Hari ini Mawar tidak ada jadwal untuk ke kampus. Jadi daripada Mawar hanya berdiam diri di rumah, lebih baik Mawar pergi ke suatu tempat yang akhir-akhir ini membuatnya merasa rindu dengan tempat itu. Lebih tepatnya seseorang yang ada di sana.
"Pagi, Mawar," sapa Ajeng dengan ramah.
"Hai, Tante Ajeng. Pagi juga," balas Mawar dengan senyum sumeringah.
"Kamu mau pesan apa? Kue coklat yang seperti biasa?" tanya Ajeng tidak kalah semringah dengan kedatangan Mawar.
Gadis itu menggeleng. "Hari ini Mawar nggak mau pesen. Mawar ke sini mau bantuin Tante."
Ajeng mengerutkan keningnya. "Bantuin?"
Mawar mengangguk dengan yakin. "Boleh kan, Tante?"
"Boleh-boleh aja, sih. Tapi apa tidak apa-apa? Kamu nggak kuliah?"
"Hari ini Mawar nggak ada kelas. Enggak apa-apa yah, Mawar bantuin Tante? Mawar bisa bawain pesenan pembeli ke meja, atau bersih-bersih meja," ujarnya penuh semangat.
Dan lebih senangnya lagi ketika Ajeng mengiyakan permintaan Mawar untuk membantu di toko kue ini.
Seharian ini Mawar telah melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan selama hidupnya. Menjadi seorang pelayan toko kue. Dan itu sangat menyenangkan untuk Mawar. Dengan langkah riang Mawar membawa pesanan-pesanan itu ke meja pembeli. Mawar bahagia melakukan kegiatan ini.
"Nak, sudah sore. Kamu nggak pulang? Nanti kakak kamu nyariin, lho."
"Meskipun Mawar nggak pulang ke rumah, kakak nggak akan nyariin. Misalkan Mawar pergi dari rumah berhari-hari pun, kakak tetep nggak akan nyari Mawar," jawabnya terlalu santai.
Ajeng mengatupkan bibirnya ke dalam. Ia merasa iba dengan Mawar. Kemudian tangannya terulur untuk mengusap lembut belakang rambut Mawar yang terurai.
"Jangan bicara seperti itu. Dia kan kakak kamu, pasti dia cemas dengan kamu."
Mawar hanya tersenyum dengan paksa. "Silakan, Kak. Mau pesan apa?" Untung saja ada pembeli datang. Sehingga membuat Mawar mudah untuk mengalihkan pembicaraannya dengan wanita yang mulai sayangi itu.
Setelah Mawar kembali dari mengantar pesanan, Ajeng bergeser mendekatinya.
"Mawar ...." Dengan lembut Ajeng menyentuh punggung tangan Mawar.
"Iya, Tante."
"Kalau ada yang ingin kamu ceritakan ke Tante, Tante siap untuk menjadi pendengar kamu kapanpun. Jangan sungkan, ya."
Sontak Mawar memeluk Ajeng dengan erat. Dibalasnya pelukan manja itu oleh Ajeng.
Sore sangat cepat berganti menjadi malam. Ajeng sudah menutup toko kuenya yang hari ini sangat ramai karena menjelang weekend.
"Tante pulang naik apa?"
"Biasanya Tante naik taksi, Sayang," jawab Ajeng seraya menengok ke kanan dan ke kiri lantaran mencari taksi yang biasanya sering berlalu-lalang di depan toko.
"Mawar anterin, ya. Tapi Mawar telpon Mang Didi dulu," ujar Mawar mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Nggak usah, Sayang. Biar Tante naik taksi. Nanti kamu kemalaman. Kamu udah seharian lho bantu Tante di toko."
"Ah, Tante. Jangan gitu. Biar Mawar anterin Tante, ya. Ya, ya, ya." Mawar merajuk. Dan akhirnya Ajeng mau menerima tawarannya itu.
*****
Rumah Daun memang tidak sebesar rumahnya. Tidak juga dengan barang-barangnya yang hanya sederhana. Namun, entah kenapa, Mawar merasa nyaman duduk di sofa yang terbuat dari kayu jati ini. Ia tengah menunggu Ajeng yang sedang menyiapkan makan malam untuknya.
Saat pandangannya tengah menelisik ke seluruh ruangan yang ada di depannya, Mawar bertemu pandang dengan cowok dingin itu. Siapa lagi kalau bukan Daun?
Mawar melambaikan kelima jarinya seperti anak kecil yang sedang melihat kereta melaju.
Daun hanya membalasnya dengan tatapan datar, dan meneruskan langkahnya menuju dapur.
Tak lama setelahnya, Mawar melihat Daun lagi yang menaiki anak tangga. Mawar melambaikan lagi tangannya, sambil tersenyum.
Karena merasa agak bosan, Mawar mengambil ponsel di tasnya untuk memainkan game berbelanja kesukaannya. Hal yang sering dilakukan setiap Mawar kesepian.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Daun ketus.
Mawar mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Abis nganterin Tante Ajeng pulang. Kemaren itu kan situ udah nganterin saya pulang, jadi sekarang gantian. Emangnya enggak boleh?"
"Kamu bisa nggak kalo saya tanya, jawabnya singkat aja. Nggak usah jadi bikin cerpen gitu," balas Daun sengit.
Mawar menggeleng pelan. "Enggak bisa," jawabnya lalu mendelikan mata.
Daun mendengus malas, dan melangkah keluar rumah dengan bak sampah yang ada di tangannya.
"Duh, pinternya anak Mama. Abis buang sampah pada tempatnya," ledek Mawar ketika Daun sudah selesai dengan aktivitasnya di luar tadi.
Cowok itu tidak menggubris. Kakinya terus saja melangkah melewati gadis yang tengah mencemoohnya dengan wajah berseri.
"Eh, Bang. Tunggu deh," sergah Mawar lantas berlari kecil menghampiri Daun. Berdiri di sebelahnya.
"Apalagi? Belum puas ngeledeknya?" Daun menaikan salah satu alisnya. Hanya setengah menoleh menanggapi gadis itu.
"Gue mau nanya. Situ kenal Kak Melati darimana?"
"Temen SMA."
"Temen SMA?" ulang Mawar hendak klarifikasi.
"Ehm."
"Tunggu-tunggu." Sedetik Mawar tengah berpikir.
"Waktu Randy ngajak gue ke acara reuni SMA-nya, gue kan ketemu lo. Berarti lo kan temen SMA-nya Randy. Nah, sekarang lo bilang kenal Kak Melati waktu SMA. Berarti kalian bertiga saling kenal ? Atau kalian berteman?" Pelan-pelan Mawar mengingat kembali apa yang tersimpan di memori otaknya.
"Tanya aja sama kakak kamu sendiri," ucap Daun lalu melimbai pergi.
Mawar mendesis sebal di posisinya. Lalu meneriaki Daun yang hampir mencapai anak tangga kayu itu.
"Emangnya susah, ya, jawab pertanyaan gue yang gampang kayak gitu? Jangankan nanya hal ini ke Kak Melati, untuk sekedar bilang "hai" aja, Kak Melati nggak pernah."
Kalimat Mawar itu membuat Daun menghentikan langkahnya sesaat, dan melanjutkan kembali langkahnya.
Selama makan malam bersama antara Mawar, Daun, dan Mamanya berlangsung, sesekali cowok itu mencuri lirikan ke arah Mawar. Gadis itu tak pernah luput dari senyum di wajahnya. Sepertinya Mawar memang belum pernah berada di keadaan seperti makan malam tadi.
Begitupun Ajeng yang sumeringah sekali atas kedatangan Mawar. Bahkan saat ini, Ajeng masih saja senyam-senyum sambil merapikan dapur. Setelah selesai, Ajeng sedikit terkejut karena Daun yang tidak terdengar langkah kakinya, sudah berada di depannya. Tidak begitu dekat memang, ada beberapa jarak antara Daun dan Mama-nya.
"Ada apa, Nak?"
"Boleh saya minta tolong."
Ajeng mendekat ke Daun. "Tolong apa? Sebisa mungkin pasti Mama bantu."
"Tolong perlakukan dia seperti anak Mama sendiri."
Ajeng mengernyit. Ia masih belum begitu paham dengan permintaan tolong Anaknya. "Maksud kamu "dia"?"
"Mawar," sebutnya dengan lantang.
Seketika senyum Ibu anak satu itu mengembang terlalu lebar.
"Tentu, Sayang. Mama akan memperlakukan Mawar seperti anak Mama sendiri. Gadis itu baik, cantik, dan selalu ceria. Mama suka sama Mawar, bahkan Mama pun sudah mulai menyayangi dia."
Daun lega. Perkiraannya tidak meleset kalau Mamanya memang menyimpan rasa empati ke Mawar. "Yaudah kalo gitu, Saya ke kamar dulu."
"Tunggu, Nak," Baru saja Daun berbalik hendak melangkah, Ajeng menahannya. "Apa kamu suka sama Mawar?"
Sejenak Daun membisu. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa karena Daun tidak bisa menjelaskan perasaannya saat ini.
Daun belum menoleh ke Ajeng yang masih ada di belakangnya. Kepalanya setengah menoleh.
"Saya cuma nggak mau kalau senyum itu hilang dari wajahnya."
To Be Continued