BAB 12

1115 Kata
Sudah seminggu Laura tinggal di rumah Larry suaminya. Disana sudah ada seorang pembantu yang mungkin umurnya di atas Bu Nita pemilik warung tempatnya bekerja. Bi Wati namanya, dia sangat baik kepada Laura, meskipun Bi Wati tidak tau kalau Laura adalah istri kecil Bosnya, tapi Bi Wati menyukainya karena sikap Laura yang ramah, selain itu Laura juga sangat rajin. Laura betah tinggal di rumah Larry karena Bi Wati sangat baik padanya meskipun seandainya Laura pembantu baru disana. Bukan baik karena Laura istri dari Bosnya. Selain nyaman, karena rumahnya besar dan bersih berbeda jauh dengan rumah kontrakannya yang kecil, kotor belum lagi berada di daerah kumuh. Laura merasa, kini ia mempunyai orang tua baru dan teman baru. Ralat! bukan teman baru, tapi serasa mempunyai teman. Karena selama ini Laura tidak mempunyai teman dan tidak berteman dengan siapapun. "Kamu sudah mau berangkat sekolah, Neng?" Bi Wati menghampiri Laura ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Bi Wati yang tidak jauh dari dapur. "Iya, Bu. Laura mau sekolah. Beberapa hari lagi ada ujian semester." Laura merapihkan seragam sekolahnya sambil melihat dirinya dicermin. "Laura, sudah menyapu dan mengepel lantai bawah, Bu. Sekalian Laura juga sudah memasak untuk sarapan." Imbuhnya. "Rajin sekali, kamu neng. Bangun jam berapa? Sampai semua sudah diselesaikan?" Bu Wati tersenyum memperhatikan Laura yang kini sibuk mempersiapkan buku-buku pelajarannya. "Kalau kamu terlalu rajin. Bisa-bisa Ibu di pecat sama Pak Ian, dalam waktu dekat. Karena ada kamu yang lebih cekatan dalam bekerja." Godanya memasang muka melas, membuat fokus Laura terhenti. "Ibu, jangan bilang begitu. Kalau Pak Ian pecat Ibu, Laura juga akan pergi," Ucapnya menggenggam tangan Bu Wati yang memasang muka memelas jadi tertawa. "Kenapa Ibu, malah ketawa?" Tanyanya bingung. "Tidak, apa. Lagian Ibu juga sudah tua." Senyum Bi Wati merasa melihat anaknya yang meninggal sejak bayi, mungkin kalau masih hidup seumuran dengan Laura. "Ya, sudah. Cepetan sana, ke sekolah. Sepertinya ojek langgananmu sudah datang." Sahut Bu Wati mendengar ada suara klakson di depan rumah. "Kalau begitu, Laura pergi, Bu. Assalamu'alaikum..." "Ya, Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan." Bi Wati melihat Laura pergi dengan ojek yang sudah seminggu ini menjadi langganannya atas suruhan Larry. Larry tidak mau Laura menggunakan sepedah lagi karena jarak dari rumahnya agak jauh ke sekolah yang membutuhkan waktu lama jika harus bersepedah. Larry menawarkan Laura untuk di antar jemput Pak Alam, tapi Laura menolak karena akan terasa aneh jika Laura yang di kenal miskin itu di antar jemput mobil mewah. Beberapa menit berlalu, Laurapun sampai di depan gerbang sekolah. Seperti biasa siswi-siswi yang tidak menyukainya menatap sinis Laura, tidak sedikit dari mereka fokus dengan tatapan menilai. Ya, menilai perubahan pada diri Laura entah sejak kapan Laura terlihat bersih dan rapih. Laura tambah bercahaya dan kulitnya lebih bersih dari sebelumnya, cantik? Laura memang cantik meskipun kulitnya terlihat kusam, apa lagi sekarang mungkin cantiknya lebih kelihatan karena Laura tidak pernah panas-panasan lagi. "Eh,eh lihat. Lu merasa ada yang lain dari si gembel itu ga, sih?!" Beberapa siswi yang melihat Laura berjalan melaluinya mulai berbisik-bisik. "Lain gimana maksud, lu?" "Gue ngerasa, tuh si buruk rupa tidak seperti si buruk rupa yang dulu. Lu lihat saja dengan teliti!" Beberapa siswi itu pergi untuk menemui Agnes menceritakan setiap perubahan pada Laura "b******k!!" Agnes emosi entah apa yang di katakan siswi itu padanya sehingga membuat Agnes bertambah marah pada Laura. *** Larry sudah pulang dari Singapore tepat tengah malam di saat semua orang dirumahnya sudah tidur. Larry sudah berpakaian rapih dengan kemeja putih dan setelan jas yang pas di badannya, membuat aura ketampanannya semakin terpancar ketika dagunya sedikit dihiasi janggut tipis, yang membuat Larry terlihat sangat dewasa. Kini berjalan menuju meja makan yang disana tersedia nasi goreng buatan Laura. Laura tidak tau kalau suaminya itu sudah pulang karena di antara mereka memang tidak ada komunikasi, selama ini Larry selalu menghubungi Pak Alam untuk mengurus segala sesuatu tentang Laura, termasuk tentang ojek langganannya barusan. "Pagi, Bi." Sapa Larry ketika melihat Bi Wati berjalan entah dari mana. "Astaghfirullah.. Ya Allah. Kapan pulang, Den? Bibi gak tau, ada Den Ian disana." Bi Wati sedikit berlari menghampiri majikannya yang sudah berpakaian rapih dan duduk di meja makan. "Tadi malam, Bi." Jawabnya. "Tumben, ada nasi goreng. Dan, box apa ini?" Imbuh Larry pelan, namun terdengar oleh Bi Wati. "Itu box bekal makan nya Laura, Pak!" "Laura? Lalu kenapa disini?" Larry seolah di ingatkan lagi tentang Laura yang kini tinggal dirumahnya. "Duhh.. sepertinya dia lupa membawanya." Bi Wati mengambil box makanan Laura dan di pegangnya. "Katanya Laura selalu bawa bekal dari rumah karena gak sempat sarapan dan gak jajan di kantin. Itu juga nasi goreng buatan Laura, Den!" Sambung Bi Wati membuat Larry mengangguk, tangannya reflek mengambil centong nasi dan menyidukan nasi goreng ke piring yang sudah tersedia di meja. "Sebentar. Bibi buatkan kopi dulu." Sahut Bi Wati, melipir ke arah dapur karena biasanya Larry hanya meminum kopi dipagi hari. "Mmm.. Enak! Benar kata Nenek Darmi kalau Manda memang pandai memasak. Tidak salah saya menjadikannya seorang Istri." Batin Larry, Karena Larry memang mendambakan seorang pendamping hidup yang pandai memasak, jika seorang istri bisa memasak sudah pasti dia bisa mengurus keluarga, pikirnya. "Laura. Pengganti Bibi ya, Den?" Suara Bi Wati mengagetkan Larry, membuatnya menoleh melihat Bi Wati yang sudah ada di sampingnya melontarkan pertanyaan seperti itu. "Ah. Tidak! Bukan, Bi." "Manda. Ehem... Maksud saya, Laura. Bukan pengganti Bibi." Balas Larry tersenyum, Ia ingin menceritakan status Laura di rumah itu namun urung. Nanti saja menurutnya kalau waktunya sudah tepat. "Bi," "Iya, Den?!" "Mana box makannya Laura, barusan? Biar saya antarkan ke sekolahnya." "Biar Bibi saja, yang antar, Den." "Tak apa, Bi. Saya akan mengantarkannya, saya tidak terlalu terburu-buru ke kantor." Bohong Larry. Padahal ia ingin melihat Laura yang sudah 2 minggu ini menjadi istrinya. Larry juga ingin memastikan kalau dia baik-baik saja di sekolahnya. "Ya sudah, Bibi ambilkan dulu." Bi Wati pergi lagi kedapur, mengambil box makan Laura. Karena barusan sempat disimpannya. Setelah selesai menghabiskan satu piring nasi goreng dan mendapatkan box nasi milik Laura, Larry pun pergi bersama Pak Alam menuju ke sekolah. "Ke sekolahan dulu, Pak!" Titah Larry. "Sekolah?" "Iya. Saya mau antarkan bekal makannya, Manda. Dia lupa membawanya," "Baik, Bos!" Seru Pak Alam manut dengan perintah atasannya, walaupun arah kantor dan sekolah berlainan, tapi itu adalah perintah sang atasan. Jalanan sudah mulai sedikit macet meskipun bukan arah ke jalan raya pusat kota, dimana kantor Larry berada. Jam-jam sibuk seperti itu memang selalu macet membuat Larry sedikit melengguh membayangkan Laura saat pulang dan pergi menaiki sepedahnya. "Kasihan sekali dia," Keluh batin Larry, hingga tidak sadar mereka sudah sampai di gerbang sekolah yang pernah menjadi tempat Favorite Larry. Setelah lulus beberapa tahun lalu Larry baru menginjakkan kakinya lagi di sekolah yang membuatnya menjadi sukses seperti sekarang ini, tentunya karena Larry seorang yang pandai di sekolah dan pintar dalam segala hal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN