BAB 11

1112 Kata
Pagi ini Larry berangkat menuju Singapore bersama Arman di antarkan oleh supir Papihnya karena kalau Pak Alam yang mengantar akan membutuhkan waktu lebih awal untuk Pak Alam menuju kediaman orang tua Larry yang jarak tempuhnya lumayan jauh. Hmm.. Larry Bos yang baik dan pengertian juga ternyata! "Lu, gak pernah ngobrol sama istri, lu?" Celetuk Arman, ketika mereka sudah sampai di Bandara. Larry menghentikan jalannya, menoleh sesaat lalu melanjutkan langkahnya. Arman tau situasi, tidak akan berbicara tentang status Larry di depan supir Pak Akbar, Papih Larry. Kecuali jika Larry sendiri sudah mengatakan tentang pernikahannya. "Gak!" Jawabnya simple, terus melenggangkan langkahnya menuju kursi tunggu. "Meskipun lewat Hp? Atau, sekedar tanya kabar gitu?" "Nggak!" Jujurnya, masih dengan memasang muka datar. "Suami macam apa, lu? Gue ngerti, kalau ngomong secara langsung, lu gak punya waktu. Trus di telpon juga? Lu gak pernah sekali pun? " Sinis Arman pada sahabatnya itu. "Masalahnya! Gue gak tau nomernya, Manda!" Arman menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan sikap Larry yang bego apa pura-bego, pikirnya. Padahal kan dia bisa tanya sama supirnya itu! "Gue protes nih, sama Author! Kenapa yang jadi pemeran utamanya bukan gue aja! Mana ada seorang CEO bego begitu!" Arman ngamuk ges! Karena Author salah pilih orang. "Percuma lu protes, dari awal Author lebih suka gue jadi pemeran utama pria. Wew!!" Balas Larry cekikikan, tidak lupa Larry juga menjulurkan lidah ke si Arman. "Semua butuh proses. Lu tau, gue sama dia terikat karena Amanat dari Nenek Darmi. Gue gak mau mengganggu kehidupan dan kesehariannya." Larry berusaha menjelaskan keadaan yang memang tiba-tiba itu. "Tapi, dia istri lu sekarang. Lu bisa memperlakukannya layaknya seorang istri." Serengehnya. "Gue baru tau. Lu secerewet ini, ternyata!" Sinis Larry tidak terima sahabatnya terlalu ikut campur dan banyak omong. "He,he,he.." Arman tersenyum lebar menampilkan giginya pada Larry. "Gue, sudah memikirkan semuanya. Gue juga, udah nyuruh Pak Alam, buat membawa dia tinggal di rumah gue." Jelasnya. Kini Arman memperlihatkan muka cengonya. "Gak nyangka! Lu udah bertindak sejauh ini. Salut, gue salut. Sama lu, Brother!" Sahutnya memeluk Larry. "Lepaskan! Gak usah peluk, peluk! Gue Jijik!" Sarkas Larry. "Tapi, kalau yang meluknya Laura? Mau kan?" Larry enggan menjawab, sekarang dia hanya fokus dengan tablet yang di pegangnya. "Pura-pura budek deh!" Gerutu Arman, tidak terima Larry nyuekin dia. "Biarin! Ntar budek beneran." Umpatan yang pelan namun masih terdengar jelas. "Gue denger!" Sahut Larry, yang kini memasang muka datarnya. Larry memang terlihat dingin di luar. Namun tidak ada yang tau hatinya sehangat apa dan juga seperduli apa?! Contoh saja ketika Larry datang untuk membicarakan pertunangan dadakan. Larry memperhatikan Laura yang pulang dengan baju kusut dan kotornya. Begitupun saat Laura pingsan. Larry merasa ada sesuatu yang aneh, yang di sembunyikan Laura. Larry ingin mencari tau tentangnya lebih jauh, makanya Larry menyuruh Pak Alam membawa Laura tinggal dirumahnya, agar Larry bisa memantau istri kecilnya itu. Karena kalau berjarak dia akan sulit untuk mengawasinya. Entah karena rasa kasihan atau apa Larry pun tidak mengerti tentang perasaannya, terlalu dini jika di sebut cinta apa lagi menurutnya, Laura anak remaja yang masih sekolah. Mungkin juga telah mempunyai pacar di sekolah yang seumuran sama dia. Larry sadar dari lamunannya tentang Laura karena Arman menepuk pundaknya, mengingatkan kalau pesawat mereka sudah tiba. Setelah menunggu beberapa menit ahirnya mereka pun menuju pesawat untuk terbang ke Singapore. Selama 2 Minggu Larry dan Arman akan tinggal disana untuk urusan Bisnis. *** Hari ini Laura kembali ke sekolah setelah ijin beberapa hari. Walau sebenarnya Laura sudah sangat malas untuk kembali ke sekolah, malasnya karena Laura merasa sudah tidak mempunyai mimpi lagi. Dulu Laura memang sangat bersemangat pergi sekolah meskipun di sekolah banyak yang menghina dan membulinya. Namun satu tujuannya yaitu ingin merubah kehidupan masa depannya. Karena dengan peringkat bagus Laura bisa memanfaatkan Beasiswanya untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Tapi cita-citanya kini pupus, setelah sang Nenek tiada. Brak!!! Agnes datang beserta genknya, menggebrak meja. Mengagetkan Laura yang sedang fokus pada buku pelajaran. "Gue kira lu sadar diri, dan berhenti dari sekolah! Eh, ternyata gue salah. Lu masih berani untuk datang!" Laura hanya diam tidak berkata. Laura sangat malas untuk berurusan dengan mereka. "Lu tuli, ya?!" Agnes menekukan kepala Laura, bersamaan dengan kedatangan Rafka kesana, yang kebetulan melihat aksi Agnes memperlakukan Laura. "Agnes!! Apa yang kamu lakukan?" Rafka mendekati meja Laura yang dimana Agnes and the genk masih berada disana. "Ra-rafka! Itu tidak seperti yang kamu lihat." Jelasnya ketakutan, takut Laura mengadu pada Rafka. "Kamu, tidak apa-apa? Laura?" Rafka tidak merespon Agnes, Dia hanya tertuju pada Laura yang semakin pendiam menurutnya. "Aku, tidak apa!" Jelasnya singkat, tanpa melihat Rafka atau perduli pada sekitarnya. "Saya permisi." Laura bangun dari duduknya meninggalkan Agnes dan juga Rafka yang masih berdiri diantara meja Laura. "Lihat, Rafka! Memang dia itu kurang ajar!" Rafka menghela nafasnya. Dia tau Laura tidak seperti itu. "Ayo, pergi. Ngapain kamu disini?" Ajak Rafka kemudian berlalu meninggalkan Agnes. Laura kini berada di toilet sedang menangis karena merindukan Neneknya. "Mbah... Laura kangen." Isaknya. "Kenapa Mbah tinggalin Laura sendirian? Laura ingin ikut, Mbah..." "Eh, Gadis buruk rupa ada disini!" "Mau apa lagi kalian?" Dalam tangisnya Laura menyempatkan untuk bertanya, karena masih dalam mode emosi karena mengingat sang Nenek. "Heh... Jangan belagu, Lu! Kebetulan aja lu selamat karena ada Rafka, barusan!" Lagi-lagi ketenangan Laura terusik. Entah di kelas, di toilet di mana pun Laura berada saat di sekolah itu sangat membuatnya tidak nyaman. Karena selalu di ganggu oleh siswa-siswi yang membencinya. Laura selalu bertanya-tanya, kesalahan apa yang sudah dia perbuat. "Apa salahku? Kenapa kalian terus saja membuliku? Padahal, aku tidak pernah melakukan apapun pada kalian!" Dengan nada dan bibir bergetar Laura mencoba untuk tidak terus pasrah akan sikap teman sekelasnya. Laura merasa dirinya harus berani melawan sekarang. Karena sudah tidak ada tempatnya bersandar. Laura harus bisa menguatkan diri sendiri, pikirnya. "Salah lu? Mau tau kesalahan lu, apa?" "Satu! Karena lu terlalu menyombongkan kepintaran, lu! Dua! karena lu miskin, dan lu ga pantes sekolah disini! Ngerti, lu?!" "Tapi, aku ga pernah menyombongkannya! Dan meskipun aku miskin. Aku berjuang banyak demi mendapatkan Beasiswa. Bukan secara cuma-cuma." "Heh.. denger ya! Lu itu gembel! Mau lu berjuang atau tidak. Tetap saja lu bukan level kita!" "Ayo cabut genks! Jangan lama-lama dekat dia, nanti kena virus!"Setelah mengatakan itu, mereka pergi meninggalkan Laura yang masih mengatur nafasnya. "Ya Allah... sehina itukah diriku?" Batinnya. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. semua murid keluar dari kelas masing-masing begitupun dengan Laura. Di luar sudah ada Pak Alam menunggunya seperti biasa Pak Alam membawa mobil karena sekalian akan mengantarkan Laura ke kediaman pribadi Larry. Ketika Laura berjalan menghampiri Pak Alam, semua murid memandang sinis Laura. Bahkan sampai ada yang terang-terangan mengatakan kalau Laura kini menjadi simpanan om, om. Namun seperti biasa, Laura seolah tidak mendengar umpatan mereka. Karena kalau terus dimasukkan ke hati, itu sangat sakit sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN