Jenazah Bu Darmi sudah di bawa pulang ke rumah kontrakan, begitu pun dengan Laura yang menginginkan pulang. Padahal Dokter tidak mengijinkan karena kesehatan Laura yang tidak stabil. Namun Laura terus memaksa dan meminta pulang.
Laura sudah sampai di kontrakan, pulang bersama suaminya. Dia melihat jasad sang Nenek yang terbujur kaku berada di ruangan dengan di tutupi kain. Banyak orang datang melayat meskipun Laura dan Nenek Darmi orang tidak punya tetapi mereka orang yang di kenal baik dan ramah makanya banyak orang yang berbela sungkawa dan merasa prihatin dengan hidup Laura yang kini hanya sendirian, karena sebagian dari mereka tidak tau tentang pernikahan Laura dan Larry.
Sedari malam hingga siang hari banyak orang yang melantunkan ayat suci Al-Quran di rumah kontrakan Laura, karena hari sudah keburu malam jadi jenazah pun di inapkan tidak langsung dimakamkan hari itu juga. Laura tidak pergi ke sekolah, Arman sudah membuatkan surat ijin yang dititipkan ke Pak Alam agar di antarkan ke sekolah tempat Laura belajar tentu saja atas perintah Larry.
Setelah pemakaman selesai Larry dan Arman meminta ijin pada Bu Nita dan Pak Alam untuk pulang sebentar karena dari kemaren mereka tidak pulang dan kurang istirahat. Sementara Laura masih saja melamunkan Neneknya merasa tidak percaya kalau sang Nenek tiba-tiba saja pergi meninggalkannya. Oleh karena itu Larry tidak memberitahu Laura, karena tidak mau mengganggu istirahat Laura dan membiarkannya meratapi kepergian sang Nenek.
"Laura, makan dulu, Nak." Bu Nita menawarkan dan membawa nasi beserta lauknya dalam sebuah piring.
"Laura tidak lapar, Bu." Ia menggelengkan kepalanya menolak.
"Kamu harus makan. Nenekmu pasti sedih melihat kamu seperti ini," Laura menoleh ke Bu Nita lalu menangis dalam pelukannya.
"Kenapa Nenek tega ninggalin Laura, Bu?"
"Sudah takdir, Laura. Kamu tidak boleh bicara seperti itu."
"Tapi kini Laura sendirian, Bu. Laura tidak punya siapa-siapa lagi."
"Masih ada Ibu dan Bapak. Anggap kami keluarga mu Laura." Kata Bu Nita menenangkan sambil mengusap-usap punggung Laura.
"Terima kasih, Ibu selalu ada buat kami selama ini, Bu." Pelukannya semakin erat.
"Kamu jangan lupa. Sekarang, kamu sudah bersuami. Selain ada Ibu dan Bapak juga sekarang ada suami kamu." Bu Nita mengingatkan Laura, kalau sekarang Laura sudah menikah statusnya sudah menjadi istri bukan lagi seorang gadis.
Tanpa Laura ketahui di luar sana ada Rafka yang sengaja datang untuk melihat Laura karena Rafka tidak menemukannya di sekolah. Rafka melihat di rumah kontrakan tempat Laura, terlihat banyak sekali orang meskipun sebagian sudah pada pulang dari melayat namun ada sebagian yang masih disana sekedar untuk numpang minum kopi dan mengobrol menceritakan kebaikan Nenek Darmi semasa hidupnya.
"Assalamu'alaikum ...Permisi, Pak." Ucap Rafka pada seorang bapak yang kebetulan lewat hendak pulang ke rumahnya.
"Iya, ada apa?"
"Maaf. Mau tanya, Pak! Kenapa dirumah itu banyak orang, ya?"
"Oh itu? Rumah Bu Darmi?" Rafka mengangguk walaupun tidak tau siapa Bu Darmi.
"Bu Darmi, Neneknya Laura meninggal, semalam. Kamu teman sekolahnya, Laura?" Sahut si Bapak menebak-nebak. Karena melihat Rafka dan baju seragam sekolah yang di kenakannya sama dengan yang Laura pakai.
"Innalilahi... Terima kasih, Pak!" Sahut Rafka menganggukan kepalanya dengan hormat, lalu pergi sedikit lebih dekat ke kontrakan itu. Rafka melihat Laura sedang duduk di temani oleh seorang Ibu-Ibu yang Rafka kira mungkin Ibunya atau kerabat Laura. Rafka juga melihat ada Pak Alam, orang yang kemaren bertemu dan menanyakan Laura padanya. Setiap kali melihat Pak Alam, Rafka serasa tidak asing dengan wajahnya. Tapi Rafka selalu lupa dimana mereka pernah bertemu.
"Temannya Laura, ya?" Sapa Pak Alam yang tidak sengaja melihat Rafka disana.
"I-iya, Pak!" Jujurnya dengan gugup.
"Ada perlu sama, Laura?"
"Ti-tidak, Pak. Saya hanya kebetulan lewat saja, dan mampir karena ingin tau, kenapa Laura tidak masuk sekolah?!" Jawabnya jujur.
"Neneknya meninggal tadi malam. Laura ijin tidak sekolah hari ini. Tadi pagi Bapak sudah mengirimkan surat ijinnya sama kepala Sekolah."
"Oh, Iya, Pak!" Setelah sedikit lama ngobrol dengan Pak Alam, Rafka pun berpamitan untuk pulang. Rafka merasa ia sedikit lebih dekat dengan Laura karena kini Rafka mengenal Pak Alam yang Rafka kira adalah sodaranya Laura seperti yang Pak Alam bilang.
***
Setelah dari acara pemakaman Bu Darmi, Larry dan Arman pulang ke rumah dengan membawa mobil masing-masing. Setelah mandi dan beristirahat sebentar Larry langsung melajukan mobilnya menuju Kantor begitupun dengan Arman. Karena sebelumnya mereka sudah janjian untuk bertemu di kantor. Lain halnya dengan Pak Alam yang Larry ijinkan cuti kerja untuk mengurus segala kebutuhan Laura dan acara Tahlilan sampai selesai.
Tok...Tok..Tok
"Masuk!" Larry menoleh ketika pintu dibuka, Larry mengira itu adalah Arman asistennya namun dia salah, ternyata yang masuk adalah Papihnya. Memang, biasanya Arman tidak pernah mengetuk pintu dulu saat masuk ke ruangan Larry, Bosnya.
"Papih? Ada apa?" Tanyanya datar.
"Begitukah cara seorang anak menyambut Papihnya?"
"Maaf, Pih. Maksud Ian, bukan seperti itu," Lalu Larry pun bangun dan mencium tangan sang Papih yang telah duduk di sofa diruangannya.
"Tapi, memang tidak biasanya Papih datang ke ruanganku?!" Setelah merebahkan dirinya di sofa bersama dengan sang Papih Larry langsung mencurigai Papihnya dan menatap sinis.
"Salah? Seorang Ayah melihat anaknya?" Mendengar penuturan seperti itu Larry mengernyitkan alisnya.
"Dasar anak tidak tau di untung!" Jawab sang Papih tersulut emosi dengan sikap anak tunggalnya itu. Namun Larry hanya bersikap datar, bukan masalah besar bagi Larry mendengar ucapan Papihnya seperti itu, baginya sudah biasa. Karena Larry tau sebenarnya sang Papih menghawatirkannya.
"Pulanglah, ke rumah malam ini. Ada banyak hal, yang ingin Papih bicarakan sama kamu." Setelah mengutarakan tujuannya datang ke ruangan si anak, ahirnya sang Papihpun keluar meninggalkan Larry yang fokus lagi dengan pekerjaannya.
Tidak lama setelah itu Arman masuk tanpa mengetuk pintu.
"Kenapa lagi? Pih..?" Kesalnya tanpa melihat siapa yang kini masuk.
"Apaan?" Sinis Arman.
"Gue kira lu, Papih. Yang asal masuk aja!" Jelas Larry.
"Tumben! Ada apa Papih lu kesini?"
"Apa lagi? Kalau bukan nyuruh gue balik!" Larry mendengus kesal kalau membahas tentang rumahnya. Bukan apa, Larry hanya tidak mau kalau dia pulang ke rumah. karena di rumah utama ada Ibu tirinya yang tidak pernah Larry sukai.
"Gue ngantuk banget. Gue Lelah!" Cetus Arman sambil rebahan di atas sofa di ruangan Bosnya.
"Gak sopan lu! Lu pikir lu doank? trus gue kagak?! Kurang ajar emang punya karyawan!" Arman cekikikan mendengar celotehan Larry yang terdengar lucu ditelinganya. Larry orang yang irit bicara itu sekarang sedikit cerewet dan banyak perintah menurut Arman, entah apa penyebabnya yang membuat Larry jadi seperti itu.
"Bagaimana dengan gadis itu, Bos?"
"Maksud, lu?"
"Ya, kan. Sekarang status lu sudah jadi suami?" Larry lupa dengan statusnya yang semalam baru saja berubah menjadi suami. yang memegang tanggung jawab tambahan di pundaknya. Selain mengurus perusahaan Larry juga harus bertanggung jawab dengan kehidupan Laura sekarang yang sudah di Amanatkan padanya.