Sepanjang pelajaran yang kosong, banyak sekali tatap mata yang melihat ke arah kaivan tak percaya. “Apa benar, ini si culun kemarin?” salah satu anak perempuan yang memandang dari bangkunya diam-diam. “Tapi kalau bukan, kenapa itu si preman bisa ngenalin itu cogan?” sahut salah satu teman sebangkunya. “Iya juga, ya?” Di tengah keheningan kelas, Kaivan ternyata berusaha dengan sekuat tenaga untuk membujuk kekasih yang baru saja di temuinya selama dua belas tahun belakangan. “Kalau kamu masih mengacuhkan aku. Aku bisa saja pergi ke bangku Maira, Aku lihat dia cantik juga.” ancam Kaivan ketika dirinya sudah tidak punya cara untuk meluluhkan gadisnya. “Silakan saja kalau dia mau!” merasa aneh dengan tanggapan Eksha pun Kaivan hanya mematung melihat ke arah Maira dan gadis

