BAB 17

839 Kata
Jam menunjukan pukul 5 pagi. Laura sudah bangun dan memulai aktivitasnya seperti biasa. "Sudah bangun?" Larry berjalan tanpa suara menghampiri Laura. "Astagfirullah... Iya. Sudah, Mas!" Jawab Laura yang mengelus-elus dadanya dikagetkan suara Larry. "Mmm.. Ya, sudah. Saya pergi dulu," Pamitnya pada Laura yang bengong melihat uluran tangan Larry. "Ah, Iya. Mas. Mas Ian ga mau sarapan dulu?" Laura yang bengong tersadar dan menerima uluran tangan Larry lalu menciumnya dengan takzim. "Tidak. Nanti saya sarapan di Bandara." Jelasnya. "Hati-hati, Mas." Pesannya dibalas anggukan dan senyuman dari Larry. Setelah Larry berlalu dan tidak terlihat oleh matanya, Laura kembali mengingat perkataan Larry semalam saat di Restoran Jepang. Mereka makan di ruangan khusus yang sudah Larry pesan, tempatnya sangat romantis untuk pasangan kekasih. Larry sengaja memesan ruangan khusus agar merasa nyaman, karena ada sesuatu yang ingin di bicarakannya dengan Laura. Flashback On "Ini, Hp untuk kamu." Larry mengeluarkan box hp keluaran terbaru yang dibelinya ketika Larry pamitan pergi ke Toilet. "Kalau ada sesuatu yang penting ga usah malu atau ragu untuk menceritakan pada saya. Sekarang, saya adalah suami kamu. Kamu adalah tanggung jawab saya. Jika ada sesuatu yang kamu perlu atau kamu inginkan. Kamu bilang saja!" "Tapi, Mas. Aku tidak enak menerima semua ini? Mas sudah sangat baik padaku." "Ini bukan apa-apa." Paksanya. "Dengan Mas menerima tawaran Almarhumah Mbah untuk menikah denganku saja, itu sudah membuatku bahagia. Karena Mas, sudah menolong dan membantu ku dan Mbah keluar dari masalah dengan pemilik kontrakan." Potong Laura. "Itu, sudah kewajiban saya. Karena Mbahmu juga pernah menolongku." "Terima kasih, atas kebaikan Mas Ian. Meskipun di antara kita..."Laura diam tidak mampu melanjutkan ucapannya. "Kamu tidak perlu memikirkan itu semua," "Jika suatu saat, Mas Ian menemukan wanita yang Mas Ian, cintai. Saya siap kita berpisah kapan saja." Entah apa yang Laura pikirkan tiba-tiba saja dia berkata seperti itu. "Kamu pikir, pernikahan itu sebuah permainan, yang bisa disudahi kapan saja semaunya?" Larry sedikit emosi mendengar perkataan Laura yang dirasa menjatuhkan harga dirinya. "Maaf, Mas. Laura tidak bermaksud seperti itu." "Saya tau apa yang kamu pikirkan." Larry tiba-tiba menggenggam tangan Laura membuat pemilik tangan itu Syok. "Manda! Sebelumnya, saya memang menganggap diri saya sendiri bodoh, karena asal mengatakan, kalau kamu adalah calon istriku. Tapi, saya memang sedang mencari seorang pendamping. Karena saya tidak suka dengan rencana perjodohan orang tua. Membuat saya nekat mengambil tindakan untuk menjadikanmu Istri. Kamu boleh bilang kalau saya memanfaatkan keadaanmu waktu itu. Tapi demi tuhan saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup." Larry menggela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Seperti apa kata kamu, barusan. Meskipun di antara kita tidak ada rasa cinta. Tapi, maukah kamu? Maksudnya, Kita. Mencoba menjalin hubungan ini dengan baik?" Laura merasa tidak percaya dengan ucapan Larry. Tapi melihat tatapan matanya seperti tidak ada kebohongan dengan ucapannya. Lagi pula barusan Laura seperti menawarkan kesepakatan kalau Larry bisa menceraikannya kapan saja jika Larry sudah menemukan orang yang di cintainya. "Kamu, maukan? Untuk mencobanya?" Tanya Larry penuh harap. "Iya, Mas." Jawab Laura disertai anggukan dan senyum manisnya. Sebenarnya kalau Larry mau wanita manapun bisa dia dapatkan, tidak perlu sampai memohon seperti itu pada Laura. Tapi karena Larry tidak ingin perjalanan rumah tangganya seperti kisah rumah tangga orang tuanya. Larry berpikir lebih baik mencari pendamping dari kalangan biasa, seperti papihnya sekarang. Selain itu karena Larry mengenal Laura dan Almarhumah Neneknya. Flashback Off "Pagi-pagi sudah melamun," Lagi, Laura dikagetkan oleh suara seseorang, kali ini Bi Wati menepuk pundaknya. "Duh.. Astagfirullah. Bu Wati bikin kaget saja." Laura menoleh ke arah Bi Wati yanh berada di sampingnya. "Abis, masih pagi udah melamun. Ngelamunin apa sih? Neng?" "Nggak, Bu. Nggak ngelamunin apa-apa," Bohong Laura. "Aahh.. Bibi, tau. Pasti ngelamunin Mas Ian ya?" Godanya, seketika membuat pipi Laura memerah. "Nggak! Nggak, ko! Bu," Sangkalnya, membuat Laura salah tingkah. Bu Wati hanya tertawa melihat tingkah Laura yang kelabakan seperti maling yang ketahuan mencuri. "Ya, sudah. Laura mau siap-siap ke sekolah dulu, Bu." Pamitnya, mengalihkan pembicaraan. Padahal masih pagi buta. Masih ada waktu 30 menit lagi untuk bersiap-siap. *** Laura sudah sampai depan pintu gerbang Sekolah. Seperti hari-hari biasanya Laura di antarkan oleh ojek langganan yang di pesan Larry sebelumnya untuk antar-jemput istri kecilnya. Laura memasuki area sekolah yang menurutnya hari ini terlihat Horor, karena semua mata tertuju pada Laura yang berjalan melalui mereka. Di sepanjang perjalanan menuju kelas Laura mendengar bisik-bisik beberapa murid terhadap dirinya. Sebelumnya Laura menganggap ocehan mereka itu biasa, karena setiap hari pasti ada saja yang mereka omongin selain hinaan dan ledekan. Namun, kali ini berbeda. Bukan lagi hinaan dan ledekan tapi sudah sebuah fitnah yang menurutnya tidak beralasan. "Lihat tuh! Si buruk rupa yang sok pendiam itu!" "Sok pendiam! sok suci! Padahal diluar sana menjajakan tubuhnya!" Ocehan-ocehan itu mulai terasa panas di telinga Laura. Bahkan ketika Laura hendak memasuki kelas. Beberapa murid menatapnya sinis. "Nahh..! Itu dia! Si buruk rupa, datang." "Heh! Gembel! Yang sok pendiam, dan sok alim. Ternyata lu suka jualan kue basah sama Om-Om ya?" Laura yang tidak mengerti mengernyitkan alisnya. "Maksud kalian, apa? Saya tidak mengerti?" "Halahh... pura-pura polos lagi luh!" Seseorang mendorong tubuh Laura dengan kasar. "Ini nih... Murid yang sok polos tapi ternyata
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN