BAB 10

1132 Kata
Setelah Arman menyinggung statusnya tentang menjadi seorang suami, Larry kini terus merenungkan bagaimana ia harus bersikap dan membuat keputusan. Larry tau Papihnya menyuruhnya pulang selain akan membahas tentang perusahaan pasti Papihnya juga akan membahas tentang wanita yang akan di jodohkan dengannya. Sebagai anak laki-laki yang sudah dewasa dan mapan. Larry tentunya faham dengan maksud dan tujuan Papihnya yang ingin menjodohkan dirinya dengan wanita pilihan keluarga. Tapi Larry bukan lagi anak kecil yang harus di atur segala sesuatunya. Memang sedari kecil juga Larry sudah tidak mau di atur sih! jadi sekarang di sebut anak pembangkang juga Larry akan menerimanya. Kalau pun sang Papih mengancam dengan perusahaan ataupun aset lainnya itu tidak masalah baginya. Karena sekarang meskipun tanpa bantuan Papihnya Larry sudah bisa membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Larry pulang ke rumah Papihnya dengan memperlihatkan muka malasnya. Malas untuk banyak omong, malas untuk melihat Ibu tirinya juga malas untuk berdebat. "Kamu sudah pulang?" Sapa Ratih, Ibu tirinya yang sedang duduk di ruang keluarga ketika melihat Larry datang. Namun Larry hanya berjalan melaluinya, tanpa menjawab atau menoleh, menganggap seperti tidak ada orang saja disana. Ibu tirinya menghembuskan nafas kasar, entah bagaimana lagi dia harus bersikap pada anak bawaan suaminya itu. Yang selalu bersikap seperti itu padanya. Sejauh ini, Ratih selalu bersabar pada sikap Larry yang seperti apapun. Ratih ingin mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang Ibu meskipun tidak pernah di anggap karena Ratih menyesal telah meninggalkan anaknya yang kini entah berada dimana. Larry kini berada di kamarnya dia menelepon Pak Alam supirnya. Mengatakan kalau malam ini Larry tidak bisa datang untuk ikut tahlilan Nenek Darmi. Selain itu Larry juga mengatakan kalau dia akan pergi ke Singapore selama dua Minggu, karena ada kerjaan disana. Larry meminta pesan itu di sampaikan ke Laura. "Satu lagi, Pak!" Kata Larry dalam sambungan telpon. "Setelah selesai tahlilan yang ke 7 nya. Tolong, nanti Bapak. Antarkan Amanda ke rumah saya." "Maksudnya, gimana? Bos?" Pak Alam sedikit kebingungan. Larry juga tidak tau harus bagaimana menjelaskannya. "Manda... Mmm, maksud saya Laura. Akan tinggal bersama saya. Tapi, karena saya, akan pergi ke Singapore, dan tidak bisa menjemputnya. Jadi tolong, nanti Bapak yang antarkan dia ke rumah." Titahnya. "Oh.. Siap. Siap Bos!" Jawab Pak Alam dari sebrang sana. "Terima kasih." Ucap Larry, kemudian menutup sambungan telpon. Larry berjalan turun menuju meja makan untuk makan malam bersama. Sebenarnya Larry sangat malas apa lagi harus satu meja dengan Ibu tirinya, namun Larry masih mengjargai dan merasa tidak enak untuk tidak bertemu Papihnya saat dia berada di rumah utama. Keheningan yang menemani makan malam mereka sampai saat ketika Larry akan beranjak dari kursinya Pak Akbar sang Papih menyuruh nya untuk duduk kembali. "Kenapa, Pih?" Tanya Larry ingin bergegas pergi karena tidak mau lama-lama berkumpul bersama Ibu tirinya padahal Bu Ratih sangat baik padanya. "Besok, keluarga Om Indra mau kesini." "Mau ngapain?" Pura-pura bego, padahal Larry jelas tau maksud dan tujuan relasi bisnis Papihnya itu datang kesana. "Kami. Papih dan Om Indra berencana untuk menikahkan kalian. Kamu dan anak gadisnya, Om Indra." Dengan senyum merekah Pak Akbar terlihat bahagia mengutarakan keinginannya. Berbeda dengan Larry yang memasang muka datar tidak senang sama sekali. Larry menghembuskan nafas kasarnya sebelum dia menjawab keinginan sang Papih. "Pih... Ian sudah katakan beberapa kali. Ian tidak suka di jodoh, jodohkan!" "Ian bukan lagi anak kecil, yang bisa Papih atur seenaknya!" Ucapnya berusaha sabar menghadapi sang Papih. "Jangan jadi anak pembangkang kamu!" "Pih! Kalau memang pernikahan itu hanya untuk kepentingan Bisnis. Kenapa tidak Papih saja yang menikah dengan anaknya Om Indra?" Larry beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Papih beserta Ibu tirinya. "LARRY SEPTIAN!!! Jaga omongan kamu!" Pak Akbar langsung emosi dan berdiri dari duduknya mendengar penuturan Larry yang biasanya irit bicara dan penurut. "Mas. Sudah, Mas." Bu Ratih, Ibu tiri Larry berusaha menenangkan suaminya agar tidak tersulut emosi. Bu Ratih tidak bisa berkata apa-apa mengenai permasalahan Ayah dan Anak itu karena sadar akan dirinya yang tidak di anggap oleh Larry. Makanya Bu Ratih hanya diam saja dan menyimak karena takut juga sewaktu-waktu suaminya marah dan mengakibatkan tekanan darahnya naik. Larry kini berada di kamarnya, sedang merebahkan badan sambil merenungi perkataannya yang sedikit kurang ajar pada Papihnya barusan. Sebenarnya Larry tidak ingin berkata seperti itu, namun Larry juga mempunyai hati dan dirinya juga sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri tanpa harus di jodohkan apa lagi demi sebuah bisnis. Larry tau kelicikan Pak Indra teman Papihnya itu. Dari pertama kali saat Papihnya bilang akan menjodohkannya Larry langsung mencari tau dan memata-matai keluarga itu. Selain karena Larry tidak ingin di jodohkan. Larry juga sangat tidak menyukai kebiasaan buruk gadis yang akan jadi calonnya. "Saya harus menjelaskan. Siapa Om Indra sebenarnya." Dengan penuh semangat Larrypun bangun dan turun menuju ruang kerja. Larry merasa yakin kalau Papihnya belum masuk ke kamarnya. "Mas, jangan paksa Ian terus. Ian itu sudah dewasa. Biarkan dia memilih pendampingnya sendiri." Samar terdengar di telinga Larry. Obrolan antara Papih dan Ibu tirinya. "Lalu mau sampai kapan? Kita di suruh menunggu?" Larry yang akan membuka pintu ruang kerja malah sengaja menguping pembicaraan mereka. "Kamu juga tau? Dia tidak pernah membawa atau dekat dengan seorang wanita." "Kita harus sabar menunggu, Mas. Ratih yakin, Ian pasti akan membawa seseorang yang baik untuk dirinya." Larry tersentuh dengan perkataan Ibu tirinya yang selalu lemah lembut. Tidak pernah marah dan berbicara kasar. Tapi, entah kenapa Larry tidak menyukainya, itu yang ada dalam pikiran Larry sekarang. "Tapi penyakitku ini, tidak bisa selalu menunggu!" Deg! "Maafkan Ian, Pih!" Batin Larry. Mendengar tentang penyakit, Larry merasa menyesal sudah berkata kasar pada sang Papih. "Makanya, Mas yang sabar. Jangan membuat Ian marah. Tapi ahirnya, malah Mas yang sakit," Tok. Tok. Tok! Larry mengetuk pintu yang sedikit terbuka, dan berpura-pura tidak mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. "Pih!" Larry menoleh ke Ibu tirinya yang juga melihat ke arahnya. "Kalau begitu, Ratih permisi dulu, Mas." Pamitnya pada sang suami yang di balas anggukan oleh Pak Akbar. Setelah Ibu tirinya pergi. Larry mendudukkan pantatnya di sofa di ruang kerja sang Papih. "Pih... Ian mau minta maaf. Sudah berkata yang tidak sopan, sama Papih." Pak Akbar hanya diam menatap anaknya seolah sedang marah. "Ian tidak bermaksud kurang ajar. Tapi, Ian tau siapa Om Indra dan juga anaknya itu." Larry menceritakan tentang kebusukan Indra. Relasi bisnis Papihnya. Tidak lupa Larry juga menceritakan kebusukan anak gadis yang akan di jodohkan dengannya. Membuat Pak Akbar Syok, karena tidak menyangka teman yang selama ini di percaya sudah berbuat curang padanya. "Besok Ian mau ke Singapore selama 2 minggu, Pih! Ada beberapa masalah dalam proyek. Sekalian, Ian mau menyelesaikan bisnis yang sekarang ditangani Om Indra." Jelasnya. "Kamu memang kebanggaan Papih. Ian!" Pak Akbar menepuk-nepuk pundak Larry. Kini Pak Akbar tersenyum pada anaknya, tidak ada lagi raut marah di wajah Pak Akbar. "Kalau begitu, Ian permisi." Larry pun beranjak. "Pih, jangan memikirkan jodoh, Ian. Ian akan segera menemukannya. Papih jagalah kesehatan." Pesan Larry sebelum meninggalkan ruangan sang Papih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN