Bab 15 - Mulai Aneh

1148 Kata
Pada pagi hari, pemandangan di Ranu Kumbolo berkali-kali lipat indahnya ketimbang saat pertama kali Mawar menginjakkan kakinya di danau ini. Terlebih saat Mawar menyaksikan matahari terbit di sela-sela bukit. Ah... Rasanya Mawar akan menyukai kegiatan mendaki ini. Ketika Mawar hendak membuang bungkus roti ke danau, cowok sama yang kemarin memarahinya lebih dulu menyambar bungkus roti itu. Hanya dengan pelototan tajam dari Daun, berhasil membuat Mawar memberengut dan menyambar lagi bungkus roti yang Daun rebut tadi. "Biar gue yang buang," sergah Mawar. "Seharusnya dari awal kamu enggak usah daftarin diri ke pendakian ini. Tampang kamu nggak cocok ada di sini, kamu lebih baik tidur di kamar sampai orang tua kamu jenuh melihat kelakuan kamu." Nadanya memang tidak kasar, tapi kalimat itu sangat membuat jantung Mawar terasa berhenti untuk beberapa detik. Mawar dan Daun saling memandang begitu dalam, kalau tatapan itu berbentuk runcing, bisa saja kedua mata mereka sudah mengalirkan banyak darah sekarang. "Maaf," lirihnya. "Gue minta maaf," ulang Mawar dengan nada menyesal. Daun mengembuskan napasnya keras. Maksud dari ucapannya barusan bukan maksud yang diartikan Mawar dalam otaknya sekarang ini. Daun tidak benar-benar merasa marah pada Mawar. Yang sesungguhnya adalah Daun mulai merasa resah saat gadis itu kelelahan sejak kemarin, Daun tidak bisa mengutarakan kepeduliannya secara terang-terangan. Maka dari itu dia lebih memilih kata-k********r dengan arti yang tak jauh beda. Termasuk menggunakan kesempatan seperti ini, saat Mawar melanggar lagi peraturan yang ada. Daun baru akan beranjak dari posisinya sampai Mawar menahan lengannya. "Tapi tolong jangan bawa-bawa orang tua gue yang udah nggak pernah ada di dunia ini." Daun mendelik. Ada hal lain lagi yang seketika membuat Mawar terasa spesial di matanya. ***** Meninggalkan Ranu Kumbolo kemudian team melanjutkan untuk mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah di belakang ke arah danau. Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas bernama oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gunung Kepolo tampak puncak Gunung Semeru menyemburkan asap wedus gembel. Selanjutnya memasuki hutan cemara di mana kadang dijumpai burung dan kijang. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang. Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, di sini team kembali mendirikan tenda untuk beristirahat. Terdapat mata air Sumber m**i, ke arah barat menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak satu jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung. Untuk menuju Arcopodo, team berbelok ke Timur berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke Selatan sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Yang biasanya Mawar menggerutu, kini ia hanya diam dan mengikuti apa yang di interuksikan oleh ketua team. Ada sebuah gejolak aneh di dalam dadanya saat Mawar memperhatikan Daun berbicara. Wajahnya yang dingin selalu terbayang di benaknya. Team menghentikan pendakian lagi, berkemah di Arcopodo meskipun tempat ini mempunyai kondisi tanah yang kurang stabil dan sering longsor. Salah seorang panitia menyerukan kepada peserta untuk menggunakan masker yang sebelumnya sudah menjadi syarat persediaan yang harus dibawa. Banyak abu berterbangan di sekitaran sini. Mawar terus mencari masker yang sangat ia ingat sudah membawanya. Tapi berulang-ulang ia mencarinya tetap saja tidak ada. "Nih, pake." Daun menyodorkan masker hitam yang ada di tangannya. Meskipun wajahnya masih sama seperti sebelumnya, Mawar tetap menyimpulkan senyum sebagai ucapan terimakasih yang tersirat. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900 m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir. Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3 sampai 4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Butuh usaha yang cukup keras untuk para pemula agar bisa mencapai Puncak. Team harus saling bekerjasama. Terutama para panitia yang lebih berpengalaman untuk membantu peserta. Sudah dipastikan untuk Mawar yang memiliki kepribadian manja, sangat sulit bisa mencapai puncak. Daun selaku ketua team sudah lebih dulu sampai di sana. Diikuti oleh beberapa peserta. Beruntung karena ada satu panitia yang menjaga barisan paling belakang, membuat Mawar masih bisa mengelus d**a akan rasa lega, Dero. "Enggak kuat." Mawar mendesah frustasi. Ia berhenti sejenak di tengah-tengah pendakian. "Ayo, elo pasti bisa!!" seru Dero yang berada di bawah Mawar. Tangan cowok itu terulur mencoba membantu Mawar untuk bangkit dan melanjutkan pendakian. Terdengar desahan panjang dari embusan napas Mawar, akhirnya ia berhasil mencapai Puncak Mahameru. Ia tergeletak lemas di hamparan tanah putih ke abu-abuan itu. Di saat peserta yang lain sedang merayakan keberhasilannya meraih Puncak, Mawar agak memejamkan matanya yang sedaritadi berusaha menahan kantuknya. Saat ia hendak membuka mata lagi, ada pemandangan di salah satu sisi Puncak yang berhasil menyentaknya. Mawar mengambil posisi duduk bersila. Menatap Daun yang sedang sujud di atas sajadah-nya dengan khusyu. Seulas senyum tampak di bibir Mawar. Ketika Mawar tengah asyik menyaksikan Daun dengan kegiatannya, ada tangan yang terulur ke arahnya. Tangan yang sebelumnya membantu berdiri di tengah-tengah pendakian tadi. "Sayang banget kalo elo cuma duduk-duduk di sini doang. Buat apa sampai ke Puncak kalo nggak ngeliat sekeliling lo," ucap Dero tersenyum. Yang di balas senyuman juga dari Mawar, seraya dengan tangannya yang meraih uluran tangan cowok itu. Seketika Mawar merasa dirinya bagaikan terbang di atas awan. Tubuhnya mematung di tempat dengan kepala yang memutar mengitari sekelilingnya, dan menemukan pemandangan terindah selama hidupnya. "Indah kan?" tanya Dero melipat tangan di dadanya. "Gue udah sering liat pemandangan kayak gini," lanjutnya ketika Dero menoleh ke samping. Ia membungkam mulut Mawar yang terbuka karena takjub. "Ada lalat masuk nanti," cicitnya. Mawar hanya meringis malu. Bersamaan dengan itu, Mawar melempar pandangan ke Daun yang ada di depannya beberapa langkah. Dan tepat pula Daun juga menatap kearahnya. Mawar memalingkan lagi wajahnya dari Daun, entah kenapa dia merasa salah tingkah untuk menatap wajah dingin itu terlalu lama. Mawar menunduk, dan ketika ia mengangkat lagi wajahnya, Daun sudah berada di depannya. "Gue ke anak-anak dulu." Dero menepuk bahu Daun, sepertinya ia memang sengaja meninggalkan Daun berdua dengan Mawar. "Maaf." Mawar mengernyit, ternyata seorang cowok garang seperti Daun bisa meminta maaf? "Buat apa?" "Ucapan saya kemarin di Ranu Kumbolo." Bukan Daun namanya kalau nada bicaranya selalu terdengar datar. "Enggak apa-apa, tenang aja. Gue pemaaf kok orangnya, gue kan anak baik," kata Mawar menyulut senyum ke Daun, membuat cowok itu menggaruk pelipisnya karena salah tingkah. Daun tidak bisa lama-lama berdiri di depan Mawar dengan dadanya yang bergejolak, ia harus cepat-cepat pergi dari tempatnya, tapi tertahan oleh Mawar yang menarik ujung bajunya. "Makasih, ya," ucap Mawar tersenyum, "kalo bukan karena lo yang bilang gue pecundang, gue nggak akan tetep ikut kegiatan mendaki ini. Tapi karena ucapan lo itu, gue bisa ketemu sama pemandangan yang indah kayak gini." Daun masih menatap Mawar tanpa suara. "Gue seneng, seneng banget." Mawar mengangkat bahunya dengan kuat. Melihat rona bahagia dari wajah Mawar, jelas rasanya di hati Daun, ada sebuah rasa aneh yang membuat perasaanya berbeda dari biasanya. Kenapa saya senang melihat kamu tersenyum? To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN