BAB 16

1116 Kata
Ketika sampai di garasi Laura diam sejenak, merasa bingung ketika Larry mengajaknya untuk ikut naik motor yang kini Larry duduki, pasalnya motor sport itu tidak ada jok belakangnya, membuat Laura berdiri merenung. "Aku, harus duduk dimana? Mas?" Gumam Laura sedikit mengerutkan kening. Larry yang sadar kalau Laura merasa kebingungan, menepuk-nepuk jok kecil yang masih kosong di belakangnya. "Aku naik disini?" Tanya Laura penasaran, maklum meskipun di sekolahnya banyak yang membawa motor sport salah satunya adalah Rafka, namun Laura tidak pernah melihat mereka memboncengkan orang lain, makanya Laura kira motor itu hanya untuk sendiri saja, karena Laura juga melihat punya Rafka dan murid cowok lainnya tak ada jok belakangnya, padahal itu disengaja biar ga ada orang ikut membonceng. "Ya, disitu. Atau kamu mau duduk disini?" Larry menepuk bagian depan jok yang kini dia duduki, membuat Laura mengerucutkan bibirnya sebal. "Ya, sudah. Aku naik. Tapi maaf, aku boleh pegangangan ke pundak? Soalnya ga nyampe kalau langsung naik kesini," Laura meminta ijin dulu sebelum menaiki motor, membuat Larry menganggukan kepalanya. "Padahal, gak ijin juga ga apa." Batin Larry, membuatnya tersenyum geli melihat keluguan Laura. Setelah Laura naik dan mendudukkan bokongnya, Larry pun melajukan motornya berjalan menuju jalanan besar. Awalnya motor yang di kendarai hanya berjalan pelan, mengingat waktu sudah semakin siang dan matahari mulai meninggi. Ahirnya Larry pun sedikit menancapkan gas membuat Laura yang semula memegangi jaket Larry dengan sedikit longgar, seperti pegangan ke Bang ojek, kini ia lebih mengeratkannya. Larry sadar akan ketakutan yang Laura rasakan, membuatnya berinisiatif memegang tangan Laura dan menaruhnya ke perut Larry satu persatu. Setelah posisi kedua tangan Laura sudah tepat di bagian perut Larry, kini Laura memberanikan diri untuk memeluk Larry dengan erat tanpa tahu malu. Larry mengendarai motornya lumayan kencang, sedangkan Laura yang belum terbiasa di ajak kebut-kebutan merasa jiwanya setengah melayang. "Yang kenceng pegangannya! Kalau gak mau jatuh!" Sedikit berteriak Larry menyuruh Laura lebih mengeratkan lagi pegangannya. "Ini, sudah meluk kenceng banget loh! Mas!" Jawab Laura ikutan teriak, karena suara mereka memang terbawa angin yang berhembus. Kurang lebih 30 menit mereka pun sampai di Taman Bunga di sisi selatan kota Jakarta. Setelah memarkirkan motor pasangan suami istri itu turun dari motor, kaki Laura gemetaran mungkin pegal karena menahan badannya agar tidak terlalu menempel pada Larry meskipun memeluknya. "Kamu tidak apa-apa?" Larry melepaskan helmnya, dan menggantungnya di spion motor. "Tidak apa, Mas. Hanya, sedikit pegal," ujarnya. Larry melihat Laura yang kesusahan membuka helmnya mencoba untuk membantu. Wajah mereka lagi-lagi saling bertemu, sesaat mereka terdiam saling menatap manik mata satu sama lainnya, tiba-tiba sentuhan angin membuat rambut Laura menghalangi wajahnya dan menyadarkan mereka berdua hingga salah tingkah. "Ayo," Ajak Larry yang kini sudah berjalan meninggalkan Laura. Laura mengekorinya dia tidak mau berjalan beriringan dengan Larry karena merasa tidak percaya diri. "Kenapa kamu lambat sekali jalannya." Larry berhenti dan menoleh ketika melihat Laura tertinggal jauh di belakang. "Maaf, Mas." "Kenapa, minta maaf? Ayo," Hati Laura bergetar saat Larry menarik tangannya dan kini mereka berjalan beriringan dengan bergandengan tangan. "Mimpi apa aku semalam? Sampai Mas Ian menggandeng tanganku, seperti ini?" Batin Laura. Laura berjalan dengan terus merunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Menunduk bukan karena malu tapi lebih ke gugup, begitupun dengan kondisi jantungnya sedang tidak aman saat ini. Karena ini pertama kalinya bagi Laura di perlakukan dengan istimewa oleh orang lain. "Sepertinya, kamu lebih tertarik pada tanah yang kamu pijak. Dari pada bunga-bunga di depan sana," Goda Larry sambil melepaskan pegangan tangannya yang barusan menggenggam tangan Laura, lalu di masukannya kedalam saku jaket yang dikenakan. "MasyaAllah... Indahnya," Laura tercengang melihat pemandangan di depannya kini. Pasalnya ini adalah pertama kalinya Laura bisa melihat pemandangan indah di kota Jakarta. "Kamu, suka?" "Iya, Mas. Suka sekali." Sahutnya tanpa menoleh ke arah Larry. "Ayo, kita keliling. Kamu bisa melihat bermacam-macam bunga di dalam sana." Tunjuk Larry pada bangunan seperti rumah kaca. Mereka berdua berjalan berdampingan, layaknya sepasang kekasih meskipun status mereka sudah sah menjadi suami istri. Selama berada di Taman bunga Laura terus menampakan wajah sumringahnya. Larry yang baru kali berada dekat dengan Laura tidak menyangka ternyata Laura semanis dan secantik itu kalau tersenyum. "Apa benar? Ini Amanda yang ku kenal beberapa Minggu lalu?" Gumam Larry yang terus saja memperhatikan Laura. "Mas?..." Laura menoleh pada seseorang yang terus saja memandanya dengan tatapan menilik. "Mas?" Ulangnya. "Eh. Iya. Kenapa?" "Sudah sore, kita pulang yuk?" Ajaknya pada Larry yang sedari tadi bengong memperhatikannya. "Ayo. Tapi kita makan dulu ya?" Ajak Larry, di balas anggukan oleh Laura. Ahirnya merekapun berjalan menuju parkiran untuk mengendarai motornya menuju sebuah Restoran. Hari sudah sore ketika mereka memasuki sebuah Mall. Larry sengaja mengajak makan di Restoran karena sebelum pergi sudah berpesan pada Bi Wati kalau mereka akan makan di luar. Mereka berjalan ke sebuah Restoran Jepang setelah Larry memarkirkan motornya, terlihat banyak antrian disana yang membuat mereka harus menunggu. "Kamu gak apa, kalau kita harus antri dulu?" "Tak, apa. Mas." Senyumnya. "Padahal udah reservasi tapi masih aja harus nunggu." Kesal Larry. Sebelum keluar dari taman bunga Larry memang sempat membuat reservasi dulu tapi karena di jalan sedikit macet membuatnya datang sedikit terlambat. "Saya tinggal, ke toilet sebentar," Pamitnya pada Laura dan di balas sebuah anggukan. "Permisi. Permisi," Saat Larry pergi, tiba-tiba ada seorang pria tua yang menyerobot antrian dan berdiri di depannya membuat orang-orang yang berdiri disana menggerutu kesal begitupun dengan Laura. "Ini tempat saya, Pak! Bapak harus antri dulu dari belakang," Laura mencoba mengingatkan pria tua itu dengan sabar. "Maaf, maaf. Nenk! Istri saya lagi hamil, dia ngidam makan disini." Ucap lelaki tua itu, entah bohong atau tidak Laura hanya mendengarkan alasannya menyerobot antrian. Klik.. Klikk.. Seringai seseorang yang sepertinya bahagia dengan melihat interaksi Laura dengan pria tua didepan Restoran. "Itu, istri saya sedang duduk disana. Tadi kami juga antri." Lanjut pria tua itu lagi. "Saat istri saya merasa lelah, saya mengantarnya untuk duduk. Ketika kembali ke sini, saya lihat antrian sudah panjang," Sahutnya dengan mimik muka memelas. Laura merasa tidak tega, kata orang kalau ngidam kemauan Ibu hamil harus di turuti kalau tidak, anaknya ileran. Mengingat itu ahirnya Laura mengalah dan berpindah antrian ke belakang lagi, karena kasihan takut Bumil hilang moodnya karsna sudah terlalu lama menunggu. "Manda.." "Ya." Laura menoleh, ketika seseorang memanggilnya. Laura tau kalau itu Larry karena hanya Larry yang selalu memanggil namanya dengan sebutan Amanda, nama panggilannya semasa kecil. "Kenapa jadi di belakang lagi?" "Iya, Mas. Tadi ada Bapak-bapak yang menerobos antrian. Katanya istrinya kelelahan karena antri. Jadi, Laura kasih saja tempat kita." Jelasnya merasa bersalah karena membuat Larry harus menunggu lagi. "Tidak, apa. Kita masih banyak waktu." Jawaban yang tidak di sangka, padahal Laura takut Larry marah karena harus menunggu lama. Apa lagi sejak siang mereka belum makan apa-apa selama di taman bunga. Bukan karena tidak ada orang jualan, melainkan karena mereka lupa waktu saking asiknya berjalan-jalan melihat bunga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN