Larry kini berada di Rumah sakit karena mendapat kabar kalau Nenek Darmi terjatuh, seseorang tentu bukan mengabari Larry tetapi pergi ke warung Bu Nita karena yang tetangganya tau kerabat satu satunya Nenek Darmi di Jakarta adalah Bu Nita dan Pak Alam pemilik warung makan. Bu Nita memberi tahu Pak Alam dan tentunya kabar itu sampai ke Bosnya karena Pak.Alam yang memberi tahu. Larry pergi ke Rumah sakit bersama Arman. Sedangkan Pak Alam mencoba ke Sekolahan untuk mengabari Laura. Laura tidak mempunyai handphone oleh sebab itu Pak Alam langsung menjemputnya menggunakan mobil kantor karena Bosnya pergi dengan mobil yang lain.
"Manda, sudah di kasih tau?" Tanya Larry pada Arman yang kini menyupirinya.
"Manda?" Arman sepertinya lupa kalau nama asli Laura adalah Laura Amanda.
"Iya, Laura." Bentaknya, membuat Arman mengedikkan bahu merasa heran dengan Bosnya itu, tidak biasa berkata dengan nada tinggi.
"Sudah. Setelah Pak Alam ngasih tau gue. Dia langsung cabut, jemput Laura ke Sekolahnya," Jelas Arman yang fokus dengan kemudinya.
***
Pak Alam menjemput Laura di kontrakan tapi sepertinya dia belum kembali dari sekolah. Seketika Pak Alam melihat jam di tangannya lalu berpikir seharusnya jam segitu Laura sudah pulang. Tapi tanpa pikir panjang Pak Alam pun pergi membawa mobil menuju sekolah, barangkali Laura sedang mengerjakan tugas tambahan pikirnya. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit Pak Alam pun sampai di sekolah, Pak Alam turun dari mobil dan berjalan dengan terburu buru mencari Laura ke setiap kelas karena tidak tau dimana letak kelas Laura. Namun nihil, Pak Alam tidak menemukannya hanya menjumpai beberapa murid yang masih mondar mandir, setiap kali Pak Alam bertanya dimana Laura, mereka hanya menjawab tidak tau. Sampai ahirnya Pak Alam bertemu Rafka yang kebetulan sedang menuju UKS.
"Permisi, Nak. Apa kamu mengenal Laura? Laura Amanda? Dia, salah satu murid disini." Tanya Pak Alam yang berpapasan dengan Rafka.
"Iya, Pak. Saya mengenalnya," Jawab Rafka, menelisik sosok Pak Alam yang serasa tidak asing baginya.
"Mari ikut saya, Pak. Kebetulan saya mau ke UKS. Mau lihat keadaanya sekarang," Pak Alam menganggukan kepalanya namun penuh dengan perasaan bingung dan hawatir.
"Memang, Laura kenapa?" Tanyanya sembari berjalan berdampingan mengikuti Rafka.
"Tadi, dia pingsan. Pak!"
Di waktu bersamaan. Laura sudah sadar tapi Laura masih merasakan kalau kepalanya pusing. Begitupun dengan wajahnya yang masih terlihat pucat.
Laura mendudukkan dirinya, hendak turun dari brangkar, namun seseorang ada yang membuka pintu dan masuk kesana membuat Laura seketika menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Laura, kamu sudah siuman?" Rafka menghampiri Laura yang di ikuti Pak Alam di belakangnya.
"Laura, kamu baik baik saja?" Beberapa pertanyaan membuat hati Laura menghangat, dia senang karena masih ada orang yang perduli padanya.
"Iya, Pak!" Laura hanya menjawab pertanyaan Pak Alam. Namun menoleh ke Rafka juga.
"Terima kasih. Sudah menolongku," Ucapnya pada Rafka, yang kemudian di balas anggukan.
"Ayo kita pulang, Laura. Mbah mu masuk Rumah sakit." Laura mendongakkan kepalanya melihat Pak Alam yang bilang sang Nenek masuk Rumah Sakit.
"Mbahh ..." Lirih Laura yang berusaha turun dari Brangkar. Rafka hendak membantunya namun di tolak oleh Laura. Ia lebih memilih berjalan sendiri karena tidak mau menyusahkan orang lain pikirnya. Ketika sudah keluar dari UKS Laura ingin berlari tapi dia tidak kuat. Tubuhnya masih sangat lemas, membuat ia terpaksa berjalan dengan melipir ke dinding. Pak Alam juga ingin membantunya tapi tetap di tolak Laura seperti menolak bantuan Rafka. Laura terus berjalan dengan sempoyongan, air matanya luruh takut terjadi sesuatu sama Neneknya. Mengingat dia hanya mempunyai sang Nenek yang menyayanginya di dunia ini.
Rafka dan Pak Alam merasa kasihan melihat Laura namun mereka bisa apa? Karena dengan jelas kalau Laura menolak bantuan mereka.
Laura sudah di dalam mobil bersama Pak Alam yang menyupiri Laura. Pak Alam melihat dari spion depan kalau Laura sedang menangis meskipun tidak terdengar. Tidak lama mereka pun sampai di Rumah Sakit tempat Nenek Darmi di rawat.
Laura berlari menuju ruang IGD disana sudah ada Larry dan Arman yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Mbah ..." Meski masih sempoyongan Laura terus berlarian dengan air mata bercucuran Laura terus memanggil Neneknya.
Melihat Laura sudah ada disana membuat Larry terbangun dari duduknya dan menghampiri Laura yang masih menangis sampai sesenggukan didekat pintu ruang IGD. Laura masih tidak sadar kalau disana ada calon suaminya yang sudah menunggui Neneknya.
"Kamu yang kuat, Manda." Tangan Larry tiba tiba mengusap pucuk kepala Laura, membuatnya mendongakkan kepala melihat Larry. Baru pertama kali ini mereka bisa melihat wajah keduanya dengan jarak yang sangat dekat.
"Manis." Batin Larry ketika menatap wajah Laura dari dekat.
"Bagaimana keadaan Nenek saya, Pak?"
"Ne-Nenekmu. sedang di tangani oleh Dokter," Pertanyaan Laura mengagetkan Larry yang sedang memujinya. Membuat Larry gelagapan karena seperti ketahuan telah mencuri. Di situasi duka seperti ini sempat-sempatnya calon suaminya itu berpikiran untuk memuji Laura. Memang sih! Sebetulnya Laura itu cantik dan manis hanya saja kulitnya yang gelap karena sering terkena sinar matahari. Apa lagi jika Laura tersenyum atau tertawa lesung pipitnya akan jelas terlihat. Tetapi karena dia jarang tersenyum didepan orang lain yang tidak dekatnya Laura seperti seorang pendiam padahal anaknya asik, untuk di ajak ngobrol, senang bercanda juga. Yang menyebabkan Laura seperti pemurung dan pendiam itu dikarenakan Laura tidak mempunyai teman sebaya, selain itu juga karena Laura tidak punya waktu untuk bermain.
"Muka kamu, kenapa pucat sekali?" Larry balik bertanya, karena tidak ingin terlihat gugup, setelah kedapatan sudah memandangi wajah calon istrinya itu.
"Saya tidak apa-apa, Pak." Laura menjawab dengan menundukkan kepalanya, Laura tidak ingin terlalu lama melihat wajah Larry dari dekat, Laura sadar diri siapa dirinya meskipun Larry berniat untuk menikahinya namun Laura tau itu hanya karena Larry merasa kasihan padanya. Laura juga tidak ingin berharap lebih pada pria didepannya itu.
Dari kejauhan terdengar suara sepatu mendekat membuat Larry dan Laura menoleh ke arah suara itu. Disana terlihat Pak Alam dan Bu Nita yang datang, mereka berdua segera menghampiri Laura yang masih terlihat terisak.
"Bagaimana Mbahmu?" Bu Nita langsung memeluk Laura yang menunggu didekat pintu.
"Laura tidak tau, Bu. Dokter belum keluar," Jawabnya lirih.
Larry menghampiri Pak Alam bermaksud ingin menanyakan tentang Laura yang terlihat pucat, namun urung karena mereka mendengar pintu kamar dibuka. Dokter dan suster keluar dari ruangan tempat Nenek Laura berada sekarang.
"Keluarga pasien?"
"Saya cucunya, Dok." Sahut Laura.
"Kami keluarganya," Larrypun ikut menyahut. Membuat Bu Nita menoleh. Bu Nita tau kalau Larry adalah Bos suaminya, tapi Bu Nita tidak tau kalau Larry adalah calon suami Laura karena Pak Alam suaminya belum menceritakan tentang lamaran Bosnya yang akan mempersunting Laura pada istrinya yang sekarang terlihat bingung karena kedekatan antara Bos dan supirny.