BAB 1
"Heh, buruk rupa, lap-in tuh meja dan kursi! Gue mau duduk disini!" Perintah Agnes pada Laura yang kini sedang bantu-bantu di kantin sekolah pada jam istirahat.
"Iya, sebentar." Laura menoleh ke asal suara lalu berjalan mendekati Agnes yang tidak begitu jauh darinya.
"Lelet!" Ucap Agnes, namun Laura hanya mengabaikan setiap ocehan yang selalu Agnes lontarkan pada dirinya.
Laura Amanda gadis yang masih duduk di bangku SMA harus rela kerja banting tulang demi mencukupi kebutuhan hidupnya beserta sang nenek yang sudah tua renta. Laura Amanda yang sedari kecil di tinggalkan kedua orang tuanya yang bercerai. Salah satu dari mereka enggan membawanya dengan alasan akan sulit untuk mencari pekerjaan. Bahkan, hingga Laura Amanda dewasa kedua orang tuanya tidak ada yang menengokinya sekalipun. Hanya kasih sayang dari neneknya-lah yang membuat Laura bertahan dan membuatnya selalu menjadi juara kelas di sekolahnya. Karena Laura bercita-cita ingin menjadi seorang wanita karir agar kehidupannya sedikit berubah, meskipun tidak kaya setidaknya masih hidup layak tidak seperti sekarang kalau tidak bekerja tidak dapat makan.
Setiap pulang sekolah Laura pergi ke warung Bu Nita tempatnya bekerja. Bu Nita seorang pemilik warung nasi yang berjualan di dekat perkantoran di Ibu kota, sedangkan suaminya seorang supir pribadi seorang Bos, disebuah perusahaan besar dan ternama. Meskipun bekerja di warung gajinya sedikit, setidaknya setiap hari Laura bisa menghemat uang, karena untuk makan sehari-harinya Laura akan membawa Lauk dari warung, yang tidak habis terjual. Selain itu hanya warung nasi Bu Nita yang menerima Laura bekerja setengah hari dikarenakan Laura belum lulus sekolah dan kebetulan Bu Nita adalah kerabat dari Jogja.
"Kamu mau ke warung sekarang, Ndok?" Tanya sang nenek ketika melihat cucunya sudah tidak menggunakan seragam sekolahnya dan menggantinya dengan pakaian rumah.
"Iya, Mbah. Laura pamit dulu, ya," Ucapnya seketika meraih tangan sang nenek untuk menciumnya.
"Ya, sudah. Hati-hati di jalannya,"
"Iya, Mbah. Assalamualaikum..."
"Wa alaikum salam." Laurapun pergi setelah berpamitan pada sang Nenek. Laura menggunakan sepeda untuk sampai di warung Bu Nita yang lumayan jauh dari tempat dia tinggal. Bu Nita sebelumnya adalah tetangga Neneknya di kampung. karena itu juga Bu Nita mau menerima Laura yang hanya bekerja paruh waktu sekedar untuk bantu-bantu saja.
Laura mengayuh sepedahnya menyusuri pinggiran jalan raya tanpa merasa malu. Meskipun kulitnya akan terbakar teriknya sinar matahari siang, namun itu tidak mengurungkan niatnya untuk bekerja, Laura tidak perduli dengan penampilannya karena yang dia pikirkan hanyalah bekerja mencari uang untuk bertahan hidup.
Laura menoleh ke sisi kanan dan kirinya yang terdapat gedung-gedung bertingkat membuat dia membayangkan seandainya ia sudah lulus sekolah dan berkuliah ia akan melamar pekerjaan di salah satu perusahaan besar tersebut.
"Semangat, Laura. Kamu pasti bisa!" Gumamnya menyemangati diri sendiri tanpa ia sadari kalau di depan ada mobil yang akan berbelok.
Brakk ...!
"Aduh ..." Rengek Laura ketika ia terjatuh dari sepedahnya karena tersenggol body mobil yang berbelok tanpa sepengetahuannya.
"Kamu tidak, apa?" Seorang lelaki dengan suara agak serak itu keluar dari dalam mobil mengulurkan tangannya pada Laura
"Saya tidak apa, Pak! Hanya, sedikit lecet saja." Sahut Laura tanpa menoleh ke lelaki itu.
"Apa perlu saya antar ke Rumah Sakit?" Lelaki yang menyenggol Laura dengan senang hati menawarkan bantuan, namun Laura masih terlihat cuek.
"Tidak Pak! Tidak perlu. Saya baik-baik saja. Saya minta maaf, sudah mengganggu perjalanan Bapak," Ucap Laura penuh penyesalan, dalam hati ia merasa takut berurusan dengan orang kaya, takutnya justru Laura di minta ganti rugi karena tidak hati-hati.
"Sekali lagi, saya minta maaf Pak! Saya permisi." Pamitnya masih menundukan kepala dan mendorong sepedahnya meninggalkan mobil dan pemiliknya yang masih bengong karena sikap Laura.
"Gadis yang lugu," Gumam Larry tersenyum melihat tingkah ketakutan Laura.
Laura sampai di warung dan berjalan dengan sedikit pincang, lututnya cedera karena sedikit mencium tanah.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikum salam. Kaki kamu kenapa? Kenapa, jalannya pincang begitu?" Bu Nita yang melihat Laura berjalan tidak seperti biasanya merasa penasaran.
"Tadi, di jalan. Laura ke senggol mobil Bu," Jelasnya.
"Kamu tuh, hati-hati. Tengok kanan kiri kalau mau nyebrang."
"Iya, Bu. Lain kali Laura akan lebih berhati-hati." Sahutnya tersenyum kemudian masuk kedalam untuk memulai pekerjaannya.
***
Di sebuah perusahaan nampak seorang lelaki tengah berjalan memasuki ruangannya dengan perasaan penuh kekesalan. Larry seorang CEO muda di perusahaan itu di buat kesal oleh Papih dan Ibu tirinya yang tiba-tiba membahas tentang perjodohan. Bukannya Larry tidak mau menikah tetapi Larry tidak mau di jodohkan apa lagi dengan anak relasi bisnis Papihnya yang Larry jelas mengetahui kalau wanita yang akan di jodohkan dengannya itu seorang wanita yang manja. Bisa dipastikan kalau wanita itu tidak akan bisa mengurus rumah tangga dengan baik apa lagi wanita idaman Larry adalah seseorang yang pandai memasak. Larry hanya duduk melamun melamun di kursi kebesarannya sampai tidak menyadari ketika Arman sahabat sekaligus Sekretarisnya itu masuk ke ruangannya.
"Ehemm ...!" Arman mendehem, agar Bosnya itu sadar kalau ada dia di ruangan itu.
"Sejak kapan lu disana?" Tanya Larry yang kini melihat Arman duduk di sofa ruangannya.
"Sejak, tadi. Lu gak melihat gue masuk kesini?"
"Nggak!" Seru Larry dingin.
"Tumben? Biasanya telinga Pak Bos ini sensitive kalau mendengar suara." Arman cekikikan.
"Apakah gerangan? Yang sedang Pak Bos pikirkan?" Goda Arman pada Bosnya yang kini menatap tajam padanya.
"Papih, minta gue segera menikah," Ucapnya dengan nada sendu.
"Yang paling parah, dan bikin gue sebel Papih mau jodohin gue sama anak relasi bisnisnya." Panjang Lebar Larry menjelaskan sampai ia berhenti sejenak untuk menghela nafas.
"Tolong ...carikan gue cewek! untuk di jadikan istri. Tapi harus pandai memasak!" Arman yang mendengarkannya hanya bisa bengong.
"Gue gak salah dengar, kan?" Tanya Arman, takut telinganya bermasalah mendengar penuturan Larry Bosnya.
"Gue rasa, telinga lu masih normal! Gak tuli kan?!" Sinis Larry.
"Bukannya begitu, Bos. Tapi gue harus cari kemana? Apa lagi tipe yang lu minta?" Ucap Arman prustasi. "Lu tau, kan? Gue sendiri gak pernah dekat sama cewek." Mereka berdua mengusap wajahnya gusar dan saling berpandangan.
"Sial!!" Umpat Larry.
Larry dan Arman sama-sama tau kalau mereka berdua belum pernah dekat sama cewek. Bukan berarti mereka tidak laku, hanya saja mereka tidak mau karena selama ini kedua sahabat itu hanya sibuk dengan pekerjaan.
Sore hari sepulang kerja Larry menyetir mobil sendiri tanpa di temani supirnya ataupun Arman Asisten sekaligus sahabatnya. Larry pergi ke suatu tempat, tempat yang selalu dikunjungi ketika dirinya merasa pusing dengan pekerjaan atau masalah lainnya. Tempat itu tidak terlalu jauh dari Apartement tempat Larry tinggal sekarang, namun cukup jauh dari perusahaan dan rumah keluarganya. Sesampainya Larry di tempat tujuan, ia duduk disebuah kursi di pinggiran danau di tengah kota Jakarta.
"Kamu masih sering datang kesini, Nak?" Suara seorang wanita mengagetkannya.
"Eh, Nenek. Sejak kapan disana?" Larry menoleh ke arah suara disebelahnya yang kini terdapat seorang Nenek tua.
"Nenek, dari tadi disana." Tunjuknya pada sebuah kursi yang tidak jauh dari tempat Larry duduk sekarang.
Larry tersenyum mendengar penuturan Nenek disebelahnya, hatinya menghangat ia merasa Nenek tua itu tidak pernah berubah sama seperti dirinya yang selalu datang ke tepian danau buatan itu tanpa bosan, dan tentunya dengan sebuah tujuan. Larry datang kesana bermaksud mengingat Mamihnya yang telah pergi meninggalkannya tanpa alasan apapun.
Yang Larry ingat saat itu, ketika Larry masih SD, Mamihnya pergi tanpa pamit membuat Larry terus saja menangis di tepi danau, merasa takut tidak bisa kembali pulang dan bertemu keluarganya lagi. Sampai seorang Nenek menghampirinya bersama seorang anak perempuan yang sangat lucu menurut Larry karena anak perempuan itu terlihat gemuk dan berisi. Anak perempuan itu adalah Laura Amanda. Anak yang dibawa ke Jakarta untuk mencari Ibu dan Ayahnya yang pergi tanpa kabar.