Setelah lama bercerita dan mengenang tentang masa lalu Larry pun mengajak Nenek tua yang pernah menolongnya itu pulang, karena terlalu asik mengobrol dua orang yang terpaut usia jauh berbeda itu sampai lupa waktu.
"Mari Nek, saya antarkan Nenek pulang. Rumah Nenek, dimana?" Tanya Larry, merasa kasian kalau melihat Nenek tua itu pulang jalan kaki sendirian apa lagi hari sudah gelap.
"Ga apa, Nak. Nenek pulang sendiri saja," Tolaknya secara halus merasa tak enak hati karena melihat penampilan anak muda di sebelahnya itu.
"Ini sudah malam, Nek. Takutnya Nenek kenapa - kenapa di jalan." Paksa Larry, kemudian menuntun tangan Nenek tua yang kini hanya tersenyum padanya.
"Rumah Nenek, dimana?" Larry mengulang pertanyaan sebelumnya.
"Rumah Nenek tidak jauh dari sini," Setelah disebutkan alamatnya, Larrypun bergegas mengantarkan Nenek yang pernah menolongnya itu ke rumah kontrakannya.
***
Waktu menunjukan pukul 19:30 menjelang malam, Laura hendak pulang ke rumahnya dengan menaiki sepedah, meskipun kakinya masih sedikit sakit tapi rasa sakitnya tidak seberapa di bandingkan dengan hinaan dan cacian teman-teman sekolahnya. Tanpa disadari ahirnya Laurapun telah sampai di kontrakan tempatnya tinggalnya. Disana sudah ada pemilik kontrakan dengan beberapa anak buahnya yang sudah mengobrak-abrik rumah kontrakan tempat Laura tinggal.
"Ada apa ini?" Dari jauh Laura langsung berlari turun dari sepedah dan membiarkan sepedanya tergeletak begitu saja.
"Dari mana saja kau? Mana Nenek mu? Hah?!" Seorang lelaki tua yang di yakini anak buah pemilik kontrakan itu menggenggam tangan Laura dengan sangat kencang membuat Laura meringis kesakitan.
"Mbah...? Mbah, dimana? Mbah...?" Laura tidak menghiraukan pertanyaan preman yang masih terus memegang tangannya, Laura hanya mengingat Neneknya sekarang. Takut Neneknya kenapa-napa.
"Lihatlah. Nenek tua itu pergi meninggalkanmu. Karena tidak mampu membayar kontrakan!" Seru si empunya Kontrakan itu datang mendekati Laura.
"Saya akan membayarnya, Pak! Tolonglah beri saya, keringanan." Mohon Laura pada pemilik kontrakan.
"Dengan apa kamu akan membayarnya, hah? Sampai kapan Bos saya harus memberi kamu waktu? Kamu tidak lihat setiap hari banyak yang datang untuk mencari kontrakan?" Panjang lebar preman yang tidak lain anak buah si empunya kontrakan itu menjelaskan pada Laura. yang tangannya sama sekali tidak mau melepaskan genggamannya.
"Sakit. Tolong, lepaskan tangan saya. Pak!" Laura merintih kesakitan.
"Mmm.. Manis. Bagaimana kalau kamu membayarnya, dengan menjadi istri ke 3 saya?" Tawar lelaki hidung belang itu dengan memegang dagu Laura.
"Tidak!! Saya, janji. Saya. akan membayarnya, Pak! Tapi tolong lepaskan saya, hikz." Laura terus memohon berharap belas kasihan dari mereka yang menganiayanya.
"Dengan apa kamu akan membayarnya? Selama ini, saya sudah memberikan kalian, waktu." Bukan hanya tangan namun si Bos kontrakan itu kini mencengkram pipi Laura dengan sangat keras, tidak terima dengan penolakan Laura.
"Ndok ..." Sang Nenek berlari ketika melihat cucu satu-satunya di perlakukan dengan kasar oleh pemilik kontrakan. Membuat Laura ingin menoleh namun susah karena tangan dan pipinya dalam genggaman dua lelaki kasar itu.
"Mbah ..." Rintihnya.
"Apa yang kalian lakukan pada cucuku?!"
"Saya, akan membawanya. Sebagai ganti tunggakan kalian beberapa bulan. Dan saya, akan menjadikan dia sebagai istri saya yang ke 3. Ha ha ha." Orang-orang itu tertawa dengan sangat lantang.
"Mbahh..."Laura hanya berteriak. Dan berusaha melepaskan genggaman tangan preman padanya. Meski tidak bisa melawan saat Bos kontrakan beserta anak buahnya mencoba menarik paksa Laura agar ikut bersama mereka.
"Tolong ...tolong, cucu ku." Para tetangga di sebelah kontrakan tidak ada yang berani menolong Laura, karena selain tidak ada uang untuk membantu melunasi tunggakannya, mereka juga takut dengan preman anak buah bos kontrakan itu.
"Tolong, dia. Cucuku...!" Setelah berlari menghampiri setiap orang, namun tidak ada yang mau membantu, membuat sang Nenek kelelahan dan seketika pingsan.
"Mbah ...!!!" Teriak Laura dari kejauhan karena melihat Neneknya tergeletak di tanah.
"Lepaskan! Lepaskan saya! Saya tidak mau menjadi istri anda! Saya janji akan membayarnya, Tuan!" Laura terus berteriak dan menolak ajakan mereka. Berusaha sekuat tenaga agar pegangannya terlepas.
"Mbaahh...!" Tangisnya..
Larry yang sebelumnya berniat ingin melihat rumah Nenek yang pernah menolongnya, terlambat datang karena setelah Nenek Laura turun dari mobil ia menerima sebuah panggilan terlebih dahulu.
"Berhenti!" Titah Larry pada orang-orang yang membawa Laura, namun dia berjalan menghampiri sang Nenek.
"Berhenti! Saya bilang!" Dia mengulang perintahnya.
"Siapa kamu, hah? Berani-beraninya membentak kami?" Tunjuk preman pada Larry yang kelihatan tidak takut sama sekaki.
"Kamu tidak tau siapa, kami?" Ucap salah seorang preman.
"Saya tidak perduli siapa kalian. Yang jelas saya meminta pada kalian, untuk melepaskan, dia!" Tunjuknya pada Laura. Bos kontrakan dan anak buahnya saling berpandangan seolah tidak mengerti ucapan Larry.
"Saya, ulangi sekali lagi! LEPASKAN DIA!!!"
"Heh, kamu siapa? Gadis ini, calon istri Saya!" Ledek pemilik kontrakan itu pada Larry.
"Jangan asal ngomong, kamu! Dia, calon istri saya! Asal kamu tau!" Dengan tegas Larry mengatakannya, membuat Laura langsung menoleh dan memandang wajah Larry yang terasa asing baginya. Tapi kenapa tiba-tiba berkata seperti itu. Bukan hanya Laura tetapi, para tetangga dan juga si empunya kontrakan beserta anak buahnya pun kaget mendengar penuturan Larry yang notabene adalah orang asing bagi mereka. Karena baru pertama kali mereka melihat Larry orang yang berpenampilan rapih dengan masih menggunakan kemeja kerjanya di daerah pemukiman yang kumuh dan padat penduduk itu.
"Saya, akan membayar tunggakan hutang mereka. Jadi sekarang, lepaskan gadis itu!" Sekali lagi titah Larry tidak di gubris karena mereka pikir itu hanyalah sebuah lelucon. Begitupun dengan Laura yang tidak yakin dan menganggapnya sebuah kebohongan. Mana ada orang asing yang tiba-tiba datang lalu bilang bahwa dia adalah calon istrinya dan akan membayar hutang mereka, Laura menutup matanya berharap itu adalah sebuah mimpi karena kalau tidak, itu akan menambah masalah yang ada bagi Laura dan Neneknya.
"Cepat ..lepaskan gadis itu! atau saya akan menghubungi polisi! Cepaat..!!" Teriak Larry kali ini, karena kesabarannya sudah habis sampai Larry menggulung lengan kemejanya, meyakinkan mereka kalau Larry sudah marah.
"Cepat, lepaskan. lepaskan gadis itu," Perintah Bos kontrakan pada anak buahnya setelah melihat keseriusan di wajah Larry.
"Mbah ..." Laura berlari menghampiri sang Nenek yang masih tergeletak setelah pegangan tangannya di lepaskan oleh preman kampung itu.
"Tolong ... Tolong bawa Nenek saya masuk kedalam," Pintanya pada tetangga yang masih melihat kejadian disana.
Larry masuk ke dalam kontrakan tempat tinggal Laura dan Neneknya setelah ia menyelesaikan permasalahan dengan para preman dan Bos kontrakan. Larry tidak suka kekerasan selagi masalah bisa diselesaikan dengan baik. Untuk apa ia harus membuang-buang tenaga, pikirnya. Di dalam rumah Laura masih ada beberapa orang tetangga yang menunggui Nenek Laura, sekalian kepo ingin tau siapa pemuda tampan yang barusan bilang kalau Laura adalah calon istrinya.
"Jadi, Bapak beneran calon suami, Laura?" Tanya seorang warga yang kebetulan dia adalah Rt setempat yang ikut menyaksikan kejadian tadi, namun tidak punya nyali untuk merukunkan warganya karena takut.
Larry sekilas melihat ke Laura yang kini masih menangisi sang Nenek karena belum sadarkan diri. Tanpa ragu Larrypun ahirnya menganggukkan kepalanya pada pria yang kini berada di depannya.
Laura kaget? tentu saja. Karena Laura tidak mengenal Larry. Tapi siapa perduli? karena yang Laura pikirkan sekarang adalah menginginkan Neneknya cepat siuman dan ia terbebas dari preman juga Bos kontrakan yang berniat membawanya. Masalah tentang menyebutnya calon istri akan Laura tanyakan nanti.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Karena masih ada urusan. Besok saya akan kembali kesini," Pamitnya pada orang yang masih berada di sana.
"Manda ...?" Panggil Larry yang kebetulan tahu nama Laura ketika masih kecil dulu.
Laura menoleh, pertanyaan dalam kepalanya semakin banyak, bagaimana Larry bisa tau nama kecilnya? Namun Laura tidak akan membahasnya sekarang apa lagi di depan banyak orang yang mungkin juga akan bertanya-tanya.
"Manda, saya akan pulang dulu. Besok saya akan datang lagi,." Laura menganggukan kepalanya, lalu berdiri menghampiri Larry orang yang baru di kenalnya, kemudian Laura pun mengantarkan Larry ke luar rumah.
"Ini, kartu nama saya. Kalau ada apa-apa sama Nenek. Kamu bisa menghubungi saya," Titahnya menyerah kan kartu nama pada Laura.
"B-b-baik," Laura hanya mengiyakan tanpa berani melihat orang di hadapannya sekarang.
"Saya pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Beberapa menit setelah kepergian Larry, Nenek Laura pun siuman, kedua wanita yang berbeda usia itupun menangis dalam pelukan. Laura yang takut kehilangan Neneknya begitupun dengan sang Nenek yang takut Laura kenapa-kenapa.