Mempunyai rumah besar yang ditinggali oleh satu Kakak, satu Om, dan tiga pekeja rumah tangga, rasanya terlalu sepi bagi Mawar yang selalu senang berada di keramaian. Mawar lebih baik berada di kampus sekalipun tidak ada jam kuliahnya hari ini.
Seharusnya ia juga berbaring seharian saja di kamar, mengingat kondisi tubuhnya yang masih belum fit seutuhnya. Akan tetapi saat ini, gadis itu tengah berada di kantin kampusnya. Siapa lagi yang ingin ditemui Mawar sekarang ini selain Randy.
"Selamat pagi, Randy," sapanya dengan ceria.
"Hai, Mawar," balas Randy dengan ramah.
"Kayaknya kita dianggap makhluk gaib doang nih, Bro," celetuk Toni ke dua orang lainnya. Memang sedaritadi, Randy sedang duduk bersama ketiga temannya.
Sejujurnya pandangan Mawar hanya terarah ke Randy, alhasil tidak ada siapapun menurutnya selain Randy.
Mawar menoleh ke ketiga cowok yang ternyata sudah duduk di sampingnya.
"Hai, kalian," sapa Mawar pada mereka sembari melambaikan tangan. Serempak tiga cowok itu membalas sapaan Mawar.
Randy menendang kaki ketiga temannya. Menggerak-gerakan kepalanya sebagai kode bahwa ketiga cowok itu harus pergi dari tempatnya.
"Iyak iyak, paham kita mah," ucap Dani langsung melengos pergi. Diikuti kedua yang lainnya.
"Ada apa?" tanya Randy pada Mawar. Kali ini dengan nada yang manis. Tidak seperti sebelumnya saat Randy belum mengetahui bahwa Mawar adalah adik kandung Melati.
"Kemaren gue ikut kegiatan kemah dari klub pendaki. Seruuuu banget." Mawar mengacungkan jempolnya ke udara. Randy terkekeh geli.
"Terus?" Cowok itu menopang dagu dengan salah satu tangannya.
Mawar menceritakan setiap detail apa yang dia lakukan pada hari kemarin. Lantas sambil menyulut senyum, Randy selalu menjadi pendengar yang baik dari awal sampai akhir cerita Mawar.
"Jadi masih ada tahap seleksi lagi?" tanya Randy pada akhirnya.
Mawar mengangguk seraya dengan bibirnya yang manyun.
"Kalo lo nggak lolos gimana?" tanya Randy dengan kerutan di keningnya.
"Pasti lolos," jawabnya sangat yakin.
"Kalo enggak?"
"Coba lagi." Kali ini lebih nadanya terdengar lebih mantap.
Randy mengernyit. "Coba lagi gimana? Kan harus ikut pendaftaran berikutnya."
"Iya, enam bulan lagi."
Seketika ekspresi wajah Randy menegang. Ia sangat ingin menghentikan apa yang akan dilakukan Mawar karena persyaratan yang ia berikan sendiri, tetapi itu gagal. Mau tidak mau Randy harus menunggu sampai Mawar benar-benar selesai melakukan kegiatan mendaki. Namun, kalau Mawar tidak lolos seleksi, apa harus Randy menunggu lagi selama enam bulan?
"Terus kemaren itu gue sempet sakit," lanjut Mawar bercerita.
"Ohya? Terus? Sekarang udah enggak apa-apa?" tanya Randy berlagak cemas.
"Udah sembuh, kok. Untungnya ada abang-abang yang baik gitu sama gue. Ya ... walaupun mukanya serem," celoteh Mawar.
"Abang-abang?" Randy terlihat bingung.
"Gitu deh. Enggak usah diomongin lagi. Nanti orangnya keselek," balas Mawar yang membuat Randy terkekeh.
*****
Suasana tegang membungkus ruang klub pendaki sejak beberapa belas menit yang lalu. Pasalnya keempat cowok berbadan atletis itu sedang merembukkan tentang para peserta yang akan lolos untuk melakukan pendakian minggu depan.
Hanya lima orang yang akan lolos seleksi. Empat orang sudah dipastikan menjadi peserta baru dalam klub pendaki itu. Namun, ada dua nama yang menjadi perdebatan Dero, Anji, Reno, dan Daun.
"Udah, sih. Anggun aja yang kita lolosin," ujar Reno.
"Tapi Mawar juga cukup memenuhi persyaratan, Ren." Anji mengomentari.
"Mawar anaknya manja gitu. Kemaren juga dia sempet sakit, nanti kalo di Puncak dia malah nyusahin, gimana?" Reno kukuh dengan penolakannya ke Mawar yang menjadi peserta terakhir yang akan lolos.
"Tapi dia anaknya punya semangat yang tinggi. Meskipun sakit, tetep aja dia ikutan climbing." Anji menimpali lagi.
"Ah, pokoknya gue nggak setuju kalo Mawar. Gue lebih ke Anggun," sewot Reno.
"Oke oke gini deh, Bro. Kita voting aja gimana?" Kali ini Dero ikut dalam obrolan itu. Sejak tadi ia hanya memperhatikkan bersama Daun yang memisahkan dirinya sendiri di bangku lain.
Sekadar informasi kalau ruangan klub ini memiliki satu sofa panjang, satu pasang kursi besi dan meja yang di depannya terdapat satu kursi juga. Kursi itu yang kemarin di duduki para peserta dalam rangka mendaftar ke klub ini. Di sisi lainnya ada dua bangku yang menyandar di dinding. Selebihnya hanya almari sedang untuk menyimpan macam-macam berkas juga peralatan mendaki. Tidak lupa foto-foto hasil pendakian yang tertempel di dinding secara acak.
"Oke, gue setuju. Gue pilih Mawar." Anji mengambil suara pertama.
"Gue Anggun." Sudah jelas itu pilihan Reno.
"Gue ... Mawar." Ini Dero.
"Elo gimana, Bang?" Anji berpindah pandang ke Daun yang bergeming.
"Pasti Daun pilih Anggun-lah, sejak kapan dia mau nerima peserta yang manjanya kayak Mawar," sinis Reno. Sejak pertama kali cowok itu melihat sikap Mawar yang kekanak-kanakan, membuatnya menjadi jengah ke gadis itu.
Daun masih terdiam, mengusap dagunya lantas berpikir sesuatu.
"Bang? Lo pilih siapa?" tanya Dero lebih ke sebuah paksaan.
Daun bangun dari duduknya, menghampiri meja yang sedang dikerumuni ketiga cowok itu.
"Mawar," ucapnya lalu pergi meninggalkan ruangan.
Tentu saja membuat yang lainnya mengernyit bingung.
*****
Suara melengking yang diciptakan Mawar ketika ia melihat namanya berada diurutan kelima dalam peserta yang lolos seleksi di klub pendaki, seketika membuat seluruh orang yang ada di koridor menatapnya heran.
Gadis itu terlalu gembira sampai tidak bisa mengontrol intonasi suaranya yang sangat memekikkan telinga. Mawar tidak peduli dengan sekitarnya, dia hanya peduli kalau saat ini hatinya sungguh amat senang.
Berbagai macam kata Mawar lontaran sebagai bentuk kegembiraannya. Mawar terus bergumam sampai langkah kakinya membawanya sampai ke kantin.
"Pokoknya gue harus pesta!" Mawar mengedarkan pandangan ke jejeran lapak makanan yang ada di kantin. Lantas Mawar berlari kecil menghampiri lapak di sana, bergantian dari lapak satu ke lapak berikutnya.
Setelah selesai Mawar mengambil posisi duduk di salah satu bangku. Menunggu semua pesanannya datang.
Selang beberapa menit, lima penjual dari lapak itu secara bersama menghampiri Mawar dengan sesuatu yang di bawa di tangan mereka masing-masing.
"Silakan Mie Ayam-nya, Neng."
"Ini Bakso-nya."
"Seporsi Somay datang."
"Soto Mie nya tiba."
"Dan ini Es Teh manis untuk Neng cantik."
Lengkap sudah pesanan Mawar tersaji di meja.
"Terimakasih, Pakde, Bukde, Mamang, dan Pak Jajang," ucap Mawar sangat sumeringah, tangannya dikatupkan ke udara.
"Sama-sama, Neng Mawar," jawab serempak para penjual itu, mereka sudah cukup mengenal Mawar seperti apa. Mereka tidak heran lagi kalau Mawar memesan makanan sebanyak ini pasti ada sesuatu yang dirayakan gadis itu.
Satu per satu para penjual itu pun berangsur pergi. Mawar sudah akan mengambil ancang-ancang untuk memakan semua pesanannya.
Dimulai dari menyeruput Es Teh, lalu menyantap baksonya. Detik berikutnya, Mawar berpindah posisi ke bangku di depannya.
"Selamat, ya, Mawar. Lo udah berhasil keterima jadi anggota di klub pendaki." Mawar menjulurkan tangannya ke depan, seolah ia menjadi orang lain yang memberikan ucapan selamat ke dirinya sendiri.
Kemudian, Mawar berpindah lagi ke tempat duduk semula. Ia bergaya membalas jabatan tangan seseorang.
"Terimakasih terimakasih." Mawar manggut-manggut. Senyumnya begitu mengembang, Mawar melanjutkan lagi makannya. Ia tidak peduli dengan tatapan aneh dari orang yang sesekali melihat ke arahnya.
"Lo makan semua ini sendirian?" Entah datang darimana, Dero sudah duduk di depan Mawar.
Mawar mengangkat wajahnya. "Kadang saya kasihin ke penjualnya lagi, tapi tetep dibayar kok."
"Kenapa nggak ngajak temen-temen lo untuk makan ini semua?"
"Saya nggak punya temen untuk diajak makan." Nadanya terlalu santai untuk mengucapkan kalimat yang terdengar miris di telinga Dero.
Mawar masih terus menghabisi bakso-nya yang sebentar lagi habis.
"Kalo gitu, biar gue yang temenin lo makan, ya."
Sontak Mawar menatap Dero terang-terangan. "Kak Dero mau temenin Mawar makan?" tanyanya dengan mata yang berbinar, seolah Mawar tidak percaya dengan apa yang Dero katakan barusan.
"Mau-lah ... Siapa coba yang nggak mau ditraktir makanan sebanyak ini." Langsung saja Dero menarik mangkuk berisi Soto Mie ke dekatnya.
"Gue makan yang ini, ya." Cowok itu sudah bersiap menyantap hidangan yang sudah di depan matanya.
Spontan Mawar mengangguk. Hatinya merasa terharu kala ada seseorang yang mau menemaninya seperti ini. Pasalnya selama Mawar akan makan di kantin, ia selalu sendiri.
"Jadi, makan-makan ini dalam rangka apa?" Dero masih mengunyah makanannya.
"Karena saya udah resmi jadi anggota di klub pendaki," jawab Mawar mulai beralih ke piring somay-nya.
"Oiyaya, selamat, ya, ngomong-ngomong."
"Makasih Kak Dero." Mawar melebarkan senyumnya terlalu ke atas.
Dero tengah terlihat mengambil ponsel di saku celananya. Jari-jarinya menari di atas layar, seperti sedang mengetik sebuah pesan untuk seseorang.
"Kak Dero mau pesen lagi?" tanya Mawar dengan rautnya yang berbinar. Rasanya ia tidak ingin moment menyenangkan ini cepat berlalu.
"Boleh, gue pesen es jeruk satu sama somay-nya satu lagi, ya."
Mawar melesat ke lapak jajanan, memesan apa yang diminta Dero barusan.
Ketika Mawar kembali dengan es jeruk dan sepiring somay yang ada di tangannya, mulut Mawar terbuka lantaran melihat ada orang selain Dero yang duduk di tempatnya tadi.
"Ini, Kak." Mawar meletkkan pesanan Dero di meja. Matanya mengerjap ke arah Anji yang melambaikan tangan padanya.
"Enggak apa-apa kan, gue ikut gabung?" tanya Anji.
Mawar mengangguk samar, masih tidak percaya kalau dua cowok yang tidak begitu dekat dengannya, bersedia menemaninya makan.
Anji menyambar mangkuk berisi Mie Ayam. Dero mengangkat Es Jeruk ke udara.
"Kita bersulang untuk Mawar yang udah resmi jadi anggota di klub pendaki kita," seru Dero. Otomatis Anji juga mengangkat Es Teh ke udara, begitupun Mawar. Mereka saling mengadukan gelas bersamaan, suara dentingan itu membuat Mawar semakin sumeringah.
*****
Mawar meletakan secangkir teh hangat di meja. Tatapannya terlalu senang ke cowok yang kini duduk di sebelahnya. Tepat di malam minggu, dan untuk pertama kalinya, ada seorang cowok yang mendatangi rumahnya seperti ini.
"Diminum, Ran," suruhnya.
Randy mengambil cangkir berwarna putih dengan corak biru itu, lalu meneguk teh hangat yang ada di dalamnya.
"Kok rumah lo sepi? Pada ke mana?" Randy melirik ke sekitar rumah yang tidak ada tanda-tanda orang berlalu-lalang di sana.
"Kak Melati mungkin lagi di kamarnya, terus kalo Om Fahri baru pulang lusa dari Bandung."
"Om Fahri? Lo tinggal sama Om lo?" tanyanya tampak terkejut.
Mawar mengangguk. "Ada Bi Ratna sama Mba Rina, terus Mang Didi juga sih."
"Para pekerja di rumah ini?" tanya Randy lagi karena Mawar mengucapkan ketiga nama itu terdengar sudah seperti keluarganya sendiri, jadi wajar kalau Randy harus memastikan lagi.
"Iya." Mawar mengangguk. "Tapi mereka udah gue anggap kayak orang tua sendiri, dari kecil mereka yang ngurusin gue sama Kak Melati."
"Orang tua lo?"
"Mereka udah lama meninggal," jawabnya tersenyum. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kesedihan di raut wajah Mawar.
Randy meneguk salivannya lantaran merasa salah bertanya.
"Eh, iya. Btw, selamat ya, akhirnya lo udah keterima jadi anggota klub pendaki," ucapnya lagi berusaha mengganti suasana yang tegang tadi.
"Lo udah tau?" tanya Mawar melebarkan matanya.
"Tadi gue liat di mading."
Mawar mendesis. "Seharusnya gue copot aja tadi itu pengunguman, soalnya kan gue mau kasih kejutan gitu buat lo," gerutu Mawar sambil mencebikkan bibirnya ke bawah.
Randy terkekeh geli melihat ekspresi Mawar. "Udah sih, pake kejutan segala."
"Lo tunggu di sini sebentar, ya. Gue mau ke kamar sebentar, ada yang mau gue ambil."
Randy mengiyakan dan Mawar beranjak dari posisinya menuju anak tangga untuk naik ke kamarnya.
Tidak lama kemudian ada suara derap langkah kaki menuruni anak tangga membuat Randy menoleh ke asal suara. Ia pikir itu Mawar, tapi bukan.
"Hai, Mel." Melati menghampiri Randy di ruang tamu.
"Kamu ngapain di sini?" tanyanya seperti tidak suka atas kehadiran cowok itu.
"Aku lagi ketemuan sama Mawar, dia lagi ke kamar dulu ngambil sesuatu," jawabnya dengan senyum.
Melati mengangguk. "Oh, yaudah aku permisi dulu kalo gitu." Gadis itu berbalik.
"Mel." Randy memanggil Melati. Gadis itu berhenti, memutar lagi posisi tubuhnya menghadap Randy.
"Sebenarnya, hubungan kamu sama Mawar ada apa? Kenapa kalian terlihat nggak akur gitu?"
"Kalo kamu ke sini cuma untuk cari tahu urusan orang lain, lebih baik kamu pergi," balasnya ketus. Lalu, berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Mawar bilang sama aku kalau kalian nggak ada apa-apa. Kalian akur, dan Mawar juga bilang kalau kamu sangat menyayangi dia." Ucapan Randy berhasil membuat Melati menghentikkan lagi langkahnya.
"Tapi dengan tatapan kamu waktu di Kantin, saat aku lagi sama Mawar, membuktikan kalau memang ada sesuatu di antara kalian. Dan kalo kamu peduli sama Mawar, seharusnya waktu itu kamu nggak nyuruh aku untuk melanjutkan rencana aku ke Mawar."
Melati yang bergeming di posisinya, mulai mengepalkan salah satu tangannya dengan kuat. Ia mulai risi dengan Randy yang sudah tahu terlalu jauh tentang urusan pribadinya.
"Sekarang aku sendiri akan memperjelasnya." Randy menghela napasnya sebelum melajutkan lagi ucapannya. Sedetik ia memejamkan matanya.
"Kalo kamu memang peduli sama Mawar, kamu nggak akan tinggal diam saat aku bikin Mawar sakit hati karena menyukai seseorang seperti aku."
Melati tetap terdiam. Kakinya baru akan melangkah sampai Randy melanjutkan ucapannya lagi.
"Dan sebaliknya, kalau kamu hanya diam, udah jelas buat aku mengerti tentang hubungan kamu dan Mawar yang memang ada apa-apanya."
Melati sama sekali tidak menggubris satupun ucapan Randy, kakinya benar-benar melangkah menjauh dari cowok itu.
Bersamaan saat Melati baru akan menaiki anak tangga, Mawar turun dari anak tangga itu. Mereka berpapasan. Ada keheranan dari ekspresi Mawar ketika ia merasakan ketegangan antara Randy dan Kakaknya.
"Mawar, aku mau kamu jadi pacar aku." Masih dengan posisi yang sama, Randy sengaja memperkeras suaranya agar Melati mendengar kalimat itu.
Dan tentu saja Mawar berubah menjadi patung untuk seketika.
To Be Continued