Bab 18 - Keluar

1148 Kata
Mawar terus bergulat dengan pikirannya. Ada sesuatu yang Mawar yakini kalau Daun mempunyai sebuah cerita bersama dengan kakak-nya. Namun, Mawar tidak tahu apa itu. Mawar bukan seseorang yang pandai betul untuk mengidentifikasi sebuah keadaan. Yang Mawar tahu, raut wajah Daun semalam ketika cowok itu menyebut nama Melati, Daun berbeda. "Jadi kemarin itu kamu pulang jam berapa?" tanya Randy, yang tidak digubris oleh Mawar. "Mawar?" Masih sama. Mawar tetap berkutat dengan pikirannya sendiri. "Hei, Mawar," Randy melambaikan tangannya di depan wajah Mawar. Membuat gadis itu tersentak membuyarkan lamunannya. "Eh... Iya. Apa?" Mawar gelagapan. "Kamu enggak dengerin aku?" "Denger apa?" Randy mendesis kesal. "Kamu mikirin apa sih?" "Aku bingung aja, darimana Daun kenal sama Kak Melati?" Dengan menopang dagunya, Mawar tidak sadar mengucapkan apa yang menjadi pikirannya sejak semalam. Ia tidak tahu bahwa ucapannya barusan membuat wajah Randy memerah seperti api. "Daun? Daun yang jadi ketua tim di klub pendaki?" Nada bicaranya Randy meninggi. Mawar mengangguk, masih tidak sadar kalau Randy sudah mulai marah. "Emang ada berapa orang yang namanya Daun di kampus ini," celetuk Mawar. "Kamu masih ada di klub itu? Bukannya aku udah bilang kalo kamu harus keluar dari klub setelah selesai melakukan pendakian?" Nadanya Randy semakin tinggi. Baru Mawar menoleh. "I--iya itu .... " Mawar menggaruk belakang kepalanya. "Aku belum sempet ngomong sama kakak-kakaknya. Nanti ya. Aku kan, enggak mau kalau keluar tanpa mengucap permisi kayak begitu." Mawar meringis. "Kamu harus keluar sekarang juga dari klub itu! Atau kita putus!" Tiba-tiba saja Randy tersulut emosi. Seketika Mawar melebarkan bola matanya. "Apa? Putus?" Randy menatap garang ke Mawar, lalu melenggang pergi meninggalkan area kantin yang sudah mulai sepi. Mawar mengejarnya. "Randy tunggu!" Mawar berhasil menghadang jalan Randy. Ia berdiri di depan cowok itu. "Aku akan keluar sekarang juga dari klub itu. Tapi kamu jangan marah lagi. Dan ... Aku nggak mau kita putus," ucap Mawar diakhiri dengan nadanya yang merendah. Mawar tidak mau Randy memutuskan hubungan dengannya. Mawar terlalu suka dengan Randy. Randy menatap Mawar dengan ragu. Mengusap dagunya lantaran kembali memikirkan keputusannya yang terlalu buru-buru. "Oke. Kita enggak putus, tapi sore ini juga kamu harus udah benar-benar keluar dari klub," ucap Randy dengan tegas. Sulit terbantahkan. Mawar mengangkat wajahnya. Menatap Randy dengan penuh kebinaran. Ia mengangguk dengan cepat sebelum Randy marah lagi padanya. ***** "Kak, saya mau keluar dari klub ini." Reno dan Dero saling bertukar pandang saat tiba-tiba Mawar masuk ke ruangan. Awalnya gadis itu tidak berbicara apa-apa dan berdiri di depan kedua orang itu dan langsung mengucapkan kalimat barusan. "Vakum maksudnya?" tanya Dero masih tidak mengerti. Bagaimana bisa Mawar yang begitu semangat ketika baru mendaftar ke klub ini lalu mengundurkan diri secepat ini? Padahal belum ada sebulan Mawar bergabung. Mawar menggeleng. "Bukan. Bukan vakum. Tapi berenti untuk seterusnya," koreksi Mawar. "Lo serius?" kali ini Reno yang sedaritadi sudah menatap Mawar dengan tajam, memilih untuk melangkah lebih dekat di depan Mawar. Mawar mengangguk sekali lagi, dengan yakin. Dero di posisinya masih mengerutkan kening tidak percaya. Lalu, Mawar mengangkat wajahnya yang tertunduk. "Gimana, Kak?" tanya Mawar. "Gimana apanya, hah? Lo tuh bener-bener, ya! Dari awal udah gue bilang kalo lo pasti ada apa-apanya untuk masuk ke klub ini. Sekarang bener kan? Keliatan jelas kalo lo cuma main-main!" geram Reno semakin menjadi. Bahkan, telunjuknya ikut bergerak ke arah Mawar, semakin membuat gadis itu tak berkutik. "Lo beneran mau keluar?" tanya Dero lagi untuk meyakinkan. Mawar mengangguk. Reno semakin kesal. Hampir saja tangannya melayang, tetapi Dero segera menahannya. "Udah, Ren. Itu haknya dia kok," sela Dero berusaha menengahi. "Untuk keluar dari klub emang hak elo, tapi itu sama aja lo ..." Reno semakin menaikan nada suaranya. "Udah-udah," kata Dero sengaja memotong ucapan Reno agar temannya itu tidak khilaf. "Lo boleh keluar kok, War. Itu hak lo," ujar Dero ke Mawar. Mawar sedikit lega karena keputusannya untuk keluar dari klub pendaki sudah selesai dijalani. Ya.. Meskipun ada tragedi yang menurutnya menyeramkan. Namun, di satu sisi Mawar senang karena Randy tidak akan marah lagi padanya. Selang beberapa belas menit Mawar keluar dari ruangan. Sekarang giliran Daun yang baru memasuki ruangan itu. "Cewek manja pilihan lo keluar dari klub," cetus Reno bertepatan saat Daun duduk di sofa. Daun pun menoleh ke Reno dengan tatapan tidak percaya. Kemudian berpindah pandangan ke Dero untuk meminta kepastian yang jelas. Karena siapapun tahu kalau Reno tidak pernah menyukai Mawar sejak awal. Jadi menurutnya, bisa saja Reno mengada-ada. Akan tetapi, Dero mengiyakan pertanyaan tersirat dari Daun. Reno dan Dero cukup heran ketika Daun langsung keluar lagi dari ruangan. Tepatnya setelah ia tahu kabar tentang Mawar yang keluar dari klub. Tidak disangka-sangka kalau Daun mencari Mawar ke tempat-tempat yang sering mempertemukannya dengan gadis itu. Namun, Daun tidak menemukan Mawar di manapun sampai langkahnya berhenti di salah satu koridor. Daun melihat Mawar dari kejauhan, bersama Randy. "Tunggu!" Daun berlari menghampiri Mawar yang baru saja akan memasuki mobil Randy. Tidak sengaja Daun menahan lengan Mawar. "Bang Daun? Ada apa?" tanya Mawar dengan polosnya. "Kamu keluar dari klub?" tanya Daun dengan tangannya yang masih setia ada di lengan mungil itu. Sesaat Mawar terdiam. Detik berikutnya Mawar menganggukan kepalanya samar. Sekarang Daun percaya sepenuhnya tentang apa yang ia dengar tadi dari Reno. Perlahan tetapi pasti, tangannya melepas lengan Mawar sampai terjatuh. Entah kenapa perasaannya jadi memburuk dengan keputusan yang Mawar buat ini. "Mau apa lagi lo sama cewek gue?" Randy yang sudah berada di tempat kemudi melihat Daun dan langsung menghampiri musuhnya itu. Daun tidak menjawab. Matanya masih saling bertatapan dengan Mawar. "Udah gue bilang kan, kalo Mawar tuh emang harus keluar dari klub nggak guna itu. Dan asal lo tau, ya." Sekarang Daun berpindah tatap ke Randy. Mawar mulai resah ketika dua orang cowok itu beradu mulut. "Alasan Mawar ikut pendakian itu, karena gue! Gue yang minta dia untuk ikut mendaki terus keluar setelahnya!" lanjut Randy terlalu bangga. Daun mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia cukup terkejut dengan pemaparan Randy barusan. Tatapannya berpindah lagi ke Mawar, meminta konfirmasi yang jelas dari ucapan Randy. "Nggak gitu juga kok. Alasan gue itu ...." Belum sempat Mawar menjelaskan sesuatu yang diharapkan Daun, Randy sudah menarik lengannya untuk cepat masuk ke mobil. "Meskipun gue nggak tau lo suka sama Mawar apa enggak, tapi sekarang gue yang menang!" ujar Randy penuh tatapan benci ke Daun yang tidak bergeming. Bersamaan dengan Randy mengendarai mobilnya keluar dari area parkir, Mawar menatap punggung Daun dengan cemas. Hening. Tidak ada pembicaraan antara Mawar dan Randy sampai mobil itu sudah berada di area komplek perumahan tempat tinggal Mawar. "Lusa aku ulang tahun. Kamu dateng, ya." Mawar menoleh. "Kamu ulang tahun?" Randy mengangguk. "Maaf aku nggak tau. Seharusnya sebagai pacar kamu, aku lebih tau tentang hari penting itu," ucap Mawar merasa bersalah. Randy mengacak rambut Mawar. "Enggak apa-apa, kok. Kamu nggak perlu kayak gitu. Pokoknya lusa kamu harus datang, ya. Dan Kakak kamu undang aja." "Iya nanti aku bilangin Kak Melati, ya." Mawar mengangguk dan tersenyum sumeringah ke Randy. "Lagian gue nggak berharap juga kalo lo tau ulang tahun gue." To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN