Menjadi pemandu di grup satu yang di dalamnya ada tiga orang cowok dan dua orang cewek adalah hal yang biasa untuk Daun maupun Anji. Namun, saat Mawar yang menjadi salah satu anggota grup satu, membuat Daun selalu setia dengan wajah garangnya. Hanya Anji yang sedari tadi lebih banyak bicara.
Kegiatan pertama yang dilakukan hari ini adalah mengitari seluruh area yang ada di perkemahan, sebagai bentuk pelatihan peserta sebelum benar-benar melakukan pendakian. Kegiatan ini juga melatih otot-otot kaki peserta yang notabenenya jarang di bawa pergi terlalu jauh. Seperti Mawar.
Gadis itu tidak pernah membayangkan akan menggunakan kakinya untuk berjalan jauh seperti sekarang ini. Mawar memang tidak mengeluh sepatah katapun, akan tetapi wajahnya mulai terlihat pucat dan lemas. Meski begitu, Mawar tetap terus berjalan mengikuti arahan pemandu.
Di tengah perjalanan, Mawar yang berada di barisan paling belakang sebelum Anji, tiba-tiba mengaduh kesakitan dengan lututnya yang agak tertekuk.
"Kamu kenapa?" tanya Anji menghampiri Mawar. Begitupun yang lainnya juga ikut berhenti.
Mawar menggeleng. "Enggak apa-apa, Kak." Sekuat mungkin Mawar mencoba menyembunyikan rasa ngilu di kakinya.
"Lanjut aja!" seru Daun memberi intruski. Cowok itu mulai sebal kalau ada salah seorang peserta yang bersikap manja seperti Mawar.
Saat berada di tengah pepohonan yang rindang, peserta agak sulit melangkahkan kakinya karena harus berhati-hati ketika melewati ranting-ranting pohon besar yang terdampar di tanah. Belum lagi ada bebatuan yang cukup besar juga di sana.
"Hati-hati dalam melangkah, ya. Ini belum seberapa ketimbang di Puncak nanti," ujar Anji.
Aaarrrrghhhhhh!
Ada salah seorang yang memekik di antara kelima orang itu. Bukan Mawar, tetapi gadis lainnya yang juga bersama rombongan itu.
"Kenapa?" tanya Anji menghampiri gadis berambut pendek itu. Yang lainnya pun juga ikut merasa khawatir. Hanya Daun yang memiliki wajah datar seperti tidak terjadi apa-apa.
Baru saja Anji ingin melihat kaki gadis itu, Daun melarangnya keras.
"Nggak usah ikut campur, ini saatnya mereka untuk belajar bertindak," ucapnya
Dengan tatapan yang khawatir, mau tidak mau Anji membiarkan para peserta itu menolong temannya. Anji dan Daun hanya menyaksikan saja dari jarak tiga langkah.
"Gimana, nih?"
"Coba ambil kotak p3k-nya."
"Iya-iya ...."
Begitulah para peserta itu dalam bersikap. Mereka mulai akan membantu sang gadis yang terus mengerang kesakitan. Luka pada kaki gadis itu terbilang cukup parah karena tergores ujung ranting yang besar dan tajam.
"Kamu!" Daun menunjuk ke arah Mawar yang saat baru berhenti, langsung duduk di atas tanah dengan kaki yang terjulur lurus.
"Gue?" Mawar menunjuk dirinya sendiri.
"Bantuin yang lainnya," suruhnya dengan ketus. Cowok itu memang dingin pada siapapun, apalagi kepada gadis itu. Baru bertemu pandang saja sudah membuat Daun merasa kesal setengah mati dengan Mawar.
"Iya,iya," sahut Mawar agak jengkel.
Mawar menggeser duduknya yang santai ke dekat peserta lainnya, melirik apa yang tengah cowok-cowok itu lakukan ke gadis yang kesakitan.
"Eh, itu bukan begitu caranya. Sini-sini biar gue aja." Mawar langsung menyerobot alkohol, perban, dan kapas yang dipegang oleh salah seorang cowok.
Mendengar itu, Anji dan Daun sontak merasa penasaran dengan tindakan Mawar. Apalagi Daun yang sangat tidak yakin kalau gadis manja seperti Mawar bisa mengobati luka dengan, sangat rapi.
Mawar menepuk-nepukan tangannya sendiri. "Yeay, selesai," girangnya.
"Makasih, ya," ucap gadis itu ke Mawar.
"Oke, sama-sama," sahut Mawar semangat.
"Kita istirahat sepuluh menit dulu sebelum melakukan perjalanan lagi. Tempat kemah masih lumayan jauh," ucap Anji.
Lima orang itu pun mulai sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Dua orang mengambil posisi dekat pohon besar. Satu orang menjauh seperti sedang mencari tempat untuk menuntaskan "keinginannya". Dan Mawar masih setia menemani gadis yang terluka tadi. Berseberangan dengan mereka, ada Daun dan Anji yang sesekali melihat ke arah dua gadis itu.
*****
Langit berubah menjadi semakin gelap. Dari sepuluh peserta yang ada, enam dari mereka terus mengaduh merasa pegal setelah apa yang mereka lakukan tadi sore. Rasanya cukup lelah ketika satu area yang sangat luas di Bumi Perkemahan ini harus mereka jelajahi.
"Ini belum ada apa-apanya, ya. Di pendakian nanti itu, medannya lebih terasa berat daripada sekarang," ujar Reno sambil berjalan mengitari para peserta yang sedang duduk terdampar di tanah.
Di antaranya ada Mawar yang sedang memukuli lututnya sendiri.
"Iya, Kak," jawab serentak para peserta itu.
"Yaudah sekarang kalian istirahat. Nanti jam dua malam kalian harus bangun sesuai apa yang sudah di jadwalkan." Kali ini Dero yang memberikan intruksi.
Para peserta bangkit dengan lesu dari posisinya. Ada yang kembali ke tenda, ada yang tetap pada posisinya, ada juga yang menjauh entah ke mana. Sementara Mawar menghampiri Dero.
"Ada apa?" tanya Dero selalu ramah.
"Toilet di mana, ya, Kak?" Mawar menggaruk beberapa bagian tubuhnya karena merasa gerah sehabis berjalan tadi. Rasanya Mawar perlu mandi dua jam.
"Mau ngapain?"
"Mandi," jawab Mawar dengan spontan.
"Malem-malem gini?" Dero agak terkejut. Termasuk Reno yang juga sedang memperhatikan obrolan itu merasa heran dengan Mawar. Baru pertama kalinya Reno melihat gadis itu.
Mawar mengangguk. "Gatel semua badan saya, Kak," ucapnya dengan nada merajuk.
"Ini udah malem kali, masa mau mandi. Lagian di Puncak nanti juga kita semua nggak akan ada yang mandi selama beberapa hari," balas Reno menimpali.
Dero tersenyum geli. Ia sudah biasa menghadapi Mawar dengan sikap manjanya. Akan tetapi untuk Reno, cowok itu perlu mengenal lebih jauh lagi siapa Mawar.
"Udah lo istirahat aja, ya. Nggak usah mandi, besok aja kalo mau mandi," ujar Dero ke Mawar. Sebelum ia berlalu, Dero menepuk bahu Mawar dengan lembut.
Mawar di posisinya hanya memberenggut dan mau tidak mau akhirnya masuk ke dalam tenda.
Pada malam ini memang tidak ada kegiatan apapun untuk peserta. Karena mereka bukan anak Pramuka yang sedang mengikuti kegiatan PERSAMI, dan mengharuskan mereka menjalani kegiatan malam hari. Namun, mereka adalah calon peserta yang nantinya akan melakukan pendakian pada sini hari, maka dari itu malam ini mereka harus beristirahat penuh untuk terbangun di jam dua dini hari nanti.
Mawar sangat tidak nyaman di posisi tidurnya, satu tenda terdiri dari tiga orang perempuan yang otomatis membuat Mawar merasa kesempitan. Setiap harinya Mawar selalu tidur di atas ranjang yang besar dan empuk. Kondisinya saat ini sangat bertolak belakang dengan yang biasa Mawar jalani.
Sekali lagi, ini semua demi seorang Randy. Mawar berharap Randy bisa merubah rasa sukanya untuk Mawar setelah apa yang Mawar lakukan saat ini.
Mulai ada sesuatu yang mengganjal di diri Mawar. Hawa yang sangat dingin untuk Mawar ini membuatnya harus segera ke toilet sekarang juga. Mawar pun bangkit dari tidurnya. Melewati beberapa perserta lainnya dengan hati-hati karena takut membangungkan mereka.
Mawar mengintip lewat celah kecil di pintu tenda. Suasananya mulai sunyi, angin di luar juga lebih kencang daripada hawa di dalam tenda, belum lagi api unggun yang mulai mengecil dan hampir mati. Mawar meringis ketakutan untuk keluar tenda, pandangannya berpindah ke para peserta yang tertidur. Mawar sangat berharap ada satu di antara mereka yang terbangun dan mau menemaninya ke toilet.
Mawar duduk sambil berusaha menahan "keinginannya" itu. Ia semakin gusar karena sudah tidak bisa lagi membendung keinginannya. Akhirnya Mawar berlari menuju toilet yang ia sendiri belum tahu persisi di mana letaknya.
Mawar selesai menuntaskan keinginannya untuk buang air kecil di toilet yang cukup kotor itu. Mawar lega. Namun, saat kakinya hendak melangkah ke luar area toilet, seketika kedua kakinya terasa kaku. Pemandangan di depannya sangat gelap. Tidak ada cahaya sedikit pun yang terlihat. Jantung Mawar mulai berdegup tidak karuan. Napasnya terengah lantaran kepanikan yang mulai menyelimutinya. Sumpah demi apapun, Mawar lebih baik terus di sini daripada harus menerobos keadaan gelap di depannya untuk mencapai perkemahan.
Sudah hampir lima belas menit Mawar hanya duduk berjongkok di depan pintu masuk toilet, ia menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan yang menyanggah di lututnya. Gadis itu terlalu takut menatap ke depannya lama-lama. Sampai kemudian ada sentuhan hangat yang di lengannya. Mawar mengangkat wajahnya mencari asal sentuhan itu.
Sontak Mawar berdiri setelah memastikan kalau di depannya adalah manusia, bukan makhluk gaib yang bisa saja hadir di dekatnya.
"Meskipun muka lo serem, tapi gue seneng lo ada di sini," ucapnya merasa lega.
"Minggir."
Mawar mengangkat alisnya. "Hah?"
"Saya mau lewat," sergah Daun.
Mawar meringis setelah melihat kembali posisinya yang berdiri di depan pintu. Mawar menggeser langkahnya membiarkan Daun masuk ke toilet.
"Jangan lama-lama, ya. Gue nungguin lo di sini!" teriak Mawar saat Daun sudah berada di dalam toilet.
Mawar berjalan beriringan dengan Daun menuju area perkemahan. Sebenarnya bulu kuduk Mawar merinding selama kakinya melangkah, tetapi apa daya Mawar saat ia menempel di sisi Daun, cowok itu selalu melangkah menjauh. Seperti Mawar bagaikan sebuah benalu baginya.
"Oiya, tadi sore itu lo liat nggak gue ngobatin cewek yang kakinya terluka tadi." Demi menghilangkan suasana yang sangat sepi, akhirnya Mawar membuka suara.
Ya ... Meskipun ia sendiri tidak tahu apakah cowok itu akan menyahutinya.
"Pinter kan gue masang perbannya?" Mawar menoleh ke wajah Daun yang selalu datar.
"Bilang aja iya, sih." Mawar menyenggol lengan Daun dengan sikunya. Sementara Daun hanya terkekeh merasa risih.
"Lo mau tau nggak, gue belajar dari mana ngobatin orang sehebat kayak tadi?" Mawar menghadang jalan Daun.
"Apaan sih? Minggir sana." Daun mendorong bahu Mawar. Hal itu sangat mudah baginya karena postur tubuh Mawar yang lebih kecil darinya.
Mawar mengerucutkan bibirnya ke depan seraya dengan dengusan yang keluar dari hembusan napasnya. Lalu, Mawar berlari kecil menyejajarkan posisinya dengan Daun.
"Jadi itu, waktu kecil gue pernah jatoh dari sepeda. Nah, gue nangis tuh. Tapi nggak ada yang nyamperin gue gitu. Mba-mba di rumah gue lagi sibuk sama kerjaannya kali, ya." Mawar mulai bercerita dengan gaya khasnya. Menggerakkan tangannya ke sana ke mari mengikuti alur ceritanya.
"Sebenernya sih, ada Kakak gue yang liat. Tapi dia malah masuk ke dalem rumah gitu aja." Cerita itu berhasil membuat Daun menoleh untuk sesaat, dan memalingkan lagi pandangannya ke depan.
"Yaudah tuh, akhirnya gue cari kotak obat sendiri dan bersihin luka gue itu." Mawar menghela napasnya.
"Semenjak kejadian itu, gue selalu ngobatin luka gue sendiri. Saat jatuh dari tangga, kepleset di kamar mandi, atau saat gue pernah nggak sengaja mecahin piring. Semua lukanya gue urus sendiri," cerocos Mawar tak henti-henti.
Daun menghentikan langkahnya. Ia cukup tertegun dengan apa yang ia dengar dari gadis itu. Kalau Daun adalah Dero, mungkin cowok itu akan melempar beberap pertanyaan ke Mawar untuk menanggapi ceritanya barusan. Tapi untuk Daun, dia tidak perlu melakukan itu.
Daun menoleh ke Mawar, begitupun Mawar yang menatap ke arah Daun.
"Berisik," ucapnya ketus dan melimbai pergi.
Untuk melanjutkan tidur lagi, rasanya terlalu sulit untuk Mawar. Ia lebih memilih duduk di luar tenda dekat hamparan abu bekas api unggun tadi. Setidaknya rasa hangat masih ada yang memeluk tubuhnya. Entah kenapa Mawar merasa menggigil, padahal tadi biasa saja.
Mawar mengusap-usapkan kedua tangannya lantaran mencari hawa hangat dari telapak tangannya. Kemudian, ditempelkan telapak tangan itu di kedua pipinya. Bukannya merasa hangat, tubuhnya semakin menggigil dan gemetar. Pandangannya pun mulai buram. Seketika tubuhnya lemas, lalu terjatuh.
Daun yang baru keluar dari dalam tenda melihat Mawar yang sempoyongan. Ia berlari menghampiri gadis itu tepat pada waktunya. Mawar jatuh di pelukan Daun.
To Be Continued