Bab 11 - Tentang Daun

2187 Kata
Mawar tidak pernah habis pikir kalau cowok yang disukainya, cowok yang selama ini selalu mengabaikannya, cowok yang tidak pernah mau menolehnya, kini justru berkata bahwa cowok itu ingin Mawar menjadi kekasihnya. Mawar bagaikan mimpi. "Coba lo ulangin sekali lagi," pinta Mawar pada Randy yang menatapnya berbinar. Cowok itu mengambil kedua tangan Mawar untuk ia genggam. "Aku mau kamu jadi pacar aku," ucap Randy dengan menekankan setiap katanya. Mawar mengerjapkan matanya dengan kuat. Ucapan yang tadi ia dengar benar-benar nyata. Terlebih, Randy mulai menggunakan bahasa yang lembut padanya, aku-kamu? Mawar mengangguk dengan cepat. "Aku mau, mau banget." Senyum sumeringah terpancar dari wajah oval milik Randy. Lalu, cowok itu membawa tangan Mawar ke udara, dan dikecupnya punggung tangan Mawar dengan sangat lembut. "Tapi ... Kesepakatan kita gimana?" Wajah Mawar berubah menjadi masam, menyurutkan rona bahagia sebelumnya. "Terserah kamu. Kamu bisa lanjutin, atau kamu stop. Aku selalu dukung apapun yang akan kamu lakukan." Nadanya halus berbeda dari sebelumnya. Malam ini, detik ini, saat ini cowok itu seolah telah berubah menjadi pribadi yang sangat berbanding terbalik dari sebelumnya. Dan itu membuat Mawar semakin melengkungkan bibirnya, bahagia. "Kalo gitu aku berenti aja, ya. Lagian aku takut dingin nanti di Gunung itu," rengek Mawar sangat menjadi. Detik berikutnya, gadis itu menyandarkan sisi kepalanya di bahu Randy. Randy, cowok yang sering bernada kasar ke Mawar, seketika berubah menjadi cowok yang super lembut di depan Mawar saat cowok itu mulai menyusun rencana di otaknya. Tangannya bergerak mengusap rambut Mawar, dikecupnya sisi kepala Mawar, dan membuang seringaian yang amat licik. Untuk saja Mawar sedang terhanyut dalam kebahagiannya, jadilah gadis itu hanya terpaku pada bahu Randy yang kekar dan terus melempar senyum ke udara. ***** Suasana sepi menyelimuti sebuah rumah sederhana, tetapi terlihat begitu nyaman dan artistik. Seorang wanita paruh baya dengan menggunakan bergo abu-abu panjang tengah duduk seorang diri di ruang makan. Wanita itu menunggu seseorang sejak tadi, sesekali menengok ke arah pintu yang terlihat lurus dari posisinya. Wanita itu terlihat hampir putus asa karena ketidak datangan putra satu-satunya. Ia menunduk menatap piring kecil dengan sepotong kue vanilla dengan buah kiwi di atasnya. Wanita tersebut menoleh ke arah pintu, ia mendengar suara pintu terbuka yang ia yakini itu adalah anaknya. Wanita itu bangun dari duduknya. Menyambut seorang anak laki-laki yang membuatnya kuat untuk menjalani hidup dalam sepuluh tahun ini. "Kamu sudah pulang, Nak," sapa lembut wanita itu, "tadi mama bawakan kue kesukaan kamu dari toko, dimakan, ya." Wanita itu hendak mengambil piring berisi kue di meja, tapi anak laki-laki itu menahan lengannya. "Nggak usah. Saya kenyang, saya mau istirahat aja di kamar," ucapnya seperti biasa, dingin dan datar, sekalipun itu ke ibu yang melahirkannya. Kakinya melangkah melewati wanita itu, yang hanya bisa menghela napas pelan. Sebagai seorang ibu, Ajeng tidak pernah bisa memberikan waktu panjang untuk bertatap muka dengan putranya. Sekadar mendengar cerita sang anak pun, rasanya itu sulit. Jadi, apa yang selalu anaknya lakukan padanya seperti tadi, Ajeng hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Baru saja Daun keluar dari dalam kamar mandi, Mama-nya sudah tengah terduduk di tepi kasurnya, menunggu anak laki-laki yang wajahnya mirip dengan dirinya. "Sudah selesai, Nak?" tanya Ajeng, Mama-nya Daun. "Ada apa?" Alih-alih tidak menjawab pertanyaan sang Mama, Daun justru membalik pertanyaan. Ajeng menggeleng. "Tidak, tidak ada apa-apa. Mama hanya ingin melihat keadaan putra Mama," ucapnya tersenyum. Daun mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ada di tengkuknya, lalu ia meletakkan handuk itu di sandaran kursi belajarnya. Daun melangkah ke almari pakaiannya, mengambil kaos putih polos, dan memakainya, menutupi tubuhnya yang padat berisi tapi tetap terlihat atletis. Daun mengambil posisi duduk di kursi belajarnya. Seolah dia memang menghindari untuk duduk di sebelah Ajeng. "Saya baik-baik aja," ujar Daun sembari menatap layar komputer di depannya. Ajeng menghampiri Daun, berdiri di samping anaknya itu. "Mama harap, kamu tidak pernah memperlakukan gadis yang ada di dekat kamu seperti ini, rasanya menyakitkan, Nak." Nadanya parau, namun tetap terdengar tegar dan kuat. Daun tetap tidak menggubris ucapan Mama-nya. "Maafin mamah." Entah untuk berapa juta kalinya Ajeng mengucapkan kata itu. Sebelum melenggang pergi, Ajeng mengusap lembut bahu Daun. Kemudian, dikecupnya puncak rambut Daun yang sedikit kaku, seperti nada bicaranya yang tak pernah lembut pada siapapun. ***** Derap kaki Mawar membawanya sampai di depan pintu klub pendaki. Memang sudah menjadi kebiasaan gadis itu yang tidak pernah mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan. Langsung saja Mawar membuka pintu dengan perlahan. Matanya sedikit mengintip terlebih dahulu untuk mengetahui siapa yang ada di dalam sana. "Eh, Mawar. Sini, sini." Anji mengibaskan tangannya guna memanggil Mawar untuk menghampirinya. Mawar melangkah masuk menuruti intruksi Anji yang sepertinya sedang melakukan sesuatu, lebih tepatnya membongkar beberapa barang yang ada di dekatnya seperti isi alamari dan beberapa berkas yang ada di dalam laci. "Ada apa, Kak?" "Aku boleh minta tolong nggak?" "Minta tolong apa?" Mawar sudah berada di hadapan Anji. Anji menepuk-nepuk tangannya guna membersihkan setumpuk debu yang menempel di sana. Dari beberapa menit yang lalu, cowok itu tengah membersihkan ruangan ini. "Hari ini kan jadwalnya aku piket." Mawar mengernyit, belum mengerti benar maksud Anji. "Maksudnya bersih-bersih ruangan ini," koreksi Anji, yang dilegakan oleh Mawar. "Terus?" Mawar mengambil posisi duduk di sofa yang ada di sana. "Tapi barusan Reno telpon, dia minta anterin buat survey ke tempat peralatan hiking." Seiring Anji berbicara, langkahnya membawa ia sudah duduk di dekat Mawar. "Jadi, maksud Kak Anji, Kakak minta Mawar untuk gantiin Kak Anji piket?" tanya Mawar tampak polos. Sontak Anji menepukkan tangannya sekali. "Nah, pinter banget kamu," pekiknya kemudian menyeringai, "mau, ya?" "Tapi .... " "Kenapa? Kamu sibuk, ya? Sekali ini aja kok, soalnya Reno suka salah kalo nge-survey tempat gitu," rayu Anji lebih terkesan seperti sebuah pemaksaan. "Saya nggak ngerti harus bersih-bersih kayak gimana?" Ya, selama hidupnya Mawar tidak pernah melakukan kegiatan bersih-bersih di manapun termasuk di rumahnya sendiri. Mawar terlalu malas untuk memperhatikan tentang kebersihan, baginya sudah ada orang-orang yang bertugas untuk itu. "Gampang kok, kamu tinggal rapihin barang-barang ini." Anji melirik ke tumpukan barang yang ada di depan alamari kayu itu. "Terus kamu masukin ke lemari, abis itu kamu tinggal sapu terus pel, dan ngelap debu pake kemoceng ini." Anji menyodorkan kemoceng yang sedaritadi memang ada di tangannya. Mawar meringis. Pasalnya tujuan ia ke ruangan klub adalah untuk meminta izin keluar dari klub ini, tapi Mawar bukan tipikal cewek yang gampang menolak permintaan tolong dari seseorang. "Ehm ... Yaudah deh, Kak," ucap Mawar pada akhirnya. Anji langsung bergegas. Menyerahkan kemoceng ke tangan Mawar, mengambil ransel yang ia letakkan di meja. "Makasih banyak sebelumnya, ya." Setelah menepuk bahu Mawar, Anji melenggang pergi. Sementara Mawar tidak bergeming. Melirik ke benda berbulu di tangannya dengan tatapan geli. Mawar juga menggoyang-goyangkan kemoceng itu di udara. "Gimana cara gunain benda ini?" gumamnya. Setelah melepaskan ransel di punggungnya, Mawar mulai bergerak. Meskipun ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa, setidaknya intruksi dari Anji tadi bisa membantunya sedikit. Mawar tengah mengingat kembali apa yang diucapkan Anji tadi. "Bersihin debunya, terus masukin lagi ke lemari." Mawar hendak mengulang kalimat di otaknya. Pelan-pelan Mawar memukul barang-barang yang berdebu itu dengan kemoceng. "Huaaaachhiiimmm .... " Mawar bersin. Sesekali ia mengusap hidungnya yang mulai memerah. Berikutnya, Mawar membawa beberapa benda di tangannya, dan dipindahkan benda-benda itu ke dalam lemari di bagian teratas. Dengan penuh hati-hati Mawar menata benda itu. Mawar menoleh ke arah pintu, ada seseorang yang datang. Daun. Cowok itu menghampiri Mawar dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan gadis itu. "Ngapain?" tanyanya dengan alis yang mengerut. "Bersih-bersih." Dan tumpukan barang itu jatuh dari dalam lemari, sehingga menibani sebagian tubuh Mawar. "Awhh .... " Gadis itu mengaduh kesakitan di lengannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Daun memindahkan barang-barang yang menibani Mawar ke lemari. Kali ini tatanannya lebih rapi dan tidak begitu tinggi, berbeda dari yang Mawar lakukan tadi. "Di mana-mana mah orangnya dulu yang dibantuin, ini malah barang-barang nggak berguna itu yang ditolongin," gerutu Mawar, tidak lupa dengan mengerucutkan bibirnya ke depan. Masih tanpa suara, Daun mengulurkan tangannya ke Mawar. "Nah, gitu dong." Mawar meraih uluran tangan dari Daun. Kemudian, tanpa jeda setelah Mawar berdiri, sontak Daun melepaskan kaitan tangannya dari Mawar. "Ngomong-ngomong, bantuin dong, Bang. Kak Anji nih yang nyuruh." Seringaian termanis Mawar keluarkan untuk merayu Daun agar membantunya. Namun, yang Mawar dapatkan justru cowok itu melengos, memilih duduk di sofa. Mawar mendesis sebal. Kemudian, Mawar mengambil sapu yang ada di belakang pintu dengan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Gadis itu masih jengkel dengan sikap Daun yang menurutnya sangat menyebalkan. Daun menyeringai malas ketika melihat Mawar yang sedang menyapu dengan asal. Mawar mengibas-ngibaskan sapu ke setiap arah, otomatis debu di lantai bertebaran kemana-mana. Entah Mawar sengaja karena masih merasa sebal, atau memang dia tidak tahu cara menyapu yang benar. Daripada penyakit berdatangan, lebih baik Daun turun tangan. Ia menghampiri Mawar, lalu menyambar sapunya. Mawar terkekeh geli, ditambah senyum kepuasan terpancar dari bibirnya. Sepuluh menit berlalu, Mawar membuka matanya, mengerjap, dan mengucek menghilangkan gradasi blur di tatapannya. "Gue di mana?" tanyanya. Pandangan Mawar beredar ke sekitar dan menemukan dirinya sudah tertidur di sofa. "Gue tidur? Apa pingsan? Kok gue lupa?" Mawar menoleh ke sampingnya, ada Daun yang duduk santai di bangku sambil menatapnya tajam. Sontak Mawar bangkit, merubah posisinya menjadi duduk bersila di sofa. "Bang, gue tidur ya?" tanyanya, yang sama sekali tidak dijawab oleh Daun. "Bentar bentar." Sejenak Mawar berpikir, mengingat kembali apa yang sedang dilakukannya sebelum ia tertidur. "Oiya," pekiknya membuat Daun menyunggingkan bibir dengan malas. Mawar memperhatikan seluruh ruangan dengan menyipitkan matanya. Menghampiri lemari juga membuka beberapa laci di sana, semuanya sudah tertata rapi dan terlihat bersih. Matanya mencari wajah super dingin itu. "Makasih ya, Bang." Mawar bergumam. "Sini deh, Bang." Mawar mengibaskan tangan memanggil Daun untuk duduk di sofa bersamanya. Masih. Tidak ada sahutan dari cowok itu. Mawar mendesis, mau tidak mau dia harus menghampiri Daun dan menarik lengan cowok itu sekuat mungkin. Daun sangat malas, tapi dia tetap mengikuti gerak kaki Mawar. Pada akhirnya Daun duduk bersebelahan dengan Mawar di sofa. Ada sesuatu di dalam ransel yang Mawar ambil. "Taraaa ...." Sebuah kotak bekal berwarna merah diacungkan ke udara. "Karena Bang Daun udah bantuin gue buat bersih-bersih, sekarang gue kasih imbalannya," ucap Mawar seraya membuka kotak bekal itu. Daun masih sama, tetap bergeming. "Nih ...." Mawar menyodorkan sepotong roti tawar berlapis tepat di depan bibir Daun, otomatis cowok itu menjauhkan wajahnya. "Ini ... Makan ...." Mawar lebih mendekatkan lagi roti tawar di tangannya. "Apaan sih, saya nggak mau," sahutnya ketus. Dengan bahu yang melorot, Mawar memasukan kembali roti tawar itu ke dalam kotak bekal. Bibirnya sengaja dimanyunkan terlalu ke depan. "Gue kan cuma mau ngucapin terimakasih," melasnya. Ekor mata Daun melirik ke Mawar yang terus merengek. Seketika ingatannya berputar kembali, di mana ucapan sang Mama yang terniang di benaknya. Daun mengembuskan napas keras, menyambar kotak bekal dari tangan Mawar, membukanya, dan menyantap sepotong roti tawar itu. Mawar menoleh dengan cepat, entah kenapa ia merasa sangat senang karena cowok dingin itu mau merubah pikirannya. Senyum Mawar terus mengembang tak pernah pudar. "Lagi?" Mawar mengambil potongan roti berikutnya ke Daun, awalnya Daun malas menerima, tetapi lagi-lagi Mawar sengaja menampilkan wajah melas. Akhirnya Daun mengambil potongan roti tawar dari tangan Mawar. "Mawar, " seru seseorang dari arah luar. Mawar dan Daun menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Randy dengan wajah yang cukup terkejut bercampur marah, memasuki ruangan klub. Tatapannya langsung tertuju ke arah Daun. Sinis, tajam, membara, dan sangat garang. "Hei, Rand. Kok kamu tau aku di sini?" tanya Mawar pada pacar barunya, polos dan tanpa dosa. Randy menarik tangan Mawar untuk bangun dari duduknya. "Awhh ...." Tentu saja tarikan Randy yang cukup kuat itu membuat Mawar mengaduh kesakitan. "Kenapa sih?" Tidak ada yang menjawab Mawar. Gadis itu tampak heran melihat Randy dan Daun yang saling bertatap muka tanpa arti yang jelas. "Bukannya aku udah bilang ke kamu, keluar dari anggota klub pendaki ini?!" Mawar tersentak, Randy bertanya padanya tapi dengan nada yang tinggi. "I-iya ... Tadinya aku mau bilang ke Kak Dero, tapi dianya nggak ada. Terus aku malah .... " Belum sempat Mawar menyelesaikan ceritanya, Randy menarik lagi tangan Mawar untuk mengikutinya. Meninggalkan Daun yang bergeming di posisinya. Sebelum mencapai pintu, Randy menghentikan langkahnya, berbalik mencari Daun yang masih duduk di sofa. "Karena lo ketua team di sini, jadi sekalian aja gue mau bilang kalo pacar gue udah resmi keluar dari anggota klub," ujar Randy dengan tegas juga lantang. Mawar hanya diam, tidak ikut ambil suara dalam percakapan satu arah ini. Baru saja Randy akan berbalik, Daun mengeluarkan suaranya. "Oke, kalau kamu mau keluar dari klub ini." Daun berdiri. "Yaudah beres berarti," sahut Randy. "Saya bukan ngomong sama Anda, tapi sama Mawar." Otomatis gadis itu melebarkan matanya, baru pertama kali Daun memanggilnya dengan benar. "Kalau kamu memang mau keluar dari klub ini sekarang juga, itu sama aja kamu menyia-nyiakan perjuangan peserta yang lainnya. Kamu telah merebut posisi peserta yang seharusnya ada di posisi kamu sekarang seenaknya aja, kamu pecundang." Pertama kalinya lagi, Mawar mendengar kata yang begitu banyak dari pita suara Daun. Bahkan Mawar menggerakkan jari-jarinya guna menghitung jumlah kata yang Daun ucapkan. "Terserah lo mau bilang apa, yang jelas Mawar udah nggak ada hubungannya sama klub ini." Randy membawa Mawar keluar dari ruangan, akan tetapi gadis itu memilih untuk memutar lengannya agar terlepas dari genggaman Randy. "Enggak, aku nggak akan keluar dari klub ini," ucapnya dengan tegas dan lantang. Seperti Mawar pada biasanya. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN