BAB 15

1039 Kata
Dalam gelap, Larry hanya menatap langit-langit kamarnya, ia mengingat satu persatu tentang pertemuannya dengan Laura dan Nenek Darmi sampai ahirnya sekarang takdir menjadikannya sebagai suami dari Laura. "Dari dulu kamu itu sudah cantik dan sangat lucu dengan pipi cabimu. Sekarang kamu tambah cantik dan manis dengan senyum dan lesung pipimu." Larry terus membayangkan Wajah Laura yang dulu terlihat lucu dengan yang sekarang terlihat manis. "Hidup ini, memang penuh kejutan." Larry mengusap wajahnya gusar. Tidak mau terus-terusan memikirkan hal tentang Laura, ahirnya Larry memaksakan menutup mata agar terpejam, yang lambat laun membuatnya tertidur juga. Tak berbeda dengan keadaan kamar sebelahnya. Laurapun kini menatap langit kamarnya mengingat kejadian saat Larry mengatakan kalau Laura adalah calon istrinya. Laura yang tidak percaya dengan itu, kini malah merasa bersyukur meskipun di antara mereka tidak ada rasa cinta. Ralat! Meskipun di antara mereka belum ada rasa cinta namun Laura sudah merasakan kalau Larry adalah orang yang baik. Laura yang kebiasaannya bangun pagi langsung pergi ke dapur. karena kamarnya kini di atas bersebelahan dengan kamar suaminya. Laura berjalan pelan-pelan setiap melewati kamar itu karena takut suara langkahnya terdengar dan mengganggu istirahat Larry. Laura tidak tau kalau kamar suaminya itu kedap suara mau teriak sekeras apapun tidak akan terdengar dari luar atau dalam. Kini Laura sudah berada di dapur untuk membuat sarapan dengan telaten membuatkan sarapan untuk beberapa orang yang berada di rumah itu. "Kemarenkan, sudah bikin nasi goreng. Jadi hari ini, aku mau bikin sandwich aja, dah!" Ucapnya pada dirinya sendiri. "Sudah bangun, Neng?!" "Astaghfirullah... Ibu, ngagetin aja!" Sahut Laura karena dikagetkan oleh Bi Wati yang menepuk pundaknya. "Maaf, Nenk." Sesalnya. "Tak, apa. Bu." Timpal Laura dengan menguraikan senyumnya. "Masak, apa? Biar Bibi yang bikin," Tawar Bi Wati, merasa tidak enak karena ternyata Laura adalah istri dari Bosnya. "Tidak usah, Bu. Biar Laura saja. Tidak apa, ko!" "Ya sudah, kalau begitu Bibi pergi bersih-bersih saja." "Iya, Bu." Laura tersenyum melihat kepergian Bi Wati. Meskipun Bi Wati terus memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Bibi. Namun Laura tidak mengindahkan panggilan itu. Sebagai anak gadis yang tau sopan santun, Laura tau dimana harus menempatkan diri saat memanggil orang yang lebih tua darinya. Laura sudah selesai membuat Sandwich isi telor mayones, kini ia berjalan ke ruangan untuk membantu Bi Wati bersih-bersih. Karena hari ini hari minggu Laura tidak pergi sekolah. Seperti hari-hari minggu sebelumnya Laura pasti akan menyibukkan dirinya dengan membantu Bi Wati. Setelah dari ruangan kini Laura berada di taman. Meskipun Bi Wati sudah melarang Laura untuk melakukan banyak pekerjaan, namun dengan senang hati Laura melakukannya. Saking asiknya dengan kegiatan di taman sampai membuat bibirnya mendendangkan lagu sembari tersenyum merekah. Laura tidak tau kalau kini ada yang memperhatikannya siapa lagi kalau bukan suaminya. Larry juga terbiasa bangun pagi setelah solat subuh Larry biasa untuk berolah raga. Sepulang joging Larry melihat sesuatu yang berbeda ditaman, apa lagi kalau bukan melihat Laura dengan senyum merekah. Larry perlahan mendekati Laura yang sedang sibuk dengan bunga-bunga dan nyanyian yang di dendangkannya. "Ehemm..." Laura yang sedang menyiram bunga-bunga dikagetkan oleh Larry, sehingga ahirnya tanpa sengaja Laura menyiram Larry. "Stop! Manda. Stop!" Larry menutupi mukanya yang tersiram air hingga bajunya kini basah kuyup. Laura melepaskan selang dari tangannya karena untuk menghentikan airnya Laura harus menutup keran terlebih dahulu. Laura hendak menghampiri Larry dan meminta maaf, namun sialnya kini Laura malah terpeleset karena kakinya terjerat selang yang melingkar membuatnya hampir terjatuh, untung keburu di tangkap Larry. Mata mereka beradu, keduanya saling menatap tapi Laura cepat tersadar dari kekagumannya dan melepaskan pegangan tangannya pada tangan kekar Larry. "Ma-Maaf, Mas. Ga sengaja" Gugupnya, pura-pura merapihkan baju. "Tak, apa. Kebetulan saya belum mandi," Bohongnya melihat raut muka bersalah Laura. Larry sudah mandi sejak subuh tapi karena berkeringat, ditambah sekarang sudah kuyup mengharuskan Larry untuk mandi lagi. "Kamu suka bunga?" Tanya Larry sebelum pergi meninggalkan Laura. "Iya, Mas." Jawabnya malu-malu. "Bagaimana kalau kita pergi ke taman bunga?" "Boleh mas?" Tanyanya dengan sumringah. "Tentu boleh." "Asikk..." Laura loncat kegirangan, itu terlihat lucu dimata Larry. "Awas jatuh!" Larry mengingatkan. "Ya, sudah. Mas mau mandi dulu. Kamu juga siap-siap." Titahnya, sembari pergi berlalu meninggalkan Laura. Laura pun bergegas mempercepat kerjaannya mengurus bunga-bunga, lalu membersihkan dirinya dan berganti baju. Di ruangan Laura bertemu Bi Wati yang sudah selesai beberes. "Cantiknya... Mau kemana neng? Sudah rapi begini?" "Di ajak Mas Ian, jalan Bu." Tidak lama setelah itu, Larry datang dengan pakaian santainya. Larry terlihat sangat berbeda kali ini wajahnya yang terlihat bersih tanpa janggut tipis di dagu membuatnya terlihat semakin tampan di mata Laura. Ya meskipun dengan janggut juga tetap tampan. Tapi tampan yang terlihat sangat dewasa dimatanya. Berbeda dengan sekarang, orang tidak akan berkata Laura berjalan dengan Om, Om. Melihat Larry dengan pakaian santainya, orang tidak akan menyangka dia seorang Ceo perusahaan. "Kamu sudah siap?: Tanya Larry begitu melihat Laura berdiri di tengah ruangan menunggunya. Laura dengan pakaian sederhananya Tshirt putih yang pas di badan dipadukan dengan jeans biru langit yang sudah lama tidak pernah dipakainya, dan sepatu yang biasa ia pakai kesekolah. Larry memindai dari atas sampai bawah. "Cantik.." Gumamnya. Tapi masa iya sepatu buat sekolah dipake buat jalan juga. "Kamu ga ada sepatu lain, selain itu? Bukannya itu sepatu sekolah?" "Iya, Mas. Sepatu sekolah. Laura gada sepatu lagi, cuma ini satu-satunya." Jujur Laura tanpa merasa malu. Seandainya Larry ga jadi mengajaknya pergi karena malu melihat penampilannya, itu tidak masalah bagi Laura. "Sebentar!" Ucapnya, sebelum Larry berlari menuju kamarnya. Tidak lama Larry pun kembali dengan membawa sepatu dan jaket. "Pakai jaket ini, karena kita mau naik motor. Kalau tidak, nanti kamu masuk angin." Sahut Larry memakaikan jaketnya pada Laura membuat hati Laura mendadak berdetak kencang. "Ini sepatu, coba kamu ganti yang itu. Mungkin sedikit kebesaran tapi tidak apa. Kamu bisa lebih mengencangkan talinya," Tambah Larry lagi dengan, memberikan senyumannya yang hanya di balas anggukan oleh Laura. "Tidak disangka, Mas Ian sangat baik. Mbah, Laura bahagia, meskipun tidak tau masa depan pernikahan ini akan seperti apa." Batin Laura yang memuji perhatian dan kebaikan Larry. "Sudah?" Larry menyadarkan Laura akan lamunannya. "Bi, Kami jalan, ya! Bibi masak buat Bibi aja. Kami makan diluar mungkin pulang malam " Pamit Larry pada Bi Wati yang berada didapur. "Pergi dulu ya, Bu." Laura juga ikut berpamitan. "Iya, Den. Neng. Hati-hati dijalannya," Bi Wati pun menghampiri mereka dan melihat kepergian sepasang suami istri itu menuju motor sport milik Larry.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN