BAB 18

1206 Kata
Di kantor Larry terus memikirkan tentang rencana pertemuannya dengan Laura, setelah meminta Arman untuk mengambil motor di rumah papihnya, Larry juga meminta Arman untuk pulang bersama pak Alam, supir Larry. Keanehan ini membuat Arman sahabatnya heran, sebab tidak biasanya Larry bertingkah seperti itu. Meskipun penasaran Arman enggan untuk bertanya karena tidak mau terlalu ikut campur urusan bosnya, takut dikira ngelunjak, meskipun udah sahabatan lama Arman tidak pernah kepo urusan Larry karena nanti juga Arman akan tau sendiri, ya lambat laun Larry pasti akan cerita kepada nya meskipun tidak di pinta, jadi untuk sekarang biarkan saja dulu Larry menikmati hidup seperti yang dia inginkan, karena sebagai teman yang sudah lama mengenal bosnya, Arman tau bagaimana hidup Larry selama ini, hidup mewah bergelimang harta namun sebenarnya Larry adalah seorang yang kesepian. *** Larry sudah sampai di Universitas tempat Laura kuliah, Larry menunggu dekat halte disana banyak mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang berjalan keluar masuk gerbang, pemandangan yang biasa bagi Larry ketika para wanita melihat dan menatap kepadanya dengan terang-terangan mengagumi, namun ketika Laura datang menghampiri Larry semua wanita itu seperti mencibir Laura dan merasa iri. Mereka berdua pergi meninggalkan kampus, meninggalkan banyak pasang mata memandang dengan kecemburuan dan ke irian pada Laura. " Pegangan yang erat, kalau kamu tidak mau jatuh." Suruh Larry, karena sekarang Laura pegangan pada jaket yang Larry kenakan seperti pegangan ke mang ojek. " Ini udah." Sahutnya, menambah erat pegangannya ke jaket. " Kamu boleh peluk ko, ga perlu minta ijin, dari pada kamu jatuh, nanti saya di salahin." Goda Larry membuat Laura kesal, namun nurut lalu memeluknya. " Kenapa jantung gw berdetak cepat seperti ini." Batin Larry, yang kemudian menambah kecepatan membawa motornya, membuat Laura pun semakin bertambah erat memeluk Larry. " Huhh dasar mencari kesempatan dalam kesempitan." Gerutu Laura kesal, namun Larry dapat mendengarnya meskipun ocehan Laura terbawa angin. Beberapa menit berlalu, merekapun sampai ke tempat yang di tuju, Laura memasang muka kesalnya pada Larry karena membawa motor seperti kesetanan. " Kak, Kakak tuh bawa manusia, bukan bawa box kosong, aku hanya punya satu nyawa, gimana kalau aku terjatuh karena kaka bawa motornya ga bisa pelan?." Laura terus menggerutu sampai membuka helm saja dia ga bisa karena uring-uringan terus, berbeda dengan Larry yang menanggapi kekesalan Laura hanya dengan tersenyum, menurutnya sangat gemas melihat seorang gadis didepannya ini kalau sudah menggerutu. " Sini saya bantu bukain." Tangannya replek memegang tangan Laura yang masih mencoba membuka tali helmnya. " Saya bisa sendiri." " Iya bisa, tapi dari tadi belum ke buka juga kan? Biar saya bantu." Larry masih menawarkan bantuan dengan kata yang lemah lembut membuat Laura pun luluh dan membiarkan Larry membantunya. Laura menatap wajah Larry yang sangat dekat dengan wajahnya, sampai tiba-tiba Larry menoleh, dan mereka pun bertemu pandang membuat Laura gelagapan karena dia tertangkap basah sudah memandang pria di depannya itu. " Hmmm sudah belum kak?." " Iya sudah." Jawab Larry, yang kemudian seperti biasa Laura pergi meninggalkannya karena salah tingkah membuat Larry geleng-geleng kepala dan menaruh helm di atas motor. " Gadis aneh, dia yang memandang dia sendiri yang salting." Batinnya. Larry berjalan, menuju pantai dimana Laura berdiri sekarang. " Kak ga bisakah kita pulang sekarang aja? Nanti aku di marahin bosku." Terlihat jelas raut muka Laura kalau dia itu takut, mungkin takut di marahi dan juga di pecat. " Ngapain jauh-jauh kesini kalau harus pulang lagi." " Tapi bagaimana kalau nanti bos ku pulang? Aku belum masak apa-apa kak." Jujurnya lagi penuh kehawatiran, membuat Larry mengeluarkan handphonenya dan mengirim pesan pada seseorang. Tidak lama setelah Larry mengirim pesan, tiba-tiba ada pesan masuk ke hp Laura. " Laura, kata pak bos kamu ga perlu masak hari ini, karena bos akan makan di luar dan mungkin pulang telat, jadi hari ini kalau kamu ada urusan di luar, bos ijinkan." Setelah membaca pesan dari pak Alam wajah Laura pun tersenyum sumringah. " Bos ku memang sangat baik, andai semua orang kaya seperti bosku dan malaikat penolongku." Ucapan Laura membuat Larry ikut tersenyum karena secara tidak sengaja sudah memuji kalau Larry orang baik, tapi Larry juga tertegun dengan ucapan Laura karena menyebut malaikat penolong. " Siapa itu?." pikir Larry mengernyitkan alisnya. Larry dan Laura duduk-duduk di pantai menikmati keindahan sunset, sesekali mereka mengobrol tentang masa lalu Laura saat di jogja karena memang itu tujuan Larry mengajak Laura jalan-jalan ingin tahu tentang kehidupan masa lalunya. " Indahnya matahari sore." Seru Laura yang sengaja di dengar Larry. " Memang kamu belum pernah menikmati pemandangan langit sore?." " Belum pernah kak." " Kenapa? bukannya gadis-gadis seumuranmu biasanya menghabiskan waktu dengan bermain dan berkumpul bersama kawannya?." " Ya mungkin itu untuk anak gadis lain, bukan untukku kak?." " Kenapa?." Larry mengulang pertanyaan yang barusan karena merasa Laura belum memberikan alasan yang tepat padanya. " Ya karena hidupku berbeda dengan mereka, mereka bisa bermain dan berkumpul dengan teman sebayanya karena mereka tidak punya pekerjaan, berbeda denganku yang punya banyak kerjaan karena kalau aku tidak kerja, mana bisa aku makan dan mencukupi kebituhan sekolahku, belum lagi kadang aku harus membelikan obat buat nenek ku." Jelas Laura yang terdiam sebentar membuat Larry merasa tersentuh dengan cerita Laura. " Aku memang bersekolah di sekolahan elit dengan beasiswa tapi tidak semua di tanggung sekolah kak." " Apa kamu pernah menyukai seseorang di sekolahmu?." Tiba-tiba jiwa kepo Larry meronta-ronta, Laura menoleh sesaat ke arah Larry dan tersenyum sehingga lesung pipinya terlihat membuat Larry menelan ludahnya, gugup. Maklum di usia Larry yang akan menginjak 30 tahun, dia belum pernah yang namanya dekat dengan seorang wanita, meskipun di kantor kebanyakan karyawan wanita, bahkan klien pun belum pernah sedekat itu duduk dengan Larry, dan ya Laura adalah orang pertama yang beruntung bisa sedekat itu. " Aku pernah menyukai seseorang, namanya Rafka, dia murid terpopuler di sekolah, aku menyukainya karena dia sering menolongku dari bulian anak-anak lain, meskipun Rafka juga kadang melontarkan kata-kata pedasnya saat menolongku, tapi aku g bisa merubah hati untuk tidak menyukainya, aku yakin sebenarnya dia tidak kasar begitu, hanya karena dia gengsi dan takut aku tambah di bully jika mereka tau Rafka membelaku." Lirih Laura mengingat kejadian saat Rafka pernah membelanya, namun tiba-tiba di kagetkan dengan suara handphonenya yang bergetar. Laura melihat dan membuka pesan yang masuk dengan nomer asing yang tertera disana, membuatnya kaget karena pesan itu ternyata dari Rafka orang yang sedang dia kenang. " Assalamualaikum.. Laura, ini aku Rafka, Bagaimana kabarmu?." " Rafka? Bagaimana dia tau nomer hpku?." Laura bengong menatap layar handphone yang di genggamnya, melupakan seseorang yang kini berada di sampingnya ikut membaca dan menyaksikan raut muka Laura yang kaget itu. " Laura." Larry menepuk bahu Laura menyadarkannya dari keterkejutan. " Kamu kenapa?." Larry bertanya pura-pura tidak tau apa yang terjadi pada Laura sekarang. " Eh.. nggak kenapa-kenapa kak, maaf barusan melamun." Gugup Laura, melihat kembali layar hpnya dan mengembalikan pada menu layar utama, tanpa membalasnya terlebih dahulu. " Kak, sudah sore apa sebaiknya kita pulang saja?." Usul Laura yang mungkin saja nanti membuat Larry tersinggung. " Ya sudah kalau itu mau kamu, tapi kita makan dulu ya?." " Saya makan di rumah saja." " Makan dulu sebentar, nanti saya antarkan pulang, masa saya yang ngajak kamu tapi g ngasih makan juga, sejahat itukah saya?." Paksa Larry, ahirnya Laura mengiyakan karena merasa tidak enak. " Itukan ciuman pertamaku?." Kesal Laura, yang kemudian pergi meninggalkan Larry. * Happy reading...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN