"Randy tunggu!!" Mawar terus berusaha untuk menyejajarkan posisinya dengan cowok itu. Randy marah karena Mawar lebih memilih untuk tetap menjadi anggota klub pendaki, yang artinya sama saja Randy kalah dengan Daun.
Randy terus berjalan menyusuri koridor. "Randy..." Mawar menahan lengan Randy sekuat yang ia bisa. Akhirnya Randy menghentikan langkahnya.
"Kamu jangan marah dong, dengerin aku dulu." Kali ini Mawar berpindah posisi di depan Randy.
"Dengerin apa lagi? Udah jelas kamu lebih milih untuk tetap jadi anggota di klub itu, berarti sama aja kamu milih cowok itu daripada aku."
"Milih Daun maksudnya?" Mawar mengernyit.
"Gimana mungkin aku lebih milih cowok galak itu daripada pacar aku sendiri yang udah jelas-jelas aku suka." Nadanya polos dan terkesan manja, tetapi tidak dibuat-buat.
"Yaudah kalo gitu kamu harus keluar dari anggota klub itu," tegas Randy.
Mawar mendesah keras.
"Gini ya, Rand. Aku tuh nggak suka pas Daun bilang aku pecundang. Aku mau buktiin kalo aku nggak kayak yang dia bilang. Itu cowok kalo ngomong seenaknya banget, jadi aku harus kasih dia pelajaran sekali-kali dengan cara tetep ikut pendakian itu," cerocos Mawar dengan beraneka ragam gaya bahasa tangannya yang ikut mengiringi ucapannya.
Melihat Mawar yang berbicara cukup serius itu membuat Randy tidak perlu mengkhawatirkan lagi kalau gadis itu akan terpikat dengan Daun, musuh bebuyutan Randy sejak beberapa tahun yang lalu.
"Tapi cuma sampai pendakian, setelahnya kamu harus bener-bener keluar dari klub," ucap Randy penuh penekanan.
Mawar mengangguk cepat. "Iya, aku janji." Diacungkannya dua jari Mawar di depan wajah Randy.
Randy memegang kedua bahu Mawar. "Aku cuma nggak mau kamu deket-deket sama Daun, dia itu cowok nggak baik."
Mawar mengerutkan keningnya. "Nggak baik gimana?"
"Cewek baik-baik kayak kamu nggak akan pernah mau kenal dia lagi setelah aku ceritain gimana buruknya dia."
"Oke, kalo gitu kamu nggak perlu cerita. Seenggaknya sampai aku selesai ikut pendakian itu." Mawar menarik bibirnya menjadi senyuman segaris.
Randy mengacak puncak rambut Mawar, tidak lupa melemparkan gadis itu senyumnya yang paling manis.
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba jadi bersikap gini? Bukannya sebelumnya malah kamu yang nyuruh aku masuk ke klub pendaki itu? Emangnya kamu enggak tau kalau Bang Daun yang jadi ketua timnya? Dan ... kenapa kamu kayak selalu kesel gitu setiap ketemu sama dia?" cerocos Mawar tanpa henti.
"Aku udah tau kalau dia yang jadi ketua timnya. Tapi sekarang karena kamu udah jadi pacar aku, aku enggak mau lagi kamu deket-deket sama dia Paham?"
Mawar malah mengulum senyumnya.
"Kenapa mukanya gitu?" tanya Randy dengan kening berkerut.
"Seneng aja karena kamu cemburu sama cowok lain," jawab Mawar cengengesan.
Randy pun meniadi salah tingkah.
*****
Baru saja Dero membuka pintu, Mawar sudah berdiri di balik pintu itu. "Astaga, Mawar," kata Dero kaget.
"Hehe... Hai, Kak." Mawar mengacungkan lima jarinya ke udara.
"Mau masuk?" tanya Dero.
Mawar mengangguk.
"Yaudah masuk duluan deh, gue mau buang sampah dulu," ucapnya sambil memperlihatkan bak sampah yang ada di tangannya.
Mawar melangkah masuk ke ruangan klub. Tatapannya langsung tertuju ke cowok yang duduk seorang diri di sofa.
"Eh, Mawar. Sini sini." Anji mengibaskan tangannya guna memanggil Mawar. "By the way, thankyou, ya. Kemaren udah bantuin bersihin ruangan ini," ujar Anji ketika Mawar sudah mendekat.
Reno yang tengah duduk di depan Anji menolehkan kepalanya ke Mawar yang ada di belakangnya. "Cewek manja kayak gini? Bantuin lo bersih-bersih?" Nadanya terdengar seperti tidak percaya dengan Mawar.
"Itu Kak, sebenernya ...." Mawar melirik ke Daun yang menatapnya tajam, seolah Daun melarangnya untuk memberitahukan tentang kejadian kemarin.
"Sebenernya kenapa?" Dero baru kembali dari luar, menepuk bahu Mawar.
"Kemarin itu bukan saya yang ...." Belum sempat Mawar menyelesaikan ucapannya, Daun sudah menarik tangannya dan membawa Mawar keluar ruangan, menjauhi ketiga orang yang kini sedang saling menatap penuh keheranan.
"Sakiiiiit!" Mawar memutar pergelangan tangannya agar terbebas dari genggaman Daun yang cukup kuat. Sekarang keduanya sudah berada di depan ruangan klub.
"Nggak usah ngebahas lagi masalah kemarin," tukasnya lantas menatap Mawar dengan garang.
"Soal Bang Daun bantuin gue bersih-bersih? Atau soal gue yang mau keluar dari klub?" Delikan mata dari Mawar membuat Daun menjadi salah tingkah.
"Saya nggak bantuin kamu bersih-bersih, tapi emang saya yang ngebersihin semua ruangannya," kata Daun tegas.
Namun, Mawar justru menyulut senyum karena cara bicara Daun yang membuatnya selalu tidak bisa habis pikir. Kok ada, ya, cowok datar seperti orang di depannya ini?
"Kenapa malah senyam-senyum? Saya lagi serius," ucap Daun geram.
"Mukanya bang Daun lucu," jawab Mawar semakin memasang senyum yang lebar.
Daun menggaruk tengkuknya lantaran menjadi sedikit salah tingkah. Lalu tidak sengaja ia menangkap senyum ledekan dari gadis itu.
"Pokoknya kamu jangan sampai bocor soal masalah kemarin," tegas Daun sekali lagi.
Bukannya mengiyakan, Mawar malah mengerlingkan matanya dengan sengaja. Saat ini yang membuat Mawar senang adalah membuat Daun terlihat gugup.
"Iya-iya," ucap Mawar pada akhirnya.
"Dan untuk keluarnya kamu dari klub .... "
"Nggak kok nggak jadi. Gue tetep ikut pendakian itu," ucap Mawar memotong ucapan Daun dengan cepat.
Entah kenapa, Daun merasa lega dengan keputusan yang akhirnya Mawar pilih. Hampir saja ia mengeluarkan senyuman sebelum separuh kesadarannya mengingatkan bahwa gadis di depannya adalah gadis yang mempunya hubungan spesial dengan musuhnya, Randy.
Daun berbalik hendak meninggalkan Mawar dan kembali ke dalam ruangan. Baru dua langkah, Daun berbalik lagi menghampiri Mawar.
"Satu lagi."
"Apa?" Mawar mengerlingkan mata dengan menahan geli.
"Jangan pasang muka kayak gitu lagi." Sekarang Daun benar-benar menghilang di balik pintu itu.
Mawar masih di posisinya, memikirkan kembali apa yang barusan Daun bicarakan.
"Muka kayak gitu? Gimana?" gumamnya dengan salah satu alis yang tertarik ke atas. Setelah menggedikan bahu, Mawar mengikuti Daun kembali ke dalam ruangan.
"Tumben amat lo Bang, megang-megang tangan cewek." Tepat ketika Daun menghempaskan bokongnya di sofa, Anji bersiul ria. Dan tidak digubris oleh Daun.
Tidak lama dari itu, sekarang giliran Mawar yang memasuki ruangan. Ikut mengambil posisi duduk di sofa, bersebelahan dengan Daun.
"Ada apaan sih kalian? Jangan-jangan ...." Anji menyipitkan matanya lantaran merasa ada sesuatu yang janggal antara Daun dan Mawar. Begitupun Dero yang hanya bisu menyaksikan aroma-aroma menyengat dari dua orang itu. Berbeda dengan Reno yang menatap Mawar dengan tajam, lalu menghampiri Mawar, berdiri di depannya.
"Lo?"
Mawar mendongak, memenuhi panggilan Reno dengan alis yang mengerut.
"Saya Kak? Kenapa?" Mawar menunjuk dirinya sendiri.
"Lo ada hubungan apa sama Daun? Jangan-jangan lo ikut klub ini cuma karena mau deketin Daun?" tanya Reno dengan sinis.
"Gue nggak ada hubungan sama ini cewek." Daun membuka suaranya dengan nada yang terbilang santai.
"Lagian Mawar bukan tipe ceweknya Daun banget, Ren." Dero berkomentar.
"Iya tuh bener. Bang Daun kita mah punya selera tinggi. Suka sama cewek tinggi, sexy, anggun, pinter, dan paling penting suka kebersihan," tambah Anji yang secara tidak sengaja membuat Mawar merasa jengkel di posisinya.
Dero menyenggol lengan Anji. Seolah memberikan kode kalau Mawar tengah mendengar apa yang baru saja Anji katakan. "Eh, bukan maksud gue gitu kok, War." Anji meringis ke Mawar.
Gadis itu mendesis. "Lagi siapa juga yang mau deketin cowok galak kayak gini." Ekor matanya melirik ke cowok di sebelahnya. Yang dilirik hanya menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sebelahnya.
"Terus apa tujuan cewek manja kayak lo mau-maunya ikutan kegiatan ekstrem begini?" selidik Reno semakin membungkukan punggungnya lantas menatap Mawar dari dekat.
"Ya ... Saya cuma mau tau tentang alam kok," jawab Mawar agak tersendat. Ia menjadi gusar dengan jarak wajah Reno yang cukup dekat, terlebih Daun di sampingnya tidak bereaksi apa-apa. Paling tidak membantunya keluar dari posisi kurang nyaman ini.
"Bohong? Ayo jujur." Reno semakin menelisik Mawar dengan tatapan intens-nya. "Terus, kok lo sering banget masuk ke ruangan ini sendiri? Sementara anggota yang lain jarang ngelakuin hal kayak apa yang lo lakuin. Apalagi di ruangan ini, cuma lo cewek sendiri."
Mawar meneguk salivannya ketika tangan Reno terjulur ke depan menyanggah di dinding sofa, mengunci kepalanya untuk tetap tegak. "Emangnya lo nggak takut kalo kita berempat macem-macem sama lo?" Tatapan Reno sekarang membuat Mawar cukup takut.
"Apaan sih lo, Ren? Nggak lucu bercandanya," ujar Dero mendorong Reno menjauh dari Mawar, seiringan dengan itu Daun bergegas keluar ruangan. Wajahnya terlihat malas menonton apa yang sedang dilakukan Reno pada Mawar.
Semua mata tertuju pada Daun. Sementara Mawar menahan dadanya yang masih gemetar karena Reno.
To Be Continued