BAB 5

1090 Kata
Pagi menjelang saat Laura membuka matanya, dia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 04:55 subuh. Laura beranjak bangun dan berjalan ke kamar mandi, setelah selesai mandi iapun melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Lalu Laura berjalan menuju dapur kecil dan sempit itu karena saat ini kontrakan tempat Laura tinggal terdapat 3 petak ruangan yang terdiri dari ruang depan, tengah dan dapur. Laura membuat sarapan terlebih dahulu untuk sang Nenek dan dirinya, itu adalah rutinitas Laura setiap hari sebelum berangkat ke sekolah. Laura bersiap pergi setelah makan sarapan dan bebenah rumah. Kini Ia telah memakai seragam sekolahnya yang kemudian berpamitan pada sang Nenek. "Mbah, Laura pamit. Assalamualaikum," Tidak lupa lAura mencium tangan sang Nenek dengan takzim. "Ya, Ndok, hati hati. Wa alaikum salam," Di tengah perjalanan menuju sekolah ada sebuah mobil berhenti tepat di depan Laura, membuatnya juga berhenti mengayuh sepedah. "Laura ..." Sapa seseorang dari dalam. Laura sedikit menengokkan kepalanya kedalam mobil ingin tau siapa orang yang memanggil. "Pak, Alam. Ada apa, Pak?" Tanyanya pada sosok yang memanggilnya barusan. "Bapak, dapat telpon dari Bos. Di suruh antar kamu ke sekolah," "Gak, usah Pak! Laura bawa sepedah. Lagi pula ga enak di liat orang. Masa Laura si miskin bisa tiba tiba naik mobil mewah. He he," Serengehnya, Pak Alam sangat mengerti maksud Laura. "Ya, sudah. kalau begitu, Bapak pergi ya," "Iya, Pak. Terima kasih. Laura jalan sekarang takut telat." Pamit Laura, tanpa dia tau ada mobil seseorang yang mengenalnya melintas dan berhenti jauh di depannya, kemudian mengambil foto Laura menggunakan kamera hpnya. Laura tiba di sekolah kemudian menyimpan sepedanya di deretan sepeda motor yang terparkir disana. "Hiyaa ..." Tangan seorang murid lelaki tiba tiba mengambil tas yang Laura simpan di dalam keranjang. "Heh ...Balikin tasku!" "Sini, ambil kalau bisa." Murid lelaki itu berlari membawa tas Laura kemudian dia lemparkan ke murid lainnya. "Balikin ..." Teriaknya, membuat orang lain yang memang senang mengolok Laura ikut bergabung melemparkan tasnya dari satu tangan ke tangan lain seperti melempar bola basket. Hap! Tangan seseorang menangkap lemparan tas itu dan tidak melemparkannya kembali pada yang lain membuat anak lelaki lain bersorak karena kesenangan mereka di ganggu. "Huuuu ..." Mereka membubarkan diri setelah tau siapa yang mengambil. "Nih, tas kamu." Serunya kemudian berlalu pergi meninggalkan Laura yang belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. "Terima kasih," Ucapnya meskipun siswa lelaki itu sudah tidak ada di depannya. Laura sampai di kelas, terdengar bisik bisik dari siswa siswi yang melihat Laura datang. Laura mendudukkan pantatnya dia tidak perduli pada mereka yang bergosip, entah apa yang mereka gosipkan karena menurut Laura itu sangat tidak bermanfaat. Mending belajar agar nilainya tidak menurun karena Laura harus terus mempertahankan peringkatnya agar terus bersekolah di sekolah elit itu. BRAK!!! Seseorang menggebrak meja membuat Laura menengadahkan wajahnya pada orang yang kini berada didepannya itu. "A-Agnes, ada apa?" Tanyanya bingung, melihat Agnes datang menghampirinya dengan menggebrak meja. "Heh, gembel! Pelet apa yang lu gunakan pada Rafka?" Amarah Agnes menggebu gebu setelah seseorang mengadu padanya karena Rafka menolong Laura yang sedang di olok olek. "Ma-maksudnya, apa?" "Ga usah pura pura bego, Lu! Kenapa Rafka bisa menolong lu tadi pagi?" "Sa-saya juga gak tau, Nes." "Halahh.. Pasti lu udah melakukan sesuatu pada dia, kan?" Agnes mengibaskan tangannya merasa tidak percaya. "Agnes ..." Agnes menoleh pada suara yang memanggil namanya dan berlari kecil. "Rafka?" "Apa yang lu lakuin, disini?" Agnes gelagapan, bingung harus menjawab apa. "Aku. Aku cuma lewat saja barusan," Bohongnya. Rafka sebenarnya tau apa maksud Agnes datang ke kelas Laura. Tapi, Rafka tidak mau memperpanjang masalah dengan Agnes apa lagi yang berujung menambah masalah pada Laura. "Ayo, ke kelas. Sebentar lagi jam pelajaran di mulai," Ajak Agnes, yang menggandeng tangan Rafka meninggalkan kelas Laura. "Kali ini, lu boleh selamat Laura!" Batin Agnes, yang memasang senyuman pada Rafka. *** Sebuah mobil mewah membelah jalanan kota Jakarta. Larry yang berada di dalamnya di supiri oleh Pak Alam menuju kantornya di pusat kota. "Jadi, dia tidak mau di antarkan ke sekolah oleh Bapak?" "Benar. Bos," Larry mengonfirmasi apa yang Pak Alam katakan via telpon. Ia memegang dagunya yang tak berjenggot seperti sedang berpikir sesuatu. "Boleh saya bicara, Bos?" Arman meminta ijin seolah ia adalah seorang bawahan yang patuh pada Bosnya. "Hhhmm" Larry hanya memberikan sebuah deheman. "Menurut saya nih. Kenapa calon nyonya Subastian gak mau di antar, karena ini semua terlalu terburu buru, Bos." Arman menjeda dan melanjutkan ucapannya. "Kan, biasanya calon nyonya pulang dan pergi pakai sepedah. Lalu, ketika tiba tiba naik mobil, mungkin akan jadi perbincangan di antara para murid di sekolahnya, Bos." Jelas Arman, Larry mencerna apa yang Arman katakan, sedang Pak Alam hanya mengangguk faham. "Di mana dia sekolah, Pak?" Tanyanya pada Pak Alam yang sedang fokus menyetir. "Kalau saya lihat, dari seragamnya kemaren. Sepertinya calon nyonya, bersekolah di Yayasan Pak Ilham itu, Bos." Sambar Arman, padahal Larry bertanya pada supirnya karena sudah sangat mengenal Laura. "Iya, Pak. Laura bersekolah di Yayasan Budi Utomo," Sahut Pak Alam membenarkan ucapan Arman. Larry tau dan sangat mengenal Yayasan itu karena milik Pamannya. Tapi Larry juga mempunyai saham di Yayasan itu dan juga menjadi Donatur untuk murid murid berprestasi yang kurang mampu. Mungkin Laura salah satu murid yang mendapatkan Bea siswa karena kecerdasannya. Karena tidak sembarangan orang bisa bersekolah di sekolahan elit dan ternama itu. Tidak terasa mobil yang Larry tumpangi sudah sampai di pelataran kantor. Larry dan Arman turun di depan lobi. Saat mereka berdua berjalan, banyak pasang mata yang tidak pernah bosan melihat Bos dan Asistennya itu. Larry dan Arman sama sama mempunyai wajah yang rupawan namun terlihat dingin bukan berarti beneran mempunyai sifat dingin. Mereka sengaja melakukan hal itu agar para karyawan atau lainnya tidak begitu memuji saat melihat mereka. Namun pada kenyataan meskipun sikapnya di jutek jutekin tetap saja para wanita menatap mereka berdua dengan pandangan memuja. Tidak sedikit yang mendamba untuk di jadikan pacar, bahkan ada yang terang terangan ingin di jadikan istri. Pernah suatu ketika ada seorang wanita anak dari relasi bisnisnya datang ke kantor dengan menangis nangis karena sangat ingin di jadikan istri. Larry menolaknya karena memang saat itu dia sedang fokusnya merintis dan belajar menjadi seorang pemimpin di perusahaan yang baru dia dirikan. Beberapa kali wanita datang ke papihnya berniat untuk melamar Larry duluan, namun Larry selalu menolak mentah mentah. Sampai pernah ada gosip kalau Bos mereka itu seorang Gay. Padahal para wanita berpikir dunianya sempurna jika menjadi istri atau pacar seorang Larry Subastian, seorang CEO muda, dengan pengawakan tegap bak model, rambut hitam tebal juga manik mata hitam mengkilap dan juga tampan. Rasanya tidak cukup mengukir kesempurnaan Larry Subastian hanya dengan sebuah kata. Dia memang Lelaki sempurna di mata para wanita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN