Larry telat sampai di kantor ketika memasuki ruangannya disana sudah ada Arman yang menunggu Bos sekaligus sahabatnya. Arman tidak banyak bicara karena Larry sudah memberitahukan sebelumnya kalau dia mungkin telat sampai kantor di karenakan harus pergi ke sekolah dimana ada Laura disana.
"Gue ngerasa, ada sesuatu yang berubah dari Manda." Tanpa sadar Larry mengatakan itu di depan Arman.
"Maksud lu?"
"2 Minggu tidak melihatnya. Dia seperti bertambah manis," Larry tersenyum-senyum sendiri mengingat senyum Laura dengan lesung pipitnya tadi pagi.
"Hhh... sepertinya, Sahabat gue ini sudah mulai jatuh cinta pada seorang gadis!"
Ehem.. Larry mendehem sekali, seakan sekarang sadar dari bayang-bayang senyum Laura Amanda karena ledekan Arman sahabatnya.
"Sejak kapan lu disana?" Kembali ke mode awal dengan memasang raut muka datarnya pada Arman.
"Lahh? Lu gak tau ada gue disini sedari tadi?"
"Nggak!!" Jawabnya singkat.
"Saat lu masuk, sama sekali ga liat gue duduk disini?" Tanya Arman emosi, namun Larry hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah! Gue di anggap setan kali. Dari tadi disini sampe gak liat." Larry hanya menatap Arman dan mengedikkan bahunya karena benar-benar dia tidak tau. Maklum kalau orang mulai kasmaran ya begitu.
***
Hari sudah sore ketika Larry sampai dirumahnya, Larry melihat dimeja makan sudah tersedia beberapa menu masakan. Hidangan untuk makan malam yang sudah tertata rapih dan menggugah selera karena tercium wanginya.
Larry tidak melihat adanya Laura di dapur atau sekitarnya.
"Mungkin dia di atas, dikamarnya." Pikir Larry, karena tidak tau kalau sebenarnya Laura tinggal di kamar bawah dekat dapur.
Larry masuk ke kamarnya untuk mandi. Setelah selesai Larry berniat turun untuk makan malam. Namun Larry penasaran dengan penghuni kamar sebelahnya, sekalian Larry mau mengajak Laura untuk makan malam bersama.
Tok tok tok.
Tidak ada sahutan dari dalam. Larry mencoba membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci dan lampunyapun padam. Larry mencari saklar dan menyalakan lampu, ruangan itu terlihat rapih dan masih dengan wangi yang sama. Wangi kamar kosong yang tidak di tempati.
Saking penasaran apa benar kamar itu tidak di tempati oleh istri kecilnya? Ahirnya Larry pun membuka lemari pakaian disana terlihat kosong tidak ada satu pakaianpun seperti sebelumnya.
"Dia tidur dimana?" Tanya Larry pada dirinya sendiri.
Tanpa berlama-lama Larry pun turun menuju meja makan. Karena sebelumnya dia memang berniat untuk makan.
"Bi.. Bi Wati?" Panggilnya sebelum mendudukkan pantatnya di kursi.
"Iya, Den." Bi Wati datang menghampiri tuannya.
"Manda mana? Mm.. maksud saya Laura?" Tanya Larry sambil menyendokkan nasi kepiringnya.
"Ada, dikamarnya. Den."
"Kamarnya?"
"Iya, Den."
"Bi. Tolong panggilkan Laura, kesini."
"Baik, Den." Bi Wati melipir ke arah kamar Laura setelah mendapatkan perintah dari majikannya.
Larry melihat kepergian Bi Wati menuju dapur yang disana terdapat dua buah kamar. Sekarang Larry tau dan mengerti kenapa Laura tidak ada di kamar atas, itu mungkin karena Bi Wati mengira kalau Laura adalah pembantu baru disini. Larry mengakui kalau itu salahnya tidak memberi tahu pekerjanya. Meskipun Laura diperlakukan baik oleh Bi Wati tapi bagaimanapun kini Laura adalah istrinya.
Larry menghentikan makannya ketika dia mendengar sebuah tawa yang renyah dari suara seorang wanita siapa lagi kalau bukan Laura. Larry melihat senyum Laura yang merekah ketika berbicara dengan Bi Wati, entah apa yang dibicarakan kedua wanita beda umur itu yang jelas Larry terpana dengan senyuman gadis manis yang menjadi istri dadakannya.
"Aahh.. temenin, Bu. Laura ga berani sendirian."
"Pak Bos ga bakalan gigit kamu. Dia baik, Ko!"
"Ahh.. pokonya temenin. Ya.. ya bu." Bujuk Laura pada Bi Wati sambil menarik-narik tangan dan tersenyum-senyum melas. Membuat Larry tambah gemas melihat tingkahnya.
Eheem..
Larry membuang rasa groginya di depan Laura dan Bi Wati.
"Ini Lauranya, Den."
Setelah mendehem kini Larry menghela nafas nya.
"Iya, Manda. Ada yang mau saya bicarakan." Kata Larry sedikit menatap ke arah Laura yang malu-malu.
"Duduklah," Suruhnya pada Laura karena sekarang istrinya itu terus berdiri di samping Bi Wati.
"A-ada apa, Mas?"
"Husss.. Panggil yang bener, Neng! Bilang, Den atau Pak!" Reflek Bi Wati ketika dengar panggilan Laura pada Larry.
"Maaf, Pak." Kata Laura menundukan kepalanya. Laura tidak menjelaskan statusnya sebagai istri dari Larry Septian pada Bi Wati karena saat Laura masuk pertama kali ke rumah itu Bi Wati langsung membawanya ke kamar yang didekat dapur dan menjelaskan semua pekerjaan di rumah itu. Bi Wati menganggap Laura pembantu baru karena Larry si pemilik rumah juga tidak berkata apa-apa sebelum pergi ke Singapore. Begitupun Pak Alam hanya mengantarkan Laura lalu pergi lagi dengan terburu-buru. Laura tidak menolak tidak juga menyangkal karena dipikirnya status pernikahannya memang hanya karena keinginan neneknya. Jadi kalaupun Larry menganggapnya pembantu itu bukan masalah besar baginya.
"Tidak apa, Bi. Laura boleh memanggil saya dengan sebutan 'Mas'!" Sahutnya.
"Sekalian, saya ingin memberitahu Bibi tentang, Laura."
Laura menatap Larry tidak begitu yakin dengan ucapannya.
"Tentang, apa Den?" Bi Wati dan Laura saling berpandangan. Kemudian Laura menggelengkan kepalanya karena memang Laura tidak tau apa yang akan Larry bicarakan.
"Bi. Sebenarnya, Laura adalah istri saya." Bukan hanya Bi Wati tapi Laura juga Syok mendengar penuturan Larry.
"Kami sudah menikah. Dia datang kesini sebagai istri saya. Bukan sebagai pembantu, atau pengganti Bibi." Larry menatap Laura lagi, yang juga melihat sebentar ke arahnya kemudian menundukan kepalanya lagi.
"Karena pernikahan kami mendadak, makanya kami tidak memberitahukan banyak orang. Begitupun dengan Papih yang belum tau tentang ini." Bi Wati langsung menutup mulutnya dan berkata.
"Apa neng Laura, hamil. Den?" Dengan polosnya Bi Wati bertanya.
"Tidak, Bu. Aku ga hamil." Membuat Laura menggelengkan kepalanya sedangkan pipinya memerah. Dan Larry kini malah menggigit bibirnya karena menahan tawa dengan pertanyaan Bi Wati.
"Tidak, Bi. Laura gak hamil. Hanya karena ada sesuatu yang mengharuskan kami menikah. Dan ceritanya panjang. Tidak mungkin saya menceritakan semuanya pada Bibi, kan?!"
"Iya, Den. Tidak apa."
"Saya harap, Bibi bisa menjadi orang tua dan teman buatnya."
"Tenang, Den. Bibi juga akan menjaganya."
"Terima kasih, Bi."
"Jadi, Bibi harus panggi apa, Den?"
"Panggil, seperti biasa ja, Bu. Seperti panggilan Ibu barusan." Seru Laura memotong sebelum Larry menjawab. Larrypun meng-Iyakan apa yang Laura bilang barusan.
"Ya, sudah. Kalau begitu saya, ke atas dulu." Pamit Larry sebelum berdiri.
"Oh, Iya. Manda, nanti bawa barang-barang kamu bawa ke atas. Di atas masih ada kamar kosong. Bi, nanti tolong di bantu ya," Sambung Larry lalu beranjak pergi meninggalkan mereka yang masih bengong.
Bi Wati tersenyum pada Laura dan memegang tangannya.
"Maafin Ibu, ya Neng?! Ibu tidak tau, kalau neng istrinya, Den Ian."
"Ah, tidak apa, Bu. Lagian pernikahan kami ini bukan karena dasar cinta, tapi karena keterpaksaan." Jelas Laura pada Bi Wati yang masih menggenggam tangannya.
"Nenek Laura yang meminta pernikahan ini, sebelum nenek meninggal. Kasian Mas Ian harus menikahi Laura yang mungkin saja diluar sana Mas Ian telah mempunyai pacar." Sesalnya, kemudian menitikkan air mata.
"Ini bukan salah kamu, Neng! Lagi pula setau Bibi, Den Ian belum punya pacar." Ucap Bi Wati menyemangati Laura.
"Ya sudah, gak usah dipikirkan. Kita lihat saja kedepannya. Takdir tidak ada yang tau. Yuk, beresin piring, lalu kita bawa barang-barangmu ke atas" Ajak Bi Wati Laurapun mengiyakan.
"Iya, Bu. Terima kasih sudah baik sama Laura." Peluknya penuh haru.