BAB 13

1125 Kata
Mobil Larry kini terparkir di pelataran sekolah. Larry berniat turun untuk mengantarkan box makanan Laura. Tapi di urungkan niatnya karena tahu situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuk bertemu istri kecilnya. Apa lagi Larry tau kalau di sekolah itu ada Rafka sepupunya yang juga anak pemilik Yayasan tempat Laura bersekolah. Larry sibuk memikirkan cara bagaimana agar dirinya bisa bertemu dengan Laura tanpa di lihat dan di ketahui banyak orang. "Pak, bisakah panggilkan Manda, kesini?" Larry menyuruh Pak Alam memanggil istri kecilnya yang sudah 2 minggu ini tidak dilihatnya. "Apa tidak masalah, Bos? Sebentar lagi, sepertinya jam masuk kelas?!" Larry melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 07:25 pagi. "Ya, sudah! Kalau begitu saya turun." Ucapnya. "Tapi, nanti. Kalau orang curiga bagaimana? Bos?" Larry diam sebentar kemudian tersenyum. "Kan, ada Pak Alam yang datang sebagai orang tuanya." Setelah mengatakan itu mereka berdua pun turun dari mobil. Larry berjalan dengan gagahnya menuju ruangan kepala sekolah. Di ikuti Pak Alam dibelakangnya berjalan dengan membawa sebuah paperbag berisikan lunch box milik Laura. Di tengah perjalanan arah ke ruang Kepala Sekolah Larry melewati beberapa kelas saat di koridor Larry melihat beberapa Siswi sedang berkerumun. Awalnya Larry bersikap cuek dan tidak perduli karena tujuannya kesana hanya untuk menemui Laura dan mengantarkan lunch box nya. "Sakit... Tolong lepaskan," Rintih seorang siswi membuat Larry menghentikan langkahnya. "Heh! Lu jangan berani macam-macam! Ingat!!.. Lu tuh, cuma gadis miskin yang sedikit beruntung bisa bersekolah disini!" "Aku tidak mengerti, maksud kalian apa?" Samar terdengar, Larry merasa itu adalah suara Laura. Tapi ini sudah jam masuk sekolah kenapa mereka berkerumun? "Ah, mungkin telingaku salah dengar," Menurutnya dan Larry kembali melanjutkan perjalannya ke kantor Kepala Sekolah. Larry berharap istri kecilnya baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa dengannya. Larry juga berharap pendengarannya salah tentang suara tadi. Tok! tok! tok! Larry masuk setelah mengetok pintu dan duduk di ruangan Kepala Sekolah tanpa di persilahkan. Membuat Kepala Sekolah kaget karena Larry tiba-tiba datang. "Selamat pagi, Pak Larry. Ee.. Ada apa Pak Larry tiba-tiba kesini?" Tanya kepala sekolah yang kebetulan mengenal Larry, karena selain Larry adalah keluarga pemilik Yayasan, Larry juga sebagai Donatur dan Sponsor Yayasan itu. "Saya mau meminta tolong. Tolong Bapak, panggilkan siswi yang bernama Laura Amanda dikelas 12!" Titahnya pada Kepala sekolah yang memiliki pertanyaan dikepalanya, tapi tidak mau bertanya karena merasa tidak berani. "Baik, Pak!" Kepala Sekolah bangkit dari duduknya menuju kelas 12 dimana kelas itu terbagi menjadi beberapa kelas. Kepala sekolah memasuki setiap kelas untuk mencari Laura. "Selamat pagi anak-anak? Siapa di antara kalian yang bernama Laura Amanda?" Tidak ada yang menjawab sampai setelah seorang Siswa bersuara. "Laura Amanda ada di kelas B, Pak!" "Terima kasih, Rafka." Ucap Kepsek. "Kalau begitu silahkan dilanjutkan belajarnya." Sambung Kepala Sekolah sebelum menuju kelas yang Rafka sebut barusan. Laura di panggil ke ruang Kepala Sekolah langsung oleh Kepseknya membuat para murid bertanya-tanya. "Ada apa ya?!" "Jangan sampai si buruk rupa itu mengadu pada Kepala Sekolah!" Sinis Agnes yang mengepalkan tangannya sekarang. Ehem... Larry mendehem sekali agar tidak gerogi saat bertemu Laura nanti. "Lah? Apa yang gue lakuin? Masa iya gue gerogi?" Batinnya, sekarang Larry mencoba lebih tenang dengan terus mengatur nafasnya sampai kegiatan itu diperhatikan oleh Pak Alam. Klek.. Pintu terbuka disana sudah ada Kepala Sekolah bersama Laura yang berdiri di belakangnya. "Ayo, Laura. Masuk!" Laura masuk, begitu Pak Kepala Sekolah menyuruhnya. "Duduklah. Ini Pak Larry Donatur dan Sponsor di Yayasan ini," Kepala sekolah memperkenalkan Larry pada Laura karena tidak mengetahui status mereka. "Iya, Pak!" Laura menganggukkan kepalanya dengan hormat dan memberikan senyuman kepada Larry sehingga lesung pipitnya terlihat. "Ngomong-ngomong. Ada urusan apa Pak Larry dengan Laura?" Tanya Pak Kepsek memberanikan diri, karena tidak biasanya dan baru kali ini orang penting seperti Larry datang ke Sekolah. "Ah.. Saya tidak ada urusan apa-apa. Hanya saja.." Larry menoleh ke Pak Alam yang kini berdiri di sampingnya. "Oh.. Ini, Pak! Saya kan walinya Laura sekarang?! Saya hanya mau memberikan bekalnya saja. Tadi Laura lupa membawanya," Bohong Pak Alam, sedikit grogi karena tidak biasa berbohong. Namun kali ini dilakukannya demi menutupi status sang majikan. Sedangkan Larry meneliti Laura yang dirasa sedikit berubah menurutnya. "Kenapa senyumnya manis sekali? Dan dia terlihat berbeda? Tapi apanya yang berubah, ya?!" Larry terus menajamkan matanya pada Laura yang terus menundukkan kepala sedangkan Larry masih memindainya dengan terus mengusap dagunya yang berjenggot tipis. "Duhh.. Maaf, jadi ngerepotin, Bapak." Laura mengambil paperbag dari tangan Pak Alam, membuat pergelangan tangannya yang memerah itu terlihat jelas dimata Larry. "Maafkan, saya Pak!" "Sekali lagi, saya minta maaf." Laura terus saja merundukan kepalanya dan meminta maaf pada orang-orang disana. "Tidak, apa. Lain kali jangan kelupaan ya? Bapak jadi ngerepotin Pak, Bos untuk sampai disini." Kata Pak Alam, padahal jelas-jelas Larry yang meminta datang kesana. "Ya sudah, Laura. Kalau begitu silahkan kembali ke kelas." Suruh Kepala Sekolah. "Baik, Pak! Terima kasih. Saya permisi," Pamitnya. "Baiklah. Kami juga akan pergi. Terima kasih atas waktunya Pak, Rey." Sahut Larry berdiri dari duduknya. Baru saja sampai di depan pintu Larry menghentikan langkahnya. "Pak Alam, tunggu saya di mobil. Saya ada perlu sebentar, dengan Kepala Sekolah." "Baik, Pak! Saya duluan" Larry membalasnya dengan anggukan. Larry kembali kedalam sedikit berbincang dengan Bapak Kepala sekolah. "Pak, Rey?" Panggilnya. "Saya, Pak? Ada apa?" "Sepertinya, saya melihat ada kekerasan disekolah ini, terhadap murid lain." "Maksud Pak Larry? Kekerasan bagaimana?" "Misalnya seperti perundungan terhadap murid yang lemah. Karena tadi saat saya kesini. Saya melihat beberapa siswi, sedang merundung siswi lain." "Ah.. Tidak mungkin, Pak! Saya menjamin tidak ada kekerasan disini. Mungkin saja mereka sedang bercanda," Jelas Pak Rey, sebagai kepala sekolah dia memang tidak tau persoalan murid-murid selain belajar. "Ya, semoga apa yang Pak Rey katakan, itu benar! Tapi, saya mau sedikit berpesan pada Bapak, untuk selalu mengawasi murid bernama Laura Amanda barusan." Titahnya. "I-iya, Pak! Tapi kenapa?" Larry merasa dirinya harus melindungi Laura tapi tidak mungkin ia mengatakan kalau Laura adalah istrinya. "Setau saya, Laura Amanda sudah tidak punya siapa-siapa. Dan supir saya barusan itu adalah kerabat sekaligus ayah angkatnya. Jadi saya tidak mau terjadi apa-apa pada anaknya. Ingat, kalau sampai terjadi sesuatu padanya, saya jamin bapak tidak akan duduk di ruangan ini lagi." Ancamnya, menakuti si Kepala Sekolah. "Ba-baik, Pak! Pesan Pak Larry, akan saya ingat." Jawabnya gugup. "Ya, sudah. Kalau begitu saya, permisi." Pamitnya yang kemudian menjabat tangan si Kepala Sekolah dan berlalu pergi. Di perjalanan Larry bertemu dengan beberapa siswi yang memandangnya dengan takjub dan memuja. "Gila..!!! Cakep banget tau!" "Udah punya istri belum, ya?" "Kalaupun sudah. Gue rela jadi selingkuhannya." "Belum tentu dia mau sama lu!" "Emang kalian suka sama Om, Om?" "Kalau Om, Omnya secakep itu. Jelas gue mau banget lahh!" Beberapa siswi yang terdengar sedang membicarakan Larry tiba-tiba terdiam setelah mereka melihat ada Agnes disana. Mereka diam karena jika Agnes tau pasti Agnes akan bergerak cepat untuk mendekati lelaki yang dirasa tampan dan mapan seperti Agnes yang terus mengincar Rafka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN