Daun menggendong tubuh Mawar sampai ke tenda. Meski wajahnya selalu dingin, ternyata kejadian seperti ini bisa membuatnya terlihat cemas.
Dua orang gadis lainnya di dalam tenda tengah tertidur sangat pulas. Pergerakan yang berasal dari Daun dan Mawar, sama sekali tidak mempengaruhi mereka. Tetap tertidur tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Daun sudah meletakan tubuh Mawar di posisi paling pinggir. Daun tampak bingung ketika ingin membangunkan teman tenda Mawar. Lantas cowok itu mengulurkan tangannya guna meletakan punggung tangannya di atas kening Mawar. Ternyata gadis itu demam.
Kemudian Daun keluar tenda. Tidak begitu lama, dia kembali dengan membawa wadah kecil dengan handuk di dalamnya. Daun mengompres kening Mawar.
Setelah selesai, Daun ingin beranjak. Sayangnya pergerakan tersebut berhenti lantaran Mawar menarik ujung bajunya. Mau tidak mau Daun kembali ke posisi semula. Duduk di samping Mawar.
Cowok itu mengerutkan kening karena Mawar yang masih memejamkan matanya.
"Kak, Mawar sayang sama kakak," gumam Mawar mengigau.
Mendengar hal itu, entah kenapa membuat perasaan Daun berdesir. Pelan-pelan Daun mengambil salah satu tangan Mawar untuk ia genggam.
Mawar pun tersadar dari pingsanya. Perlahan dia membuka mata dan menemukan sosok Daun yang tengah menatap ke arahnya.
"Elo?" tanya Mawar terbata. Nada bicaranya terdengar lesu.
Sang empunya hanya bergeming tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya.
"Kenapa di sini?" tanya Mawar lagi.
"Saya pergi," ujar Daun hendak beranjak, tetapi lagi-lagi Mawar menarik ujung bajunya seperti tadi.
"Jangan pergi, di sini aja temenin gue," pinta Mawar yang entah kenapa terdengar memelas.
"Yaudah, tidur. Jangan banyak omong," suruh cowok itu. Masih saja dengan ketus.
Lantas Mawar baru sadar ada sesuatu yang basah di atas keningnya.
"Elo yang ngompres gue?"
"Menurut kamu?" Daun malah berbalik tanya.
"Makasih, ya. Biasanya Mbak Ratna yang suka ngelakuin ini kalau gue lagi demam. Sekarang elo," celoteh Mawar diakhiri dengan kekehan kecil.
"Cerewet," gumam Daun yang sontak membuat Mawar semakin melebarkan senyumnya.
"Sinis banget sih, jadi cowok. Awas aja, kalau enggak ada cewek yang mau deket-deket," ledek Mawar.
Daun tidak mengatakan apa-apa. Seperti biasa, dia hanya menunjukan wajah datarnya. Lalu dia berjengit ketika Mawar menggenggam jemarinya. Cukup erat.
"Ngapain?" tanya Daun terlihat bingung.
"Biasanya Bik Ratna suka genggam tangan gue kayak gini kalo lagi demam. Katanya bisa bikin panasnya turun. Lagian, sebelum gue ngelakuin ini ke elo, bukannya elo duluan yang pegang-pegang tangan gue?"
Daun menjadi salah tingkah. Bahkan, lidahnya sampai kelu untuk menjawab pertanyaan yang begitu mudah.
Akhirnya Mawar pun tertidur sambil menggenggam tangan besar milik Daun. Sedangkan sang empunya menerima saja sentuhan itu. Terlebih ketika mata Mawar sudah terpejam, Daun memandangi wajah mungilnya. Entah sadar atau tidak, sedikit demi sedikit, aura dingin itu berubah menjadi berbinar.
****
"Seperti biasa, sebelum kita mulai kegiatan dini hari ini, kita berdoa dulu." Suara Dero yang mendominasi keheningan tengah memberikan intruksi ke para peserta.
"Berdoa, dimulai." Serentak semua yang ada di sana menundukan kepalanya, mengucap doa dalam hati masing-masing.
"Selesai." Semua mengangkat wajah setelahnya.
"Semangat, ya," seru Dero yang tetap berada pada posisinya, karena cowok itu harus menjaga salah seorang peserta yang tertidur di dalam tenda. Siapa lagi kalau bukan Mawar yang memang keadaannya sedang kurang baik, gadis itu demam.
Ketiga pemandu itu baru akan melangkah lebih dulu. Namun, suara teriakan dari arah tenda, berhasil menghentikan semua yang baru akan beranjak pergi.
"Tungguin!" Mawar berlari dari arah dalam tenda. Dia berdiri di antara para peserta yang lain. Tentu saja membuat siapapun di sini merasa heran. Bukannya gadis itu sedang sakit?
"Lo mau ngapain? Tenang aja lo udah diijinin untuk nggak ikut kegiatan ini kok," ujar Dero.
Mawar menggeleng. "Nggak, Kak. Saya mau ikut. Saya udah sehat kok, lagian saya harus selesain kegiatan ini sampai akhir," tukasnya dengan lantang dan penuh keyakinan.
"Udah biarin aja kalo emang dia mau ikut, malah bagus. Jadinya kan fear," sahut Reno menimpali.
Akhirnya Mawar tetap mengikuti kegiatan. Meskipun tubuhnya masih agak lemas, tapi Mawar tetap berusaha dengan seluruh kekuatannya untuk tidak terlihat lemah sedikitpun. Ia sudah terbiasa berjuang sendiri, demam yang tidak ada apa-apanya tidak akan mampu membuat Mawar menyerah.
Jarak antara area perkemahan dan tempat untuk melakukan kegiatan climbing cukup terbilang jauh. Belum lagi suasana yang masih sepi karena jam masih berada di angka dua lebih.
Sekitar setengah jam para peserta dan pemandu sampai di tempat tujuan. Di sana sudah terpampang dua tebing buatan yang menjulang tinggi. Kedua benda itu di satukan agar menempel, yang nantinya akan digunakan untuk satu peserta dan satu pemandu. Sehingga, pemandu bisa terus memantau peserta dari jarak yang dekat.
Mereka mulai bersiap-siap. Menggunakan helm pelindung, sarung tangan, dan baju pelindung. Sebenarnya perlengkapan untuk melakukan olahraga climbing ini terbilang cukup banyak, akan tetapi bagi mereka yang akan mendaki gunung, sepertinya tiga peralatan ini sudah cukup.
Kegiatan berjalan lancar sampai langit yang gelap mulai pudar berganti menjadi agak terang. Dari ke sembilan peserta yang sudah naik ke arena, sebagian ada yang tidak berhasil mencapai atas. Termasuk gadis yang kakinya luka tadi sore, gadis itu sama keras kepalanya dengan Mawar yang kekeh harus mengikuti kegiatan ini sampai akhir.
Sekarang giliran peserta terakhir yang melakukan climbing, dialah Mawar. Dengan semangat empat lima, gadis itu melangkah ke depan menghampiri intruksi dari Anji.
Mawar mulai memajat perlahan, berpindah dari pijakan batu satu ke batu yang lainnya. Di sebelahnya ada Daun yang menjadi pemandunya. Sebenarnya Mawar gemetar, wajahnya meringis ketakutan karena tak sadar ia sudah berada di tengah-tengah tebing buatan itu. Napasnya pun mulai tersengal karena tenaganya yang hampir habis. Masih ada hawa demam yang tubuh Mawar rasakan.
Sesaat Mawar berhenti untuk mengatur napasnya yang semakin berat.
"Cepetan lanjut." Terdengar suara Daun di sebelahnya. Samar. Karena telinganya tertutup oleh helm, belum lagi Mawar sedang tidak fokus selain dengan upaya menahan tubuhnya yang mulai lemas.
Mawar memejamkan matanya sebentar, menarik napas lagi, lalu melanjutkan pendakiannya. Baru saja Mawar hendak berpijak di salah satu batu, kakinya terpleset. Karena panik, kaki satunya ikut lepas dari pijakannya, sehingga Mawar mengambang di udara dengan tali yang melingkar di pinggulnya sebagai penyelamat.
Mereka yang memperhatikan Mawar dari bawah cukup merasa khawatir seperti tadi saat gadis yang terluka kakinya juga mengalami hal yang serupa.
"Kalo nggak kuat, turun aja!" teriak Dero di bawah dengan nada yang cemas.
"Enggak, gue masih kuat!" balas Mawar lebih terdengar untuk dirinya sendiri.
Daun yang ternyata diam-diam sudah berpindah posisi lebih dekat ke Mawar, mengulurkan tangannya.
"Sini, pegang tangan saya," suruhnya.
Mawar berusaha meraih uluran tangan Daun. Sekali, gagal. Dua kali, gagal. Dan ketiga kalinya berhasil. Tubuh Mawar yang mungil tertangkap oleh Daun. Tangannya melingkar di pinggul Mawar.
Perlahan, Daun memberikan intruksi lagi ke Mawar untuk mengambil pijakan batu terdekat.
Butuh usaha dan niat yang keras untuk Mawar bisa menyelesaikan kegiatan climbing ini. Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Mawar saat dia sampai di atas.
Suaranya terdengar sangat nyaring karena tak hentinya gadis itu bersorak gembira. Orang-orang di bawah ikut memberi tepuk tangan padanya. Dan tidak sadar, Daun yang juga berada di atas, mengumpat senyum atas keberhasilan Mawar.
Sekembalinya mereka ke perkemahan, pagi mulai datang walaupun langit belum sepenuhnya terang. Para peserta tengah mengistirahatkan dirinya masing-masing dengan menjulurkan kaki dan duduk di atas rerumputan yang berembun.
"Setelah ini nggak akan ada kegiatan apapun lagi, kalian bebas untuk membersihkan diri atau istirahat. Dan bagi yang bertugas membuat sarapan langsung dimulai. Kumpul lagi jam .... " Reno menoleh ke Dero. "Jam berapa, Der?"
"Sembilan," jawab Dero.
"Jam sembilan," seru Reno lagi ke para peserta.
Mawar yang duduk di paling belakang tengah memijat-mijat pelipisnya mulai merasakan ada sesuatu yang berputar-putar di kepalanya. Matanya mengerjap lantaran membersihkan pandangan buram di sana.
Anji yang berlalu di sampingnya menepuk pundak Mawar pelan.
"Tadi itu kamu hebat," ucapnya dengan senyum yang mengembang.
Pujian dari Anji barusan membuat Mawar menyulut senyum seorang diri. Seketika rasa pusingnya hilang karena kebanggaan yang ia rasakan dalam hatinya. Otomatis wajah Randy pun muncul di benaknya, pasti Randy juga akan merasa kagum kalau tahu Mawar berhasil menyelesaikan olahraga climbing itu.
Mawar bangkit dari posisinya. Ia akan masuk ke tenda untuk beristirahat sejenak sebelum waktu sarapan dimulai. Namun, pergerakannya terhenti, ada pemandangan menarik yang membuatnya melewati tenda. Mawar menghampiri lebih dekat ke seseorang yang tengah melakukan ruku'k di belakang tenda.
Wajah Mawar menjadi lebih sumeringah ketimbang tadi saat Anji memberikan pujian padanya. Gadis itu tidak berhenti senyam-senyum memperhatikkan cowok yang ia yakini itu adalah Daun, tengah melakukan shalat.
"Ternyata bener, Bang Daun yang lagi shalat," ucapnya dengan nada meledek ketika Daun selesai dari aktivitasnya, cowok itu berbalik dan mendapatkan Mawar berdiri di belakangnya.
"Ngapain di situ?" tanya Daun, ketus.
"Lagi ngeliatin Bang Daun," sahutnya dengan mata berbinar.
Daun baru akan beranjak dari kakinya sampai Mawar dengan cepat menghampiri cowok itu, dan menahan lengannya.
"Apaan?" tanya Daun dengan wajah malas.
"Kenapa nggak ngajak kita semua juga ikutan shalat, kayak Bang Daun?" Nadanya terdengar polos seperti anak kecil yang sedang bertanya ke orang tuanya.
"Saya nggak suka maksa orang untuk melakukan hal yang mereka nggak mau."
"Siapa bilang mereka nggak mau? Gue mau kok, kalo diajak," sahut Mawar terkekeh.
"Kalo mereka mau, seharusnya mereka bisa ngelakuinnya sendiri." Daun melepas lengannya dari genggaman Mawar, melimbai pergi meninggalkan Mawar dengan mulut terbuka.
Namun, beberapa saat setelahnya, ujung bibir Mawar tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Idaman banget sih, jadi cowok. Tapi gue enggak akan pernah bisa suka sama cowok kayak kulkas empat pintu begitu," gerutu Mawar seorang diri.
To Be Continued