Bab 9 - Mencari Perhatian Kakak

1151 Kata
Semua panitia dan peserta sudah memasuki bis untuk kembali ke kampus. Seperti biasa, Mawar selalu yang terbelakang. Dia menaiki bis terakhir. Hampir semua tempat duduk sudah terisi. Hanya ada beberapa yang kosong di bagian belakang. Setelah mengedarkan pandangannya ke sekitar, kedua mata Mawar berhenti ketika menemukan sosok Daun yang duduk di pojok paling belakang. Sambil memejamkan matanya. Dengan wajah semringah, Mawar duduk tepat di sebelah cowok itu. "Hai, Bang Daun," sapa Mawar dengan ceria. Yang disapa berjengit dan menoleh ke Mawar. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya ketus. "Duduk," jawab Mawar spontan. "Pindah ke tempat lain," suruh Daun tanpa segan. Mawar menggeleng. "Enggak mau. Enakan di sini." Daun menghela napas seraya memejamkan matanya sesaat. Lantas dia membuang pandangan ke sisi lain. Suara mesin mobil pun menyala. Menandakan kalau mereka siap pulang. "Bang, soal semalam ... makasih, ya," cetus Mawar membuka obrolan. Tidak ada jawaban dari Daun. Cowok itu berpura-pura tertidur. "Mungkin kedengerannya sepele, tapi entah kenapa ... gue seneng banget dapet perhatian kayak yang elo lakuin semalem. Pokoknya makasih banyak ya. Suatu saat gue akan bales budi ke elo." Tetap sama. Tidak ada sepatah katapun yang dilontarkan Daun. Meski begitu, ternyata Daun tetap mendengarkan Mawar. "Omongan gue ini konyol enggak, sih?" Mawar menoleh ke Daun sesaat. Tidak ada pergerakan sama sekali dari cowok itu. "Elo beneran udah tidur, Bang?" Mawar mengembuskan napas kasar. "Padahal masih ada yang mau gue ceritain ke elo. Tapi yaudah deh. Mungkin lain kali." Bahu Mawar tergedik. ***** Sejak semalam Fahri sangat mencemaskan tentang keadaan keponakannya itu. Mawar memang memberitahukan Fahri kalau ia akan mengikuti kegiatan perkemahan yang diadakan klub pendaki. Akan tetapi Mawar sengaja tidak memberitahukan tempat di mana kegiatan berlangsung. Karena Mawar sudah tahu, Fahri pasti akan menyusulinya. Sedaritadi Fahri terus mondar-mandir di ruang tamu menunggu kepulangan Mawar. Dari semalam juga, tak hentinya Fahri menghubungi sekretaris pribadinya untuk mencari informasi tempat perkemahan yang ada di Jakarta maupun di luar Jakarta. "Adik kamu beneran nggak bilang apa-apa ke kamu?" tanya Fahri pada Melati yang hanya duduk santai di sofa. "Enggak," singkatnya. "Kamu udah tanya kampus kamu?" "Males," jawab Melati sengit. Fahri melebarkan matanya ke arah Melati yang justru membalas tatapan itu dengan santai. "Seharusnya Om langsung ke kampus kamu dari kemarin." Saking paniknya, Fahri tidak berpikir sampai ke sana. Padahal bisa saja informasi tempat perkemahan mudah di dapat dari petugas kampus. Baru saja Fahri akan melangkah keluar pintu, Mawar sudah datang dengan ransel merah muda di punggungnya. "Mawar?" Fahri menghampiri Mawar, lalu memeluknya. "Kamu kemana aja, Sayang?" tanyanya setelah melonggarkan pelukan. Pria yang belum menikah itu memperhatikan Mawar dari atas kepala sampai bawah kaki. "Mawar kan udah ijin sama Om," jawabnya terlalu santai. "Iya, Om tahu. Tapi kenapa kamu tidak memberitahukan tempatnya? Om khawatir sama kamu." Fahri menggiring Mawar yang ada di rangkulannya, masuk ke dalam rumah. "Kalo Om tahu, terus Om mau apa? Pasti Om akan dateng ke tempat perkemahan kan?" Mawar mengambil posisi duduk di sofa, bersama Fahri di sebelahnya persis. "Hai, Kak," sapa Mawar melambaikan tangannya ke Melati. Yang disapa malah melengoskan wajah ke sisi lain. Fahri merapikan rambut Mawar yang terurai. Lantas pria itu juga mengelus lembut rambut keponakan yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri. Karena Fahri sangat menyayangi Anggrek, kakak satu-satunya. Mawar sangat mirip dengan Anggrek daripada Melati yang lebih mirip dengan Ayah-nya. "Untuk apa kamu ikut kegiatan seperti itu?" tanya Fahri membuka obrolan lagi. "Mawar daftar di klub pendaki gitu, Om. Kalo Mawar lolos di seleksi kali ini, Minggu depan Mawar akan ikut mendaki Gunung." Nadanya sangat antusias, cara Mawar bercerita persis seperti waktu Mawar berusia empat tahun. Cara yang tidak pernah berubah dari seorang Mawar setiap menceritakan kisahnya. "Mendaki gunung?" Fahri tampak sangat terkejut. Mawar mengangguk cepat. "Tapi itu berbahaya, Sayang," ucap Fahri mencoba menghentikan rencana Mawar. "Mawar tau, tapi Mawar akan terus ikut kegiatan itu sampai akhir. Jadi, Om nggak boleh larang Mawar untuk ikut," ucapnya tersenyum. Membuat Fahri merasa bahagia karena Mawar terlihat begitu semangat, walaupun hatinya selalu cemas dikala gadis itu melakukan hal yang menurutnya berbahaya. Sesaat Fahri menatap Mawar dengan resah, mengelus rambutnya lagi, dan menarik Mawar ke dalam dekapannya. Rasanya telinga dan mata Melati sudah cukup panas menyaksikan adegan drama di depannya. Satu-satunya alasan Melati untuk tetap duduk adalah karena Fahri yang sedaritadi terus menahannya dengan pandangan mata yang tajam. "Om, kak Melati nanyain Mawar, nggak?" tanya Mawar penuh harap. Fahri tidak menjawab. Dia hanya menatap Mawar dengan iba. Ekpsresi yang mudah ditebak oleh Mawar. "Pasti enggak ya, om?" tanya Mawar lagi dengan melas. "Enggak usah pikirin sikap kakak kamu, ya. Kamu kan, tau sendiri. Dia memang begitu orangnya. Jangankan sama kamu, sama om aja kakak kamu itu enggak mau ngobrol." Mawar bisu. ***** Mawar menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya. Keluar desahan panjang karena gadis itu sangat lelah dengan kegiatan kemarin. Tubuhnya juga mulai terasa pegal-pegal. Sesaat mata bulat itu terpejam. Beberapa detik Mawar membuka matanya dengan cepat. Ada sesuatu yang tiba-tiba lewat di benaknya. Lebih tepatnya seseorang. Bang Daun? Mawar bangkit dari posisinya, melirik bingkai foto Ayah dan Ibu-nya di nakas tempat tidur. Mawar meraihnya. "Mawar kangen sama Ayah sama Ibu, padahal baru semalam Mawar tinggalin kamar ini." Mawar tersenyum, mengecup gambar yang ada di bingkai foto itu. "Mawar cape banget nih, Yah, Bu. Masa Mawar harus jalan kelilingin semua area perkemahan. Malemnya ada kegiatan climbing juga. Awalnya Mawar sempet jatuh, tapi akhirnya Mawar berhasil. Mawar seneng banget," ceritanya panjang lebar, tentunya dengan gaya yang cukup heboh sebagaimana Mawar pada biasanya. "Yah, Bu. Sebenernya alasan Mawar untuk kegiatan kemah kemarin bukan hanya karena cowok yang namanya Randy, tapi ...." Nada suaranya merendah. "Tapi karena Mawar mau cari perhatian sama Kakak." Mawar menghela napasnya. "Mawar pikir, dengan Mawar ikutan kegiatan kemah, Kak Melati akan khawatir sama Mawar, Kak Melati akan cari tau keberadaan Mawar, atau saat Mawar pulang, Kak Melati akan peluk Mawar. Tapi ...." Matanya mulai berkaca-kaca. "Kak Melati diem aja." Bibirnya cemberut. "Mawar sayang sama Kak Melati." Ibu jari Mawar mengusap kaca pada bingkai foto itu. "Sekalipun Kak Melati benci sama Mawar." Lalu didekatkannya bingkai foto itu ke d**a Mawar. Praaaaaannkkkk Terdengar suara pecahan suatu benda dari arah pintu kamar Mawar, otomatis Mawar terkejut dan langsung berlari menghampiri pintu kamarnya. Membukanya. "Kak Melati?" kejutnya. Dengan cepat Mawar membantu Melati yang sedang membersihkan pecahan gelas tepat di depan pintu kamar Mawar. Sepertinya gadis yang tingginya melebihi Mawar itu sudah mendengar apa yang diucapkan adiknya. "Awh ...." Melati meringis kesakitan, ada serpihan kaca yang menusuk jarinya, sehingga cairan merah itu keluar perlahan. "Kakak enggak apa-apa? Mawar obatin, ya?" Mawar sangat khawatir. Baru saja ia hendak mengambil tangan Melati, tetapi di tepis olehnya. Melati beranjak dari posisinya, membiarkan pecahan gelas itu, juga Mawar. Mawar meneguk ludahnya lantaran sedang menahan sebulir bening yang mulai menggumpal di pelupuk matanya. Begitu sesak dadanya saat ini. Dengan cepat Mawar menyibak airmata itu. "Kakak kenapa selalu kayak gini sama Mawar?" tanyanya lirih di dalam hati. Mawar menatap punggung Melati yang semakin menjauh dari pandangannya. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN