Saat kali pertama Hana membuka pintu kamarnya, ia dibuat tidak bisa bernapas. Di depannya, sofa ruang tamu rumahnya. Sudah terdapat seorang perempuan sedang membuka rantangnya. Perempuan yang sudah lama tak pernah Hana temui. Perempuan yang pernah menjadi luka paling menyakitkan dalam hidupnya. Hampir 20 tahun lalu. "Halo Hana!" perempuan itu mendongak. Langsung menyapa Hana dengan hangat. Hana diam, untuk apa membalas sapanya. Bukankah orang ini bukan orang yang masuk dalam kategori akrab? Meski secara struktur, namanya yang paling dekat. Mama. Luka-luka itu sepertinya sudah fasih dibahas. Menjadi luka paling besar dalam kehidupan Hana selain kematian ayahnya. Hanya saja, luka itu kini belum mati seutuhnya. Masih membiru dan pisaunya masih hidup. Melihat tak direspon dengan baik, ma

