Tandukmu tidaklah terlalu buruk,jika aku boleh bicara tandukmu justru sangat mempesona. Kau pria baik yang pernah ku temui,kau selalu menawarkan beribu kebaikan kepadaku.Saat kau menggandengku,aku merasa sangat dilindungi olehmu.Kau bukanlah monster seperti yang kau katakan,"ucap Jang seraya menatap langit langit kamar. Naga itu merintih,mengedipkan matanya pelan.Airmata keluar dari sela sela pelupuk matanya. "Kau dan Kak Kim sama sama orang baik, kekompakkan kalian membuatku sejenak merasa berarti.Sejenak aku ingin hidup ditengah tengah kalian dan aku sadar~ aku menyayangi kalian.Aku takkan melupakan semuanya Kak Lee,saat kau menarik tanganku,meniup debu dimataku,membelanjakan aku barang barang sampai kau~kau menciumku,"ucap Jang sedih. Di pejamkannya matanya erat erat,ia mencoba mengingat semua itu. Bayangan Lee sewaktu dia tersenyum kepadanya,sewaktu dia menggodanya atau wajah salah tingkahnya. Semua itu akan berlalu namun ia takkan melupakannya sedikitpun. Perlahan Jang mengantuk,ia tertidur dalam kegelisahan dan segala kenangannya. Naga merintih pelan,menahan sakit ditubuhnya.Sesekali ia menggeser tubuhnya dengan susah payah. Mata merahnya berkedip pelan seperti lampu yang hampir hilang cahayanya. Untuk yang terakhir kali,dia mengeluarkan airmata darah yang membasahi pangkuan kekasihnya. Matanya perlahan mengatup,cahaya merah dimatanya lama lama pudar. Lee Choh Yun telah tertidur. Tertidur lama untuk selama lamanya. ***** Senyum Lee mengembang,ia terlihat sangat tampan persis seperti saat bulan purnama datang. Pria itu tersenyum manis kepadanya. "Jang apapun yang terjadi tetaplah tersenyum seperti diriku.Hargailah dirimu baik baik karena aku takkan mengampunimu jika kau sampai berbuat aneh aneh yang menyebabkan dirimu celaka. Jang..aku tetap mencintaimu walau kita tak mungkin bersama lagi.Waktu kita sangatlah berarti jadi~ jangan pernah berniat melupakan diriku dalam hatimu. Ambillah aku untuk hatimu." Lee Choh Yun kembali tersenyum,pakaian warna hijau cocok sekali dengan kulitnya yang putih.Ia terlihat begitu tampan dan rapih. Tiba tiba Kim Yu Shin membangunkan dirinya dari sebuah mimpi tentang Lee Choh Yun. Matanya mengerjap mencari sosok Lee yang tadi malam tidur dipangkuannya. "Kak Kim dimana Kak Lee?"tanya Jang dengan heran karena dikamar itu Lee Choh Yun tak ada. Kim menatapnya begitu lama,ia berpikir bisakah gadis ini melaluinya? "Katakan padaku dimana dia?"tanya Jang mendesak semakin cemas. "Dia sudah pergi,"jawab Kim singkat. Wajahnya tertunduk sedih,ia harus rela melepas sang Kakak. "Apa maksudmu sudah pergi?"tanya Jang terus memburu. Dia beranjak dari ranjang,menghampiri Kim lantas mengguncang guncangkan tubuh Kim yang kekar. "Dia sudah meninggal Jang,"jawab Kim begitu berat. Gadis itu shock,kakinya lemas seketika.Ia roboh ketanah,tangannya bergetar hebat. Kim meraihnya dengan penuh kecemasan, ia tahu Jang akan kaget mendengarnya. "Kau baik baik saja?"tanya Kim bersimpuh dihadapan Jang Na Rie. Gadis bermata kelam hanya sanggup menganggukkan kepalanya. Bibirnya terkunci,ia tak bisa berkata setelah mendapat kabar seperti itu. Beberapa detik kemudian barulah ia bisa menguasai dirinya yang panik,ia mengurai airmatanya yang bening. Pria itu benar benar tega meninggalkannya seorang diri tanpa kata kata perpisahan. Kim menatapnya,meraih tangannya guna menenangkan hati Jang Na Rie. "Seorang Raja Naga bila ia meninggal maka jasadnya akan menghilang menjadi debu.Itulah kenapa kau tak bisa menemukannya,"ucap Kim Yu Shin memberitahu. Ucapan Kim tak di dengar nya,ia sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya ia tak berada disini,seharusnya ia sudah sampai pada tujuannya lebih awal.Namun keputusasaannya hanya ia simpan dalam hati,ia marah pada dirinya sendiri. "Yang Mulia menitipkan surat padamu beberapa hari yang lalu sebelum ia benar benar berubah jadi Naga,"ucap Kim seraya mengeluarkan sebuah gulungan surat dari dalam bajunya. Jang Na Rie menatap gulungan itu dengan ragu namun Kim berusaha meyakinkannya. Tangannya meraih dengan gemetar,di bukanya gulungan dengan hati hati dan mulai membacanya. "Jang jika kau membaca surat ini,mungkin aku sudah berada di alam baka. Setelah semua yang kulalui bersamamu,aku memantapkan hati untuk tidak mengonsumsi daging manusia.Aku tahu aku akan mati jika tak melakukannya,namun setelah sekian lama berbaur denganmu ada niat tulus dalam diriku.Aku ingin menjadi manusia lagi seutuhnya. Tapi aku tidak tahu caranya agar bisa kembali,yang aku tahu orang mati pasti takkan kembali. Apapun yang terjadi nanti,entah aku kembali atau tidak ~aku harap kau tak melupakanku. Tetaplah tinggal di istanaku,ada Kim yang akan menjagamu. Kuserahkan seluruh kekayaan dan istanaku kepadamu.Aku harap kau mau memenuhi permintaanku." Jang menutup gulungan itu,matanya menyiratkan ketidakmengertian. Lee Choh Yun sudah memikirkannya jauh jauh hari untuk dirinya. "Aku harap kau mau menuruti keinginannya,"ucap Kim datar. Jang menatap Kim dengan ragu,ia tak mengerti harus berbuat apa namun Kim segera meraih tangan lembut milik Jang Na Rie. "Tinggallah disini ~ bersamaku,"pinta Kim dengan wajah memohon. Gadis itu nampak berpikir,namun kemudian ia menganggukkan kepala tanda setuju. Kim mengulas senyum lantas memeluk Jang dengan erat. Jang hanya diam,dia pasrah ketika Kim memeluknya. Hanya tinggal Kim Yu Shin, pria satu satunya yang ia miliki di dunia ini. **** Angin semilir begitu terasa lembut ketika membelai setiap helai rambut Kim Yu Shin. Ia menyendiri,biasanya ada Lee Choh Yun yang menemaninya. Namun hari hari akan berbeda ketika pria yang selalu bersamanya sedari kecil itu meninggalkannya. Bukan cuma Jang Na Rie saja yang merasa kehilangan namun dirinya juga.Bahkan bisa dibilang dirinya lah yang paling merasa kehilangan atas kakaknya itu. Ditatapnya hamparan bunga yang mulai layu di hadapannya,musim lalu ia dan Lee Choh Yun lah yang menabur benih bunga disana. Mungkin bunga itu layu ketika si empunya telah tiada. Kim menarik nafas,mengendurkan saraf otaknya yang terasa tegang.Otaknya mengingatkan kembali pada percakapan tengah malam itu dikamar Lee Choh Yun. Raja Naga yang terlihat sekarat sedang berusaha menulis surat yang katanya akan diserahkan kepada kekasihnya. "Tolong berikan surat ini pada Jang,"pintanya sambil menahan batuk. "Sekarang?"tanya Kim memastikan. "Jangan.Nanti saja~ setelah aku mati,"jawab Lee lirih. Suaranya parau karena terlalu banyak batuk. Kim mulanya terperanjat namun ia mencoba menerima keadaan itu dengan lapang d**a. "Kim kau orang yang baik,"ucap Lee mencoba tersenyum. Dia membuka pembicaraan setelah sekian lama suasana hening. "Aku dari dulu memang sudah baik,"jawab Kim membuat Lee kembali tersenyum lucu. "Kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi,bahkan semenjak aku dikutuk kaupun memilih ikut pergi denganku ketimbang tinggal di istana Langit.Terimakasih untuk kebaikanmu itu,"ucap Lee tulus. Kim hanya tersenyum menanggapinya. "Maukah kau berjanji padaku?" pinta Lee menatap mata Kim dengan serius. "Kau selalu begitu,setiap kau memujiku pada akhirnya kau meminta kepadaku.Apa yang kau inginkan?"tanya Kim balas memandang Lee yang masih terbatuk batuk. Pria itu menarik nafas dalam dalam,memberi jeda agar dadanya yang sesak berkurang sakitnya. "Maukah kau hidup berdua dengan Jang?"ucap Lee mengimbuhi. "Aku dan dia memang akan hidup berdua setelah kau tidak ada.Aku akan menjaga Jang untuk dirimu,"jawab Kim seraya menepuk bahu Lee dengan pelan. "Bukan itu.Maksudku~ kau menikah dengannya,"ucap Lee datar membuat manik bulat itu terkejut. "Aku merasa kau cocok dengannya,"imbuh Lee lagi. "Kakak kau bercanda ya?!Kalo kau menyuruhku menjaganya,aku pasti akan lakukan tapi jika untuk ~ menikahinya??Mana mungkin...." "Kau harus menikah dengannya dan memimpin kerajaan ini bersama.Punyalah anak yang banyak yang kelak akan mewarisi tahtaku,"ucap Lee memotong ucapan dari bibir Kim. Di genggamnya tangan saudaranya dengan erat,ia memohon diantara kesakitan nya. "Jang tak mungkin menerimaku,"sanggah Kim ragu. "Katakan saja aku yang memintanya mungkin dia akan mempertimbangkannya,"ucapnya kembali terbatuk batuk. "Kau orang yang sempurna untuknya,"imbuh Lee lagi. Batuknya menjadi,ia memercikkan darah segar lewat mulutnya. Diraba dadanya yang terasa seperti terbakar,dia menata nafasnya yang tersengal sengal.Menyakitkan. Kim tersadar ketika Jang tiba tiba disampingnya, memanggil manggil namanya. "Kak Kim..." Tangan mungil Jang Na Rie menyentuh bahu pria kekar itu. "Jang..."desis Kim menguasai dirinya. "Sepertinya kau memikirkan sesuatu,"ucap Jang penuh selidik. Kim menggeleng,ditatapnya pemandangan di hadapannya. "Kau lihat bunganya mulai layu.Mungkin kita perlu menanam benih yang baru,"ucap Jang ikut menatap hamparan bunga itu. Kim kembali menatap gadis disampingnya dengan ragu. Akankah dia bicara hal itu?Hal yang tak sanggup untuk ia bicarakan. Baru beberapa hari yang lalu, Lee Choh Yun pergi darinya rasanya tak mungkin untuk mengatakannya. Namun ia tak bisa menyimpannya seorang diri karena itu akan membuatnya gelisah dan pada akhirnya pekerjaannya akan banyak yang terbengkalai. Kim Yu Shin sendiri tak tahu bagaimana perasaannya pada Jang Na Rie.Sama seperti Lee Choh Yun, ia tak pernah mengenal wanita secara serius.Ia hanya mengenal wanita sebatas teman biasa bukan teman kencan. Ketika Kim Yu Shin mulai membuka mulutnya untuk bicara,Jang kembali mendahului nya bicara. "Bagaimana kalo kita menabur bunga kesukaan Kak Lee?Bagaimana Kak Kim?"tanya Jang seraya menoleh kearah Kim yang serius menatapnya. Pria itu terdiam sejenak,mengurungkan niatnya untuk bicara. "Itu..itu ide yang bagus,"jawab Kim sedikit tergagap. Dia menundukkan kepalanya,rasanya tak mungkin pikirnya lagi. "Jika kita menabur bunga kesukaannya aku yakin dia akan bahagia.Bukankah begitu Kak Kim?"ucap Jang mengimbuhi. Pria itu sibuk dengan pikirannya, bahkan apa yang diucapkan Jang hanya dianggapnya angin lalu. "Kak Kim?"panggil Jang sembari menatap bola mata Kim yang resah. "Ah...ya..." Kim menguasai dirinya kembali,ditatapnya wajah cantik Jang dengan salah tingkah. "Apa yang kau pikirkan?Kenapa kelihatannya kau gelisah?"Jang bertanya penuh selidik. Kim memcoba tersenyum, menyembunyikan apa yang ia pikirkan. "Yang Mulia menyukai bunga kuning dan merah.Dia pasti suka,"jawab Kim asal. "Benarkah?Kalo begitu aku akan menyiapkan benihnya nanti,"ucap Jang sambil melempar senyum. Kim membalas senyumnya lalu menatap kedepan. Tak ada suara diantara mereka,hanya deru angin yang terkadang menderu kencang membelai rambut mereka. Kim melirik ke arah Jang begitu lama. Gadis itu sangat cantik,mungkin lambat laun ia bisa mencintainya juga.Namun apakah gadis itu bisa menerimanya? Yang ia tahu di hati gadis itu hanya ada seseorang ~ Lee Choh Yun. Ia tak bisa melanggar batasan itu,batasan bahwa Jang menyukai Lee Choh Yun bukan Kim Yu Shin. Pria bermata bulat menelan ludahnya,~ aku akan mengurungkannya,pikirnya. ***** Jangan lupa tekan tanda love ya sayank.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN