BAB 20

807 Kata
Dalam perjalanan pulang, kedua insan itu masih bercakap-cakap seolah tidak perduli lagi dengan waktu, percakapan yang sepertinya mengasikkan, karena sesekali obrolan mereka diselingi oleh tawa renyah Laura. " Kamu pandai memasak, dari mana kamu belajar?." Tanya Larry penasaran, karena setaunya yang pandai memasak pasti pernah belajar atau mengambil kursus. " Aku belajar sendiri kak." Jawab Laura singkat. " Maksudnya belajar sendiri tanpa kursus atau ada yang ngajarin gitu?." " Iya kak, aku kan sering bantu-bantu di warung, jadi sering lihat pemilik warung masak, kadang kalau pemilik warung sibuk melayani pembeli atau ada urusan lainnya aku yang masak." " Kamu pernah bekerja di restoran?." " Bukan restoran kak, warung kecil orang-orang biasanya menyebutnya warteg." Jelas Laura. " Lalu bos mu suka sama masakanmu?." " Suka donk ka! Makanya barusan aku bilang mau cari menu lain buat si bos buruk rupa yang baik hati." Serengeh Laura, tidak tau kalau orang didepan adalah bosnya. " Hebat kamu masih muda, sudah rajin, pandai memasak, kamu juga pintar." " Karena aku punya cita-cita, kelak kalau punya suami aku ingin memasak langsung untuk suamiku dari tanganku sendiri kak." " Emang kamu ga mau jadi wanita karir?." " Untuk sekarang, masih pengen jadi wanita karir, tapi kelak punya suami pengennya jadi istri seutuhnya kak! Yang tinggal dirumah memasak untuk suami." " Bagaimana kalau misalnya kamu di jadikan istri?." Laura tertegun mendengar perkataan Larry. " Jadikan istri oleh siapa?." " Ya oleh bosmu, secara kamu kan pandai memasak, mengatur rumah juga pintar, kamu cocok jadi ibu rumah tangga yang bisa mengayomi anak-anakmu nanti." " Hahahahah..." Terdengar suara Laura terbahak menertawakan ucapan Larry. " Kenapa ketawa lagi? Ada yang lucu?." " Iya kaka!.. Kaka tuh ada-ada saja, mana ada bosku ingin menjadikanku istri." " Ya bisa sajalah, kalau dia mau." " Itu tuh cuma ada di drama-drama yang sering aku nonton kak, atau novel yang sering aku baca, banyak seorang CEO pemilik perusahaan jatuh cinta dengan karyawannya, itu pun karyawannya kadang orang kaya juga." " Ya siapa tau aja gitu." " Ah kaka ngaco, di dunia nyata itu adalah hal mustahil kak." Larry terdiam mendengar penuturan Laura yang memang jarang sekali ia mendengar kalau seseorang yang kaya raya bisa bersanding dengan yang kelas rendah, tapi keadaan keluarga papihnya menyadarkan Larry. Meskipun sebelumnya mamih dan papih Larry sama-sama seorang yang kaya namun rumah tangga mereka tidak berlangsung lama, berbeda dengan istrinya yang sekarang, Ibu tiri Larry adalah seseorang yang tidak punya keluarga bisa dibilang miskin tapi rumah tangganya langgeng sejak Larry kecil hingga dewasa kini. Walau sebelumnya keluarga papihnya tidak menyetujuinya, tapi karena keteguhan hati papih dan ibu tirinya membuktikan keseriusan mereka hingga rumah tangga nya awet, dan mau tidak mau semua keluarga papihnya menerima juga, ya walau masih ada Larry yang tidak menyukainya. Sejenak Larrypun berpikir tentang dia yang menyukai Laura entah hanya sesaat atau bisa berlangsung lama karena Larry tidak yakin dengan perasaannya yang tiba-tiba itu. Tak terasa mereka pun sampai di rumah Larry, Laura turun dari motor dan seperti pertemuan pertama, Laura langsung mengusir Larry dari rumahnya sendiri karena melihat sudah ada mobil pak Alam yang biasa dibawa untuk mengantar jemput bosnya ke kantor. Tanpa banyak omong Larry pun pergi dengan tertawa karena melihat Laura yang mengendap-endap masuk seperti pencuri. Larry mengendarai motornya ke rumah Arman yang tidak jauh dari sana, hanya berbeda blok saja dari rumah Larry, rumah Arman juga tidak kalah besar dari rumah Larry tapi rumah Larry lebih luas dan mewah. " Gw titip motor disini ya?." Suara Larry mengagetkan Arman membuatnya menoleh ke arah suara. " Lahh.. di rumah lu kenapa emangnya?." Tanya Arman meskipun tidak aneh baginya kalau Larry bisa masuk ke rumahnya, selagi mereka belum berumah tangga, masing-masing saling memegang kunci rumah keduanya, karena takut ada sesuatu yang terjadi di luar dugaan. " Ntar gw ceritain." Jawab Larry yang kemudian pergi ke dapur mengambil air minum di kulkas. Arman hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu berjalan menjauhinya. " Jadi kenapa?." Tanya Arman setelah Larry datang dan duduk di sampingnya. " Sepertinya gw mulai menyukai gadis itu?." " Gadis? gadis yang mana?." Tengok Arman sekilas pada sahabatnya. " Laura." " Whaatt? Pekerja di rumah lu?." Larry tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya membenarkan Arman. " Tapi sekarang gw bingung?." Arman menoleh lagi tanpa bertanya. " Rafka juga menyukainya, masa gw harus saingan dengan sepupu gw sendiri demi mendapatkan gadis itu." " Lu yakin suka sama dia? bukan karena penasaran saja?." Arman menyahut mendengar penuturan Larry, bos sekaligus sahabatnya itu. " Banyak gadis yang mau sama lu, yang sudah jelas masa depannya, dari segi umur juga udah dewasa, jadi ga usah bersaing sama sodara sendiri, lagi pula dia masih anak-anak, masa depannya masih panjang, bukankah dia terima kerja di rumah lu karena dia mau kuliah?." Larry diam mendengar nasihat Arman, tapi harus bagaimana, hati ga bisa di paksakan begitu pun dengan cinta tidak tau akan berlabuh pada siapa. * Happy reading...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN