Bab 16 - Sikap yang Menghangatkan

1078 Kata
Sambil membawa dua tas jinjing di tangan kanan dan kirinya, serta ransel di punggungnya, langkah kaki Mawar sampai di depan toko kue yang beberapa waktu lalu ia datangi. Gadis itu masih terlalu takut untuk menatap Kakak-nya di rumah, sehingga membuatnya harus berakhir di salah satu bangku yang ada di sudut toko kue ini. Tak lama Mawar menunggu, pesanannya datang. "Kamu habis darimana? Banyak sekali barang bawaannya?" Setelah meletakan sepotong kue berlapis coklat sepenuhnya dan ice vanilla latte di meja, Ajeng duduk satu meja dengan Mawar. "Dari gunung, Tante," jawabnya, lalu menyeruput minuman yang dipesannya. "Kamu suka mendaki?" tanya Ajeng dengan nada yang sedikit tidak percaya. "Ini baru pertama kalinya Mawar ikut kegiatan kayak gini. Sebelumnya nggak pernah sama sekali Mawar ikut-ikutan kegiatan yang ekstrem begitu." "Anak tante juga suka sekali mendaki gunung, bahkan dia jarang di rumah karena hampir setiap seminggu sekali dia selalu mendaki," ucap Ajeng. Mawar merespon hanya dengan manggut-manggut. Lantas Mawar mulai menyantap kue-nya. Sementara Ajeng tengah memperhatikan aktivitas Mawar sambil menyimpulkan senyum. Ada sedikit noda di sudut bibir Mawar, sehingga Ajeng menarik tisu dari kotak, lalu membersihkan sisa noda itu. Mawar tersentak, menyentuh sudut bibirnya yang kini sudah bersih. "Makasih, Tante," ucapnya dengan senyum yang sedikit. "Yaudah kalau begitu, Saya tinggal dulu, ya," pamit Ajeng, kemudian melenggang pergi. Hampir seharian Mawar berada di toko kue ini. Ia memesan berkali-kali kue demi menghilangkan rasa penatnya sehabis turun gunung. Belum lagi Mawar memang tidak memakan apa-apa selain sarapan mie instan di perkemahan dan kue-kue ini. Saking ia tidak bisa menahan rasa kantuk, jadilah Mawar tertidur lagi di meja seperti kemarin. Beberapa saat kemudian. "Mawar. " Ajeng menepuk punggung Mawar dengan lembut guna membangunkan gadis itu yang tengah tertidur. "Sudah malam, Nak. Tokonya mau tante tutup," ucapnya sekali lagi. Detik berikutnya, Mawar baru terbangun. Seperti biasa yang dilakukannya saat bangun tidur, ia mengucek kedua matanya, mengerjap beberapa kali, barulah ia memperhatikkan sejenak sekitarnya kala di mana ia sedang berada. "Maaf, Tante. Mawar tidur di sini lagi," gumamnya dengan pandangan yang masih buram. Ajeng menghela napasnya, merasa iba dengan gadis polos di depannya. "Kamu enggak pulang?" tanyanya. Mawar tidak menjawab. Pandangannya mengarah ke sisi lain untuk menghindari pertanyaan itu. "Kok tokonya udah tutup aja, Tante?" Sekarang mata Mawar beralih ke jam di pergelangan tangannya. "Padahal baru jam tujuh." "Hari ini saya ada urusan, makanya toko tutup lebih awal." Mawar bangkit, mengangkat kedua tas jinjingnya dan memasang ransel di punggungnya. "Kalau gitu Mawar permisi, ya, Tante." Sebagai seorang Ibu, Ajeng mempunya naluri yang kuat untuk mengetahui keadaan yang kini sedang dihadapi Mawar. Meski selalu tersenyum, Ajeng yakin bahwa gadis itu tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Ditatapnya dengan nanar punggung Mawar yang mulai menghilang di balik pintu. Beberapa menit kemudian. Ketika Ajeng akan keluar dari toko, Mawar tengah berdiri di jarak beberapa langkah darinya. "Astaga, Mawar. Kamu masih di sini?" tanyanya dengan nada terkejut. "Mawar boleh nginep di toko ini nggak?" tanyanya dengan wajah tertekuk. Mendengar permintaan Mawar yang melas, akhirnya wanita berhijab itu menggiring Mawar ke dalam toko. "Di sini hanya ada satu kamar saja untuk salah satu karyawan tante yang memang tinggal di toko. Kamu nggak keberatan kalau harus berbagi kasur dengan Tina?" "Enggak apa-apa, Tante. Mawar malah seneng kok ada temen tidur. Daripada sendiri, Mawar suka takut," kata Mawar mengekspresikan raut ketakutan dengan mengedikan bahunya, ngeri. Namun, nada bicaranya tetap terdengar semringah. Sesaat Ajeng menatap lekat gadis itu. Tangannya terjulur mengusap lembut belakang rambut Mawar. Mendapatkan perlakuan yang hangat, Mawar mengerutkan kening sambil menggigit bibir bawahnya. "Tante," sebutnya. "Ehm," jawab Ajeng singkat. "Apa boleh, Mawar peluk Tante Ajeng?" pintanya dengan parau. Langsung saja Ajeng menarik tubuh Mawar ke dalam dekapannya. Ia sendiri merasa nyaman setiap kali menatap wajah polos gadis itu. "Anak tante pasti bahagia punya seorang ibu yang pelukannya hangat seperti tante Ajeng," ujarnya masih berada di dalam pelukan wanita separuh baya itu. Ajeng mengelus lembut punggung belakang Mawar. "Tante harap seperti itu," ucap Ajeng dalam hatinya. ***** Sebuah ruangan dengan penerangan yang redup membuat Mawar tersentak dari tidurnya, ia baru sadar kalau semalam ia sendiri yang meminta izin untuk bermalam di toko kue ini. Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Mawar. Wanita pemilik toko kue itu menghampiri Mawar yang masih duduk di atas kasur, sambil membawa nampan berisikan sepiring nasi goreng dan segelas s**u vanila. "Sudah bangun?" sapanya dengan senyum yang berbinar. "Sarapan dulu, ya," lanjutnya. "Mawar mandi dulu, ya, Tante." Beberapa menit Mawar selesai membersihkan dirinya, ia sedikit terkejut karena Ajeng masih berada di kamar, menunggunya. "Sudah selesai?" Mawar mengangguk dan duduk di sebelah Ajeng. Ajeng menyodorkan piring berisi nasi goreng yang masih ada di pangkuannya ke Mawar. "Dimakan, ya." Mawar mulai menyuap, mengunyah dengan lahap lalu menelannya. Setiap detik yang Mawar lakukan selalu menyita perhatian kedua mata Ajeng. "Gimana? Enak?" tanyanya cukup antusias. Mawar mengerjapkan matanya dengan kuat. "Enak banget. Ini tante yang bikin?" ujarnya dan terus menyuap nasi goreng itu. "Iya, ini tante yang bikin, khusus buat gadis cantik seperti kamu," sahut Ajeng mencolek ujung hidung Mawar dengan telunjuknya. "Makasih, ya, Tante. Ternyata begini rasanya makan sarapan yang dibuat sama seorang ibu." Nadanya berceloteh ria. "Memangnya Mama kamu .... " Belum sempat Ajeng menyelesaikan pertanyaannya, Mawar sudah memotong ucapan itu. "Habis melahirkan Mawar, ibu meninggal. Jadi Mawar nggak pernah ketemu ibu selama hidup Mawar," sambungnya dengan nada yang terlalu santai. Dengan sangat lahap Mawar melanjutkan makannya sampai tak tersisa. Ajeng yang sedikit terkejut dengan kenyataan itu pun, hanya mampu mengunci bibirnya rapat-rapat. ***** Seperti biasa kalau di kampus, pasti ada saja aktivitas kecil yang Mawar lakukan agar mengusir rasa bosannya. Sekarang ini Mawar tengah bermain game di ponselnya dengan gaya yang cukup heboh. Memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri mengikuti alur jalannya mobil balap yang sedang ia mainkan. "Kalo kamu mau kabur dari rumah, seharusnya kamu nggak bikin aku ikut pusing karena Om Fahri yang terus nyalahin aku." Suara Melati yang lembut tapi menyentak hati itu, membuat Mawar menghentikkan aktivitasnya. "Kakak?" Mawar memasukan ponsel di tasnya. "Kalau kamu nggak mau bikin aku semakin membenci kamu, tolong kamu pulang ke rumah malam ini juga," lanjut Melati dengan tatapan yang sinis. "Kakak mau Mawar pulang ke rumah?" Sesungguhnya Mawar berharap kalau Kakaknya yang meminta dengan hatinya, tetapi kenyataan yang ada justru sebaliknya. "Bukan aku yang mau kamu pulang, tapi Om Fahri." "Kalo Kakak? Mau Mawar pulang juga?" tanyanya penuh harapan. Melati tidak menjawab. Ia justru melangkah pergi dari hadapan Mawar. Setelah mendesah keras, Mawar menaikan bibirnya ke atas lantaran merasa putus asa akan Melati yang sepertinya tidak mudah untuk memaafkannya. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN