BAB 19

1147 Kata
Laura sudah berdiri dari duduknya di atas pasir di tepi pantai, sedangkan Larry masih malas-malasan untuk bangun. Beberapa kali Laura meminta Larry untuk segera berdiri, namun Larry sengaja tidak menuruti kemauan Laura, malahan menggoda Laura terus menerus. " Bantu berdiri donk." Sahut Larry membuat Laura menghela nafasnya tapi tetap mengulurkan tangan juga. Setelah Larry merasa sudah menggenggam tangan Laura, iapun menarik tangan Laura berusaha berdiri namun yang terjadi justru Laura yang ketarik, dan jatuh tepat di atas tubuh Larry, yang secara kebetulan kini posisi bibir Laura dan bibir Larry beradu, mereka berdua membuka mata dan saling menatap satu sama lain, yang ahirnya membuat Laura tersadar. Laura buru-buru bangun, tidak kuat melihat wajah Larry yang saat itu menatapnya. " Maaf." Seru Laura dengan muka merah merona karena malu sudah mencium Larry walaupun itu ketidak sengajaan." " Wah jangan-jangan kamu sengaja jatuh di atasku, agar bisa menciumku ya?." Goda Larry lagi membuat Laura kesal. " Jangan asal nuduh kak, aku kan ga sengaja jatuh karena narik tangan kaka." Bela nya. " Oyahh." Ledek Larry, pura-pura tidak percaya padahal jelas-jelas Larry menarik tangan Laura dengan sengaja. " Asal kaka tau mmmm..." Laura diam sejenak , ragu-ragu untuk mengatakannya. " Itukan ciuman pertamaku!." Kesal Laura bercampur malu, yang kemudian pergi meninggalkan Larry. Larry tidak henti-hentinya tersenyum, ia terus memegangi bibirnya yang sudah beradu dengan bibir Laura, meskipun bukan ciuman layaknya seorang kekasih karena itu hanya ketidak sengajaan, namun kejadian itu membuat mereka berdua salah tingkah, karena itu adalah sama-sama ciuman pertama mereka. Di dalam restoran kedua insan yang sama-sama malu-malu itu kini sedang menikmati makan malam nya yang hanya di temani oleh suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring, tidak ada percakapan apapun di antara keduanya karena masih malu mengingat kejadian barusan, apa lagi Laura yang terus menundukkan kepalanya karena pipinya masih sangat terlihat merah, Larry menyadari sikap malu-malu Laura namun itu justru membuat Larry makin tambah suka. " Jadi rasanya seperti ini dekat dengan seseorang yang disukai?." Gumamnya dalam hati seraya tersenyum curi-curi pandang pada Laura. " What? barusan gw bilang suka sama dia? apa hati gw ga salah ngomong?, tapi beneran sih dia itu menarik, dia gadis pertama yang bisa sedekat ini sama gw." " Eh tapi kan dianya lebih suka sama Rafka sepupu gw?." Kesalnya mengingat cerita Laura tentang seseorang yang di sukainya di sekolah. Pergulatan batin Larry membuatnya sakit hati dirinya sendiri, dia mungkin menyukai Laura namun dia sendiri belum yakin dengan perasaannya, karena tidak mungkin perasaan suka datang dengan tiba-tiba, apa lagi tujuan utama Larry sebelumnya hanya ingin mencari tau kisah masa lalu Laura. " Aku sudah selesai makannya kak, jadi jam berapa pulang? ini sudah malam." Suara Laura mengagetkan Larry yang sedang melamunkan tentangnya. " Ah i-iya sebentar, saya habiskan dulu makanan saya." Entah kenapa Larry jadi terbata-bata begitu, mungkin gugup karena kedapatan sedang menatap Laura. Di sela-sela Laura menunggu Larry menghabiskan makanannya, Laura kembali melihat hpnya yang barusan terdengar kalau ada pesan masuk, Laura membuka layar hpnya dan dia tersenyum ketika nomer asing yang sama kembali mengirim pesan, siapa lagi kalau bukan dari nomer Rafka, karena Laura belum sempat menyimpan no itu. Berbanding terbalik dengan Laura yang senyam-senyum sendiri, Larry justru sedang mengerucutkan bibirnya sebal, seperti anak kecil yang di cuekin dan meminta perhatian orang tuanya kalau lihat kelakuan dia sekarang, makan sengaja berisik begitupun minum sengaja bersuara biar Laura menoleh ke arahnya, namun Laura tetap asik membalas pesan dari Rafka. " Kenapa pesan ku tidak di balas? Ini benarkan nomernya Laura?." " Iya aku Laura, tapi Rafka bagaimana kamu tahu nomerku?." " Mau tau apa mau tau banget?." " Ga perlu tau deh kalau begitu." " Iya, iya ku kasih tau, aku tau nomer kamu dari temen yang kuliah bareng sama kamu, katanya dia ada di kelas ekonomi bareng kamu, dia lulusan sekolah di jogja juga bareng kita." " Ko aku ga tau ya?." " Tapi dia kenal kamu, Laura kamu tinggal dimana sekarang?." Laura tidak lagi membalas pesan dari Rafka, karena kini Larry tersedak, Laura mengambilkan Larry minum karena gelas di depannya sudah kosong tak berair lagi. Laura lari menghampiri pelayan restoran yang sedang membersihkan meja lain, Laura bergegas kembali setelah mendapatkan segelas air, memberikannya pada Larry yang sedang menepuk-nepuk dadanya. " Terima kasih." Ucap Larry yang tersenyum pada Laura karena ternyata Laura sepanik itu melihat Larry tersedak. Laura tidak tau kalau Larry sengaja melakukan itu agar Laura tidak terus-terusan membalas pesan Rafka dan lebih memperhatikannya. Setelah dirasa sudah baikan, Larry pun mengajak Laura pulang, kali ini Larry memelankan motornya g mau cepat-cepat sampai rumah. " Kaaakk mau sampe jam berapa kalau bawa motornya pelan begini?." " Tengah malam juga ga apa-apa!." Sahutnya. " Kaka yang ga apa-apa, sedangkan aku? Bagaimana kalau di marahin sama bos, trus aku di pecat karena tidak tau diri?." " Tidak tau diri kenapa?." Tanya Larry merasa aneh, mana mungkin memecat Laura yang hanya pergi bersamanya. " Ya nanti aku di bilang ngelunjak, udah di kasih hati minta jantung." " Kamu minta jantung siapa?." Loadingnya Larry tiba-tiba muncul, membuat Laura tertawa terbahak. " Kenapa kamu tertawa?." " Lucu aja kak, kayaknya aku ga percaya kalau misalnya kaka kerja di kantor, secara Kakak kebanyakan loadingnya." Ejek Laura tanpa tau siapa orang di depannya sekarang. " Hmmm.. sebenarnya saya itu pura-pura saja, karena ingin membuat kamu tertawa, dan rencana saya berhasilkan, kamu barusan ketawa?." Jujurnya, karena tidak terima di sebut loading. " Iya, iya, kakak Ian yang paling pinter, paling ganteng, paling jail." Larry tersenyum, kalau kalian liat mukanya sekarang seperti kepiting rebus yang memerah, karena senang di sebut ganteng sama Laura. " Sebahagia ini kah gw? Cm di sebut ganteng sama ni cewe? Padahalkan banyak wanita yang sering bilang gw ganteng tapi justru gw malah merasa risih, tapi pada gadis ini kenapa gw serasa melayang." Batin Larry yang ocehannya tidak terdengar oleh Laura. " Tapi kak Ian beneran seorang pegawai kantoran kah?." Merasa tidak percaya karena kalau di bandingkan dengan bosnya yang selalu bilang ada kerjaan ke luar kota sedangkan Larry yang Laura ketahui sebagai Ian justru malah jalan-jalan dengannya. " Bos mu itu CEO kan, ya pantas saja kalau dia sibuk, asal kamu tahu, Bos itu lebih banyak pekerjaannya di bandingkan Karyawan tau!." Jelas Larry yang merasa kalau Laura tidak tau. " Begitu kah kak? Aku baru tau, Aku kira seorang bos tuh cuma enak-enakan saja duduk di ruangannya hanya menunggu laporan dari karyawan, trus tinggal tanda tangan aja gitu, seperti yang ku tonton di tv." " Ya ga begitulah." " Kalau begitu nanti aku akan lebih rajin memasak yang enak buat si bos, sebagai ucapan terima kasihku karena meskipun dia sibuk tapi selalu memperhatikan ku." " Waahh.. Pasti bosmu akan sangat merasa senang, punya pekerja yang sangat rajin dan pandai memasak." Puji Larry pada Laura yang semakin mendekat padanya, karena kalau berjauhan, obrolan mereka tidak akan terdengar jelas. " Bagaimana kalau misalnya kamu di jadikan istri?." Laura tertegun mendengar perkataan Larry. * Happy reading....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN