BAB 8

1095 Kata
Setelah Dokter menjelaskan tentang penyakit sang Nenek dan meminta agar sesegera mungkin melakukan operasi. Dokter juga mengijinkan pihak keluarga menemui pasien karena tidak lama setelah dibawa ke Rumah Saki Bu Darmi pun siuman ketika sedang diperiksa oleh tim Medis. Mereka kini memasuki ruangan dimana Neneknya Laura di rawat karena sudah dapat ijin dari Dokter. "Mbah ..." Laura berjalan mendekati sang Nenek yang terbaring di atas brangkar. Membuat sang nenekpun menoleh ke arah suara yang tidak asing baginya. "Ndok ..." Suara sang nenek sayup sayup terdengar oleh mereka yang kini ada diruang rawat pasien. "Mbah. Mana yang sakit? Biar Laura pijitin sekarang," Hibur Laura meski dalam tangisnya yang tidak terbendung merasa tidak tega melihat sang Nenek terbaring lemah tak berdaya. "Mbah tidak apa, Ndok!" Sahutnya, lalu Bu Darmi melihat orang-orang disekelilingnya dan menemukan Larry juga ada disana. "Nak, Ian," Panggilnya pada Larry. "Iya, Nek. Saya?" Larry lalu menghampiri Bu Darmi yang memanggilnya dengan suara gemetar. "Nak, Ian. Bolehkah Nenek, meminta sesuatu sama nak, Ian?" "Apa itu, Nek?" "Maukah nak Ian, menikahi cucu Nenek, hari ini juga?" Larry yang kaget melihat ke arah Laura begitupun sebaliknya dengan Laura yang menoleh menatap Larry. Sejenak mereka saling berpandangan namun dengan cepat Laura memalingkan mukanya kembali pada fokusnya memijit sang Nenek. "Ta-tapi kenapa, Nek?" Larry gugup, bukan maksudnya ingin menolak, tapi apa gak terlalu mendadak? Pikirnya. "Nak, Ian tidak mau?" Bu Darmi batuk dan menghela nafasnya. "Nenek, hanya ingin cucu Nenek ini ada yang menjaganya. Sebelum, Nenek pergi meninggalkannya," "Mbah, jangan bilang begitu! Laura ingin Mbah sehat terus. Biar bisa selamanya menemani Laura. Hik hik..." "Ndok, Mbahmu ini sudah tua. Mbah sudah tidak kuat lagi," "Mbah, akan sembuh. Laura yakin, mbah akan sembuh." Tangis Laura tambah pecah semua orang ikut terisak melihat Laura yang terus menangis. Termasuk Larry ikut menitikkan air matanya, namun dengan cepat ia usap mencoba tegar. "Dokter bilang, Mbah harus di operasi. Setelah itu, Mbah pasti sembuh," Serengeh Laura penuh kepalsuan, sebenarnya dia sedang menghibur dirinya sendiri. "Nek, Saya bersedia menikahi Manda. Tapi, Nenek jangan bilang seperti itu lagi," Bujuk Larry. "Nenek, akan segera di operasi. Pasti Nenek akan sembuh. Seperti sedia kala." Tambahnya. Setelah Larry mengatakan kesediaannya, Larry pun menyuruh Pak Alam dan Arman untuk mengurus semuanya, karena hari masih siang Pak Alam dan Arman sibuk kesana kemari untuk mencari penghulu. Dan mengurus segala sesuatu sampai mereka tiba dirumah sakit sekitar pukul 20:00 Arman membawa penghulu ke hadapan Nenek Laura yang kini terbaring lemah. Setelah dirasa semua keperluan dan syarat nikah sudah komplit mereka pun melangsungkan pernikahan yang dadakan itu. Meski begitu pernikahan antara Laura dan Larry bukan pernikahan siri tetapi sah secara Hukum dan Agama, karena di jaman seperti ini apa sih yang tidak bisa di percepat kalau uang yang berbicara. Tidak banyak yang tau, selain pernikahan itu terbilang mendadak di Rumah Sakit juga tidak boleh terlalu banyak orang didalam ruang rawat. Pak Alam sebagai Wali nikah untuk Laura karena selama ini Laura dan Nenek Darmi tidak tau keberadaan Ayah kandung yang meninggalkannya bertahun-tahun. Pernikahan itu disaksikan oleh Arman dan Bu Nita begitupun dengan Nenek Darmi. "Saya terima nikah dan kawinnya Laura binti Rizal dengan maskawin tersebut dibayar tunai," Ucap Larry dengan sekali nafas. "Bagaimana saksi sah?" "Sah ..." Seru orang-orang yang berada disana berbarengan. "Alhamdulilah," Setelah acara Ijab Qabul berlangsung dengan khidmat, Laura pun mencium telapak tangan suaminya, begitupun Larry yang mencium kening Laura dengan malu-malu. Bagaimana tidak? Sejak pertemuan pertama, pertunangan sampai pernikahan semuanya serba dadakan dan tiba-tiba. Laura dan Larry sama-sama menahan malu, jantung keduanya serasa mau copot karena berdetak terlalu cepat. Muka mereka pun memerah seperti kepiting rebus. "Nak, Ian." "Iya, Nek?" "Tolong jaga dan lindungi dia. Bahagiakan cucu Nenek, sebisa mu. Sekarang kamu suaminya. Nenek, titip Laura sama kamu." Ucap Nenek Darmi seolah itu pesan terahirnya. "Mbah, Jangan bilang begitu." Tangis Laura pecah memeluk lengan sang Nenek yang terus terbaring. "Saya akan menjaga dan membahagiakannya, Nek!" Janji Larry yang ikut menggenggam tangan Nenek Darmi dan Laura. "Nenek bisa pergi dengan tenang sekarang, Ndok," "Nggak... Mbah tidak boleh pergi." "Dokter ...Dokter... Tolong Nenek saya!" Teriak Laura berlari keluar ruangan mencari Dokter di ikuti Oleh Larry di belakangnya. "Kenapa, Mbak?" Tanya seorang perawat yang menghampiri Laura menangis. "Tolong, Nenek saya." "Saya, akan panggilkan Dokter. Mbak!" Laura kembali ke ruangan, ia menangis dalam pelukan Larry sang suami. Untuk saat ini mereka berdua mengenyampingkan rasa canggung di antara keduanya. Karena Laura memang sangat membutuhkan Larry sebagai tempatnya untuk bersandar. Begitupun dengan Larry yang merasa kasihan dan iba pada Laura. Setelah Dokter memeriksa Nenek Darmi. Dokter meminta ijin pihak keluarga untuk melakukan operasi namun sebelum operasi dilakukan Dokter keluar dengan perasaan sedih tentunya. "Maaf, Mbak. Ibu, Bapak. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi tuhan berkehendak lain." Ucap sang Dokter penuh penyesalan. "Mbaaahh..." Laura kembali menangis histeris dan tak lama ia pun tumbang, di satu hari yang sama Laura sudah pingsan dua kali, karena sebelumnya juga Laura merasa sudah tidak enak badan, namun mencoba agar terlihat kuat di depan sang Nenek. Laura di rawat di Rumah Sakit yang sama dengan di temani Larry dan Bu Nita. Sedangkan untuk mengurus kepulangan Jenazah Larry mempercayakan Pak Alam dan Arman. "Permisi, Bu." Bu Nita seketika menoleh pada arah suara. "Iya, Pak. Saya?" Tanya Bu Nita pada Larry yang disebelahnya. Larry menganggukan kepala, mengiyakan. "Ada apa Pak?" "Boleh, saya tanya sesuatu tentang Amanda? Eh, maksud saya, Laura." "Boleh, Pak. Mau tanya apa?" "Saya hanya ingin tau tentang orang tuanya. Apa Ibu tau dimana mereka?" Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Bu Nita berpikir sejenak. Bu Nita tidak ingin membuka luka lama untuk Laura namun karena Larry kini sudah menjadi suaminya, sepertinya Bu Nita memang harus menceritakan apa yang terjadi pada Laura sedari kecilkarena Larry berhak tau. Bu Nita berharap semoga Larry bisa menjaga dan menyayangi Laura seperti yang sudah di janjikan kepada Almarhumah sang Nenek. Bu Nita menceritakan dengan serius begitu juga dengan Larry yang mendengarkan dan manggut-manggut. "Mbah..." Suara lolongan kecil dari mulut Laura membuat keduanya berdiri menghampirinya. "Kasihan sekali kamu, Manda," Batin Larry, yang tangannya kini mengusap-usap tangan Laura. Bu Nita melihatnya terharu. Meski Larry dan Laura menikah secara mendadak dan bisa dibilang teepaksa karena memenuhi keinginan terahir Nenek Darmi, namun Larry terlihat begitu perduli pada Laura. "Semoga Pak Larry benar-benar menyayangimu, Laura. Semoga dia tulus dan pernikahan kalian langgeng." Doa Bu Nita dalam hatinya. "Mbaah...!" Laura tersadar dari mimpi buruknya, dan terbangun ingin mencari sang Nenek. "Mbah..." Larry memeluknya lagi turut prihatin dengan keadaan Laura. "Nenek, sudah beristirahat dengan tenang. Mbahmu sudah tidak sakit lagi," Ucapnya menenangkan Laura yang kini berada dalam pelukannya yang masih menangis. "Kamu yang sabar, Laura." Bu Nita ikut memegang tangan Laura dan mengusapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN