Di sekolah Laura masih memikirkan perkataan Larry, lelaki yang baru pertama kali dilihatnya seingat Laura, berbeda dengan Larry yang sudah pernah bertemu beberapa kali meskipun secara tidak sengaja.
"Heh, gembel! Tuh, kerjain tugas gue. Awas kalau gak lu kerjain," Seorang gadis sebayanya datang mengagetkan Laura yang sedang duduk sendiri dipojokan kelas dengan membawa sebuah buku catatan agar Laura membantunya mengerjakan tugas sekolah. Laura tidak mempunyai teman bahkan tidak ada yang mau duduk bersama Laura. Dikarenakan Laura anak miskin yang kebetulan bersekolah disalah satu sekolahan ternama di Ibu kota dengan mendapatkan Beasiswa. Setiap hari di sekolahan Laura hanya mendapatkan hinaan dan bulian. Andai waktu bisa di putar Laura ingin mempercepatnya agar bisa segera Lulus dan keluar dari sekolah itu.
"Ta-tapi," Eluhnya.
"Gak ada, tapi-tapian! Awas! kalau lu berani lapor guru!" Anak gadis sebayanya mengacungkan jari tengahnya tepat di depan muka Laura. Gadis itu bernama Agnes salah satu anak orang kaya di sekolahan tersebut yang mempunyai banyak teman di gengnya, mereka berteman dengan Agnes itupun karena takut juga seperti Laura, bedanya karena Laura miskin sedangkan lainnya masih tergolong orang berada meskipun tidak kaya.
Laura mengerjakan tugas Agnes, di dalam kelas ia hanya duduk sendiri, meskipun sedang jam istirahat Laura tidak pernah pergi ke kantin sekolah bahkan keluar kelas pun jarang. Laura sedang fokus membuat tugas Agnes tanpa memperdulikan orang lain yang kadang masuk atau keluar kelas. Sampai ada seorang anak lelaki dari kelas yang berbeda terus memperhatikannya itupun Laura tidak sadar.
"Rafka ..." Teriak Agnes memanggil anak lelaki yang sedang berdiri di balik jendela memandangi seseorang di dalam kelas.
"Rafka, kamu ngapain disini?" Agnes menghampiri Rafka yang masih berdiri, lalu melihat ke arah tujuan mata Rafka. Agnes kesal di buatnya merasa cemburu pada Laura, padahal Laura tidak melakukan apa - apa.
"Awas, kamu Laura!" Batin Agnes, tak terima Rafka mengabaikannya.
Sepulang sekolah Laura mengayuh sepedahnya tidak jauh didepan terlihat ada genangan air karena jalanan rusak.
Buuurr ...
Tiba-tiba air genangan nya menyiprat ke Laura karena sebuah mobil yang sengaja melintasi genangan itu.
"Kasian, deh lu!" Siswi sebayanya yang berada di dalam mobil mengejek Laura sambil tertawa. Laura yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengelus dadanya.
***
Jam makan siang Larry dan Arman pergi ke sebuah tempat di antar oleh supir pribadinya Pak Alam. Larry sengaja mengajak Arman dan Pak Alam agar mereka mengetahui tentang rencana Larry untuk menikahi Laura, cucu dari Nenek yang pernah menolongnya sewaktu di tinggalkan mamihnya.
"Kita, mau ke rumah lu?" Tanya Arman pada bosnya karena melihat jalanan yang tidak asing seperti hendak menuju rumah pribadi Larry.
"Sebentar lagi lu akan tau," Jawab Larry datar, matanya masih fokus ke tablet yang dia pegang.
"Hmmm ... Kita mau kemana sih, Pak?" Saking penasarannya Arman juga menanyakan pada supir pribadi Larry.
"Saya juga tidak tau, Pak!" Lirik Pak Alam pada Arman melalui kaca spion. Meskipun Pak Alam, supir pribadi Larry merasa tidak asing dengan lokasi yang akan mereka kunjungi namun Pak Alam tidak ingin banyak tanya meskipun penasaran seperti Arman, karena Pak Alam cukup sadar untuk menempatkan dirinya.
Sesampainya di tempat tujuan Larry dan Arman keluar dari mobil mewah yang di supiri oleh Pak Alam.
"Lu ngapain ke tempat kumuh begini?" Arman melihat sisi kanan dan kirinya yang di nilai jauh dari kata mewah sedangkan Larry hanya menoleh dan terus saja berjalan tanpa menjawab dan merespon pertanyaan sahabat yang dipikirnya cerewet itu. Begitu sampai Larry tidak lupa mengucapkan salam. "Assalamualaikum ..."
"Wa alaikum salam," Sahut seseorang dari dalam rumah kontrakan yang pintunya masih tertutup.
"Nek." Larry mencium tangan seorang Nenek yang kini didepannya, begitupun dengan Arman yang berdiri di belakang Larry, meskipun hatinya masih terus saja memaksa untuk bertanya, namun kali ini Arman menutup bibirnya dengan rapat.
"Masuk, Nak. Maaf, rumah Nenek kecil. Inipun hanya ngontrak bukan rumah sendiri. Silahkan duduk," Jujurnya pada kedua anak muda di depannya.
Di jalan sepulang sekolah, Laura bertemu dengan Pak Alam yang sedang menunggu Bosnya, Pak Alam adalah suami dari Bu Nita tempat Laura bekerja di warung, wajar mereka saling mengenal dan rumah Pak Alam juga tidak begitu jauh dari kontrakan Laura begitupun ke rumah Bosnya, Larry. Merasa kasihan melihat Pak Alam sendirian, ahirnya Laura mengajak Pak Alam untuk mampir ke rumahnya biar sekalian ketemu sama Neneknya untuk silaturrahmi.
"Assalamu'alaikum ..." Suara Laura dan Pak Alam berbarengan mengucapkan salam pada si empunya rumah, dua orang yang berada di dalam menoleh ke arah suara, dan kaget saat melihat kalau yang datang adalah Pak Alam supir mereka bersama seorang anak gadis yang masih mengenakan seragam sekolah menengah ke atas.
"Wa alaikum salam," Jawab mereka bertiga berbarengan.
"Loh, Bos. Kenapa ada disini?" Tanya Pak Alam yang kemudian mendudukkan pantatnya di lantai ikut bergabung bersama tiga orang yang sedang duduk. Nenek, Laura, Larry dan Arman pun saling menatap satu sama lain.
"Kalian saling kenal, toh?" Nenek Laura bersuara, tidak tau juga kalau ternyata Pak Alam supir Larry.
"Saya, supirnya Pak Larry, Bu. Dia ini Bosnya, Alam," Sahut Pak Alam menjelaskan, membuat Bu Darmi Nenek Laura manggut-manggut.
"Jadi,"
"Jadi, Pak Alam kenal Nenek Darmi?" Larry dan Arman hampir berbarengan bertanya.
"Bu Darmi tetangga Istri saya di Kampung Bos." Jelasnya, Semua orang mengabaikan Laura yang hanya menyimak obrolan. Laura kemudian pergi berlalu menuju dapur, ia mempersiapkan minum untuk tamunya, karena sepertinya sang Nenek lupa untuk memberi mereka minum.
"Kalau begitu kebetulan. Karena Pak Alam mengenal mereka, dan sekalian ada disini." Larry menghela nafas sejenak. "Saya datang kesini, bermaksud akan melamar Laura. Cucunya Nenek Darmi." Teguh Larry menuturkan. Membuat Arman, Pak Alam dan Nenek Darmi memandang Larry. Sedangkan Laura yang berada di dapur hanya mendengarkan, karena Laura sudah mendengar penuturan Larry semalam.
Laura datang dengan membawa nampan dan masih menggunakan seragam sekolahnya, sekilas Larry memandang Laura yang memberikan air minum pada mereka.
"Silahkan, diminum Pak. Maaf adanya cuma kopi saja," Tuturnya menundukkan kepala.
"Terima kasih," Ucap Larry mengambil segelas kopi dan meneguknya sedikit. Begitupun dengan Arman dan Pak Alam.
"Ndok, apa kamu dengar? kata Pak Larry barusan?" Sang Nenek bertanya pada cucu satu satunya yang kini duduk di sebelahnya.
Laura melirik Larry sebentar "Nggih, Mbah. Laura dengar." Jawabnya tegang.
"Kamu ga usah tegang begitu. Santai aja, jangan takut," Suara bariton itu memekik telinga Laura yang membuat jantungnya tidak aman.
"Apa kamu menerima lamaran, saya?" Laura melihat ke sang Nenek dan Pak Alam.
"Sa-saya terserah Mbah saja," Jawabnya gugup. Membuat Larry menghela nafas lagi.
"Jadi, begini. Saya datang kesini bukan hanya ingin melamar saja. Tapi, saya bermaksud untuk menikahi kamu, Manda."
"Ta-tapi, sa-saya masih sekolah, Pak,"
"Saya tau, kamu masih sekolah, itu bukan masalah bagi saya. Setelah menikah, kamu masih bisa terus melanjutkan sekolahmu." Jelas Larry panjang lebar, semua yang ada disana dibuat bengong dengan kejujuran Larry. Entah apa yang ada di pikiran Larry sehingga tiba tiba saja ingin menikahi Laura yang baru beberapa kali bertemu dengannya. Laura tidak banyak berkomentar setelah sang Nenek menerima lamaran Larry untuk Laura, entah ia harus sedih atau bahagia karena menikah di usia muda yang berarti mungkin cita-citanya untuk menjadi wanita karir harus pupus, atau malah sebaliknya, selain itu Laura terus memikirkan keadaan sang Nenek jika dia menikah bagaimana dengan Neneknya?