Di saat kesadarannya belum sempurna, Daru dibuat tidak bisa bergerak. Daru menelan ludahnya, kering. Wajahnya membeku saat perempuan itu berdiri di depannya lagi. Menyapanya dengan hangat seakan pertemuan mereka adalah sebuah pertemuan yang menyenangkan. Padahal Daru sendiri, dibuat gugup sekaligus kelu. “Hai, putraku.” Sapa Mama, perempuan yang ingin ia panggil Mama itu mendatangi ‘putranya’ lagi. Kini datang di kediaman Daru. Pagi hari di minggu yang belum matang sempurna. Pukul Sembilan kala itu, suara bel rumah berdentang dan membangunkannya dari tidur. Mama memeluk Daru, sedangkan Daru hanya pasrah. Ia bingung harus melakukan reaksi seperti apa, apakah ia harus melepas pelukannya atau malah menerimanya. Maka, disaat pikirannya sedang memroses itu. Mama sudah terlalu lama memeluknya.

