Bab 20 - Membeli Hadiah

1078 Kata
Sudah sepuluh menit Mawar berdiri di depan pintu kamar Melati. Terus bergumam lantaran bingung harus mengetuk pintu itu atau tidak. Mawar hanya takut kalau Kakaknya semakin marah padanya. Sedetik Mawar mengerjapkan matanya dengan kuat. Menarik napas dalam dan menembuskannya keras. Lalu ia mulai mengetuk pintu di depannya dengan takut. "Kak, ini Mawar," panggilnya. Mawar menunggu. Mungkin saja kakaknya sedang berada di kamar mandi sehingga harus berjalan menghampiri pintu terlebih dahulu. Mawar mengetuk lagi pintu itu. "Kak, Mawar masuk, ya." Perlahan Mawar membuka pintu yang tidak terkunci dan masuk ke sana dengan langkah ragu. "Kak," sebutnya lagi dan masih tidak dijawab oleh sang Kakak. Melati tengah duduk di kursi belajarnya. Sepertinya gadis itu sedang membaca sebuah buku. Mawar berdiri beberapa langkah dari tempat Melati duduk. Mawar terlalu takut kalau harus berada di dekat Kakaknya. "Kak, Randy ngundang Kakak ke pesta ulang tahunnya," ujar Mawar terdengar hati-hati. Hening. Melati tetap lebih tertarik dengan buku yang ia baca ketimbang pemberitahuan dari adiknya itu. "Yaudah kalo gitu. Mawar keluar ya, Kak," ucap Mawar menggigit bibir bawahnya. Kemudian berbalik menghampiri pintu. "Oiya, Kak. Pestanya malam ini, ya. Tempatnya di Kafe Garden," lanjut Mawar masih di belakang pintu, dia berbalik menghadap Melati lagi. Masih tidak ada penolehan dari Melati. Mawar hanya bisa mendesah pelan dan benar-benar keluar dari kamar Melati. Ketika sudah berada di dalam kamarnya, Mawar terus berdecak. "Kak Melati tuh, sama banget kayak Bang Daun. Mukanya dingin udah kayak es batu. Kalo dijodohin, cocok banget deh jadinya," cerocos Mawar seorang diri. Sudut matanya melirik ke bingkai foto yang ada di nakas. Mawar meraih bingkai itu. "Selamat siang, Yah, Bu," ujarnya dengan senyum berbinar. Dikecupnya kaca bening di bingkai itu. "Kapan, ya, Kak Melati mau ngobrol sama Mawar? Apa segitu bencinya Kakak sama Mawar? Kalo Kak Melati nggak pernah bisa maafin Mawar, mendingan Mawar nggak usah dilahirin aja sama Ibu. Mawar lebih memilih Kak Melati hidup bahagia sama Ayah dan Ibu." Mawar mengembuskan napasnya keras. Lalu mengusap lembut gambar yang ada di bingkai itu dengan ibu jarinya. "Oiya. Malam ini Mawar akan dateng ke pesta ulang tahunnya Randy. Mawar pake baju apa, ya, Bu? Coba aja Kak Melati mau bantuin Mawar," celotehnya seraya berandai-andai. Saat tengah asyik bercerita dengan Ayah dan Ibunya lewat bingkai foto, Mawar tersentak. Ia teringat akan sesuatu. "Astaga, belum beli kado ulang tahun buat Randy." Sontak Mawar menepuk keningnya. "Mawar pergi dulu, ya, Yah, Bu," pamitnya dengan mata yang berpindah lagi ke bingkai foto. Tidak lupa mengecupnya, lalu meletakan benda itu ke tempat semula. ***** Menyusuri area di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai ini, membuat Mawar merasa senang. Ia selalu suka berada di antara keramaian ketimbang tempat yang sunyi, seperti rumahnya. "Beli apa, ya, buat Randy?" gumamnya seorang diri. Mawar masih belum memasuki toko manapun untuk mengakhiri kebingungannya. "Kalo sepatu, enggak tau ukurannya. Kalo baju juga nggak tau model yang cocok," gerutunya dengan mata yang terus mencari ke setiap toko yang Mawar lalui. "Randy sih ganteng, pasti dipakein apa aja juga ganteng. Mmmmm ... Apa, ya." Setelah menimang-nimang cukup lama, akhirnya Mawar memutuskan untuk menghadiahkan Randy sebuah jam tangan sporty. Langkahnya begitu ringan saat Mawar keluar dari salah satu toko jam branded di Mall itu. Dari kejauhan, Mawar melihat punggung seseorang yang ia yakini itu adalah mamanya Daun. Beberapa detik matanya menelisik punggung itu, lantas langsung saja Mawar berjalan cepat menghampirinya. Mawar memiringkan badannya untuk melihat wajah wanita separuh baya itu dengan jelas. "Tuh, bener kan," gumamnya. "Hai, Tante Ajeng," sapanya sambil melambaikan tangan. "Eh, Mawar. Kamu di sini juga? Lagi beli apa?" Ajeng tak kalah terkejut dipertemukan oleh Mawar. "Beli kado untuk seseorang. Tante sendiri?" Mawar melirik ke beberapa kantung plastik yang Ajeng bawa. "Ini, tante beli keperluan toko." "Mawar bantuin, ya." Belum sempat Ajeng berbicara apa-apa, Mawar sudah menyambar kantung plastik itu untuk dibawa. Ajeng hanya mengembang senyum. Mereka berdua berjalan beriringan di lantai Mall itu. "Emangnya Bang Daun ke mana? Kok nggak nemenin Tante belanja? Seharusnya dia kan, bisa bantuin Tante," tanya Mawar bertubi-tubi. "Daun ada di rumah. Tante memang sengaja enggak mau mengganggu istirahatnya Daun," jawab Ajeng. Tangan yang tidak muda lagi itu bergelayut di lengan Mawar. Untung saja antara Mawar dan Wanita ini mempunyai tinggi badan yang yang hampir sama. Mawar mendesis. "Dasar anak enggak berbakti. Bukannya bantuin Tante belanja, malah enak-enakan di rumah," cibirnya ke cowok yang sekarang tidak ada di dekatnya ini. Ajeng hanya mendengus geli. Bukan karena isi kalimatnya Mawar, melainkan cara bicara gadis itu yang kelewat polos. "Kamu sendiri, kok nggak sama teman-teman kamu? Biasanya gadis seumuran kamu ini sukanya ke Mall bareng-bareng, nonton, makan, belanja," tanya Ajeng beralih pembahasan. "Pengennya sih gitu, Tante. Tapi Mawar nggak punya temen yang bisa di ajak ke Mall. Kadang Mawar juga suka iri sama mereka yang hangout ke Mall bareng-bareng, tapi mau gimana lagi?" Mawar mengedikkan bahu. Nada bicaranya tidak lesu seperti kebanyakan orang yang menggerutu, justru cara bicaranya membuktikan bahwa Mawar baik-baik saja. Berbeda dengan apa yang dirasakan Ajeng. Hatinya seolah bergetar mendengar cerita Mawar barusan. Belum lagi ada perasaan bersalah karena pertanyaan yang tadi ia lontarkan ke Mawar. "Tante, Mawar anterin pulang, ya." "Boleh. Sekalian kamu makan siang di rumah Tante, ya," jawab Ajeng tanpa menolak sedikitpun. "Makan di rumah tante?" tanya Mawar antusias. "Iya. Tante akan masakin makanan enak khusus buat kamu." "Emang boleh?" Ajeng mengernyit. "Lho, kenapa enggak boleh? Ya, tentu aja boleh dong, sayang." "Kalo bang Daun marah-marah pas Mawar makan di rumah tante, gimana?" Gadis itu mengerutkan kening. Ajeng berlagak berpikir. Detik berikutnya dia tersenyum lebar sambil mengatakan, "kita marahin dia balik." Mereka pun cekikikan di sela-sela langkah kaki membawa mereka sudah sampai di depan lobby Mall. "Tunggu sebentar ya, tante. Mang Didi ada di basemant, kok." "Iya. Santai aja. Selagi sama kamu, tante enggak masalah kok, kalau harus nunggu lebih lama lagi." "Ih, tante sukanya ngegombal." Ajeng terkekeh geli. Tangannya bergerak terulur menggapai wajah Mawar untuk mencubit pelan pipi gadis itu. "Kamu ngegemesin banget sih," cetus Ajeng. "Iya, dong. Aku kan, mirip boneka barbie," balas Mawar dengan bangga. "Lebih cantik kamu daripada boneka barbie. Dan tante seneeeeng banget bisa punya kesempatan untuk bertemu sama gadis yang ceria kayak kamu," ucap Ajeng mulai serius. "Sama. Mawar juga. Gimana kalau Mawar jadi anak tante aja?" "Boleh," jawab Ajeng cepat. Beberapa saat mereka saling memandang, lalu kembali tertawa renyah. Teriknya matahari sama sekali tidak terasa lantaran kehangatan dua wanita yang tengah bergurau itu. Apalagi Mawar. Dalam hatinya, dia merasa sangat bahagia karena bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari sosok Ajeng yang padahal baru ia kenal. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN