Bab 17 - Leaf Bakery's

1127 Kata
Sepanjang kakinya melangkah menyusuri koridor, Mawar tampak tidak bersemangat. Bahkan, bibirnya selalu mengerucut ke depan lantaran obrolan dengan Melati yang membuat perasaannya memburuk. Selalu begitu. Ketika pandangannya terangkat, Mawar melihat cowok dingin itu. Entah sadar atau tidak, wajah cemberut itu berubah drastis. "Bang Daun!" teriak Mawar yang nyaring otomatis membuat orang-orang di koridor menoleh ke arahnya. Daun terus berjalan tidak mempedulikan panggilan Mawar yang sudah ia dengar. Terpaksa gadis itu harus berlari kala mencapai tempat Daun dan menyejajarkan posisinya. "Berenti sebentar kenapa sih, Bang," decak Mawar sudah berhasil berdiri di depan Daun dengan napas yang masih tersengal. "Ada apa?" "Kalo dipanggil orang tuh langsung nengok, jangan bikin lari-lari kayak gini. Capek tauk," omel Mawar. Malas mendengar ocehan gadis itu, Daun lebih memilih untuk segera menghindar sebelum Mawar menarik ujung bajunya. "Tunggu dulu, sih." "Enggak pake ngoceh aneh dulu, bisa?" Mawar memutar bibirnya sebal. "Emangnya situ sendiri bisa, enggak pasang muka galak sehari aja?" Daun berusaha menghindar lagi dan tertangkap pula ujung bajunya dari tarikan Mawar. "Iya, iya." Mawar mendengus geli. Kemudian, Mawar mengambil sesuatu dari ranselnya, lalu menyodorkan sebuah kain persegi empat itu ke Daun. "Nih, masker yang kemaren lo pinjemin ke gue. Makasih, ya." "Udah dicuci belum?" tanya Daun ketus. Mawar menggeleng. "Belum." Lalu menarik tangannya yang terjulur ke depan dengan sedikit kikuk. "Saya enggak mau nerima sebelum kamu cuci dulu maskernya," ucap Daun dingin. Mawar mengecapkan lidahnya malas. "Duh, Bang. Ini kan baru sekali pake, itu juga nggak lama. Lagian gue nggak rabies kali." "Eng-gak." Mawar mendengus sebal. "Yaudah deh kalo nggak mau. Buat gue aja ini masker," kesalnya, lalu berbalik menjauh. "Tunggu!" seru Daun setelah berpikir beberapa detik sebelum Mawar benar-benar jauh. Mawar berbalik. "Makan siang gratis untuk imbalannya." Sontak Mawar berlari kecil menghampiri Daun lagi. "Jadi, cowok dingin kayak lo, sukanya gratisan?" Matanya menatap ujung kepala Daun sampai kakinya. "Kalo nggak mau enggak apa-apa," kata Daun masih setia dengan wajahnya yang datar. "Mau kok, mau. Sensi amat sih jadi cowok." Mawar nyengir. Yang diam-diam diperhatikan oleh Daun, tetapi berusaha untuk tidak tertangkap oleh sang empunya. ***** Ketika Mawar menepuk bahu Daun guna menginterupsikan cowok itu untuk menghentikan motornya di depan toko kue, Daun menampakan wajah yang panik. "Ini nih, toko kue yang enaaaaak banget. Nyesel kalo lo nggak nyoba, gue udah berkali-kali beli kue di sini," tukas Mawar dengan mendramatisir ucapannya. "Di tempat lain aja." "Hah?" pekik Mawar karena tidak mendengar ucapan Daun yang terasamar di dalam helm. Tanpa mengucapkan apapun lagi. Daun menyalakan mesin motornya lagi dan berlalu dari depan toko kue. "Eh, eh, mau ke mana? Kan, gue mau traktir." Mawar menepuk-nepukan bahu Daun berkali-kali. Namun, tetap saja Daun terus melaju. Keberadaan Daun dan Mawar kini sudah cukup jauh dari daerah toko kue itu. Daun menghentikan motornya dan melepas helm. Sedangkan Mawar turun dari motor besar itu sambil merutuki cowok itu. "Kenapa sih lo? Kok malah jalan gitu aja, kita kan mau makan kue di toko tadi." Mawar berdecak sebal. "Tempat lain aja." "Kenapa emang? Nggak mungkin kan, kalo lo alergi makan kue?" Mawar tersulut emosi. "Kalo gitu saya nggak jadi minta traktir kamu." Mawar mendesis. "Dasar abang-abang galak!" Dimajukan bibir itu karena saking kesalnya. Daun hanya melempar pelototan tidak serius ke Mawar. "Tadinya kan, gue sekalian mau ambil barang-barang di sana," gumamnya pelan. Sayangnya didengar oleh cowok di depannya ini. Daun mengernyit lantaran bingung. "Pulang dari gunung kemaren, gue nggak pulang ke rumah," lanjut Mawar seolah mengerti sebuah tanya yang tersirat dari raut wajah Daun. "Kenapa?" "Kenapa apanya?" Mawar mengangkat alisnya. Itu cowok kalau bertanya atau mengucapkan sesuatu, terlalu singkat. Jadi jelas kalau Mawar tidak langsung mengerti ucapannya. "Kenapa nggak pulang ke rumah?" tanya Daun dengan benar. Mawar terdiam. Detik berikutnya baru ia kembali membuka suara. "Makanya anterin ke toko tadi, terus gue bisa pulang ke rumah." "Nggak nyambung," cetus Daun. Mawar mendesis lagi. Kemudian, Daun pun mau menerima permintaan Mawar untuk kembali ke toko kue itu. "Ayo masuk," ajak Mawar ke Daun. Ia sudah turun dari motor, sedangkan Daun masih bergeming di atas motornya. "Saya tunggu di sini aja." Mawar menghela napas frustrasi. "Terus nggak jadi makan kue?" Daun menggeleng dengan ekspresi datar. Mawar mendengus. Lalu, melangkah masuk ke dalam toko. Selang beberapa lama Mawar kembali keluar dengan barang bawaannya yang tadi ia titipkan sebelum berangkat ke kampus. Namun, ada sesuatu yang Mawar herankan, Daun dan wanita yang Mawar sudah mulai anggap seperti ibu-nya sendiri, saling bertatapan dengan kaku. "Tante Ajeng kenal sama Bang Daun?" tebak Mawar. Belum ada yang menjawab antara Daun atau mama-nya. Mawar tambah bingung. Tiba-tiba Mawar teringat sesuatu tentang toko kue ini. Tertera tulisan "leaf bakery" di atas bangunan ini. "Leaf itu kan, bahasa inggrisnya Daun? Jangan-jangan ...." Mawar berbisik untuk dirinya sendiri. "Tante Ajeng mamanya Bang Daun?" Nada suaranya meninggi. Memandang Daun dan bergantian ke Ajeng. "Kamu mau saya anter atau pulang sendiri?" tanya Daun. "Iya-iya tunggu." Mawar memajukan bibirnya. "Tante, Mawar pulang dulu, ya. Makasih udah ngebolehin Mawar nginep di sini. Terus kalo emang bener Bang Daun anaknya tante, tante harus banyak-banyak sabar, ya," cerocos Mawar tanpa titik dan koma. Ajeng mengernyit. "Soalnya Bang Daun kalo ngomong bikin hati orang nyelekit," lanjutnya, dan membuat wanita itu tersenyum simpul. Sesekali melirik putra-nya yang berwajah dingin di sana. Mawar pun bersalaman dengan Ajeng. Melihat Daun yang hanya diam, membuat Mawar gemas dan menginteruksikan cowok itu agar menyalimi juga punggung tangan ibunya. "Bang, buruan salim," suruh Mawar yang sebelumnya tidak digubris oleh Daun. Dengan pergerakan yang kaku, akhirnya cowok itu mau melakukan apa yang disuruh Mawar. ***** Akhirnya hati Daun sedikit lega karena sudah sampai di depan rumah Mawar. Bagaimana tidak kalau sepanjang perjalanan, gadis itu selalu mengoceh hal-hal yang membuat telinganya sakit. Cerita-cerita yang menurut Daun sangat kekanak-kanakan. Seperti mencertikan film-film kartun yang Mawar senangi atau hal tidak penting lainnya yang tidak harus diceritakan. Ya, itulah Mawar. "Makasih, ya. Udah nganterin pulang. Bang Daun baik deh," ucap Mawar dengan senyum yang semringah. "Ehm." Saaat Mawar berbalik hendak memasuki gerbang. Daun merasa aneh melihat sekitar rumah Mawar. Ia begitu femiliar dengan pintu gerbang berwarna coklat keemasan itu. Tidak ingin dibayang-bayangi rasa penasaran, akhirnya Daun melepas helm-nya dan turun dari motor kesayangannya. Ia mendongak menatap ke bangunan rumah Mawar yang besar. Otaknya sedang mengingat-ingat tentang sesuatu yang membuatnya sangat kenal dengan rumah ini. "Tunggu!" teriaknya menghentikan Mawar yang baru saja dibukakan pintu oleh penjaga rumah. Mawar berbalik. "Kenapa?" Dengan langkah cepat, Daun menghampiri Mawar. "Kamu tinggal di rumah ini?" "Duh, Bang. Ini masih sore kali. Masa udah ngelindur. Pertanyaannya nggak salah?" "Saya serius." Wajah Daun menegang, otomatis Mawar percaya kalau ucapannya benar-benar serius. Lagi mana pernah seorang Daun tidak serius? "Yaiyalah, ini rumah gue. Ngapain gue minta anterin ke sini kalo ini bukan rumah gue sendiri." Mawar merutuk. "Kamu kenal Melati?" tanya Daun yang sontak membuat Mawar membelalak karena cowok itu menyebut nama kakaknya. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN