BAB 6

1227 Kata
Bel tanda istirahat berdentang, semua siswa dan siswi kelas 10 sampai kelas 12 berhamburan keluar, ada yang pergi ke kantin sekolah ada juga yang hanya duduk di taman. Begitupun dengan Laura yang pergi ke kantin tetapi bukan untuk membeli jajanan, Laura pergi ke kantin sekolah karena dia membantu Ibu kantin atau lebih tepatnya bekerja part time untuk menambah uang sakunya. Karena di sekolahan itu meskipun Laura tidak perlu membayar tetapi ia membutuhkan uang untuk keperluan lainnya. "Heh, gembel! Sini lap,in tuh meja. Gue mau duduk disini!" Suruh Agnes pada Laura yang sedang membawa pesanan makanan untuk murid lain. "Iya, sebentar. Aku mau antarkan dulu pesanan ini, ke meja sana." Tunjuknya pada meja yang agak jauh di pojokan. "Cepetan! Lelet banget sih, lu!" Teriak Agnes. Sekembalinya Laura, seseorang malah merentangkan kakinya begitu melihat Laura berjalan ke arahnya. Bruk! "Aduh," Laura terjatuh, keningnya mencium meja sehingga terlihat sedikit memerah meskipun kulit Laura tidak putih. "Ups ... Sorry," Bohong seorang teman Agnes, padahal jelas dengan sengaja dia melakukannya. Sedangkan yang lainnya malah menertawakan bukannya menolong Laura. "Cepatan, lap bego!" Agnes terus saja mengatainya, padahal kalau melihat dari peringkat, peringkat Laura sangat jauh di atasnya. "I-iya," "Ga, jadi makan gue," Agnes pergi di ikuti oleh teman temannya. "Lelet!" Sahut salah seorang teman Agnes. "Gembel!" Sahut lainnya lagi. Laura hanya bisa menghela nafasnya mendapat perlakuan seperti itu. Dia selalu berpikir dan mengingat ingat, entah kesalahan apa yang pernah dilakukannya pada Agnes, sehingga Agnes begitu membencinya. Setelah bel tanda istirahat habis telah berbunyi, semua murid kembali ke kelas masing masing. Begitupun dengan Laura yang kini tengah menyusuri koridor sekolah akan memasuki kelasnya. Ketika Laura sampai di pintu kelas disana ia melihat ada Agnes dengan teman temannya sedang tertawa tawa. Melihat pemandangan seperti itu selalu membuat hati Laura was was dan merasa akan ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya. "Heh, gembel! Sini lu!" Laura hanya diam mematung di ambang pintu ketika Agnes memanggilnya. Dua orang siswi menghampiri Laura dan menggandeng tangannya untuk menghadap Agnes layaknya seorang pesuruh. "Cepetan!" Ajak siswi itu pada Laura. Dengan pasrah Laura pun mengikuti kemauan dua siswi itu. "Duduk sini! Gue kangen sama lu," Serunya berbohong. "Kangen, ngerjain lu doang! Ha,ha,ha," Seru yang lainnya di iringi tawa renyah mereka. "A-apa yang, mau kalian lakukan?" Tanyanya terbata bata. "Gue, mau dandanin lu! biar terlihat cantik." "Ta-tapi, itu gak perlu. Aku ga suka makeup," "Halaaah...Jangan banyak cing cong deh lu!" Agnes mendudukkannya dengan paksa yang membuat Laura ahirnya pasrah saja. Jam pelajaran sudah dimulai tapi Agnes masih saja di kelas lain hanya untuk mengerjai Laura seolah tidak tidak takut kepada Guru dan peraturan Sekolah. "Selesai ... Lihatlah, kamu sangat cantik rupanya," Agnes memberikan cermin kecil pada Laura agar dia melihat wajahnya sendiri. "Iya, kamu cantik sekali." Seru siswi lain membenarkan kata Agnes walau sebenarnya itu adalah kebohongan. Faktanya Laura di dandani seperti badut yang makeupnya semrawut. "Hahaha ..." Mereka tertawa dengan sangat lantang sampai terdengar di kelas sebelahnya. Mungkin terlihat lucu bagi bagi mereka karena sudah mencoret coret muka Laura. Tidak dengan Laura yang menahan malu karena terus di tertawakan seperti itu. Tidak ada orang yang membelanya sama sekali ketika Laura di kerjain seperti apapun oleh Agnes. Laura tau karena siswa siswi disana takut pada Agnes yang notabene salah satu anak orang kaya yang berkuasa di Yayasan itu. Di kelas lain, Rafka yang mendengar kegaduhan di kelas sebelahnya membuat dia berinisiatif untuk melihat apa yang sedang terjadi. "Agnes!" Panggilnya pada Agnes yang masih asik tertawa tawa, seketika menoleh karena suara yang tidak asing memanggilnya. "Ngapain kamu dikelas ini? Bukannya kelasmu disebelah?" Rafka sedikit risih setiap kali melihat Agnes selalu mengerjai Laura. Entah kenapa Rafka merasa kasihan padanya, tapi tidak bisa membantu apa apa. "Iya, Rafka. Aku cuma maen sebentar disini." "Jam pelajaran sudah dimulai. Apa kamu gak, lihat? Lagian, ngapain kamu terus dekat dekat sama anak miskin?" Laura merasa semua orang kaya sama saja selalu memandang hina orang tidak mampu. Bahkan Larry pun orang yang akan mempersuntingnya tidak memberikan penjelasan apapun padanya mengenai niat dan tujuannya. Mungkin mereka menganggap orang miskin itu sangat mudah untuk di permainkan. Air matanya meluncur ketika Laura mengingat nasibnya sendiri. Kalau boleh memilih, dia pun tidak ingin menjadi orang miskin yang terus di injak injak harga dirinya oleh orang lain. Namun sejauh ini Laura bertahan demi sang nenek. Laura ingin lulus dari sekolah itu dengan nilai terbaik agar dia mendapatkan Beasiswa lagi untuk kuliah. Laura berharap kehidupannya di masa depan akan lebih baik. Setelah Agnes pergi bersama Rafka, seorang gurupun datang untuk memulai lagi pelajaran. "Bu.Saya ijin ke toilet," Sahutnya, Laura pergi ke toilet bermaksud ingin mencuci mukanya. "Iya, silahkan." Setelah Laura pergi, ada beberapa siswi yang saling tatap, lalu mereka beranjak pergi meminta ijin juga untuk ke toilet. Saat Laura membasuh mukanya ada tiga orang yang kini berdiri dibelakang Laura itu membuatnya kaget. "Heh, badut!" Kata seorang siswi. "Bukan, badut. Dia itu gadis buruk rupa," "Ha ha ha." "Bagus juga julukannya." "Kalian mau apa?" Tanya Laura ketakutan. "Kita, cuma mau memperingatkan lu! "Tapi, aku tidak melakukan apapun?" "Udah berani jawab rupanya. Hah?" Seseorang mendorongnya dengan kasar. Buk!! "Ah," Rintih Laura kesakitan karena terus di dorong sampai mentok ke dinding toilet. Byur ... "Apa yang kalian lakukan? Bagaimana, aku masuk kelas, dengan pakaian basah seperti ini?" Laura meraba seluruh badannya yang sudah basah. "Emang gue pikirin!" "Ingat! Ini baru permulaan, kalau lu berani melapor sama guru!" Ancam salah satu siswi itu mengangkat tangan sampai lehernya memperagakan seolah akan memotong leher. "Ya Allah... Aku sudah lelah dengan semua ini."Laura menitikkan air matanya, batinnya mengeluh karena sejauh ini Laura sudah sangat bersabar menghadapi mereka yang sangat tidak punya perasaan. Andai waktu dapat diputar Laura ingin mempercepatnya sampai waktu ujian tiba, agar ia tidak berlama lama lagi di sekolah itu karena merasa sudah tidak sanggup. Setelah selesai Laura kembali ke kelas dengan pakaian basah. "Laura, kamu kenapa?" Tanya seorang guru yang melihat Laura datang dengan pakaian basah. "Tadi, jatuh di toilet Bu. Lantainya basah," "Kalau begitu, kamu pergi ke koperasi minta baju ganti." "Tidak apa Bu. Pakai baju ini saja, nanti juga kering," "Kamu yakin?" "Iya, Bu." "Ya sudah. Kalau begitu kembali ke kursimu." "Baik, Bu." Laura berjalan menuju tempat duduknya, beberapa siswi yang membuat Laura basah kuyup itu terus menatapnya dengan mengintimidasi, takut jika Laura buka suara dan berterus terang kalau mereka yang membuat Laura seperti itu. Jam pelajaran sebentar lagi berahir, wajah Laura terlihat sangat pucat, tapi siapa yang perdi dengan keadaanya? Kemungkinan Laura masuk angin karena memakai pakaian basah di ruangan ber AC, sampai pakaian itu kini kering di badan. Bel tanda pulang sekolah berbunyi semua murid berhamburan keluar kelas tapi tidak dengan Laura, karena dia selalu menunggu kelas sepi terlebih dahulu karena Laura tidak mau berdesakan dengan murid lain yang bisa mengakibatkan dirinya di olok olok lagi. Laura berjalan menyusuri koridor dengan langkah gontai karena merasa pusing dan sangat sakit di kepalanya. Begitupun dengan pandangannya yang mulai kabur dan terasa semakjn gelap. Bruk! Tubuh Laura jatuh kelantai, sudah tidak terlihat murid yang lewat di koridor sekolah. mungkin semuanya sudah pulang ke rumah masing masing. Beberapa menit berlalu tubuh Laura masih tergeletak sampai tiba tiba ada suara yang mendekat dan memanggil namanya. "Laura ... Laura. Hey!" Orang itu adalah Rafka yang baru kembali dari lapangan berniat ke kelasnya mengambil sesuatu. Rafka terus menepuk nepuk pipi Laura namun tidak sadar juga. "Panas," Rafka yang mencoba menempelkan punggung tangannya di kening Laura, lalu segera menggendongnya dan membawa ke UKS.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN