BAB 4

1127 Kata
Setelah acara lamaran dadakan itu di terima, Larry dan Arman pun bergegas kembali ke kantor di supiri oleh Pak Alam. Larry sengaja tidak pulang lebih cepat walau perjalanan ke rumahnya lebih dekat dari pada ke kantor yang harus memakan waktu sekitar 1 jam. Meskipun Larry seorang bos namun Larry adalah orang yang bertanggung jawab pada pekerjaannya, karena jam kerja masih ada 2 jam lagi. Dalam perjalanan ketiga orang didalam mobil sama sekali tidak bersuara, walau sebenarnya rasa penasaran Arman sudah sampai di ubun ubun, namun Arman enggan bertanya di waktu yang tidak tepat ini, maksudnya karena ada Pak Alam orang yang kenal dengan calon istri sahabatnya itu. "Nanti, gue tanya kalau sudah di kantor deh," Batin Arman, kini sebelah matanya memicing ke arah Larry yang hanya fokus dengan tabletnya. Sesampainya di kantor, Larry memasuki ruangannya yang di ekori oleh Arman di belakangnya. "Apa yang mau lu tanyakan?" Larry seolah bisa membaca sikap dan raut wajah Arman sedari tadi. Arman yang kebingungan seperti kedapatan telah mencuri langsung mendudukkan pantatnya di sofa, di ruang kerja sahabatnya itu. "Lu peramal? Sejak kapan?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan. Larry menghela nafasnya sebelum menceritakan maksud dia untuk menikahi Laura. Flashback On "Nenek kenapa?" Larry hawatir melihat nenek di sebelahnya itu selalu memegang d**a dan menitikan air matanya. "Tidak, apa. Nenek hanya memikirkan cucu Nenek. Amanda," Jawaban nenek itu tidak terlalu menyenangkan bagi Larry, pikirnya ada sesuatu yang di sembunyikan. "Kalau begitu, kita pergi ke Rumah sakit, Nek." Ajaknya. Setelah di rumah sakit nenek Darmi di periksa oleh Dokter. Nenek Darmi sendirian ketika di periksa, namun ketika nenek Darmi sudah keluar Larry menyempatkan bertanya pada Dokter yang memeriksa kesehatannya dengan alasan lupa membayar tagihan dan membiarkan nenek Darmi menunggu di Mobil. Setelah bertemu Dokter, Dokter menceritakan tentang penyakit yang di derita Nenek Darmi. Membuat Larry merasa kasihan dan iba. Flashback Off Sebelumnya Larry tidak berniat menikahi Laura, hanya karena rasa peduli pada orang yang telah menolongnya di masa kecil membuat Larry ingin menjaga Laura, takut suatu saat terjadi sesuatu pada neneknya. Tetapi ketika Larry hendak mengantarkan sang nenek ke kontrakan, disana Larry melihat Laura di seret secara paksa dan hendak di jadikan istri oleh pemilik kontrakan, disitulah tiba tiba niat Larry muncul untuk menikahi Laura meskipun bukan karena cinta tetapi Larry memang butuh seorang pendamping sesegera mungkin agar tidak keduluan di jodohkan oleh papihnya. "Lu boleh bilang, kalau gue memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan." Seru Larry menatap sang sahabat yang bermuka cengo. "Waah ...Sepertinya lu beneran peramal, deh! Baru ja, gue mau bilang begitu," Godanya sambil cekikikan. "Gue sih, sebagai sahabat lu, tentu akan selalu mensuport. Tapi, lu dengerkan cewek itu bilang dia masih sekolah?" "Iya, itu gue juga tau." "Lalu? Emang gak ada cewek lain di dunia ini gitu? Yang lebih dewasa, atau lebih oke lah di banding dia. Itu maksud gue broww. Dari tadi gue ga habis pikir aja. Seorang CEO muda dan tampan, yang memilih anak sekolahan sebagai istrinya. Apa kata dunia?" "Udah, ngocehnya? Udah, belum? Kalau belum, lanjutkan sampai lu puas," Arman hanya menggelengkan kepala mendapat tatapan sinis dari sahabatnya itu. "Lu tau kan tipe wanita yang gue idamkan seperti apa?" Lirik Larry pada Arman yang masih duduk di ruangannya. "Iya, gue tau. Trus apa hubungannya dengan gadis itu?" Nyinyir Arman. "Perasaan, gue yang mau nikah. Tapi kenapa jadi lu yang ribet. Heran, gue," "Iya, Bos. Maafin gue." "Nih, asal lu tau. Semua udah gue pikirkan matang matang. Makanya gue ajak lu untuk melamar." "Jadi, rencana selanjutnya apa?" Jiwa keponya Arman meronta ronta. "Gue, akan nikah secara diam diam." Arman langsung bangun dari duduknya mendengar penuturan Larry. "Whaat?? Lu gak salah ngomong?" "Maksud gue, hanya orang terdekat pihak perempuan saja yang tau. Keluarga gue, mereka ga perlu tau." "Tapi, kenapa begitu?" "Nanti akan gue pikirkan lagi. Lagi pula, sekarang dia masih sekolah. Gue ga mau orang berkata yang tidak tidak," Arman menghela nafasnya. "Serah lu aja dah! Sekali lagi gue bilang, sebagai sahabat gue hanya bisa mendukung lu." Arman menepuk pundak Larry yang terlihat prustasi dengan keputusannya sendiri. Karena pernikahan itu bukan untuk mainan tapi Larry berani mengambil keputusan dengan cepat hanya karena merasa iba dan berhutang budi pada keluarga itu. *** Hari ini Laura tidak pergi ke warung Bu Nita karena sepulang sekolah ada tamu yang melamarnya dadakan di saksikan oleh Pak Alam sebagai wali dari pihak perempuan dan juga di saksikan oleh Rt setempat. Laura meminta Pak Alam untuk mengabari Bu Nita istrinya, kalau hari ini Laura tidak bisa bantu bantu di warung karena ada urusan. Tentu saja Pak Alam mengerti, karena dia ada di rumah Laura sekarang ini. Mungkin nanti Pak Alam akan memberi tahu istrinya kalau sudah pulang ke rumah. "Kamu sedang apa? Ndok?" Sang Nenek menghampiri cucu nya yang terlihat sedang melamun karena cucian piring masih terlihat menumpuk. "Eh, Mbah. Laura sedang cuci piring kotor." Tangannya langsung memegang piring yang semula di abaikannya. "Cuci piring dari tadi gak kelar kelar, Ndok, Ndok!" "He he ..." Serengeh Laura menahan malu karena ketahuan melamun. Setelah selesai mencuci piring dan gelas Laura menghampiri sang Nenek dan duduk di sampingnya, Ia penasaran bagaimana Neneknya bisa mengenal Larry. "Mbah ..." "Hmm ..." "Boleh, Laura tanya sesuatu?" "Opo?" Laura berpikir sejenak, entah apa yang ingin diketahui olehnya tentang Larry calon suaminya itu yang jelas Laura sangat penasaran. "Mbah. Bagaimana, Mbah bisa mengenal Bosnya Pak Alam?" "Ceritanya panjang, Ndok." Laura mendengarkan cerita masa lalu awal mula sang Nenek mengenal Larry, Larry muda yang dulu sering menyempatkan untuk bermain dengan Laura Amanda kecil yang lucu karena Larry tidak mempunyai adik apa lagi setelah di tinggal maminya keluar Negeri membuat Larry tidak betah di rumah. "Calon suamimu itu sangat tampan kan, Ndok?" Goda sang Nenek. "Gak, juga. Mbah," "Masa, nggak? Mbah aja yang sudah tua, masih bisa membedakan mana yang tampan dan tidak." "Ih, Mbah. Matanya jelalatan ya?" Laura balik menggoda sang Nenek membuat mereka berdua tertawa dengan Laura memeluk Neneknya. "Pak Larry memang tampan. Entah, menjadi istrinya harus bahagia, atau tidak.Karena tidak mungkin, tidak ada wanita yang menyukainya. Apa lagi rencana pernikahan ini, bukan di dasari cinta. Baik aku, atau Pak Larry, kami juga tidak saling mengenal," Gumam Laura. "Atau mungkin saja Pak Larry mau di jodohkan dengan wanita pilihan keluarganya? tetapi dia tidak mau? Sehingga ahirnya menjadikan ku istri kontraknya? Seperti di novel novel yang sering k*****a. Ahhh... Untuk saat ini mungkin aku hanya bisa bersyukur, kedepannya aku gak tau akan seperti apa. Melihat dari acara lamaran aja gak ada orang tuanya yang datang. Hmmm ...Berharap banget orang tuanya datang, padahal dah tau pernikahan dadakan ini cuma sebatas kertas di atas putih." Masih dalam pangkuan sang Nenek, Batin Laura terus saja berdebat. Bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. Malam pun tiba Laura masih terjaga, matanya serasa susah sekali untuk terpejam banyak sekali yang dia pikirkan terutama memikirkan rencana pernikahan yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN